NovelToon NovelToon
Rahimku Diangkat Suamiku Menikah Lagi

Rahimku Diangkat Suamiku Menikah Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Romansa / Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga
Popularitas:9.9k
Nilai: 5
Nama Author: Almesha

Tiga tahun Davira bertahan dalam pernikahan perjodohan yang dingin dengan Arka. Baginya, Arka adalah satu-satunya tempat bersandar setelah ayahnya meninggal karena bangkrut dan adik laki-lakinya hilang tanpa kabar di luar negeri. Davira terus bertahan, berharap kehadiran seorang anak kelak bisa melunakkan hati suaminya.

Namun, takdir justru merenggut segalanya dalam semalam. Di saat dokter memvonisnya menderita kanker rahim stadium 3 dan harus mengangkat rahimnya.

Bukannya mendapat perlindungan, Davira malah dihujat mandul oleh ibu mertua dan adik iparnya. Arka yang tega bahkan memberinya ultimatum: menerima Sheila sebagai istri kedua, atau pergi dari rumah tanpa membawa sepeser pun uang.

Di titik terendah hidupnya, hati Davira mati. Dia memilih pergi membawa luka dan penyakitnya. Davira bersumpah akan sembuh, bangkit, dan kembali untuk membuat Arka beserta keluarganya membayar mahal setiap tetes air mata dan penghianatan keji ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almesha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31: Mahkota Baru di Atas Singgasana Atmadja

Udara dingin pegunungan Zurich yang menenangkan perlahan berganti dengan riuk pikuk kehidupan kelas atas Jakarta yang dipenuhi oleh kilatan lampu Blitz media nasional dan internasional. Tiga bulan setelah putusan hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dan momen lamaran romantis di tepi Danau Zurich, nama Vira Mahendra kembali menjadi pembicaraan hangat di seluruh pelosok negeri, bukan lagi sebagai korban dari skandal pengusiran atau mantan istri terbuang dari keluarga Narendra yang bangkrut, melainkan sebagai calon pendamping hidup dari pimpinan tertinggi Atmadja Group, Adrian Atmadja.

Pagi itu, Ballroom Grand Hyatt Jakarta telah disulap menjadi sebuah mahakarya visual. Bunga white lily impor dan mawar putih segar menghiasi setiap sudut ruangan, memancarkan aroma harum yang lembut namun elegan. Hari ini adalah hari konferensi pers resmi sekaligus perayaan merger raksasa antara V-Tech, perusahaan teknologi yang dipimpin oleh Reno Mahendra dengan Atmadja Group, konglomerasi lintas sektor terbesar di Asia Tenggara.

Di dalam ruang rias eksklusif lantai paling atas, Vira Mahendra berdiri di depan cermin berbingkai ukiran emas. Ia mengenakan gaun malam berpotongan A-line berwarna abu-abu perak karya perancang busana ternama dunia. Gaun itu melekat sempurna di tubuhnya yang anggun, dihiasi sulaman bening yang berkilau lembut setiap kali terkena pantulan cahaya lampu. Rambut hitam pekatnya disanggul rapi dengan beberapa helai dibiarkan jatuh secara alami, membingkai wajah cantiknya yang dipoles riasan natural namun sangat memikat.

Di jari manis tangan kirinya, cincin berlian bermata biru yang diberikan Adrian di Swiss berkilau dengan mewahnya.

Pintu ruang rias terbuka perlahan. Reno Mahendra melangkah masuk dengan setelan tuxedo hitam buatan penjahit terbaik Savile Row. Pria muda yang kini menjabat sebagai Chief Executive Officer V-Tech itu menatap kakaknya melalui cermin dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa bangga dan haru yang mendalam.

"Kak Vira..." panggil Reno, suaranya sedikit serak. "Ibu dan Ayah di surga pasti sedang tersenyum melihat Kakak hari ini."

Vira berbalik, mengulas senyuman manis yang terpancar tulus dari matanya. Ia melangkah mendekati adiknya, merapikan dasi kupu-kupu yang dikenakan Reno dengan gerakan penuh kasih sayang.

"Semua ini tidak akan pernah terjadi tanpa kamu, Reno." bisik Vira lembut. "Tiga tahun lalu, saat aku berada di titik terendah dalam hidupku di rumah sakit itu, kamu datang dan membawakan cahaya. Hari ini, harta orang tua kita tidak hanya kembali, tapi nama keluarga Mahendra berdiri tegak di tempat yang lebih tinggi."

