Alin, gadis yatim piatu yang dekil dan jerawatan, mendadak punya kekuatan magis: bisa berubah jadi bidadari glowing setiap kali makan ubi rebus! Sialnya, sihir ini punya kedaluwarsa dan luntur tepat tengah malam.
Masalah makin rumit saat Alin tidak sengaja merusak hoodie mahal seharga 8 juta milik Rakha Pratama Bagaskara—kakak kelas arogan yang ternyata tetangga kamar kosnya! Karena tidak bisa ganti rugi, Alin dipaksa menjadi budak pembersih kamar kos Rakha setiap hari.
Tensi makin memanas ketika Rayi Arjuna Bagaskara—kembaran Rakha yang super ramah—mulai gencar mendekati Alin. Sementara Rayi tulus menyukai Alin yang apa adanya, Rakha justru gila-gilaan mengejar sosok "Bidadari Glowing" malam hari, tanpa sadar kalau cewek itu adalah pembantu kosan yang setiap hari ia tindas!
Bagaimana jadinya jika sihir ubi rebus Alin habis tepat tengah malam di dalam kamar kos Rakha?
"Nggak usah panggil gue Kakak. Ntar kalau udah sah, baru lo panggil gue Sayang!" — Rakha.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34. Hari Pertama Masuk Sekolah
"Bukannya nama kamu Rakha ya? Tuan Muda arogan pemilik black card?"
"Oh," Rayi menarik kembali tangannya sambil tersenyum maklum yang sangat manis, membuat lesung pipinya terlihat sedikit. "Yang kamu maksud dengan sifat arogan itu... mungkin saudara kembar identik aku, Rakha Pratama Bagaskara. Sifat kami memang bertolak belakang. Tapi mendingan sekarang kamu berangkat bareng aku aja naik mobil ini. Sebentar lagi bel masuk berbunyi dan kita bakalan terlambat dihukum di lapangan, jadi nanti aja penjelasannya di dalam mobil."
Tanpa menunggu jawaban atau penolakan lebih lama lagi dari mulut Alin, Rayi dengan gerakan yang lembut namun sangat tegas langsung meraih pergelangan tangan Alin, menuntun gadis itu masuk ke dalam kabin mobil Rolls-Royce yang sangat harum, sejuk, dan mewah.
Tak lama setelah pintu mobil ditutup rapat dengan suara kedap, mobil mewah putih mutiara itu melaju halus membelah kemacetan jalanan Jakarta menuju SMA Garuda.
Vroomm!!
Mobil mewah Rolls-Royce itu meluncur dengan sangat mulus memasuki gerbang utama SMA Garuda yang menjulang tinggi bercat hijau tua. Tak terasa, karena kecepatan mobil yang stabil, mereka berdua pun sampai di area parkiran luas khusus mobil siswa SMA Garuda.
Rayi mematikan mesin bensinnya, lalu turun dari pintu kemudi dengan gerakan yang tenang, rapi, dan penuh wibawa seorang mantan Ketua OSIS.
Sesaat kemudian, Alin menyusul turun dari pintu sebelah kiri, tampak sedikit ragu dan canggung sambil merapikan rok abu-abu dan seragamnya yang sedikit kusut akibat duduk di jok kulit mewah.
Seketika itu juga, atmosfer di area parkiran sekolah yang tadinya biasa saja mendadak berubah drastis menjadi riuh. Bisik-bisik tetangga dari para murid senior maupun junior yang sedang berkumpul di koridor mulai terdengar ramai bak tawon madu kelaparan. Semua mata mereka tertuju lurus pada sosok Alin yang berjalan anggun (efek ubi) di samping Rayi Arjuna.
"Hey, lihat tuh! Mantan Ketos idola kita si Rayi berangkat sekolah bareng siapa itu ya? Anak baru?" tanya seorang siswi senior sambil menyenggol heboh lengan temannya.
"Nggak tahu. Tapi nggak mungkin kan itu pacar barunya? Mantan Ketos kita kan terkenal paling anti, dingin, dan picky banget kalau dideketin sama cewek-cewek modis," sahut siswi yang lain dengan nada sangsi sekaligus patah hati.
"Mungkin aja itu pacar rahasianya. Lihat deh, cewek anak baru itu juga cantik banget tanpa pori-pori, spek bidadari khayangan yang turun langsung dari mobil Rolls-Royce putih," gumam seorang siswa laki-laki yang matanya tidak berkedip sedikit pun memandang pesona kecantikan Alin.
"Masa sih?! Akhhh... terpotek-potek hati dedek, hancur harapan gue tahun ini!" seru siswi lain sambil memegangi dadanya dengan ekspresi yang didramatisir abis.
"Udah, ayo bubar! Sebentar lagi bel masuk kelas berbunyi, mendingan kita cepat masuk kelas masing-masing aja sebelum kena poin telat dari guru piket," ajak salah satu siswa laki-laki dari kerumunan, memecah perhatian massa.
Para murid pun mulai berhamburan masuk ke dalam gedung sekolah utama menuju kelas mereka masing-masing untuk memulai hari pertama ajaran baru.
