Saat hamil tujuh bulan, Kayla baru sadar bahwa pernikahannya hanyalah kebohongan.
Suaminya berselingkuh.
Mertuanya membencinya.
Dan rumah mewah yang dulu ia sebut rumah perlahan berubah menjadi neraka.
Padahal tanpa Kayla, Adrian Wijaya bukan siapa-siapa.
Dikhianati saat mengandung, dibuang ketika paling rapuh, Kayla memilih bangkit. Perlahan, wanita yang dulu diremehkan itu berubah menjadi sosok yang tak lagi bisa disentuh.
Kini saat semua pria mulai berlutut memperebutkan hatinya...
mantan suaminya justru kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Frenzy hrp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pintu yang Terkunci
Detik jam dinding di kamar VIP Rumah Sakit Arka Medika terasa berdentang lebih keras di telinga Kayla.
Sudah empat jam sejak dia menekan tombol kirim pada email balasannya ke Pratama & Co. Namun, kotak masuk di ponsel retaknya masih tetap sepi. Tidak ada gelembung notifikasi baru. Hanya layar buram yang sesekali berkedip, menampilkan pantulan wajah pucat Kayla yang kian tirus.
Kayla mengembuskan napas berat. Untuk mengusir rasa cemas yang mulai menggerogoti dadanya, dia kembali membuka mesin pencari Google. Jemarinya yang kurus mengetik dengan cepat: Lowongan kerja akuntan remote freelance.
Dia tahu kondisi fisiknya tidak memungkinkan untuk bekerja kantoran. Jangankan berjalan tegak, bergeser dari ranjang ke kursi roda saja membutuhkan perjuangan yang membuat pelipisnya dibanjiri keringat dingin. Kerja dari ranjang rumah sakit adalah satu-satunya jalan.
Satu per satu situs lowongan kerja dia buka. Namun, setiap kali dia membaca kolom persyaratan, hatinya perlahan mencelos.
“Pengalaman minimal 2 tahun di bidang yang sama.”
“Tidak memiliki gap karier lebih dari 1 tahun.”
“Diutamakan yang berdomisili di Jakarta untuk koordinasi mingguan.”
Kayla menyandarkan kepalanya ke dinding dengan lemas. Tiga tahun. Dia memiliki gap kosong di CV-nya selama tiga tahun penuh.
Tiga tahun berharga yang dia habiskan di dapur mansion Wijaya, mengurus cucian kotor Ibu Sandra, meladeni kemanjaan Tiara, dan membereskan pembukuan Adrian dari balik meja makan tanpa pernah digaji sepeser pun. Di mata dunia profesional, dia adalah wanita yang sudah tertinggal kereta. Kemampuan geniusnya sebagai lulusan terbaik seolah terhapus begitu saja oleh status "ibu rumah tangga".
"Enggak, aku gak boleh putus asa," bisik Kayla pada dirinya sendiri.
Dia kembali menggulir layar, mencoba memasukkan draf lamaran ke beberapa perusahaan rintisan kecil. Dia melampirkan transkrip nilai kuliahnya yang sempurna. Namun, tanggapan yang dia terima melalui email otomatis dalam beberapa jam kemudian selalu sama:
“Terima kasih atas ketertarikan Anda. Namun saat ini, profil Anda belum sesuai dengan kriteria yang kami butuhkan...”
Ditolak.
Ditolak lagi.
Dan ditolak lagi.
Kata-kata penolakan itu seolah berubah menjadi tangan-tangan tak kasat mata yang menekan dada Kayla hingga sesak. Rasa rendah diri yang selama tiga tahun ini ditanamkan oleh keluarga Adrian perlahan merayap naik kembali, membisikkan kalimat-kalimat beracun di telinganya.
Sadar diri, Kay. Kamu itu siapa tanpa Adrian? Kamu cuma wanita miskin yang gak punya apa-apa.
"Ugh..." Kayla meringis pelan. Rasa stres yang memuncak mendadak memicu kedutan nyeri di perut bawahnya. Jahitan pasca-operasi sesarnya terasa seperti ditarik paksa, meninggalkan rasa perih yang membakar.
Di dalam boks bayi, Arsen tiba-tiba menggeliat gelisah. Bayi kecil itu mengeluarkan suara rengekan halus, seolah bisa merasakan gelombang kecemasan yang sedang melanda ibunya.
Melihat hal itu, Kayla buru-buru meletakkan ponselnya. Dia memiringkan tubuhnya dengan perlahan, menahan ringisan di bibir, lalu mengulurkan tangan untuk mengusap dada kecil Arsen.
"Cup, cup... anak pintar. Ibu di sini, Sayang. Maafkan Ibu, ya..." suara Kayla bergetar halus.
Air mata yang sejak tadi dia tahan akhirnya menetes juga, jatuh membasahi sudut kasur. Rasa takut yang teramat sangat menyergap jiwanya. Dia tidak takut pada kemiskinan, dia juga tidak peduli lagi jika dirinya harus kelaparan. Tapi membayangkan sebulan lagi dia tidak mampu membelikan popok yang layak atau mengimunisasi Arsen... pikiran itu benar-benar membuat Kayla merasa begitu kerdil dan tak berguna.
Di tengah keheningan kamar yang mencekam dan penuh air mata itu, tiba-tiba—
Ting!
Sebuah suara notifikasi yang nyaring memecah kesunyian.
Tubuh Kayla menegang seketika. Jantungnya berdegup sangat kencang hingga dadanya terasa sakit. Dengan tangan yang gemetar hebat, dia meraih kembali ponsel retaknya.
Satu pesan baru muncul di baris paling atas kotak masuk Gmail-nya.
Pengirim: HRD Pratama & Co.
Napas Kayla mendadak berhenti. Dia menatap layar itu selama beberapa detik dengan mata berkaca-kaca, terlalu takut untuk membuka pesan yang mungkin saja berisi penolakan terakhir yang akan menghancurkan seluruh sisa harapannya.