NovelToon NovelToon
Takdir Didunia Sihir

Takdir Didunia Sihir

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi
Popularitas:76
Nilai: 5
Nama Author: (Rahu)l

Haruto Kazehara hanyalah remaja biasa yang tak pernah bermimpi menjadi seseorang yang istimewa—sampai takdir mengubah segalanya secara tiba-tiba lewat sebuah kecelakaan. Saat ia membuka mata kembali, ia mendapati dirinya terbangun di dunia yang tak pernah ia bayangkan: sebuah negeri yang dipenuhi cahaya sihir, hutan berbahaya, monster purba, naga yang menguasai langit, dan kerajaan kuno yang menyimpan ribuan rahasia.

Penuh harap ia menyambut kekuatan baru sebagai pahlawan yang legendaris. Namun kenyataan berbalik mengecewakan: sihir yang ia miliki justru berjenis aneh, tak terduga, dan seringkali gagal total di saat-saat paling krusial. Alih-alih tampil gagah dan memukau, Haruto malah kerap menjadi bahan tertawaan teman-temannya—belum lagi tingkah laku slime rakus bernama Pochi yang selalu mengikutinya ke mana saja dan tak segan membuat kekacauan di mana pun mereka berada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21 – PERTARUNGAN PERTAMA

Udara di dalam Hutan Lumin terasa semakin berat, setiap helaan napas yang keluar dari paru-paru Haruto terasa menyengat di tenggorokannya. Udara lembap yang biasanya membuatnya merasa nyaman kini hanya menambah beban pada tubuhnya yang sudah mulai terasa lelah. Dua ekor Beruang Hutan berdiri dengan sikap mengancam—satu menghadang jalannya ke depan, tepat di sebelah batu besar tempat Jamur Bulan tumbuh, dan yang lain mengunci jalan keluar ke belakang, dengan tubuhnya yang lebih besar menjadikan setiap celah di antara pepohonan tampak semakin kecil.

Kedua monster itu menggeram pelan, napas hangat mereka menyemburkan uap putih ke udara sejuk hutan. Gigi mereka yang tajam bersinar di bawah sinar matahari yang sedikit menembus dedaunan, seolah sedang mengurung mangsanya yang tidak punya jalan keluar.

“GRRRR…”

Suara menggeram mereka bergema perlahan, membuat daun-daun kering di tanah bergoyang dan rerumputan sedikit bergeser. Haruto menggenggam kedua tangannya hingga buku tangannya memucat, kakinya sedikit menggoyangkan namun ia berusaha tetap berdiri kokoh. Tubuhnya sudah mulai terasa gemetar, bukan hanya karena rasa takut, tapi juga karena upaya mengendalikan mana yang mulai terkumpul di dalam dirinya.

“Kali ini benar-benar gawat…” bisiknya dengan suara yang hampir tak terdengar, matanya terus memantau gerakan kedua monster itu tanpa berkedip. Pochi yang berada di sisi kirinya menatapnya dengan mata yang penuh kekhawatiran, tubuh slime-nya sedikit bergetar seolah merasakan ketegangan yang meliputi seluruh area sekitar mereka.

“Pyoo?” Suara kecilnya terdengar penuh perhatian, seolah bertanya apakah Haruto sudah punya rencana untuk keluar dari situasi yang menyudutkan ini.

Haruto menggeleng perlahan, kemudian menoleh ke arah sahabat kecilnya dengan tatapan yang tegas meskipun ada rasa sayang di dalamnya. “Jangan berubah bentuk,” katanya dengan nada yang jelas dan tegas. “Aku ingin mencoba menghadapinya sendiri. Ini adalah ujian untukku sebagai petualang yang baru saja memulai perjalanan. Kalau aku selalu mengandalkan kekuatan orang lain atau kekuatanmu yang luar biasa, aku tidak akan pernah tumbuh.”

Pochi menatapnya sebentar, wajahnya yang tidak memiliki bentuk jelas seolah menunjukkan ekspresi ragu. Namun setelah beberapa saat, ia mengangguk pelan dan sedikit menyusut ke belakang, seolah menghormati keputusan Haruto meskipun masih tetap siap membantu kapan saja jika diperlukan.

