Lucien Scott, pengusaha muda yang menggawangi raksasa bisnis di bawah naungan GS Company, tak sadar telah jatuh cinta pada seorang gadis bernama Andrea. Sosok menggemaskan dengan sikap tegas dan terang-terangan, hadir memberikan warna baru di hidupnya yang terkontrol rapi tanpa cacat. Mencintai dengan bengis, menjadi perjalanan cinta cukup menggelitik di mata orang-orang sekitar mereka. Intrik sederhana menjadi pemanis saat keduanya mulai saling menyadari perasaan masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. ( Keturunan Hacker )
Di sebuah ruang bawah tanah yang gelap, duduk dua orang manusia dengan tubuh ringkih dan kurus kering. Wajah mereka tak terlalu jelas terlihat. Namun, udara yang pengab dan aroma kurang sedap yang tercium cukup menjelaskan kalau mereka telah lama terkurung tanpa memiliki akses melihat dunia luar.
"Ini sudah puluhan tahun terlewat. Jika hitunganku tak meleset, harusnya dia sudah dewasa," lirih salah satu orang. Suaranya lemah, tapi berwibawa.
"Apakah dia mirip dengan kita?" sahut satu orang lagi. Tak lama kemudian, isakan lirih pun terdengar. "Aku sangat rindu padanya. Bagaimanakah cara dia melewati tumbuh kembang tanpa kehadiran kita?"
"Jangan sedih. Percayalah, setiap tarikan nafas manusia selalu ada karma yang mengikuti. Kau dan aku sudah berusaha menjadi manusia yang lebih baik, semoga Tuhan menggantinya dengan nasib baik pada dia. Kita berdo'a saja semoga kesedihan ini lekas berakhir dan kita bisa segera berkumpul dengannya."
***
"Hari ini tidak masuk kantor?" tanya Nenek Erwita. Ada yang beda pagi ini. Setelah cucunya mengetahui kebenaran yang selama ini tersembunyi rapat, Nenek Erwita mengira akan ada kesedihan mendalam. Akan tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Cucunya dengan penuh semangat mengajaknya bersiap pergi jalan-jalan.
Andrea menoleh lalu menggerakkan jari telunjuk ke kiri dan kanan.
"Semalam aku sudah meminta izin cuti pada Lucien. Jadi hari ini kita akan pergi berkeliling menikmati semua jajanan. Nenek senang tidak?"
"Tentu saja senang, tapi masa iya bosmu mengijinkan begitu saja? Bagaimana kalau nanti Lucien menindasmu lagi setelah masuk kantor? Tidak takut?"
"Nek, walaupun Lucien sangat menjengkelkan tapi sebenarnya dia itu baik kok. Dia juga sudah berjanji tidak akan menuntut balas asalkan aku membelikan hadiah untuknya," jawab Andrea santai memberitahu sang nenek mengenai persyaratan kenapa dirinya bisa mengambil cuti.
"Oh, ada sogokannya ternyata."
Nenek Erwita menggelengkan kepala. Sudah dia tebak kalau Lucien tidak akan melepaskan cucunya begitu saja. Dasar anak muda.
"Ayo berangkat. Sebentar lagi jam makan siang tiba, cacing di dalam perutku sudah meronta meminta jatah. Nenek, ayo kita senang-senang."
Sambil menggandeng tangan sang nenek, Andrea bersenandung riang membayangkan jajanan apa saja yang akan mereka coba nanti. Dan tanpa dia sadari, semua gerak-geriknya dipantau oleh seseorang lewat CCTV tersembunyi yang terpasang di sekeliling rumah dan jalanan menuju jalan raya.
"Cuma mau jalan-jalan kenapa reaksinya segembira itu sih," gumam Lucien sambil tersenyum. Hari ini Andrea cuti. Awalnya dia tak rela, tapi akhirnya luluh setelah gadis itu mengatakan akan kembali datang ke rumahnya. Kesempatan baik ini mana mungkin Lucien lewatkan. Tak lupa juga dia meminta hak kemanusiaan dengan memaksa Andrea membelikan oleh-oleh untuknya juga. Agak memalukan memang, tapi Lucien tak peduli. "Kenapa ya saat bersamaku dia tak pernah tertawa selepas itu. Padahal aku inikan sumber kehidupan. Apa yang salah?"
Veroz hanya diam mendengarkan celotehan bosnya tentang Nona Andrea. Dia tengah sibuk membaca deretan informasi yang dikirim oleh anak buahnya.
"Kenapa sesulit ini?"
"Apa kau bilang?"
Lucien mengalihkan fokus pada Veroz. "Apanya yang sulit?"
"Tuan, orang yang membuat sandi ini sangat jenius. Anak buah kita agak kesulitan untuk meretasnya. Sepertinya kita berhadapan dengan hacker yang berbahaya."
Hacker berbahaya? Di negara ini terhitung hanya ada beberapa hacker dengan kemampuan yang sulit ditandingi. Puluhan tahun lalu salah satu hacker terkuat tiba-tiba hilang tanpa jejak. Lucien jadi berpikir apakah mungkin Andrea adalah keturunan dari salah satu mereka, makanya identitas orang tuanya sengaja disembunyikan dengan alasan keamanan.
