Saga Mahendra percaya satu hal, pengkhianatan tidak pernah memiliki alasan. Itulah yang ia yakini sejak hari ia melihat Sahira, wanita yang ia cintai, berpelukan dengan sahabatnya sendiri. Sejak saat itu, Saga memilih pergi. Meninggalkan cinta, mimpi, dan masa lalu yang terlalu menyakitkan.
Lima tahun kemudian, ia kembali. Bukan lagi remaja yang rapuh, tapi seorang dokter dengan hati yang telah membeku. Namun, takdir mempermainkannya. Sahira muncul kembali bersama seorang anak berusia empat tahun.
Waktu tidak pernah berbohong. Lalu, siapa ayah dari anak itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Ucapan Dokter Mario sejak pagi terus terngiang di kepala Saga. Bahkan sampai siang hari, saat jam praktiknya sudah selesai, pikirannya tetap kacau.
Beberapa kali perawat memanggil namanya karena ia terlihat melamun di ruang kerja sendiri. Namun, Saga hanya menjawab seperlunya.
Tatapannya kosong menatap berkas pasien di atas meja, sementara pikirannya justru terus kembali pada satu hal, Sahir.
Dan ucapan pamannya tadi pagi.
“Anak itu mirip banget sama kamu waktu kecil.”
Saga mengusap wajahnya kasar. Karena semakin ia mencoba menyangkal, semakin banyak kemiripan yang ia lihat pada bocah itu.
“Tapi itu nggak mungkin…” gumam Saga pelan. Ia menyandarkan tubuh ke kursinya sambil memejamkan mata sejenak. Lalu perlahan mencoba mengingat masa lalunya bersama Sahira. Namun, semakin diingat semakin membuat dirinya bingung.
Selama mereka berpacaran dulu, ia tidak pernah menyentuh Sahira sejauh itu. Ia terlalu mencintai wanita itu dan terlalu menjaga Sahira. Bahkan dulu, saat masih SMA, Saga pernah memeluk Sahira sambil berkata dengan serius,
"Aku nggak akan nyentuh kamu sebelum aku nikahin kamu."
Saat itu Sahira hanya tertawa kecil karena merasa Saga terlalu serius. Namun, Saga benar-benar memegang ucapannya.
"Kalau sampai aku ngelakuin itu sebelum nikah…" Pria itu masih ingat jelas kata-katanya sendiri.
"Berarti aku udah ngelakuin kesalahan besar."
Dan yang lebih ia ingat Sahira waktu itu menatapnya sambil tersenyum lembut.
"Kalau begitu aku bakal marah banget sama kamu."
"Benci juga?" tanya Saga bercanda.
"Iya." Dan mereka tertawa bersama saat itu.
Kenangan itu justru membuat dada Saga semakin sakit sekarang. Karena tiba-tiba satu pikiran mengerikan muncul di kepalanya.
'Apa mungkin … karena hal itu Sahira membencinya?'
Tatapan Saga langsung berubah gelap. Tubuhnya perlahan menegang.
“Jangan bilang…” gumamnya pelan.
'Kalau memang benar ada sesuatu yang terjadi malam itu … maka artinya...'
Ia pernah melukai Sahira tanpa sadar. Dan kalau itu benar wajar jika wanita itu membencinya selama ini.
Namun, masalahnya Saga sama sekali tidak bisa mengingat kapan itu terjadi.
'Di mana? Bagaimana? Dan kenapa ia tidak mengingat apa pun?' Tangannya perlahan mengepal. Kepalanya terasa sakit karena memaksa mengingat sesuatu yang samar.
Saga membuka matanya perlahan. Tatapannya jatuh pada ponsel di atas meja. Pikirannya semakin kacau dan untuk pertama kalinya, muncul satu keinginan yang sebenarnya ingin ia hindari melakukan tes DNA.
Kalau Sahir benar anaknya maka selama lima tahun ini Sahira membesarkan anak mereka sendirian. Namun, kalau bukan Saga menundukkan kepala pelan sambil tertawa hambar.
