Dia datang bukan untuk merebut kembali masa lalunya.
Dia datang untuk menghancurkan mereka yang mencurinya.
Tujuh tahun lalu, ia kehilangan segalanya dalam satu malam. Nama baiknya dihancurkan, keluarganya meninggalkannya, wanita yang dicintainya bersaksi melawannya, dan dunia percaya ia telah mati.
Namun, kematian itu hanyalah awal.
Kini ia kembali dengan identitas baru—lebih kaya, lebih dingin, dan jauh lebih berbahaya. Di balik senyum tenangnya, tersimpan rencana yang telah disusun selama tujuh tahun. Satu per satu orang yang pernah mengkhianatinya akan membayar harga yang tak pernah mereka bayangkan.
Tetapi semakin dekat pada balas dendam, semakin banyak rahasia yang terbongkar.
Bagaimana jika orang yang selama ini ia benci hanyalah pion?
Bagaimana jika dalang sebenarnya masih hidup... dan telah mengawasi setiap langkahnya sejak awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 : Bayang Masa Lalu
#
Di sela sela latihan finansial sama Pak Wahyu, Rendra nggak pernah bener bener berenti mikirin satu nama yang udah lama ngeganjel di kepalanya, Ariel Wijaya. Nama yang cuma dia tau dari secarik foto yang udah jadi abu, nama yang bikin Om Timur pucet pasi waktu nemuin salinannya, nama yang entah kenapa berasa kayak kunci dari semua misteri yang ngerobek hidupnya.
Dia mulai make keahlian barunya, keahlian nyari nyari data lewat celah celah yang orang biasa nggak akan kepikiran, buat gali info soal nama itu. Dia minta tolong ke Bara, seorang anak muda yang baru dikenalinnya lewat jaringan Pak Wahyu, katanya jago banget soal komputer, jago nyari data data lama yang udah dihapus atau disembunyiin dari internet.
"Ariel Wijaya," Bara ngulang nama itu, matanya fokus ke layar laptopnya yang penuh kode kode aneh, "nama pasaran banget sih, Bang, tapi coba saya cari yang ada hubungannya sama teknik atau paten, sesuai petunjuk yang Abang kasih."
Berhari hari, Bara ngoprek, nyari di database paten lama, di arsip arsip perusahaan yang udah dipublikasiin buat laporan tahunan, sampe akhirnya, suatu malem, dia manggil Rendra dengan suara yang keliatan excited banget.
"Bang, ketemu!"
Rendra buru buru deket, ngeliat layar itu, dan jantungnya berenti sepersekian detik.
Di situ, ada dokumen paten lama, tahun 1999, atas nama Ariel Wijaya, buat sebuah teknologi pengolahan limbah industri yang, waktu itu, katanya cukup revolusioner buat standar Indonesia. Dan yang bikin Rendra beneran syok, di bagian bawah dokumen itu, ada catetan pengalihan hak paten, tanggalnya cuma beberapa bulan setelah tanggal paten itu didaftarin, dan nama yang tercantum sebagai pemegang hak baru...
Hartono Group.
"Ini... ini gimana ceritanya," Rendra bisikin, tangannya gemeteran megangin ujung meja, "kenapa paten atas nama Ariel Wijaya bisa dialihin ke Hartono Group secepat itu?"
Bara ngangkat bahu, "biasanya sih, Bang, kalo pengalihan secepat itu, ada dua kemungkinan. Satu, orangnya emang jual patennya sendiri, dapet duit gede, terus hidup enak. Dua..."
"Dua apa?"
"Dua, orangnya dipaksa, atau malah udah nggak ada, jadi patennya otomatis atau 'diaturkan' biar pindah tangan."
Rendra duduk terjatuh di kursi deket situ, kepalanya penuh sama pertanyaan yang muter muter cepet banget. Ariel Wijaya, nama yang selama ini cuma dia kenal dari secarik foto, ternyata adalah seorang insinyur yang bikin penemuan penting, penemuan yang sekarang jadi milik perusahaan yang sama yang udah ngancurin hidup Rendra sendiri.
