"Dedikasi Aruna Pradipta adalah mahasiswa Teknik yang jago musik dengan otak serupa prosesor komputer. Baginya, cinta adalah variabel yang tidak logis. Namun, dunianya yang presisi hancur berantakan saat bertemu Reyna Salsabila, mahasiswa Akutansi yang kebanyakan tugasnya sebagai auditor keuangan bar-bar yang hobi makan seblak dan punya suara frekuensi tinggi.
Dari lab riset di Desa Pinus hingga drama sosialita di Singapura, mereka terjebak dalam audit perasaan yang penuh sabotase saus sambal dan teror terasi. Apakah logika Dedik sanggup menghitung besarnya cinta untuk partner sialannya? Atau justru Reyna yang akan meng-audit hati sang Robot Aquarius?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: Sabotase Frekuensi
Hari Sabtu yang dinanti atau bagi gua, hari kiamat akhirnya dateng juga. Kampus bener-bener disulap jadi pasar malem modern.
Lapangan utama udah penuh sama panggung megah lengkap dengan giant screen dan speaker gantung yang gedenya segede kulkas dua pintu.
Gua bisa denger dentuman bass dari konser EDM Arlan bahkan sampai ke parkiran. Arlan bener-bener pamer. Dia pake alat musik bambu yang udah dipasangin sensor laser, dan suaranya... ya gitu deh, berisik banget.
"Ded, lo liat nggak itu?" gua narik kaos Dedik pas kita jalan lewat pinggir lapangan menuju Aula Utama.
"Penontonnya ribuan. Semua orang ke sana. Siapa yang mau dateng ke presentasi riset kita yang cuma di dalem ruangan?"
Dedik tetep jalan dengan tenang. Di pundaknya ada tas gitar, dan di tangannya dia nenteng sebuah kotak item kecil yang penuh dengan antena dan kabel-kabel aneh.
Mukanya lempeng, kacamatanya mantulin cahaya panggung Arlan.
"Logikanya, Rey... orang dateng ke sana karena nyari hiburan. Tapi orang bakal dengerin kita karena kita bawa 'kebenaran'," sahut Dedik datar. "Jangan liat panggungnya. Liat gua aja."
Kita nyampe di Aula Utama. Di dalem udah ada Pak Dekan, beberapa profesor, dan perwakilan sponsor dari Jakarta yang mukanya kaku-kaku. Kak Tiara udah nunggu di deket podium dengan laptop yang udah standby.
"Ded, alatnya udah siap?" bisik Kak Tiara tegang.
Dedik ngangguk. Dia jalan ke arah panel audio Aula, terus dia mulai nyolok-nyolokin kabel dari kotak item kecil tadi ke jalur output utama.
"Apa itu, Ded?" tanya gua kepo.
"Pemancar frekuensi FM ilegal," jawab Dedik enteng. "Gua udah sinkronisasiin alat ini sama mixer panggung utama Arlan lewat jalur nirkabel yang dia pake buat sensor lasernya."
"Begitu lo mulai nyanyi, frekuensi suara lo bakal 'nindih' audio di panggung Arlan."
Gua melongo. "Maksud lo... suara gua bakal keluar di speaker gede panggung Arlan?!"
"Secara teknis, iya. Gua bakal manfaatin feedback resonansi bambu kuning yang kita ambil di hutan. Suara lo bakal jadi 'master' yang ngebajak semua sistem suara di radius lima ratus meter ini,"
Dedik benerin letak kacamatanya, matanya berkilat penuh kemenangan. "Arlan mau main digital? Gua kasih dia realita digital."
Gua makin gemeteran. "Ded, kalau kita ketahuan gimana?"
"Kita nggak bakal ketahuan kalau lo nyanyinya bagus. Orang bakal ngira itu bagian dari pertunjukan, sampai mereka sadar kalau suaranya jauh lebih murni dibanding musik plastik Arlan."
Gua duduk di kursi samping podium, nunggu giliran. Presentasi dimulai. Pak Dekan naik ke atas, buka acara dengan pidato singkat. Terus giliran Dedik.