“Mungkin aku bakal lebih hancur dari sekarang…” gumamnya lirih. Karena itu berarti Sahir benar-benar anak Revano. Dan Sahira memang sudah memilih pria lain sejak dulu.
Sore hari di toko bunga milik Sahira biasanya terasa tenang.
Aroma bunga segar bercampur dengan suara musik pelan membuat suasana toko terasa hangat dan nyaman.
Namun sore itu berbeda. Sahira yang sedang berada di dapur kecil belakang toko tengah memasak sup sederhana untuk makan malam dirinya dan Sahir.
Sementara Sahir sendiri tertidur lelap di ruangan kecil tempat bermainnya setelah kelelahan seharian. Lina dan Rani menjaga toko di depan seperti biasa.
Sampai tiba-tiba,
Brak!
Suara benda jatuh disusul teriakan membuat Sahira langsung menoleh kaget.
“Astaga! Jangan begitu!”
“Itu bunga baru, Pak!” Suara panik Lina dan Rani terdengar dari arah depan toko. Jantung Sahira langsung berdegup kencang. Ia buru-buru mematikan kompor lalu berlari keluar.
Begitu sampai di depan toko langkahnya langsung terhenti. Beberapa pot bunga di depan toko sudah berserakan di lantai. Kelopak bunga berjatuhan, tanah memenuhi area depan toko.
Sementara dua pria bertubuh besar tampak sengaja menendang rak bunga miliknya.
“Berhenti!” teriak Sahira panik. Tatapannya langsung jatuh pada dua sosok yang berdiri dengan wajah angkuh di depan toko. Diana dan Aldo, wanita itu berdiri sambil melipat tangan di dada dengan ekspresi sinis.
Sementara Aldo terlihat santai memainkan korek api di tangannya.
“Wah, akhirnya keluar juga,” sindir Aldo.
“Ngapain kalian di sini?” tanya Sahira marah.
Namun Diana malah mendengus kasar.
“Kamu masih tanya?”
Wanita itu menunjuk sekeliling toko dengan tatapan meremehkan.
“Lumayan juga ternyata hidup kamu.”
Sahira mengepalkan tangannya pelan.
“Kalau datang cuma buat bikin keributan, keluar dari toko saya.”
“Enak aja!” bentak Diana tiba-tiba.
Lina dan Rani yang tadi mencoba menghentikan dua pria itu langsung mundur ketakutan saat salah satu preman membanting pot bunga lain ke lantai.
Prang!
Sahira refleks menoleh. Dadanya terasa sakit melihat bunga-bunga yang selama ini ia rawat rusak begitu saja.
“Jangan rusak toko saya!” teriaknya emosi.
Namun Diana justru melangkah mendekat.
“Kamu pikir saya datang buat main-main?”
Tatapan wanita itu berubah tajam.
“Kami butuh uang.”
Sahira langsung tertawa hambar.
“Uang lagi?”
“Iya!” bentak Diana tanpa malu. “Aldo butuh bayar cicilan mobil sama motornya.”
Sahira menatap wanita itu tidak percaya.
“Kalian datang buat minta uang untuk itu?”
“Ya terus kenapa?” sahut Aldo santai. “Lu kan punya toko.”
Sahira langsung merasa emosinya naik.
“Toko ini aja hampir nggak cukup buat hidup saya dan anak saya!”
Namun Diana sama sekali tidak peduli.
“Itu bukan urusan saya.”
Wanita itu menunjuk wajah Sahira kasar.
“Kamu tetap harus memberi uang untuk Aldo. Karena kalian masih keluarga,"
“Keluarga?” ulang Sahira lirih penuh sakit hati.
Tatapannya memerah.
“Ayah baru meninggal beberapa tahun, tapi kalian nggak pernah peduli sama saya.”
“Jangan banyak omong!” bentak Diana. “Pokoknya hari ini kamu harus kasih uang!”
Sahira menggeleng kuat.
“Saya nggak punya.”
“Bohong!”
“Saya benar-benar nggak punya!”
