Di tengah duka kehilangan bayinya dan pengkhianatan suaminya, Shanum berjuang sendirian demi kesembuhan Sang Nenek, satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Bekerja sebagai ART dengan upah kecil, tak cukup untuk membiayai pengobatan jantung sang nenek di rumah sakit.
Kondisi ini menarik simpati Dokter Daniel yang menangani neneknya. Daniel sendiri tengah didera lara, ia ditinggal selingkuh oleh istrinya dan kini merawat putri kecilnya yang berusia empat bulan seorang diri.
Masalah kian pelik karena sang bayi mengalami alergi susu formula dan sangat bergantung pada donor ASI.
Didorong rasa iba dan kebutuhan yang mendesak, Daniel menawarkan Shanum pekerjaan sebagai pengasuh sekaligus ibu susu bagi putrinya. Bagi Shanum, ini dilema antara kehormatan dan kebutuhan ekonomi. Tanpa ia sadari, bayi kecil yang butuh dekapannya itu perlahan menjadi obat bagi trauma kehilangan buah hatinya.
Akankah pertemuan dua jiwa yang sama-sama patah ini menjadi awal dari kesembuhan luka mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2
Rasa syukur yang tak terhingga membuncah di dadanya Shanum saat melihat monitor di ruang High Care Unit (HCU) menunjukkan grafik detak jantung Bu Siti yang kian stabil. Operasi pasang ring itu berjalan lancar.
Shanum berdiri di depan meja perawat, berharap bisa bertemu langsung dengan Dokter Daniel Lee untuk mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya, sekaligus membicarakan masalah biaya yang masih mengganjal di pikirannya.
"Maaf, Mbak Shanum," ucap suster jaga dengan nada menyesal. "Dokter Daniel baru saja pergi sekitar sepuluh menit yang lalu. Beliau ada keperluan medis yang sangat mendesak di luar rumah sakit."
Shanum menghela napas, menyembunyikan sedikit kekecewaan di wajahnya yang lelah. "Oh, begitu ya, Sus. Ya sudah tidak apa-apa. Besok sore selepas saya pulang bekerja, saya akan coba menemui beliau lagi."
Keesokan Harinya di Ruang Rawat
Matahari pagi menembus celah gorden kamar rawat kelas tiga. Bu Siti sudah dipindahkan dari ruang HCU. Beliau kini duduk bersandar pada tumpukan bantal di atas ranjang pasien, wajahnya yang kemarin pucat pasi kini mulai dialiri semburat darah segar.
Pintu kamar berdecit pelan. Bu Siti cukup terkejut saat melihat sosok jangkung berjas putih melangkah masuk bersama seorang suster. Gurat ketampanan dan karisma yang menenangkan langsung memenuhi ruangan itu.
"Selamat pagi, Ibu Siti. Bagaimana kondisi Anda saat ini? Apakah Anda sudah merasa baikan?" tanya Dokter Daniel ramah sambil melemparkan senyumnya yang menawan.
Bu Siti tersenyum lemah namun tulus, matanya berkaca-kaca menatap pria di hadapannya. "Alhamdulillah, Dokter. Terima kasih banyak karena Dokter sudah menyelamatkan nyawa saya..."
Dokter Daniel membalasnya dengan anggukan hangat. "Berterima kasihlah kepada Sang Pencipta, Ibu. Saya hanyalah sebagai perantara."
Dengan gerakan yang terampil dan telaten, Dokter Daniel mulai melakukan pemeriksaan serius pada dada dan denyut nadi Bu Siti menggunakan stetoskopnya. Detik berikutnya, sebuah senyuman tipis namun puas terukir di bibir sang dokter. Operasinya sukses besar, kondisi Bu Siti jauh melampaui perkiraan medisnya untuk pasien seusia beliau.
Dokter Daniel kemudian merapikan kembali selimut Bu Siti dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar yang sepi.
"Ibu Siti, tidak ada yang menunggu Ibu di sini? Padahal pascaoperasi seperti ini, harus ada yang menjaga Ibu minimal satu orang untuk membantu keperluan Ibu," tanya Dokter Daniel dengan nada penuh perhatian.
Mendengar pertanyaan itu, gurat kesedihan mendalam kembali membayang di wajah keriput Bu Siti. Beliau menghela napas panjang sebelum akhirnya membuka suara.
"Cucu saya, Shanum... Dia cucu satu-satunya yang saya punya, Dok. Saat ini dia terpaksa harus pergi bekerja sebagai Asisten Rumah Tangga di perumahan dekat sini. Nanti sore setelah pulang kerja, baru dia ke sini untuk menjaga saya sampai pagi," ujar Bu Siti lirih.