Reno memegang kedua bahu kakaknya, menatap Vira dengan penuh kepastian. "Narendra Group sudah hancur total, Kak. Aset-aset mereka yang tersisa sudah dilelang pagi ini oleh negara untuk menutupi kerugian perusahaan. Arka, Sheila, dan Siska sedang menjalani hari-hari pertama mereka di balik penjara. Misi kita untuk menegakkan keadilan sudah selesai. Sekarang, waktunya Kak Vira mengejar kebahagiaan Kakak sendiri bersama Tuan Adrian."

Sebelum Vira sempat membalas ucapan adiknya, pintu ruang rias kembali bergeser.

Adrian Atmadja melangkah masuk dengan wibawa dan aura kekuasaan yang tak tertandingi. Pria itu tampak begitu tampan dan gagah dalam balutan tuxedo hitam berpotongan klasik. Di sampingnya, Elvano kecil berjalan dengan riang, mengenakan pakaian yang senada dengan ayahnya, lengkap dengan dasi mungil yang membuatnya tampak seperti miniatur Adrian versi menggemaskan.

"Tante Cantik!" seru Elvano riang, langsung berlari kecil dan memeluk gaun Vira dengan hati-hati agar tidak merusaknya. "Tante cantik sekali seperti putri raja di buku cerita Elvano."

Vira berlutut perlahan, menyamakan tingginya dengan anak itu, lalu mengecup kedua pipi Elvano yang menggemaskan. "Terima kasih, Pangeran Kecil. Elvano juga tampan sekali hari ini."

Adrian melangkah mendekat, mengisyaratkan Reno dan para perias untuk meninggalkan ruangan guna memberikan mereka ruang pribadi. Setelah pintu tertutup, Adrian mengulurkan tangan kanannya, membantu Vira berdiri dari posisinya.

Mata elang Adrian menatap Vira dari ujung kepala hingga ujung kaki tanpa berkedip. Ada binar rasa kagum dan cinta yang teramat pekat memancar dari sepasang manik mata pria bersuara bariton tersebut.

"Setiap kali aku melihatmu, Vira, kamu selalu berhasil membuatku jatuh cinta untuk kesekian kalinya," bisik Adrian rendah, mendekatkan wajahnya hingga Vira bisa merasakan hangatnya hembusan napas pria itu di kulit pipinya.

Vira merona tipis, jemari lentiknya mendarat lembut di dada bidang Adrian yang terlapis kemeja putih bersih. "Terima kasih, Adrian. Tanpa perlindungan dan cintamu, aku mungkin tidak akan pernah bisa berdiri seanggun ini di sini."

Adrian tersenyum, sebuah senyuman langka yang hanya ia berikan khusus untuk wanita di hadapannya. Pria itu mendaratkan sebuah kecupan hangat di kening Vira, cukup lama untuk menyalurkan rasa aman yang tak tergoyahkan.

"Lupakan masa lalu, Ratu-ku," ucap Adrian tegas sembari menyalin genggaman tangannya pada jemari Vira. "Hari ini, kita melangkah ke atas panggung bukan hanya untuk mengumumkan merger bisnis, tapi untuk mengumumkan pernikahan kita kepada seluruh dunia."

***

Sementara itu, di dalam aula utama Grand Hyatt, ratusan wartawan dari media cetak, televisi, dan portal berita digital telah berkumpul. Suasana di dalam ruangan sangat ramai dan penuh antisipasi. Lampu sorot panggung mengarah tepat ke podium utama yang dihiasi latar belakang berlogo gabungan Atmadja Group dan V-Tech.

Saat pintu samping panggung terbuka, riuh tepuk tangan langsung menggema di seluruh ruangan. Kilatan lampu blitz kamera saling bersahut-sahut memecah keheningan saat Adrian Atmadja melangkah masuk sembari menggandeng erat tangan Vira Mahendra. Di belakang mereka, Reno Mahendra mendampingi dengan penuh senyum kepemimpinan.

Vira berjalan dengan tegak, kepalanya terangkat anggun. Setiap langkah kakinya memancarkan wibawa seorang wanita yang telah selesai dengan masa lalunya dan siap bertahta di atas takdirnya yang baru.

Adrian berdiri di depan mikrofon utama, sementara Vira berdiri di sampingnya dengan jemari yang tetap bertautan erat di tangan pria itu.

"Selamat pagi kepada seluruh rekan media dan mitra bisnis yang hadir," suara bariton Adrian bergaung mantap melalui sistem pengeras suara. "Hari ini merupakan momen bersejarah bagi Atmadja Group. Kami secara resmi mengumumkan pengambilalihan dan integrasi strategis bersama V-Tech, perusahaan teknologi mutakhir yang dipimpin oleh Saudara Reno Mahendra."

Adrian jeda sejenak, menatap ke arah kerumunan wartawan dengan pandangan tajam penuh wibawa.