Dia minta Bara cari lebih dalem lagi, dan malem itu, mereka nemuin lebih banyak lagi. Berita berita kecil dari koran lokal tahun 1999 dan 2000, yang udah lama dihapus dari arsip digital resmi tapi masih ada salinannya di beberapa situs pengarsipan tua, tentang "insinyur muda berbakat yang meninggal dalam kecelakaan laboratorium", nggak banyak detail, cuma beberapa paragraf pendek, kayak sengaja dibikin sesingkat mungkin biar nggak banyak yang nanya nanya lebih jauh.
"Kecelakaan laboratorium," Rendra ngulang kata kata itu, suaranya pelan, "sama kayak ledakan pabrik yang ngancurin hidup saya. Pola yang sama."
Dia inget, jelas banget, gimana ledakan pabrik itu langsung dituduhin ke dia tanpa penyelidikan yang bener bener adil, gimana bukti bukti "ditemukan" dengan cepet banget buat nyudutin dia, dan sekarang, dia nemuin, bertahun tahun sebelumnya, ada kejadian serupa yang ngerenggut nyawa ayah kandungnya sendiri, dan hasil dari kematian itu, seenaknya aja, jatuh ke tangan keluarga yang sama yang ngangkat Rendra jadi anak.
Ini bukan kebetulan. Nggak mungkin kebetulan.
"Ayah saya bukan orang biasa," Rendra bisikin, lebih ke diri sendiri, air matanya mulai netes tanpa dia sadar, "dan kematiannya, ini bukan kecelakaan, Bara. Ini sama persis kayak yang mereka lakuin ke saya."
Dia mikirin, kalo emang bener ayahnya dibunuh demi patennya, terus siapa yang ngelakuin, siapa yang punya kepentingan buat ngerampas penemuan itu dan bikin semuanya keliatan kayak kecelakaan biasa, dan kenapa, puluhan tahun kemudian, pola yang sama persis kejadian lagi ke Rendra sendiri.
Malem itu, Rendra buru buru balik ke gubuk Om Timur, semangat banget mau cerita soal temuan itu, mau nanya, apakah Om Timur tau sesuatu soal ini, soalnya reaksi pria tua itu waktu liat foto Ariel dulu udah cukup jadi bukti kalo dia pasti tau lebih banyak dari yang dia akuin.
"Om!" Rendra manggil, begitu sampe di gubuk, tapi nggak ada jawaban.
Dia masuk, nyariin ke seluruh gubuk kecil itu, tapi Om Timur nggak ada. Barang barangnya masih di situ, jorannya masih tergantung di dinding, tapi orangnya sendiri, ilang.
Rendra tunggu sampe malem, sampe pagi, tapi Om Timur tetep nggak balik. Dia tanya ke tetangga tetangga sekitar, orang orang yang biasa liat Om Timur mancing atau betulin perahu, tapi nggak ada yang liat dia pergi ke mana, kapan, atau sama siapa.
Hari kedua, Rendra mulai panik. Dia coba tanya ke Kirana, ke Pak Wahyu, ke siapapun yang mungkin tau, tapi semuanya jawab sama, "saya juga nggak tau, terakhir ketemu beberapa hari lalu, biasa aja."
Cuma satu hal yang bikin Rendra mulai nyambungin titik titiknya. Om Timur ilang, tepat setelah Rendra cerita ke dia soal nama Ariel Wijaya dan paten yang dialihin ke Hartono Group. Terlalu pas waktunya buat cuma kebetulan.
Hari ketiga, Rendra duduk sendirian di gubuk yang kosong itu, ngeliatin sungai yang ngalir tenang, tempat dulu dia hampir mati, tempat dulu Om Timur nyelametin nyawanya tanpa banyak nanya, dan dia mikir, keras banget, apa yang bikin pria tua itu tiba tiba ilang cuma karena denger satu nama, nama yang, entah kenapa, dia yakin banget, Om Timur udah kenal jauh sebelum Rendra bahkan lahir.
Dan kalo emang bener, kalo Om Timur emang punya hubungan sama Ariel Wijaya, sebesar apa sebenernya rahasia yang selama ini disimpen pria tua itu, dan kenapa rahasia itu cukup berbahaya sampe bikin dia harus ilang secepat ini, tanpa pamit, tanpa penjelasan apapun.