“Pyoo…”

Beruang yang lebih besar dengan bercak putih di dadanya adalah yang pertama bergerak maju. Setiap langkahnya membuat tanah bergetar dengan keras, menghasilkan suara bruk… bruk… bruk… yang membuat hati Haruto berdebar semakin kencang. Tanah di bawah kaki monster itu langsung tertekuk dan retak, bahkan beberapa akar pohon kecil yang muncul di permukaan tanah langsung patah terinjak oleh badannya yang berat.

Haruto segera mengangkat tangan kanannya ke depan, telapak tangannya menghadap ke arah beruang yang sedang mendekat. “Water Ball!” teriaknya dengan penuh konsentrasi. Dari dalam tubuhnya, mana mengalir dengan cepat ke ujung jemari, membentuk bola air yang jelas dan mengkilap dengan diameter sekitar sepuluh sentimeter.

“Siap kau terima!”

Sebuah bola air melesat dengan kecepatan lumayan tinggi menuju wajah monster itu. Suara byur! terdengar saat bola air menyentuh hidung besar beruang. Monster itu hanya memejamkan mata sesaat, kemudian mengocok kepalanya dengan kasar. Air dari bola itu menyebar ke wajahnya dan membuat bulunya menjadi basah, namun tidak ada bekas luka sedikit pun yang terlihat di kulitnya yang tebal seperti baju besi.

“Masih kurang kuat…” gumam Haruto dengan wajah yang sedikit kecewa tapi tidak menyerah. Ia tahu bahwa Water Ball yang bisa ia hasilkan saat ini memang belum cukup kuat untuk melukai monster tingkat E, tapi setidaknya serangan itu berhasil mengganggu konsentrasi dan penglihatan beruang sebentar saja.

Tanpa memberikan kesempatan bagi Haruto untuk berpikir lebih jauh, beruang itu mengayunkan cakar kanannya yang sebesar pelampung kayu dengan kecepatan yang luar biasa untuk ukuran tubuhnya yang besar. Suara wussh! terdengar saat cakar itu melintas di udara, membawa angin sepoi-sepoi yang membuat rambut Haruto bergerak.

Haruto tidak punya waktu untuk berpikir panjang. Dengan refleks yang luar biasa untuk seorang pemula, ia melompat mundur sejauh hampir dua meter. Cakar beruang menyambar tepat di tempat ia berdiri tadi—brak! Suara keras menggema saat tanah langsung retak membentuk lekukan dalam seperti bekas lubang dari pukulan besar. Beberapa batu kecil yang berada di sekitarnya terlempar ke segala arah.

“Kuat sekali!” teriak Haruto dengan mata yang melebar tak percaya. Jika ia terlambat sedikit saja untuk menghindar, pasti tubuhnya akan terbelah dua oleh cakar yang tajam itu. Keringat mulai muncul di dahinya dan mengalir ke pipinya, namun ia tetap mencoba menjaga fokus.

Namun masalah tidak berhenti di situ. Belum sempat ia mengatur napas dan kembali mengambil posisi yang aman, suara langkah kaki berat terdengar dari belakangnya. Haruto tidak perlu menoleh untuk tahu bahwa beruang kedua telah mulai menyerang dari arah belakang, memanfaatkan kesempatan saat perhatiannya teralihkan ke depan.

“Tidak bisa ketinggalan juga ya!” gumam Haruto sambil melirik ke belakang dengan mata sebelah. Cakar tajam beruang kedua sudah hampir menyentuh punggungnya—hanya berjarak beberapa sentimeter saja. Tanpa ragu, ia segera berguling cepat ke arah kiri, membuat cakar itu hanya menyambar udara dengan suara swish! yang menusuk telinga.

“Aku hampir kena!” teriaknya saat berhasil berdiri kembali dengan sedikit terengah-engah. Keringat sudah mulai membasahi seluruh bagian tubuhnya, baju yang dikenakannya basah baik karena keringat maupun sisa air dari serangan sebelumnya. Namun kali ini, berbeda dengan saat-saat sebelumnya ketika ia merasa panik dan bingung, wajahnya kini menunjukkan ekspresi yang lebih tenang dan fokus.

Ia menarik napas panjang hingga dadanya membengkak, kemudian mengeluarkannya perlahan sambil mengulang kalimat yang sering diajarkan Mizuna saat mengajarinya mengendalikan sihir air. “Tenang…” bisiknya dengan suara yang penuh keyakinan. “Air mengikuti kehendakku. Aku adalah yang mengendalikan air, bukan sebaliknya.”

