NovelToon NovelToon
Top 1%

Top 1%

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:549
Nilai: 5
Nama Author: Reyanza Rayyan Fahlevy

Nexus Academy bukan sekolah biasa. Hanya 1% siswa terbaik yang berhasil diterima setiap tahun. Dari lebih dari 120.000 pendaftar, hanya 600 siswa yang lolos melewati serangkaian tes yang hampir mustahil: tes logika ekstrem, simulasi kepemimpinan, wawancara psikologi, ujian ketahanan mental, hingga permainan strategi yang membuat ribuan peserta menyerah sebelum mencapai gerbang sekolah.
Mereka yang diterima disebut sebagai Elite One.
Namun tidak semua yang masuk mampu bertahan.
Setiap semester, siswa dengan nilai, etika, atau mental terburuk akan dikeluarkan tanpa kesempatan kedua. Di sekolah ini, tidak ada teman yang benar-benar bisa dipercaya. Tidak ada kemenangan tanpa pengorbanan dan tidak semua siswa jenius adalah orang baik. Sebuah rahasia yang membuat beberapa alumni menghilang tanpa jejak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: Nama-Nama yang Bertahan

Aula Utama Lantai Dasar kembali benderang saat seluruh dinding partisi digital merah diturunkan secara serentak. Namun, kehangatan cahaya lampu tidak mampu mencairkan dingin yang menyelimuti ruangan. Dari ratusan peserta yang tersisa pada babak simulasi taktis sebelumnya, kini hanya sebagian kecil yang berdiri di atas lantai marmer hitam.

Isak tangis haru bersahut-sahutan di beberapa sudut, bercampur baur dengan rasa bersalah yang mencekik. Banyak dari mereka yang harus saling berpelukan untuk terakhir kali, menyadari bahwa teman sekamar atau rekan satu tim faksi mereka harus mengemas barang dan melangkah keluar menuju gerbang evakuasi luar. Di Nexus Academy, kegagalan rekan sedarah adalah anak tangga bagi kelolosan mereka yang bertahan.

Di barisan belakang faksi beasiswa, Nabila Cendana Adiwijaya berdiri mematung. Matanya yang sembap menatap lurus ke arah layar hologram vertikal setinggi lima meter yang menggantung di tengah aula.

Di layar itu, daftar nama yang berhasil lolos ke babak utama dikunci dengan warna emas berpendar. Di urutan paling bawah, tepat di peringkat kelima puluh, namanya tertera dengan jelas: NX-050: Nabila Cendana Adiwijaya.

Nabila nyaris tidak percaya namanya masih bertahan. Tubuhnya yang kecil bergetar hebat hingga ia harus bertumpu pada lengan almamater Dimas di sebelahnya. Secara kalkulasi fisik dan kontribusi poin taktis pada simulasi tanggul, ia tahu dirinya berada di batas terbawah. Rasa bersalah yang teramat besar menghantam dadanya ia merasa telah merebut tempat seseorang yang mungkin jauh lebih kompeten, seperti Johan atau Farel yang harus berjuang ekstra keras melindunginya tadi.

"Aku... aku bertahan, Dimas?" bisik Nabila, suaranya bergetar menahan tangis yang pecah. "Tapi bagaimana dengan yang lain? Farel... Johan... mereka..."

"Kamu layak, Nabila. Jangan biarkan sistem melihat keraguanmu," sahut Dimas dengan suara rendah namun tegas, meskipun wajahnya sendiri masih pucat setelah keluar dari Ruang Sidang Senat. "Jika Veritas Lux Fortuna mempertahankan namamu di peringkat lima puluh, itu artinya algoritma mereka melihat variabel pertahanan emosionalmu yang tidak dimiliki oleh peserta yang pulang."

Di barisan depan, Atharva berdiri dengan kedua tangan di dalam saku, matanya yang sedingin es menyapu daftar lima puluh nama emas di atas podium. Di peringkat teratas, namanya bertengger kokoh sebagai NX-001, diikuti oleh Keisya Aurellia Wibisono sebagai NX-002.

Keisya, yang berdiri beberapa langkah di samping Atharva, menatap lencana barunya dengan rahang yang mengencang. Ekspresinya membeku, menyimpan rapat rahasia dan pilihan sulit yang baru saja dipaksakan kepadanya oleh dewan yayasan di balik pintu ruang sidang tadi.

"Hanya lima puluh orang," kata Keisya lirih, melirik ke arah sisa peserta yang mulai digiring keluar oleh petugas keamanan berpakaian kelabu. "Mereka benar-benar memangkas sembilan puluh persen kompetitor hanya dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam."

"Ini bukan pemangkasan biasa," sahut Atharva tanpa mengalihkan pandangannya dari layar hologram. "Ini adalah pembersihan ruang gerak. Lima puluh nama yang bertahan ini adalah pion-pion murni yang sudah dikuliti kelemahannya. Permainan yang sesungguhnya baru akan dimulai saat kita meninggalkan aula ini."

Di sudut lain faksi elite, Kirana Safira tampak sedang menyematkan lencana perak barunya, NX-008, di kerah almamaternya. Senyum lembutnya yang sempat runtuh di ruang sidang kini telah terpasang kembali dengan sempurna, seolah horor murni yang ia rasakan beberapa menit lalu hanyalah ilusi. Matanya bergerak perlahan, melewati Keisya, lalu jatuh pada Nabila yang masih menangis di barisan belakang.