Dokter Daniel mendengarkan dengan saksama, dahinya agak mengernyit heran. "Bekerja sampai sore lalu menjaga Ibu semalaman? Apa dia tidak kelelahan?"
"Mau bagaimana lagi, Dokter... Shanum itu tulang punggung saya satu-satunya sekarang," air mata Bu Siti mulai menetes saat ia teringat nasib malang cucunya. "Anak itu baru saja kehilangan bayinya dua minggu lalu karena kecelakaan ojek, tepat di usia kandungan tujuh bulan. Suaminya yang jadi TKI di luar negeri juga tega menceraikannya sebulan yang lalu. Sekarang, dia harus membanting tulang sendirian demi mencari biaya pengobatan saya..."
Mendengar cerita itu, Dokter Daniel tertegun. Jantungnya berdenyut nyeri mendengar rentetan kemalangan yang menimpa seorang wanita muda dalam waktu yang begitu singkat. Rasa iba yang mendalam seketika merayapi hatinya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana beratnya beban yang dipikul oleh cucu pasiennya itu.
Dokter Daniel mendekat, memegang pundak Bu Siti dengan lembut untuk menenangkannya.
"Semoga Mbak Shanum selalu kuat menghadapi hidup ini ya, Bu. Bilang padanya jangan mudah menyerah, begitu juga dengan Bu Siti. Ibu harus cepat sembuh agar tidak membuat Mbak Shanum semakin cemas," ucap Dokter Daniel dengan suara yang begitu tulus.
Mendengar untaian kalimat yang begitu menyejukkan, Bu Siti langsung meraih dan menggenggam erat tangan Dokter Daniel dengan kedua tangannya yang gemetar.
"Terima kasih, Dokter... Terima kasih banyak," bisik Bu Siti penuh haru.
Sepanjang hidupnya yang serba kekurangan, baru kali ini Bu Siti bertemu dengan seorang dokter yang tidak hanya hebat dan dihormati, tetapi juga memiliki hati selembut malaikat seperti Dokter Daniel Lee.
*
*
Matahari mulai condong ke barat saat Shanum melangkah gontai meninggalkan meja administrasi Rumah Sakit Citra Medika. Untuk kedua kalinya, ia harus menelan kekecewaan karena lagi-lagi gagal menemui sang dokter spesialis jantung.
"Maaf, Mbak Shanum. Dokter Daniel baru saja masuk ke ruang operasi untuk tindakan darurat," ucap suster jaga dengan raut wajah menyesal.
Shanum menghela napas berat, bahunya merosot lesu. "Kenapa susah sekali bertemu dengan dokter dermawan itu!" gumamnya pelan pada dirinya sendiri.
Dengan perasaan campur aduk, Shanum akhirnya memutuskan untuk langsung menuju ruang rawat inap kelas tiga. Namun, rasa kecewanya seketika menguap begitu ia membuka pintu kamar. Di atas ranjang, Bu Siti sudah duduk tegak dengan wajah yang terlihat jauh lebih segar, tidak ada lagi rona pucat pasi yang mengerikan seperti beberapa hari yang lalu.
"Nenek!" Shanum bergegas mendekat dan langsung memeluk erat tubuh ringkih sang nenek, menumpahkan segala rasa rindu dan khawatirnya. "Bagaimana kabarnya hari ini? Ada yang sakit?"
Bu Siti terkekeh pelan, mengusap punggung cucunya. "Alhamdulillah, Nenek sudah sehat sekali, Num. Ini semua berkat Dokter Daniel. Tadi pagi dia memeriksa Nenek. Ya Allah, Num... dokternya baik sekali, ramah, sopan, pinter lagi!"
Mendengar nama itu disebut, Shanum menoleh. "Oh ya? Jadi Dokter Daniel yang periksa Nenek?"
Bu Siti mengangguk antusias, matanya berbinar-binar. "Kalau kamu bertemu dengan Dokter Daniel, Nenek yakin kamu bakalan jatuh hati, Num. Kalau Nenek masih muda saja, ya minimal seusiamu lah, pasti Nenek naksir...!" ucap Bu Siti sambil tertawa cekikikan.
Shanum sampai menepuk jidatnya sendiri, tak percaya dengan apa yang didengarnya. "Nenek genit ih! Lihat cowok bening dikit langsung kepincut!" goda Shanum sambil menahan tawa. Sudah lama ia tidak melihat neneknya seceria ini.
"Tapi beneran, Num! Dokter Daniel itu sangat tampan, mirip sama aktor Korea yang pernah Nenek tonton di TV tetangga dulu!" Bu Siti tetap tidak mau kalah.