Dedik jalan ke podium dengan santai. Dia nggak pake jas, cuma pake kemeja flanel yang lengannya digulung. Dia buka presentasinya dengan grafik-grafik frekuensi yang rumit banget.
Para profesor manggut-manggut, tapi perwakilan sponsor kelihatan bosen. Mereka lebih sering nengok ke arah luar, dengerin dentuman musik Arlan yang sesekali masuk lewat jendela Aula.
"Penelitian ini bukan sekadar soal suara bambu," kata Dedik, suaranya berat dan berwibawa.
"Ini soal bagaimana alam memiliki frekuensi penyembuh yang tidak bisa diciptakan oleh mesin. Dan sore ini, kami akan membuktikannya secara langsung."
Dedik nengok ke arah gua. Dia ngasih kode pake anggukan kepala.
Gua berdiri dengan kaki lemes. Gua jalan ke tengah panggung Aula. Di tangan gua udah ada mic nirkabel. Gua liat ke arah penonton.
Ada sekitar lima puluh orang di dalem Aula, semuanya natap gua dengan tatapan "Emang dia bisa apa?".
Gua nengok ke Dedik. Dia udah duduk di kursi tinggi sambil mangku gitarnya. Dia metik satu nada, nada G yang lembut banget.
"Liat gua, Rey," bisik Dedik tanpa mic, tapi gua bisa denger jelas.
Gua tutup mata. Gua bayangin gua lagi di gubuk Desa Pinus. Gua bayangin wangi jaket denim Dedik yang meluk gua. Gua bayangin sunyinya hutan bambu.
Gua mulai narik napas... dan gua keluarin nada pertama.
“Never mind, I'll find someone like you...”
Awalnya, suara gua cuma kedengeran di dalem Aula. Tapi tiba-tiba, Dedik neken sebuah tombol di kotak itemnya.
ZRAAAK!
Di luar Aula, di panggung utama Arlan yang lagi riuh rendah sama suara musik EDM, tiba-tiba audionya terputus. Beat musiknya ilang, digantiin sama suara petikan gitar akustik Dedik yang tiba-tiba meledak dari speaker-speaker gantung raksasa itu.
Gua nggak tau apa yang terjadi di luar, tapi gua ngerasa suara gua makin enteng.
Gua mulai masuk ke bagian chorus. Gua keluarin semua emosi gua, semua rasa takut gua, semua rasa sebel gua ke Arlan, dan semua rasa "aneh" gua ke Dedik.
“Don't forget me, I beg, I remember you said...”
Di luar Aula, ribuan mahasiswa yang tadinya lagi loncat-loncat di depan panggung Arlan mendadak diem. Mereka bingung.
Musik EDM-nya ilang, tapi malah ada suara cewek yang nyanyi dengan sangat jernih dan indah, diiringi gitar yang kedengarannya kayak dateng dari surga.
Arlan di atas panggung panik. Dia mencet-mencet tombol di controller-nya, tapi nggak ada suara yang keluar kecuali suara gua. Dia teriak-teriak ke krunya, tapi audionya udah dikuasai penuh sama pemancar Dedik.
Di dalam Aula, perwakilan sponsor yang tadi bosen langsung tegak duduknya. Mereka melongo. Pak Dekan senyum lebar.
Gua nyampe di nada paling tinggi. Gua tarik nada itu sekuat tenaga, dan gua ngerasa seolah-olah seluruh ruangan, bahkan seluruh kampus bergetar ngikutin frekuensi suara gua.
Resonansi bambu kuning yang dipancarinn alat Dedik bikin suara gua punya reverb alami yang megah banget.
Pas gua nyelesein kalimat terakhir, gua buka mata.
Sunyi.
Bahkan suara musik dari luar pun nggak kedengeran. Seluruh kampus mendadak hening.
Detik berikutnya, Aula Utama meledak sama tepuk tangan. Para profesor berdiri, perwakilan sponsor tepuk tangan sambil berdiri, dan Kak Tiara nangis haru di pojokan.