"Apa kau memikirkan hal yang sama denganku?" tanya Lucien sambil mengetukkan jari di atas meja. "Ada satu hacker di negara ini yang sampai sekarang tidak diketahui keberadaannya. Aku pernah mendengar informasi tersebut dari salah satu rekanku saat berada di luar negeri. Perusahaannya dibuat kacau balau dan hanya kemampuan hacker ini saja yang bisa memulihkan akses keamanannya. Sayangnya mereka tak bisa menemukan keberadaan hacker tersebut. Jika masalahnya dikaitkan dengan masa lalu Andrea, mungkinkah ini akan jadi kunci jawaban?"
"Saya juga sempat terpikir alasan ini, Tuan. Asal usul Nona Andrea yang tidak terlalu jelas, data orang tuanya yang sengaja dikunci dengan sandi yang rumit, lalu tiba-tiba saja muncul sosok hacker yang hilang tanpa meninggalkan jejak apapun. Jika kemungkinan ini memang saling berkaitan, wajar kalau identitas mereka sulit dilacak," jawab Veroz satu pemikiran dengan bosnya.
"Menarik. Seorang hacker kelas A punya keturunan dan sengaja diasingkan. Kira-kira kekuasaan besar macam apa yang membuatnya merasa terancam?"
Teka-teki baru yang penuh rahasia. Dalam hal ini, takdir seolah membuka jalan untuk Andrea kembali ke kota. Lucien mulai meyakini kalau kedatangan Andrea tak hanya didasari oleh satu tujuan saja. Bisa jadi ....
"Veroz, informasi apa yang kau temukan saat menyelidiki Andrea?" tanya Lucien kaget dengan pemikirannya sendiri.
"Saya tak menemukan informasi apapun selain kemunculan Nona Andrea saat baru datang ke kota, Tuan. Kehidupannya semasa di desa sama sekali tak ada data penting yang bisa dilacak, hanya informasi sederhana saja. Kenapa? Apa yang membuat Anda begitu kaget?" jawab Veroz berdebar-debar menantikan jawaban bosnya. Ada apa ini? Kenapa rasanya jadi menegangkan sekali?
"Dia ... tidak sesederhana yang kita lihat. Andrea datang dengan tujuan tertentu. Entah ini benar atau tidak, kemungkinan kita sudah masuk ke dalam permainannya."
"Apa?"
Lucien berdiri lalu masuk ke kamar mandi. Lama dia menatap cermin sebelum akhirnya membasuh wajah dengan air. Mustahil. Gadis polos yang baru satu bulan lebih datang ke ibukota, mungkinkah memiliki koneksi rahasia? Jika dipikir lagi memang ada beberapa perilaku Andrea yang lumayan janggal. Pertemuan mereka yang tak disengaja, sikap serta langkahnya yang penuh perhitungan saat baru pertama kali menginjakkan kaki di GS Company, serta langsung menuju ke titik tujuan tanpa tersesat. Semua hal ini jika dipikirkan kembali sungguh tak masuk akal untuk ukuran orang yang baru datang dari desa.
"Semua ini bukan kebetulan, tapi sudah terencana dengan baik. Andrea, siapa kau sebenarnya?"
Cukup lama Lucien berperang dengan pikirannya sendiri. Mungkinkah gadis yang dia sukai datang sebagai lawan? Jika benar begitu, maka Lucien akan merasakan yang namanya patah hati untuk pertama kali.
"Tuan, Anda baik-baik saja?"
Karena tak kunjung keluar, Veroz putuskan untuk mengetuk pintu kamar mandi. Dia masih tak bisa menebak kenapa reaksi bosnya bisa sepanik itu.
Ceklek
"Ambil kembali semua kamera CCTV yang sudah terpasang di sekitar rumah Andrea. Jangan sampai itu dianggap sebagai ancaman olehnya," perintah Lucien mulai mengatur arah. "Kalau benar Andrea adalah anak dari hacker itu, berarti dia sadar betul kalau kita sedang mengawasinya diam-diam. Lebih baik lakukan pencegahan lebih awal agar kita bisa membaca pola rencananya. Berurusan dengan hacker, kita harus siap dengan kartu as yang bisa dibongkar sewaktu-waktu. Terlalu beresiko kalau kita memprovokasi mereka."
"Baik, Tuan. Perintah selanjutnya apa?" tanya Veroz sambil menelan ludah. Tak disangka Nona Andrea punya rencana semengerikan ini. Pantas dia selalu merasa kalau gadis itu punya aura yang sulit untuk dijelaskan lewat kata-kata.
"Untuk sekarang itu saja dulu. Selebihnya akan ku infokan nanti."
"Baik."
Begitu mendapat perintah, Veroz langsung menghubungi anak buahnya dan meminta mereka mengambil kembali cctv yang telah terpasang. Mendadak suasana jadi menegangkan. Dia dan bosnya sama-sama gelisah.
"Coba kau selidiki latar belakang Cheril. Sudah berapa lama dia bekerja di GS Company?" Lucien menekan pelipisnya. Mulai pusing memikirkan pergerakan Andrea yang terlalu mengejutkan.
"Tiga tahun lebih, Tuan. Nona Cheril dikenal sebagai sosok yang lemah dan tak banyak bicara. Identitasnya terhitung biasa dengan orang tua seorang mantan narapidana," jawab Veroz setelah mendapatkan informasi tentang karyawan yang bernama Cheril.
"Selidiki lagi. Kumpulkan semua informasi tentang orang-orang yang dekat dengan Andrea. Jangan sampai ada yang terlewat."
"Baik, Tuan."
***
Sudah lama juga, nggk pernah baca novel dari penulis ini. 😂😂😂 Terakir tahun 2022 yang lalu dah. Waktu Di Novel "Love Story Eleanor dan Gabriele... 😂😂😂