Namun, Aldo malah mendekat sambil menyeringai sinis.
“Kalau nggak punya…” ujarnya pelan, “jual aja toko ini.”
Mata Sahira langsung membulat marah.
“Jangan mimpi!”
Suasana semakin tegang dan di tengah keributan itu tak ada yang menyadari bahwa dari balik pintu ruangan kecil, sepasang mata mungil mulai terbuka perlahan karena suara ribut di luar.
“Ibu…” Suara kecil itu membuat semua orang menoleh.
Sahir berdiri di ambang pintu ruangan kecil dengan mata yang masih sembab karena baru bangun tidur. Rambutnya sedikit berantakan, sementara tangan kecilnya menggenggam boneka kain lusuh miliknya.
Anak itu tampak bingung melihat kekacauan di depan toko. Pot bunga berserakan Lina dan Rani terlihat ketakutan. Dan ibunya berdiri dengan wajah tegang di depan orang-orang asing. Tetapi, saat melihat Aldo membentak Sahira wajah kecil Sahir langsung berubah.
“Jangan sakiti ibuku!” Suara cadelnya terdengar nyaring di tengah keributan.
Jantung Sahira langsung mencelos.
“Sahir!” teriaknya panik.
Ia buru-buru hendak menghampiri anaknya tetapi semuanya terjadi begitu cepat. Aldo yang sejak tadi emosi langsung menyeringai sinis saat melihat Sahir.
“Nah…” gumamnya pelan. “Ini anak haram itu, ya?”
“Jangan ngomong sembarangan!” bentak Sahira marah. Aldo malah melangkah cepat.
Bruk!
“Akh!” Sahira terdorong keras sampai tubuhnya hampir jatuh ke lantai.
“Ibu!” Sahir langsung menangis panik.
Sebelum Sahira sempat bangkit Aldo sudah lebih dulu menarik tubuh kecil Sahir dan mengangkatnya kasar.
“Lepasin anak saya!” teriak Sahira histeris.
Sahir langsung menangis ketakutan saat tubuh kecilnya dipegang sembarangan.
“Ibu!”
“Diam!” bentak Aldo.
Anak kecil itu semakin ketakutan. Tangannya meronta mencoba lepas sambil menangis keras.
“Ibu … ibu…”
Sahira langsung bangkit dengan wajah pucat.
“Aldo, jangan sentuh anakku!” suaranya bergetar hebat. “Tolong … jangan libatkan dia.”
Aldo justru tertawa sinis.
“Kalau lu nggak mau kasih uang…” katanya dingin, “gue bawa aja anak ini.”
“Jangan!” Tubuh Sahira langsung melemas mendengar ancaman itu.
Air matanya mulai jatuh.
“Dia masih kecil…”
Diana malah berdiri santai tanpa rasa iba sedikit pun.
“Makanya jangan keras kepala.”
Sahir menangis semakin keras.
“Ibu … takut…” Tangannya yang kecil berusaha menggapai Sahira.
Melihat itu, hati Sahira seperti diremas.
“Lepasin dia!” teriaknya sambil mencoba mendekat.
Salah satu preman langsung menghalangi langkahnya. Lina dan Rani juga panik ketakutan.
“Mbak Sahira…”
Sementara Sahir mulai sesenggukan dalam pelukan kasar Aldo. Wajah kecilnya memerah karena menangis.
“Ibu … sakit…” Kalimat itu membuat Sahira benar-benar kehilangan kesabaran. Matanya memerah penuh amarah dan ketakutan.
“Kalau kalian berani nyakitin anakku…” suaranya bergetar hebat, “aku bakal laporin kalian ke polisi!”
Aldo justru menyeringai.
“Lapor aja!”
Tangannya semakin mencengkeram tubuh kecil Sahir. Tepat saat Sahira hendak nekat merebut anaknya suara mobil berhenti mendadak terdengar dari depan toko.
orang yang terobsesi bisa melakukan hal yang sangat berbahaya.
Takut kalau keluarga tiri dan Clara menemukan mereka di bali