Kirana menarik napas dalam-dalam, mencatat dinamika emosional baru di dalam kepalanya: Subjek 520 mengalami sindrom rasa bersalah penyintas tingkat tinggi. Celah ini bisa dimanfaatkan untuk membangun ketergantungan psikologis pada fase orientasi asrama.

Tepat ketika nama terakhir dari peserta yang gagal menghilang dari papan skor, Profesor Adrian melangkah maju ke depan podium utama. Mantel formal hitamnya berkilau di bawah lampu sorot vertikal, memancarkan aura otoritas mutlak yang membungkam seluruh sisa tangis di dalam ruangan.

"Tangis kalian adalah pemborosan energi yang tidak efisien," suara Profesor Adrian menggema berat melalui sistem audio spasial auditorium. "Lima puluh nama di atas layar adalah aset resmi Veritas Lux Fortuna mulai detik ini. Kalian telah melewati fase penyaringan awal, namun ingatlah satu hal: di Nexus Academy, tidak ada posisi yang permanen. Angka di dada kalian akan terus bergerak, dan mereka yang tidak mampu mendaki... akan berakhir sama seperti rekan-rekan kalian yang baru saja berjalan keluar dari gerbang ini."

...****************...

Profesor Adrian mengetuk permukaan meja podiumnya, memicu denyut digital pada lantai marmer hitam yang menjalar hingga ke bawah kaki lima puluh siswa yang tersisa. Detik berikutnya, lencana logam geometris fraktal di dada mereka memancarkan pendaran cahaya sinkronisasi, mengunci nomor kasta baru mereka di dalam ekosistem akademi.

"Kalian memiliki waktu tepat tiga jam untuk mengosongkan area ini," lanjut Profesor Adrian, suaranya sedingin instrumen laboratorium. "Gunakan waktu tersebut untuk membersihkan sisa sentimentalitas kalian. Pukul dua puluh empat nol-nol malam ini, gerbang Sektor Delta akan dibuka, dan kalian akan diintegrasikan ke dalam struktur asrama Menara Akademik."

Setelah menyampaikan instruksi final tersebut, Profesor Adrian berbalik memunggungi auditorium. Lima puluh asisten senior berpakaian militer kelabu langsung bergerak membentuk pagar barikade, memisahkan faksi siswa yang lolos dari koridor evakuasi yang dilewati oleh para peserta yang gagal.

Nabila menyeka air matanya dengan ujung lengan almamater, mencoba menegakkan punggungnya di samping Dimas. Di depannya, Farel berjalan mendekat dengan langkah tenang, tangan kanannya meremas lencana NX-035 miliknya sendiri sebelum menatap Nabila dengan sorot mata baritonnya yang tajam.

"Hentikan tangis itu, Nabila," kata Farel, suaranya rendah namun penuh penekanan yang memaksa Nabila untuk mendengarkan. "Jika kamu terus memperlihatkan wajah seperti itu, anak-anak faksi elite di depan sana akan langsung menandaimu sebagai target pertama yang paling mudah disingkirkan di hari pertama asrama."

Nabila menelan ludah, mencoba menata napasnya yang masih sesak. "Aku hanya... aku merasa tidak adil untuk Johan dan yang lainnya, Farel. Mereka bekerja keras."

"Keadilan tidak pernah dimasukkan ke dalam kode pemrograman Nexus," sahut Dimas sembari menepuk bahu Nabila kecil. "Farel benar. Lihat ke depan. Struktur kasta ini sudah dimulai bahkan sebelum kita menapakkan kaki di asrama."

Di barisan paling depan, Atharva dan Keisya tidak lagi memperhatikan sisa histeria di dalam aula. Pandangan mereka tertuju pada layar hologram sekunder di dinding yang baru saja memperbarui bagan hak akses fasilitas asrama. Peringkat satu hingga sepuluh mendapatkan akses Penthouse Sektor Atas, sementara peringkat sebelas hingga lima puluh dialokasikan ke Blok Barak Sektor Bawah.

"Mereka tidak memberi kita waktu untuk bernapas," Keisya berbisik, matanya berkilat tajam menatap angka NX-002 di dadanya. "Pemisahan fasilitas ini sengaja dirancang untuk memicu kecemburuan sosial. Mereka ingin anak-anak di Sektor Bawah bergerak agresif untuk merebut poin kita sejak malam pertama."

"Itu adalah desain yang efisien," jawab Atharva datar, ekspresi wajahnya tetap konstan seperti biasa. "Membiarkan musuh yang kelaparan menyerang adalah cara tercepat untuk melihat batas kemampuan mereka. Biarkan mereka bergerak, Keisya. Di tempat seperti ini, posisi puncak hanya akan aman jika semua penyerangnya telah kehabisan energi untuk berdiri."

Dengan berakhirnya sinkronisasi data pada papan skor raksasa, dinding-dinding aula marmer hitam di sekeliling mereka perlahan bergerak mundur, membuka akses ke sebuah koridor bawah tanah masif yang diterangi oleh lampu-lampu biru menuntun lima puluh remaja tersebut menuju rangkaian kereta maglev yang akan membawa mereka menembus batas menuju jantung Kota Veridian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!