Kael seharusnya tidak mati, tetapi kesalahan seorang dewa mengubah takdirnya selamanya. Diberi tubuh baru yang sempurna dan tiga kemampuan luar biasa—Adaptation, Infinite Growth, dan Absolute Regeneration—ia direinkarnasikan ke dunia Elyndra. Namun, alih-alih terlahir di tempat aman, Kael justru terlempar ke Death Forest, wilayah terlarang yang dipenuhi monster mematikan. Sambil mencari jalan keluar, ia mulai memahami kultivasi, sihir, dungeon, kerajaan, dan ras-ras kuat yang menghuni dunia tersebut. Pertemuannya dengan seorang Ancient Vampire bernama Seraphina menjadi awal perjalanan panjangnya. Di tengah konflik sekte, peperangan, rahasia kuno, dan cinta, Kael perlahan menyadari bahwa kedatangannya mungkin bukan sekadar kesalahan yang belum pernah diketahui manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10 — kebocoran rahasia
Pagi pertama Kael sebagai Holy Son dimulai dengan kunjungan tak terduga.
Dia baru saja selesai berlatih Tebasan Seribu Prajurit di halaman belakang pavilionnya ketika seorang penjaga sekte datang mengabarkan bahwa dia diminta menghadap ke ruang pertemuan tetua—bukan untuk masalah serius, hanya perkenalan formal dengan beberapa murid senior lainnya yang juga akan berpartisipasi dalam Turnamen Kerajaan mewakili sekte.
Ruang pertemuan itu tidak semegah ruang tahta Sect Master, tetapi tetap elegan dengan meja panjang dari kayu berukir dan jendela besar yang menghadap taman sekte. Beberapa murid sudah duduk di sana ketika Kael tiba, dan salah satunya adalah gadis berambut cokelat kemerahan yang sempat menatapnya saat upacara kemarin.
"Kael," Tetua Marcus memperkenalkan begitu dia duduk, "aku ingin kau bertemu dengan beberapa murid senior yang akan mewakili sekte kita di Kingdom Tournament."
Gadis itu adalah yang pertama bicara, berdiri dan mengangguk formal. "Aria Valtherion. Elite Disciple, dan kebetulan juga putri kerajaan."
Kael mengangkat alis. "Putri kerajaan yang juga murid sekte?"
"Kenapa? Berpikir putri kerajaan seharusnya hanya duduk di istana memakai gaun indah?" Ada nada sedikit menantang dalam suaranya, meski matanya berkilat jenaka.
"Tidak sama sekali," Kael menjawab cepat, mengangkat tangan defensif. "Hanya belum pernah bertemu bangsawan yang juga kultivator serius sebelumnya."
"Kalau begitu kau akan belajar banyak hal baru di sini," Aria berkata, duduk kembali dengan sikap percaya diri yang jelas terlatih sejak kecil.
"Aku sudah mendengar tentang keributan di ujianmu kemarin. Talent Stone error, Soul Test tidak terbaca, Body Test tidak terukur. Kedengarannya cukup mustahil."
"Aku sendiri juga terkejut," Kael mengakui.
"Terkejut, atau berpura-pura terkejut?" Aria menatapnya tajam, jelas seseorang yang terbiasa menilai kejujuran orang lain sebagai bagian dari kehidupan istana.
"Terkejut sungguhan," Kael menjawab jujur, mempertahankan tatapannya tanpa gentar. "Aku juga baru memulai perjalanan kultivasiku belum lama ini. Semua yang terjadi masih terasa baru bagiku juga."
Aria menatapnya lebih lama, mencoba membaca kejujuran di balik kata-katanya, sebelum akhirnya mengangguk pelan, seolah menerima jawaban itu untuk sementara.
"Baiklah. Aku akan mengawasi perkembanganmu dengan seksama, Holy Son."
"Tolong jangan panggil aku begitu," Kael berkata dengan nada agak memohon. "Rasanya aneh."
Sudut bibir Aria berkedut, hampir seperti senyum yang tertahan. "Baiklah, Kael."
Murid-murid lain yang hadir juga memperkenalkan diri satu per satu—beberapa dengan sikap hormat berlebihan karena statusnya yang baru, beberapa dengan kewaspadaan yang tidak tersembunyi, dan setidaknya satu yang menatapnya dengan kebencian terang-terangan tanpa alasan yang jelas.