Alin melangkah dengan jantung berdebar masuk ke ruang kelas barunya, yaitu kelas 10 IPA 1. Ia memilih kursi di barisan paling belakang sendiri, tepat di samping jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan langsung lapangan basket sekolah yang luas. Di sanalah ia duduk manis, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang tidak karuan di hari pertama sekolah ini.
Semangat dan harapan untuk memulai petualangan baru di SMA Garuda turut mewarnai suasana ruangan kelas. Suara-suara baru, obrolan ringan antar murid baru yang masih terasa malu-malu kucing, serta canda tawa pelan mulai memenuhi sudut-sudut kelas saat para siswa mulai berinteraksi satu sama lain untuk saling mengenal nama.
Meskipun ada sedikit rasa canggung yang menggantung tebal di udara pagi itu, kelas baru ini membawa suasana yang sangat menyenangkan karena menjadi tempat awal untuk bertemu teman baru dari berbagai SMP dan mempelajari hal-hal sains yang baru. Setiap siswa membawa latar belakang keluarga dan kepribadian yang berbeda-beda, membuat kelas 10 IPA 1 menjadi tempat yang sangat kaya akan keberagaman sosial.
Tak lama kemudian, langkah kaki yang mantap dan berwibawa terdengar bergaung dari arah koridor depan kelas. Seorang pria paruh baya dengan kacamata berbingkai tipis hitam dan senyum kebapakan yang menenangkan melangkah masuk ke dalam kelas dengan rapi.
"Selamat pagi, anak-anakku semua. Selamat datang di keluarga besar SMA Garuda yang penuh prestasi," sapa pria itu dengan suara berat namun ramah sambil meletakkan tas jinjing kulitnya di atas meja guru bagian depan. "Saya adalah Pak Lucas, wali kelas kalian yang akan memimpin di kelas 10 IPA 1 ini selama satu tahun ke depan. Saya sangat senang bisa bertemu, berkenalan, dan mendampingi kalian semua dalam satu tahun perjalanan akademik ini."
Beliau memandangi satu per satu dengan hangat wajah cerah para siswanya, sampai pandangannya sempat terhenti sejenak menatap wajah cantik Alin yang berada di pojok belakang.
"Di sekolah Garuda ini, kita akan bersama-sama belajar teori, tumbuh bersama, dan meraih banyak prestasi. Saya berharap kalian semua bisa betah, bersemangat tinggi, dan aktif dalam setiap kegiatan OSIS maupun akademik. Jangan pernah ragu untuk bertanya ke ruangan saya jika ada hal yang ingin kalian ketahui. Mari kita jadikan tahun ajaran baru ini sebagai tahun yang penuh kenangan indah, persahabatan, dan kesuksesan bersama. Semoga Tuhan senantiasa memberikan kemudahan bagi kita semua. Terima kasih atas perhatiannya," ucap Pak Lucas mengakhiri pidato sambutannya.
Suasana kelas yang tadinya riuh rendah mendadak menjadi sangat khidmat dan penuh rasa hormat.
"Selamat pagi, Pak Lucas! Terima kasih banyak atas sambutan hangatnya! Kami murid baru merasa sangat senang dan bangga bisa bergabung di kelas 10 IPA 1 SMA Garuda ini. Mohon bimbingan dan bantuannya selama kami belajar di sini, Pak!" ucap para murid secara serempak dan kompak, mengawali perjalanan putih abu-abu mereka dengan penuh harapan baru yang membumbung tinggi ke langit.
*****
Kriiiingggg!!!
Bel sekolah SMA Garuda berbunyi sangat nyaring, memecah konsentrasi para siswa baru yang sejak tadi menahan kantuk. Tanda jam istirahat pertama resmi dimulai. Walau hanya berlangsung beberapa puluh menit, atmosfer koridor sekolah mendadak berubah menjadi lautan manusia yang sedang dilanda kelaparan masal.
Ada sekelompok siswa yang berlarian barbar menuju kantin demi mengincar barisan gorengan gratisan, ada juga gerombolan siswi yang asyik berkumpul di selasar untuk sekadar mengobrol menceritakan ketampanan para kakak kelas senior, hingga beberapa siswa rajin bin teliti yang memanfaatkan waktu untuk menyalin tugas matematika milik temannya di bawah pohon rindang halaman sekolah.
Di tengah hiruk-pikuk kelas 10 IPA 1, sesosok siswi dengan gaya rambut dikuncir kuda tinggi melangkah mendekati meja pojok milik Alin.
"Hai! Anak baru juga, kan? Kenalin, gue Sindy. Nama lo siapa, Sist?" tanya siswi itu dengan nada ceria bervolume delapan desibel.
"Nama aku Alin," jawab Alin sambil tersenyum simpul, menampilkan pesona glowing alami sisa efek magis ubi rebus mawar tadi subuh.
"Buset, nama lo cantik banget, persis kayak orangnya tanpa pori-pori begini! Skincare lo apa sih? Air wudu?"