Haruto mengangkat kedua tangannya ke depan, telapak tangan menghadap ke atas. Dalam sekejap, dua buah Water Ball muncul bersamaan di atas kedua telapak tangannya—bola yang lebih besar dari yang ia hasilkan sebelumnya, dengan warna yang lebih jernih dan kilauan yang lebih terang. Ia tidak langsung menembakkannya ke arah kedua beruang seperti biasanya. Sebaliknya, ia menggerakkan jemarinya dengan lembut, membuat kedua bola air itu berputar mengelilingi tubuhnya dengan kecepatan yang terkontrol, membentuk lingkaran kecil yang melindungi seluruh bagian tubuhnya.

Ingatan tentang pelajaran Mizuna muncul kembali di benaknya. Saat itu, setelah Haruto beberapa kali gagal mengendalikan sihirnya dan membuatnya keluar dari kendali, Mizuna telah menariknya ke tepi sungai di luar kota dan berkata dengan nada yang penuh hikmat:

“Air tidak selalu digunakan untuk menyerang, Haruto. Kadang kala, kekuatan terbesar air bukanlah ketika ia menghancurkan sesuatu dengan keras, melainkan ketika ia bisa menyesuaikan diri dengan segala bentuk dan keadaan di sekitarnya. Gunakan sesuai keadaan, dan kamu akan melihat bahwa air bisa menjadi teman terbaikmu dalam berbagai situasi sulit.”

Haruto tersenyum kecil saat mengingat kata-kata gurunya itu. “Aku tahu…” bisiknya, matanya kini penuh dengan kejelasan dan keyakinan yang belum pernah ada sebelumnya.

Saat beruang pertama yang lebih besar melihat bahwa Haruto sudah siap lagi, ia menerjang dengan kecepatan yang lebih tinggi dari sebelumnya, mulutnya terbuka lebar menunjukkan gigi dan taring yang tajam seperti pisau. “GRAAAAH!” Aumannya menggema dan membuat burung-burung kecil yang bersembunyi di pepohonan beterbangan dengan terkejut.

Tanpa ragu, Haruto menggerakkan tangannya dengan cepat. Salah satu Water Ball yang sedang berputar mengelilingi tubuhnya langsung berubah bentuk—dari bola bulat menjadi cambuk panjang yang terbuat dari air yang kental dan padat seperti karet. “Cambuk Air!” teriaknya.

Srett!

Cambuk itu melesat dengan cepat dan melilit kaki depan kiri monster tersebut dengan sangat erat. Beruang yang tengah menerjang tiba-tiba kehilangan keseimbangan, tubuh besarnya terpental ke samping dan kemudian jatuh dengan keras menabrak batu besar yang terletak di sebelahnya. Bruk! Suara benturan yang menggema membuat tanah sekitarnya bergetar dan beberapa pecahan batu kecil terlempar ke arah Haruto.

“Berhasil!” teriak Haruto dengan wajah yang penuh kegembiraan. Ini adalah pertama kalinya ia berhasil mengendalikan sihir airnya dengan benar dan menggunakan bentuk lain selain bola. Rasanya seperti ada beban besar yang terangkat dari pundaknya, dan rasa percaya diri mulai tumbuh di dalam hatinya.

Namun keberuntungan itu tidak berlangsung lama. Setelah beberapa saat, cambuk air yang melilit kaki beruang mulai terlihat kendur dan akhirnya pecah menjadi ribuan tetesan air yang menyebar ke tanah. Monster itu mengocok kakinya dengan kasar untuk menghilangkan sisa-sisa air yang menempel, kemudian dengan mudah berdiri kembali seperti tidak merasa sakit sama sekali.

“GRAAAAH!”

Auman yang lebih keras dari sebelumnya keluar dari mulutnya, menunjukkan bahwa ia semakin marah karena terus dihalangi oleh seorang petualang pemula seperti Haruto. Kini kedua monster tidak lagi menyerang secara bergantian—mereka bergerak maju bersama-sama, satu dari depan dan satu dari sisi kanan, menyempitkan ruang gerak Haruto yang sudah sangat terbatas.