"Jangan pedulikan Reyes," Aria berbisik setelah pertemuan formal selesai, menunjuk dengan dagunya ke arah pemuda berambut hitam yang tadi menatap Kael dengan tatapan paling tajam.
"Dia sudah menjadi Elite Disciple selama lima tahun, mengharapkan status Holy Son sebelum kau muncul dan merebutnya."
"Aku tidak berniat merebut apa pun," Kael berkata, sedikit tidak nyaman mendengar hal itu.
"Niat tidak selalu penting dalam politik sekte," Aria menjawab dengan nada yang jauh lebih dewasa dari usianya yang tampak.
"Yang penting adalah persepsi. Dan persepsinya sekarang adalah kau merebut posisi yang seharusnya menjadi miliknya."
Kael menghela napas panjang. Ini adalah jenis masalah yang belum pernah dia hadapi di Death Forest—monster setidaknya jujur tentang niat mereka untuk membunuhmu, sementara politik manusia jauh lebih rumit dan penuh lapisan tersembunyi.
"Ada saran?" tanyanya.
"Buktikan dirimu di turnamen," Aria menjawab tegas. "Kekuatan nyata selalu lebih meyakinkan daripada gelar formal. Kalau kau benar-benar sekuat yang ditunjukkan hasil ujianmu, tidak ada yang bisa mempertanyakan posisimu lebih lama."
"Nasihat yang bagus," Kael mengangguk. "Kau sendiri, seberapa kuat kau?"
Aria tersenyum tipis, penuh percaya diri. "Cukup kuat untuk mempertahankan posisiku sebagai salah satu kandidat terkuat sekte ini untuk turnamen tahun ini. Meski sekarang, dengan kehadiranmu, aku mungkin harus bekerja lebih keras untuk tetap unggul."
"Itu terdengar seperti tantangan."
"Anggap saja begitu," Aria berkata, matanya berkilat dengan semangat kompetitif yang tulus.
"Aku ingin melihat seberapa jauh 'bakat tak terukur' ini bisa membawamu, Kael. Dan aku tidak berencana kalah begitu saja hanya karena gelar barumu."
Kael tertawa kecil, menyukai energi yang dibawa gadis ini—jauh berbeda dari kewaspadaan konstan yang biasa dia rasakan dari Seraphina, atau kecurigaan tersembunyi dari murid-murid lain.
"Baiklah," katanya, "aku menantikan kesempatan untuk membuktikan diri melawanmu."
Selama beberapa minggu berikutnya, rutinitas Kael di sekte mulai terbentuk: latihan pagi bersama beberapa murid senior yang perlahan mulai menerima kehadirannya, sesi belajar teori kultivasi di perpustakaan sekte yang luas, dan sesekali sparring dengan Aria yang selalu berakhir dengan hasil yang mengejutkan kedua belah pihak—Kael terkejut dengan penguasaan teknik Aria yang sangat matang, dan Aria terkejut dengan kecepatan adaptasi Kael yang membuatnya semakin sulit dikalahkan setiap kali mereka bertanding.
Seraphina, sementara itu, menghabiskan waktunya menjelajahi Grandis lebih dalam, mencari petunjuk tentang klannya sendiri, sesekali kembali ke pavilion Kael dengan informasi baru yang mereka diskusikan bersama di malam hari.
Namun di balik rutinitas yang mulai terasa nyaman ini, ketegangan tersembunyi terus tumbuh.
Reyes dan beberapa pendukungnya mulai menyebarkan rumor-rumor negatif tentang asal-usul Kael yang misterius, mempertanyakan loyalitasnya, bahkan menyiratkan bahwa "bakat tak terukur"-nya mungkin merupakan tanda sesuatu yang berbahaya, bukan sesuatu yang patut dirayakan.
Kael mendengar bisik-bisik itu, tetapi memilih untuk tidak terlalu memedulikannya—sampai suatu malam, ketika dia kembali ke pavilionnya setelah sesi latihan larut, dia menemukan sesuatu yang membuatnya berhenti di ambang pintu.
Sebuah pesan tergores di dinding kayu pavilionnya, huruf-hurufnya dalam dengan bekas cakaran yang tajam, seolah dibuat oleh kuku atau senjata tajam.
