NovelToon NovelToon
Siasat Cantik Istri Bercadar

Siasat Cantik Istri Bercadar

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lia Lby

Fatimah mengira pernikahan paksa dengan Rayhan Khalif adalah akhir dari impiannya.

Namun, saat ia mulai mencintai sang suami yang selalu memanjakannya, sebuah rahasia kelam terbongkar: Rayhan Khalif telah dijebak dan menikah siri dengan wanita dari masa lalunya.

​Alih-alih mengamuk, Fatimah menghadapi pengkhianatan ini dengan cara yang elegan.

Menggunakan strategi psikologis dan ketenangan yang mematikan, sang istri bercadar siap merebut kembali kebahagiaannya. Air mata berbalut iman, siasat paling mematikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pulang Bersama Isyarat

Matahari tepat berada di atas kepala ketika mobil dinas pesantren yang membawa Fatimah dan Ustazah Zahra berhenti dan terparkir di persimpangan jalan menuju rumah Fatimah.

Sepanjang perjalanan, Fatimah lebih banyak diam, memeluk tas ransel kecilnya di pangkuan.

Fatimah terus berfikir dan merasa takut mendengar keputusan terakhir dari orang tuanya, setelah berbicara dengan Ustazah Zahra nantinya .

Kehadiran Ustazah Zahra di sampingnya setidaknya memberikan sedikit kekuatan pada kakinya yang terasa goyah untuk kembali menginjakkan kaki di rumah tempat impiannya dihancurkan kemarin malam.

"Bismillah, Fatimah. Tata hatimu, luruskan niat hanya untuk mencari rida Allah."

Bisik Ustazah Zahra lembut, seolah tahu ketakutan yang sedang berkecamuk di dalam dada santriwatinya.

Fatimah mengangguk pelan di balik cadarnya.

"Baik, Ustazah."

Mereka berdua berjalan menyusuri gang kecil. Begitu sampai di depan pagar rumah, suasana tampak begitu sepi.

Pintu depan sedikit terbuka. Fatimah melangkah lebih dulu, lalu mengetuk pintu kayu yang menjadi saksi bisu kepergiannya subuh tadi.

"Assalamu’alaikum..." ucap Fatimah lirih.

Tak butuh waktu lama, terdengar langkah kaki tergesa-gesa dari dalam. Ibu muncul di ambang pintu.

Begitu melihat Fatimah, gurat kelelahan dan kesedihan di wajah wanita paruh baya itu seketika berganti dengan binar keaktifan.

Namun, pandangannya langsung beralih terkejut sekaligus segan begitu menyadari sosok wanita bersahaja dengan khimar panjang yang berdiri di samping putrinya.

"Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh... Ya Allah, Fatimah."

Ibu hampir memeluk Fatimah, namun ia menahan diri karena rasa segan pada tamu yang dibawa putrinya.

"Ustazah Zahra? Silahkan, Silahkan masuk, Ustazah. Mohon maaf rumah kami berantakan."

"Tidak apa-apa, Bu. Kedatangan saya ke sini justru ingin bersilaturahmi sekaligus mengantarkan Fatimah pulang."

Jawab Ustazah Zahra dengan senyum yang sangat teduh, menjabat dan mencium tangan Ibu dengan penuh adab.

Ibu mempersilakan mereka duduk di ruang tamu. Atmosfer di ruangan itu mendadak terasa begitu formal dan sarat akan ketegangan yang tertahan.

Ibu tampak gugup, jemarinya saling bertautan di atas pangkuan. Ia tahu betul siapa Ustazah Zahra—seorang guru yang sangat dihormati di pesantren tempat Fatimah mengabdi, dan kedatangannya yang mendadak ini pasti ada hubungannya dengan pemberontakan Fatimah kemarin malam.

Sebelum pembicaraan dimulai, Ustazah Zahra menoleh ke arah Fatimah. Pandangan mata sang ustazah begitu tenang, namun ada sebuah isyarat tegas yang tersirat di sana.

Ustazah Zahra memberikan anggukan kecil sembari menggerakkan tangannya secara halus, mengisyaratkan agar Fatimah masuk saja ke dalam kamar dan meninggalkan mereka berdua untuk berbicara.

Fatimah menangkap isyarat tersebut. Ia tahu, Ustazah Zahra ingin berbicara dari hati ke hati dengan ibunya tanpa ada kecanggungan atau batasan karena kehadirannya.

Sebagai seorang murid yang takzim, Fatimah tidak membantah.

"Bu, Ustazah... Fatimah izin ke kamar belakang dulu untuk menaruh barang," pamit Fatimah dengan suara lembut, menunduk takzim.

"Iya, Nak. Masuklah, istirahat dulu."

Sahut Ibu, menatap punggung putrinya dengan tatapan yang sulit diartikan—antara rasa bersalah dan kelegaan karena Fatimah tidak kabur.

Fatimah melangkah meninggalkan ruang tamu, menutup pintu kamarnya rapat-rapat.

Kini, di balik dinding kamar yang tipis itu, Fatimah hanya bisa menyandarkan tubuhnya pada pintu, menanti dengan dada yang berdebar kencang.

Ia tidak tahu apa yang akan disampaikan oleh Ustazah Zahra, dan ia tidak tahu rahasia besar apa yang sebentar lagi akan terkuak dari bibir ibunya sendiri di ruang depan.

1
Enz99
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!