"Penggabungan ini tidak hanya akan memperkuat posisi Atmadja Group di pasar internasional, tetapi juga menandai kembalinya kepemilikan aset Mahendra Group ke tangan ahli waris yang sah, yaitu Vira Mahendra dan Reno Mahendra," lanjut Adrian.

Seketika itu juga, seorang wartawan senior mengangkat tangannya dan bertanya dengan lantang, "Tuan Adrian, Bagaimana tanggapan Anda mengenai rumor yang beredar bahwa pernikahan Anda dengan Ibu Vira Mahendra adalah bagian dari konsolidasi bisnis ini."

Mendengar pertanyaan tersebut, Adrian tidak marah. Ia justru mengulas senyum tipis yang sarat akan makna, lalu menoleh menatap Vira dengan kelembutan yang begitu nyata di hadapan ratusan kamera.

"Pernikahan kami tidak ada hubungannya dengan transaksi bisnis," jawab Adrian mantap, suaranya penuh penekanan yang mengunci perhatian semua orang di ruangan itu. "Vira Mahendra adalah wanita yang paling aku hormati dan aku cintai. Dia adalah pemilik tunggal dari hatiku, dan calon ibu dari anak-anakku. Kami akan melangsungkan pesta pernikahan kami bulan depan di Bali."

Pernyataan tegas dan romantis dari kaisar bisnis Atmadja Group itu seketika membuat seluruh aula riuh rendah. Para wartawan berdecak kagum, sementara beberapa jurnalis wanita tampak terpesona melihat bagaimana pria paling berkuasa dan dingin di Jakarta itu menatap calon istrinya dengan begitu protektif.

Vira yang mendengar pernyataan tersebut hanya bisa tersenyum manis, mempererat genggaman tangannya pada jemari Adrian. Di balik kilatan lampu kamera dan sorak sorai perayaan, hatinya merasa benar-benar utuh.

***

Di tempat yang sangat jauh dari kemewahan Grand Hyatt, suasana yang teramat kontras sedang terjadi di dalam Rumah Tahanan Wanita Kelas II A Jakarta.

Di ruang televisi umum tahanan yang sempit dan berbau lembap, belasan narapidana sedang duduk melantai menyaksikan siaran langsung konferensi pers Atmadja Group di layar TV tabung tua yang menempel di dinding atas.

Sheila duduk di sudut ruangan dengan pakaian tahanan biru yang kumal. Perutnya yang kini membuncit delapan bulan terasa sangat berat dan sering melilit. Wajahnya pucat pasi, lingkaran hitam di bawah matanya kian menebal, dan rambutnya yang dulu selalu dirawat di salon mewah kini tampak kusam dan lepek.

Matanya menatap tanpa kedip ke arah layar televisi. Di sana, ia melihat Vira Mahendra berdiri anggun dengan gaun perak seharga ratusan juta rupiah, digandeng oleh Adrian Atmadja yang menyatakan cintanya di depan seluruh media nasional.

"Lihat itu... beruntung sekali ya Vira Mahendra," bisik seorang tahanan wanita di sebelah Sheila. "Dulu dia disiksa dan diusir sama mantan suaminya yang jahat itu, tapi sekarang dia malah dapat pengusaha paling kaya di Indonesia. Mantan suaminya sama selingkuhannya malah busuk di penjara ini."

"Iya, karma itu memang nyata," timpal tahanan lain dengan nada mencemooh. "Selingkuhannya itu kabarnya juga ada di blok ini, hamil besar tapi tidak ada keluarga yang mau jenguk. Kasihan sekali anaknya nanti lahir di sel."

Mendengar bisikan dan cemoohan dari sesama tahanan, dada Sheila terasa sesak seperti dihantam batu besar. Air mata keputusasaan dan rasa iri yang menggerogoti jiwanya perlahan menetes membasahi pipinya yang cekung.

Sheila memegangi perutnya yang mendadak melilit hebat. Dulu, ia membayangkan anak di dalam kandungannya ini akan lahir di rumah sakit internasional, disambut dengan kemewahan harta Narendra, dan dimanjakan sebagai anak dari pemilik perusahaan besar. Namun kini, kenyataan pahit menamparnya tanpa ampun, anaknya akan lahir dari seorang narapidana di klinik penjara yang dingin, tanpa kehadiran Arka yang kini mendekam di sel pria terpisah selama 18 tahun.

"Davira..." bisik Sheila dengan suara gemetar dan pecah oleh tangisan yang tertahan. "Kamu... kamu benar-benar menang..."

Sheila menundukkan kepalanya dalam-dalam, menangis tersedu-sedu di atas lantai semen yang dingin, menyadari bahwa seluruh kejahatan, manipulasi, dan racun yang dulu ia bagikan bersama Siska telah kembali memukul hidupnya hingga hancur berkeping-keping tanpa sisa.