*Pulanglah ke tempat asalmu, monster berdarah aneh. Sekte ini tidak butuh sesuatu yang tidak bisa diukur.*
Kael menatap pesan itu lama, perasaan dingin merayap di tengkuknya—bukan karena ancamannya, tetapi karena satu kata yang digunakan: *berdarah aneh*. Seseorang tahu lebih banyak tentang dirinya daripada yang seharusnya mereka ketahui.
---
Kael tidak tidur malam itu.
Dia duduk di ruang utama pavilionnya, menatap pesan yang sudah dia lepas dari dinding dan letakkan di atas meja, mencoba memahami implikasi dari kata-kata yang tertulis di sana.
*Berdarah aneh.*
Hanya ada beberapa orang yang tahu tentang keanehan darahnya—Seraphina, dan mungkin, entah bagaimana, Ren dari Shadow Sect.
Ketika Seraphina akhirnya tiba menjelang tengah malam, dia langsung merasakan ketegangan di udara sebelum bahkan melihat pesan itu.
"Ada apa?" tanyanya cepat, matanya langsung menangkap ekspresi serius Kael.
Kael menunjukkan pesan itu tanpa berkata apa-apa. Seraphina membacanya, dan wajahnya langsung berubah pucat—pucat yang berbeda dari warna kulitnya yang memang sudah pucat secara alami.
"Ini tidak mungkin dari Reyes atau pendukungnya," dia berkata setelah beberapa saat, suaranya tegang.
"Mereka mungkin curiga dengan asal-usulmu yang misterius, tapi mereka tidak punya cara untuk tahu spesifik tentang darahmu kecuali seseorang memberitahu mereka."
"Ren," Kael menggumam. "Dia satu-satunya orang luar yang tahu kita berasal dari Death Forest."
"Tapi dia tidak tahu detail tentang darahmu," Seraphina membantah. "Setidaknya, tidak dari kita langsung."
Mereka berdua terdiam, mencoba memikirkan siapa lagi yang mungkin mengetahui rahasia itu. Lalu Kael teringat sesuatu.
"Chalice," katanya tiba-tiba.
"Saat kau mengetes darahku dengan Crimson Moon Chalice di dungeon. Apakah ada kemungkinan reaksinya bisa terdeteksi dari luar? Semacam gelombang energi yang bisa dilacak?"
Seraphina terdiam, matanya melebar dengan realisasi yang tidak menyenangkan. "Chalice itu adalah artefak kuno klanku. Jika ada anggota klan lain yang masih hidup, terutama yang loyal kepada Dravos, mereka mungkin memiliki cara untuk merasakan aktivasi artefak sejenis, bahkan dari jarak jauh."
"Jadi kemungkinan Dravos sendiri, atau pengikutnya, sudah tahu tentang keberadaanku sejak saat itu?"
"Kemungkinan itu ada," Seraphina mengakui dengan berat hati.
"Dan jika itu benar, mereka mungkin sudah mengirim mata-mata untuk mengawasi kita sejak Eldermere—yang berarti Ren dari Shadow Sect mungkin bukan satu-satunya yang memperhatikan kita."
Kael menghela napas panjang, merasakan beban situasi yang semakin rumit. "Jadi kita punya setidaknya dua kelompok yang mengawasi kita: Shadow Sect yang sepertinya netral, dan mungkin sisa-sisa pengikut Dravos yang jelas tidak bersahabat."
"Dan sekarang, mungkin seseorang di dalam sekte ini sendiri yang bekerja untuk salah satu dari mereka," Seraphina menambahkan, menatap pesan ancaman itu lagi.
Keesokan paginya, Kael melaporkan insiden itu kepada Tetua Marcus, meski dia memilih untuk tidak mengungkapkan detail tentang darahnya—hanya mengatakan bahwa seseorang meninggalkan ancaman anonim di pavilionnya.
Tetua Marcus mendengarkan dengan serius, wajahnya mengeras. "Ini pelanggaran serius terhadap aturan sekte. Aku akan memerintahkan penyelidikan penuh."
"Aku menghargai itu," Kael berkata, "tapi aku juga tidak ingin ini menjadi alasan bagi orang lain untuk semakin curiga terhadapku."
"Kekhawatiran yang bijaksana," Tetua Marcus mengangguk. "Tapi keamananmu adalah prioritas sekte, terutama dengan statusmu sebagai Holy Son. Aku akan menangani ini dengan hati-hati."