Haruto mengepalkan giginya dengan kuat, rasanya seperti mana di dalam tubuhnya mulai sedikit menipis setelah beberapa kali menggunakan sihir secara berurutan. “Kalau begini terus…” gumamnya dengan suara yang sedikit lemah. “…aku akan kehabisan mana sebelum bisa mengumpulkan Jamur Bulan yang dibutuhkan.”

Tiba-tiba, sebelum Haruto bisa memutuskan apa yang harus dilakukan selanjutnya, Pochi yang berada di belakangnya melompat cepat ke depan, melewati tubuh Haruto dengan gesit. “Pyoo!” Suaranya terdengar lebih keras dari biasanya, seolah telah membuat keputusan sendiri.

Tanpa memberikan kesempatan bagi Haruto untuk menghalanginya, tubuh kecil Pochi mulai berubah bentuk dengan cepat. Warna biru khasnya menjadi lebih dalam, dan dalam sekejap ia berubah menjadi tiruan yang sangat mirip dengan Haruto—tingginya sama persis, rambutnya juga seperti Haruto namun dengan kilau biru muda yang samar, bahkan pakaian yang dikenakannya juga sama persis dengan yang dikenakan Haruto saat ini. Hanya saja wajahnya sedikit lebih pucat dan mata nya berwarna biru muda yang khas dari slime.

Kedua beruang yang tengah menyerang langsung berhenti dan melihat ke arah dua sosok Haruto yang berdiri di hadapan mereka. Mereka menggeram pelan, kepala mereka sedikit bergoyang seolah bingung membedakan mana yang asli dan mana yang tiruan.

“Hah?” Haruto ikut terkejut, matanya melebar tak percaya melihat sosok yang sangat mirip dirinya berdiri di sebelahnya. “Pochi! Kau tidak dengarkan kata-kataku ya?” serunya dengan nada sedikit kesal namun juga penuh kekhawatiran.

Tiruan itu hanya menoleh sebentar ke arah Haruto, kemudian memberikan senyuman yang lembut sebelum berlari cepat ke arah kanan menjauhi batu besar tempat Jamur Bulan tumbuh. “Pyoo! Pyoo!” Suaranya terdengar seperti sedang menarik perhatian kedua monster itu.

Seperti yang diharapkan, kedua beruang spontan mengejar sosok tiruan itu dengan mengaum keras. Mereka tidak lagi memperdulikan Haruto yang sebenarnya, fokus mereka sepenuhnya teralihkan ke sosok yang sedang berlari menjauh dengan cepat.

“Jangan terlalu jauh!” teriak Haruto dengan suara penuh kekhawatiran. Namun saat itu juga, ia menyadari bahwa ini adalah kesempatan emas yang tidak bisa dilewatkan. Ia segera berlari ke arah batu besar yang terletak di balik tempat beruang pertama berdiri tadi.

Di balik batu itu, tepat seperti yang tertulis dalam gulungan misi, tumbuh rumpun Jamur Bulan yang indah—berwarna putih kebiruan dengan permukaan yang mengkilap dan memancarkan cahaya lembut meskipun berada di tempat yang sedikit teduh. Haruto segera mengambil kantong khusus dari dalam tasnya dan mulai memetiknya dengan hati-hati, tidak ingin merusak bentuk atau kualitas jamur yang sangat berharga itu.

“Satu…” bisiknya sambil meletakkan jamur pertama ke dalam kantong.

“Dua…”

“Tiga…”

Setiap jamur yang ia petik masuk ke dalam kantong dengan hati-hati. Ia bergerak cepat namun tetap teliti, memastikan bahwa setiap jamur yang diambil dalam kondisi baik dan utuh. Dalam waktu singkat, ia sudah berhasil mengumpulkan delapan belas jamur, dan ketika menemukan beberapa lagi yang tumbuh di celah batu, akhirnya jumlah jamur di dalam tasnya mencapai dua puluh—persis sesuai dengan target yang diberikan oleh Guild Lumin.

“Akhirnya lengkap!” teriak Haruto dengan wajah yang penuh kegembiraan. Ia segera menutup kantong dengan rapat dan menyimpannya kembali ke dalam tasnya yang terletak di pundaknya. Kini yang tinggal hanyalah kabur dari hutan dan kembali ke kota dengan selamat.

