Setelah dipecat dari pekerjaannya dan diputuskan oleh sang pacar di hari yang sama, Bima Aditama mengira hidupnya telah hancur, hingga sebuah "Sistem Pekerjaan Impian" mendadak muncul dan memutarbalikkan nasibnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Ruangan butik Patek Philippe itu mendadak hening selama beberapa detik.
David dan Rio saling berpandangan dengan mata terbelalak sebelum akhirnya meledak dalam tawa yang sangat keras.
Tawa mereka berdua menggema memenuhi ruangan, seolah baru saja mendengar lelucon paling lucu abad ini.
"Mbak Vanya, pacar Anda ini sepertinya terlalu banyak berkhayal," ucap David sambil menyeka air mata yang keluar karena tertawa.
Vanya ikut menutup mulutnya menahan senyum meremehkan ke arah Siska dan Bima.
"Kamu pikir ini toko mainan anak-anak di pinggir jalan raya?" bentak Rio dengan nada penuh kemenangan.
"Jam tangan yang kamu tunjuk itu adalah Patek Philippe Grandmaster Chime edisi ulang tahun ke seratus tujuh puluh lima."
Rio berjalan mendekati etalase kaca itu dan menatap jam tangan tersebut dengan pandangan memuja.
"Hanya ada segelintir jam tangan model ini di seluruh dunia."
"Harganya tiga puluh lima miliar rupiah, bahkan ayahku pun harus berpikir sepuluh kali lipat sebelum berani menawarnya."
David menganggukkan kepalanya dengan bangga membenarkan penjelasan pelanggan VVIP-nya itu.
"Tuan Rio benar sekali, dan jam tangan ini adalah satu-satunya unit yang dialokasikan untuk negara kita tahun ini."
David menatap Bima dengan tatapan yang sangat merendahkan.
"Tiga puluh lima miliar rupiah, Anak Muda."
"Uang sebanyak itu bahkan tidak akan bisa kamu kumpulkan meski kamu bekerja sebagai dosen selama sepuluh kali reinkarnasi."
Komentar di siaran langsung Siska juga ikut memanas mendengar nominal yang sangat fantastis tersebut.
"Tiga puluh lima miliar? Astaga, itu harga sebuah rumah mewah di kawasan elit!"
"Sultan Bima kali ini sepertinya salah memilih lawan, nominalnya terlalu tidak masuk akal."
"Iya, meskipun dia bisa memborong ponsel ratusan juta, tapi puluhan miliar untuk sebuah jam tangan adalah level yang berbeda."
Siska mulai merasa cemas dan menarik pelan ujung kemeja Bima dari belakang.
"Kak Bima, harganya terlalu mahal, kita pergi saja dari sini," bisik Siska dengan suara bergetar.
Dia tidak ingin Bima mempermalukan dirinya sendiri lebih jauh di depan orang-orang sombong ini.
Bima menepuk pelan tangan Siska untuk menenangkannya.
Dia sama sekali tidak terlihat panik atau terkejut mendengar angka tiga puluh lima miliar rupiah.
Bima merogoh saku belakang celana jinsnya dengan sangat santai.
Dia mengeluarkan sebuah dompet kulit berwarna hitam polos yang terlihat sangat biasa.
Dari dalam dompet itu, Bima menarik sebuah kartu berwarna hitam pekat yang tidak memiliki logo bank apa pun.
Hanya ada ukiran garis emas tipis yang membentuk pola naga di permukaan kartu tersebut.
"Gesek kartunya," perintah Bima dengan suara yang sangat tenang dan datar.
Dia meletakkan kartu hitam misterius itu tepat di atas meja kaca etalase.
"Kata sandinya enam angka nol."
Ruangan butik itu kembali hening seketika.
Tawa Rio dan David terhenti di tenggorokan mereka layaknya kaset rusak yang tiba-tiba dicabut kabelnya.
Mereka menatap kartu hitam di atas etalase itu dengan pandangan bingung bercampur curiga.
"Kamu mencoba menipu kami dengan kartu mainan dari arena bermain anak-anak?" tuduh Rio tidak percaya.
David mendengus sinis dan mengambil kartu hitam tersebut dengan gerakan kasar.
"Baiklah kalau Anda memang ingin mempermalukan diri sendiri sampai ke titik darah penghabisan."
David berjalan menuju mesin pembayaran EDC khusus yang berada di atas meja kasir utama.
"Saya akan menggesek kartu ini agar Anda tahu rasa malunya saat mesin menolak transaksi kosong Anda."
David memasukkan kartu hitam itu ke dalam mesin EDC dan menekan nominal tiga puluh lima miliar rupiah.
Jari telunjuknya lalu menekan angka nol sebanyak enam kali sesuai instruksi Bima.
"Bersiaplah untuk diusir oleh petugas keamanan, Gembel," gumam David sambil menekan tombol konfirmasi berwarna hijau.
Mesin EDC itu mulai memproses data, layarnya menampilkan tulisan harap tunggu.
Satu detik berlalu.
Tiga detik berlalu.
Tiba-tiba, mesin EDC itu mengeluarkan bunyi tit yang sangat nyaring dan panjang.
Layar mesin berubah warna menjadi hijau terang dengan tulisan transaksi disetujui.
Kertas struk bukti pembayaran langsung keluar dari bagian atas mesin dengan suara putaran printer yang sangat cepat.
David mematung menatap kertas struk yang terus memanjang itu seolah sedang melihat hantu.
Matanya melotot nyaris keluar dari kelopaknya melihat deretan angka yang baru saja berhasil diproses oleh sistem perbankan.
"Tiga... tiga puluh lima miliar... berhasil ditarik tunai?" gumam David dengan suara yang nyaris tidak terdengar.
Lutut David mendadak kehilangan tenaganya, membuatnya langsung jatuh terduduk di lantai berkarpet tebal itu.
Tangannya gemetar hebat memegang kertas struk yang masih hangat tersebut.
Rio yang merasa ada yang tidak beres buru-buru berlari menghampiri meja kasir.
Dia merebut kertas struk itu dari tangan David dan membaca tulisan di atasnya dengan napas terengah-engah.
"Pembayaran sukses, saldo mencukupi."
Rio membaca tulisan itu keras-keras dengan suara yang pecah dan bergetar hebat.
Wajah Rio yang tadinya sangat angkuh kini berubah sepucat mayat yang sudah dikubur berhari-hari.
Dia menatap Bima yang masih berdiri santai dengan tangan di dalam saku kemeja.
Pria yang dia sebut gembel dan sampah ini baru saja menghabiskan tiga puluh lima miliar rupiah tanpa berkedip sedikit pun.