Gua lemes. Gua hampir jatoh kalau Dedik nggak buru-buru berdiri dan nangkep lengan gua.
"Gua bilang juga apa," bisik Dedik di deket telinga gua. "Logikanya, keindahan nggak bisa dikalahin sama kebisingan."
Gua napas tersengal-sengal. "Kita... kita berhasil?"
"Bukan cuma berhasil, Rey. Lo baru aja ngebajak festival kampus paling gede tahun ini."
Tiba-tiba, pintu Aula Utama didorong paksa. Arlan masuk dengan muka merah padam, napasnya buru-buru, diikutin kru musiknya.
"DEDIK! LO APAIN SISTEM GUE?!" teriak Arlan histeris di depan Pak Dekan dan para profesor. "LO NYABOTASE KONSER GUE!"
Dedik nengok ke Arlan dengan muka paling lempeng sedunia. "Sabotase? Logikanya, Lan... kalau sistem lo kuat, frekuensi luar nggak bakal bisa masuk.
Mungkin sistem lo emang cuma 'plastik' yang nggak tahan sama getaran alami."
"LO....!"
"Cukup, Saudara Arlan!" suara Pak Dekan menggelegar. "Kami semua saksi di sini. Tim Dedik dan Reyna baru saja membuktikan bahwa riset mereka valid dan memiliki dampak resonansi yang luar biasa.
Masalah gangguan audio di panggung Anda, silakan urus dengan bagian teknis. Tapi di sini, kami sudah melihat siapa yang memiliki kualitas."
Perwakilan sponsor utama jalan mendekati Dedik dan Reyna. "Luar biasa. Saya belum pernah mendengar audio sejernih ini tanpa bantuan studio mahal."
"Kami akan melanjutkan kontrak ini, dan kami ingin Saudara Dedik dan Saudari Reyna menjadi ikon untuk kampanye produk kami selanjutnya."
Arlan membeku. Dia kalah. Bukan cuma kalah di riset, tapi dia kalah di depan semua orang yang paling berpengaruh di kampus ini.
Dia nengok ke gua dengan tatapan benci, tapi gua nggak takut lagi. Gua malah senyum ke dia, senyum Sagitarius yang penuh kemenangan.
Setelah acara beres, gua dan Dedik duduk di tangga belakang Aula. Matahari udah mau tenggelam.
"Ded," panggil gua pelan.
"Hm?" Dedik lagi sibuk masukin kabel-kabel "ilegal"-nya ke dalem tas.
"Makasih ya. Gua nggak nyangka gua bisa lakuin itu."
"Gua udah bilang, Rey. Lo itu frekuensi yang cuma butuh wadah yang pas. Dan gua seneng gua bisa jadi wadah itu buat lo."
Gua diem sebentar, terus gua nyenderin kepala gua ke pundaknya. Dedik kaku sebentar, tapi kali ini dia nggak protes soal "logika suhu tubuh" atau apa pun.
Dia malah diem, dan gua ngerasa dia pelan-pelan nyenderin kepalanya ke kepala gua juga.
"Jaket gua udah lo cuci kan?" tanya dia tiba-tiba.
"Udah, bawel! Bau bunga mawar malah sekarang!"
Dedik ketawa pelan. "Logikanya, gua harusnya nggak suka bau mawar. Tapi kalau lo yang nyuci... kayaknya gua bisa adaptasi."
Gua senyum. Partner Sialan gua ini emang bener-bener sialan, tapi gua nggak mau tuker dia sama apa pun di dunia ini.
***
Kemenangan besar di tangan! Tapi tepat saat mereka lagi menikmati momen berdua, HP Dedik getar. Ada pesan masuk dari nomor nggak dikenal:
"Selamat atas kemenangannya. Tapi jangan lupa, data riset bambu kuning itu punya rahasia lain yang belum lo temuin. Temuin gua di lab malem ini kalau lo mau tau siapa sebenernya yang bikin kecelakaan Arlan terjadi."