Penyelidikan yang dilakukan selama beberapa hari berikutnya tidak menghasilkan petunjuk konkret—siapa pun yang meninggalkan pesan itu cukup berhati-hati untuk tidak meninggalkan jejak yang bisa dilacak.
Namun, insiden itu menyebar sebagai rumor di kalangan murid sekte, memecah opini menjadi dua kubu yang semakin jelas: mereka yang bersimpati kepada Kael sebagai korban ancaman tidak adil, dan mereka yang semakin curiga bahwa mungkin ada kebenaran di balik tuduhan "berdarah aneh" tersebut.
Aria menemukan Kael di taman sekte beberapa hari setelah insiden itu, duduk sendirian menatap kolam ikan yang tenang.
"Kudengar tentang pesan itu," katanya, duduk di sampingnya tanpa diminta. "Kau baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja," Kael menjawab, meski nadanya tidak sepenuhnya meyakinkan.
"Hanya berpikir tentang berapa banyak orang yang mulai melihatku sebagai ancaman hanya karena aku berbeda."
Aria terdiam sejenak, menatap kolam yang sama. "Kau tahu, di istana, aku juga sering menghadapi hal serupa. Selalu ada yang mempertanyakan apakah aku pantas menjadi putri sekaligus kultivator, apakah aku hanya menggunakan status kerajaanku untuk mendapatkan keuntungan tidak adil di sekte."
"Bagaimana kau menghadapinya?"
"Aku berhenti peduli dengan apa yang orang lain pikirkan, dan fokus pada membuktikan diriku melalui tindakan, bukan kata-kata," Aria menjawab tegas.
"Orang bisa berkata apa pun yang mereka mau. Tapi kekuatan sejati dan karakter sejati akan selalu terlihat pada akhirnya."
Kael menatapnya, menghargai kejujuran dan kekuatan di balik kata-katanya. "Terima kasih, Aria."
"Jangan berterima kasih dulu," Aria berkata dengan senyum kecil yang menantang, bangkit berdiri. "Aku masih berencana mengalahkanmu di turnamen nanti."
"Aku akan menantikannya," Kael tersenyum kembali, merasakan sedikit beban di dadanya berkurang.
Namun, jauh dari taman yang tenang itu, di sebuah ruangan gelap di sudut kota Grandis yang jarang dikunjungi orang baik-baik, sesosok figur berjubah hitam berdiri di depan cermin gelap yang memantulkan bukan wajahnya sendiri, melainkan gambaran samar seorang pria dengan mata merah menyala dan seringai yang penuh ambisi.
"Dia sudah ditemukan, Tuan Dravos," sosok berjubah itu berkata pelan.
"Bocah dengan darah primordial yang Anda cari. Dia sekarang menjadi Holy Son di Heavenly Sword Sect."
Sosok di cermin itu tersenyum lebar, giginya yang tajam berkilau dalam cahaya redup. "Akhirnya. Setelah seribu tahun mencari, darah yang bisa membangunkan kekuatan sejatiku akhirnya muncul dengan sendirinya."
"Bagaimana dengan Seraphina? Dia bersama bocah itu."
Ekspresi Dravos berubah sejenak, campuran kemarahan lama dan sesuatu yang menyerupai kerinduan yang telah lama terkubur. "Biarkan dia menikmati kebebasannya untuk sementara. Aku punya rencana yang lebih besar daripada sekadar balas dendam pribadi."
"Perintah Anda?"
"Awasi mereka. Kumpulkan informasi. Dan pastikan tidak ada yang bergerak sampai waktunya tepat," Dravos berkata, matanya berkilat dengan kesabaran seorang yang telah menunggu seribu tahun dan tidak keberatan menunggu sedikit lebih lama lagi.
"Turnamen Kerajaan akan menjadi panggung yang sempurna untuk mengungkap semuanya."
Bayangan di cermin itu memudar, meninggalkan sosok berjubah hitam sendirian dalam kegelapan, sementara jauh di Heavenly Sword Sect, Kael sama sekali tidak menyadari bahwa nasibnya sudah mulai dianyam oleh tangan-tangan yang telah menunggu kedatangannya jauh lebih lama daripada yang pernah dia bayangkan.