Namun saat ia hendak berbalik dan berlari menuju arah keluar hutan, suara gemetar terdengar dari arah di mana Pochi berlari tadi. Ketika ia melihat ke sana, sosok tiruan Haruto yang dibuat Pochi sudah mulai memudar dan berubah kembali menjadi slime kecil yang biasa ia kenal. Energi yang digunakan untuk mempertahankan bentuk tiruan sudah mulai menipis, dan Pochi terlihat lemah saat berada di atas ranting pohon kecil.

“Pyoo!” Suaranya terdengar lemah dan penuh kesusahan.

Kedua beruang yang sedang mengejarnya langsung menyadari bahwa telah tertipu. Ekspresi mereka menjadi lebih marah dari sebelumnya, mata mereka menyala dengan warna merah yang mengerikan. Mereka mengangkat kepala ke atas dan mengeluarkan auman yang sangat keras hingga membuat pepohonan di sekitarnya bergoyang dan daun-daunnya jatuh ke tanah.

“ROOOAAARRR!!”

Suara auman mereka menggema di seluruh hutan, membuat Haruto merasakan getaran yang kuat di dalam tubuhnya. Ia tidak punya waktu untuk berpikir panjang lagi. Dengan cepat ia berlari ke arah Pochi dan menggendongnya dengan lembut ke dalam pelukannya.

“Lari!” teriaknya sambil memulai berlari secepat mungkin menyusuri jalan sempit di antara pepohonan. Kakinya bergerak dengan cepat, kadang kala ia terpaksa melompat melewati akar pohon atau batu besar yang menghalangi jalannya.

Dari belakangnya, kedua beruang terus mengejar dengan kecepatan yang mengejutkan untuk ukuran tubuh mereka yang besar. Suara bruk… bruk… bruk… dari langkah kaki mereka semakin dekat, dan Haruto bisa merasakan angin sepoi-sepoi dari napas hangat mereka yang menyemburkan ke lehernya.

Haruto sudah mulai kehabisan napas, dadanya terasa sakit karena harus berlari dengan kecepatan tinggi sambil membawa Pochi di dalam pelukannya. Namun ia tidak berani berhenti atau mengurangi kecepatannya sedikit pun. “Sedikit lagi…” bisiknya dengan suara yang terengah-engah. “Gerbang hutan sudah dekat! Kita pasti bisa keluar dari sini!”

Saat salah satu beruang hampir berhasil menyentuh bagian belakang bajunya dengan cakarnya yang tajam—hanya beberapa milimeter lagi dari kulitnya—tiba-tiba terdengar suara jernih seseorang dari arah kejauhan.

“Sword Slash!”

Suara teriak itu diikuti dengan sreeet! yang menusuk telinga. Sebuah tebasan pedang yang terpancarkan energi berwarna perak meluncur dengan cepat melalui udara, menuju tepat ke depan kedua beruang yang tengah mengejar Haruto. Ketika energi itu mengenai tanah, terjadi ledakan kecil yang menghasilkan percikan api dan tanah yang terlempar ke segala arah. Guncangan yang dihasilkan membuat kedua monster mundur beberapa langkah dan terpaksa berhenti mengejar.

Haruto berhenti berlari dan menoleh dengan napas yang masih terengah-engah. Dari balik pepohonan yang rimbun muncul tiga orang petualang mengenakan jubah berwarna biru muda dengan lambang Guild Lumin yang terjahit di bagian dada mereka. Di bawah lambang itu, terpasang lencana dengan simbol Kelas C yang menunjukkan bahwa mereka adalah petualang berpengalaman dengan kemampuan yang jauh lebih tinggi daripada Haruto.

Pemimpin mereka, seorang pemuda berambut merah dengan wajah yang tampak tegas namun ramah, menghunus pedang besi yang mengkilap di tangannya. Ia berjalan maju dengan langkah yang mantap, sambil menatap kedua beruang dengan tatapan yang penuh keyakinan.

“Kau baik-baik saja, petualang baru?” tanyanya dengan suara yang jelas dan nyaring, tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun meskipun menghadapi dua monster tingkat E sekaligus.

Haruto mengangguk pelan sambil masih menyesakkan napas, tubuhnya yang lelah mulai menurun dan ia harus menumpu berat badan pada salah satu kakinya. “Ya… terima kasih… kalau bukan kamu, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku dan Pochi,” katanya dengan suara yang masih sedikit gemetar, baik karena kelelahan maupun karena rasa lega yang luar biasa setelah diselamatkan.

Pemuda berambut merah itu tersenyum ringan,

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!