Sementara itu, di Markas Besar Kepolisian, di dalam sel tahanan pria yang gelap, Arka Narendra juga menyaksikan siaran pers tersebut dari balik jeruji besi melalui televisi kecil di ruang penjagaan sipir.

Melihat Vira yang tampak begitu bahagia dan bersinar di samping Adrian Atmadja, Arka merosot jatuh berlutut di atas lantai semen. Ia menumpukan dahinya ke besi dingin penjara, meraung menangis meratapi kebodohan dan ketamakannya di masa lalu.

Ia ingat bagaimana dulu Davira selalu menyambutnya dengan senyuman lembut setiap kali ia pulang kantor, bagaimana Davira selalu menyiapkan teh hangat dan memperhatikan kesehatannya dengan tulus. Namun semua ketulusan itu ia tukar dengan racun, pengkhianatan, dan kemewahan palsu yang kini telah lenyap bagai asap.

"Maafkan aku, Vira..." bisik Arka di antara isak tangisnya yang memilu. "Maafkan aku..."

Namun penyesalan Arka datang terlampau terlambat. Pintu masa lalunya telah tertutup rapat, dan tidak ada lagi jalan untuk kembali.

***

Malam harinya, di penthouse pribadi milik Adrian Atmadja yang terletak di lantai teratas Atmadja Tower, pemandangan gemerlap lampu kota Jakarta membentang indah dari balik jendela kaca raksasa dari lantai hingga langit-langit.

Vira berdiri di dekat jendela, memegang secangkir teh herbal hangat. Di balik bayangan kaca, ia memandangi kota yang dulu menjadi saksi bisu atas segala penderitaannya. Namun kini, kota itu tidak lagi menakutkan baginya.

Sepasang lengan kokoh melingkar hangat di pinggangnya dari belakang. Adrian menyandarkan dadanya di punggung Vira, mengecup lembut pelipis wanita itu.

"Apa yang sedang dipikirkan calon Nyonya Atmadja malam ini?" tanya Adrian, suaranya yang bariton rendah memberikan ketenangan yang sempurna di dalam ruangan yang sunyi.

Vira meletakkan cangkirnya di meja samping, lalu membalikkan tubuhnya dalam pelukan Adrian. Ia menatap sepasang mata elang pria di hadapannya dengan pendar kebahagiaan yang sejati.

"Aku sedang berpikir... bahwa malam ini adalah malam pertama dalam tiga tahun terakhir di mana aku bisa bernapas tanpa ada rasa sakit atau benci di dadaku, Adrian," sahut Vira jujur. "Semua rasa sakit dari masa lalu itu... sudah sepenuhnya lenyap."

Adrian mengulas senyuman paling menawan di wajah tampannya. Tangannya naik merapikan helai rambut Vira, menatapnya dengan rasa hormat dan cinta yang tak terhingga.

"Masa lalumu telah membuktikan betapa kuatnya dirimu, Vira," ucap Adrian tegas. "Dan mulai malam ini hingga selamanya, tugas utamaku adalah memastikan bahwa tidak akan ada lagi air mata kesedihan yang jatuh dari matamu. Aku akan menjagamu, menyayangimu, dan menjadikanmu wanita paling bahagia di dunia ini."

Adrian menundukkan wajahnya, mendaratkan sebuah kecupan manis dan dalam di bibir Vira. Vira memejamkan matanya, membalas kecupan itu dengan kehangatan tulus dari hatinya.

Di bawah naungan langit malam Jakarta, badai kehidupan Davira Mahendra telah usai. Sang ratu telah melewati nerakanya, menumbangkan para penjahatnya dengan keadilan yang elegan, dan kini siap melangkah memasuki istananya yang baru bersama pria yang mencintainya tanpa batas.

1
Yeni Wahyu Widiasih
kalo banyak uang bisa transplantasi rahim ke LN..
Ariany Sudjana
puji Tuhan, congrats yah Adrian dan Vira 😄😄🙏
Ariany Sudjana
itulah hukum tabur tuai arka dan Shella, jalani saja 🤣🤣😂😂 kan keinginan kamu sendiri membuang batu permata demi batu kerikil 🤣🤣😂😂
Ariany Sudjana
hahaha mampus kalian berdua 😂😂🤣🤣 selamat menikmati hidup di penjara 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
hahaha kamu menyesal arka? itulah hukum tabur tuai, nikmati saja konsekuensinya. kain ini pilihan kamu dan pelacur murahan kesayangan kamu itu 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
ayo Vira, coba buka hati kamu, laki-laki seperti Adrian dan elvano yang akan menyembuhkan luka di hati kamu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!