Shanum kembali menghela napasnya, kali ini sambil tersenyum geli. "Sudahlah, Nek. Tambah ke sini omongan Nenek tambah ngawur, ah."
"Kau ini kalau dibilangin suka saja seperti itu. Pokoknya nanti pas kamu lihat sendiri, Nenek yakin kamu akan terpesona... Mudah-mudahan saja kamu dan Dokter Daniel berjodoh!" Sang nenek kembali tertawa cekikikan, menggoda cucu satu-satunya itu.
"Nenek...!" balas Shanum dengan pipi yang sedikit merona, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah sang nenek yang semakin menjadi-jadi.
Keesokan Harinya
Pagi hari berikutnya, suasana di sekitar area luar Rumah Sakit Citra Medika tampak ramai. Shanum berjalan setengah berlari menyusuri trotoar menuju halte bus untuk pergi ke tempat kerjanya. Jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan angka yang kritis, ia hampir saja kesiangan.
Karena terburu-buru dan terus melihat ke arah jalan, Shanum tidak memperhatikan langkah orang dari arah berlawanan.
Bruk!
Bahu Shanum menyenggol keras dada bidang seorang pria yang baru saja turun dari mobilnya. Sentuhan itu membuat beberapa berkas yang dipegang sang pria hampir terjatuh.
"Maaf, maaf! Saya tidak sengaja!" ucap Shanum panik tanpa melihat siapa yang ditabraknya.
Pria itu reflex menahan lengan Shanum agar tidak terjatuh. Saat itulah, kedua mata mereka bertemu selama sepersekian detik. Shanum tertegun sesaat melihat sepasang mata tajam namun teduh di balik kacamata tipis pria itu. Namun, rasa takut terlambat kerja mengalahkan segalanya. Shanum buru-buru menarik tangannya dan pergi begitu saja tanpa menoleh lagi.
Sementara itu, pria yang tak lain adalah Dokter Daniel Lee, terpaku di tempatnya berdiri. Ia memandangi punggung wanita yang menjauh itu dengan pandangan takjub. Paras cantik alami yang berpadu dengan hijab yang melekat rapi di kepalanya sempat membuat detak jantung sang dokter berdesir aneh.
"Cantik..." bisik Dokter Daniel pelan.
Sebuah senyuman tipis yang jarang terlihat akhirnya terukir di bibirnya. Pria itu kemudian merapikan jasnya dan bergegas masuk menuju lobby rumah sakit.
Begitu Dokter Daniel melangkah masuk ke dalam lobby, suasana langsung berubah riuh secara berbisik. Para wanita jomblo yang bekerja di bagian resepsionis dan administrasi yang sudah menantikan kehadirannya sedari tadi langsung heboh.
"Woy, Oppa Lee kesayangan kita sudah datang!" bisik salah satu petugas resepsionis dengan heboh kepada teman-temannya.
Beberapa wanita lainnya mulai sibuk merapikan seragam, membetulkan riasan, dan memastikan penampilan mereka terlihat sempurna di hadapan pria matang dengan status duda anak satu itu. Di rumah sakit ini, Dokter Daniel adalah sosok idola yang begitu dipuja.
Namun, Dokter Daniel Lee tetaplah Dokter Daniel. Langkah kakinya terdengar tegas, wajahnya kembali bertukar menjadi dingin dan datar seolah tak memedulikan para wanita yang mencoba menebarkan pesona padanya.
Semenjak bercerai dengan mantan istrinya tiga bulan yang lalu, sikap Daniel memang berubah menjadi sangat dingin, tertutup, dan menjaga jarak dengan wanita. Namun, kebekuan sikapnya itu akan runtuh seketika saat ia berhadapan dengan pasiennya. Di dalam ruang rawat, ia akan kembali menjadi sosok dokter yang sangat baik, lembut, dan hangat, sosok malaikat penolong yang sesungguhnya.
Bersambung...
shanum menahan perasaannya jangan sampai baper lagi seperti kemarin yah takutnya dokter Daniel mengatakan seperti itu hanya untuk meyakinkan hakim dan memenangkan persidangan d hak asuk ziva yah num
shanum masih gk percaya klau daniel cinta sm dia,,ayo daniel nyatakan lg perasaan mu sm shanum nanti di mobil,,biar shanum gk salah faham 🤭
Dan Sony yg mulai meragukan cinta Klara kpdnya...segera hengkang...menjauh & lepas tangan thd Klara
Biar sempurna hancurnya perempuan penuh intrik & drama itu
Cobalah utk saling jujur ttg perasaan masing²
Manatau gayung bersambut kan
Klwpun bertepuk sebelah tangan ..ya gpp...anggap uji nyali