NovelToon NovelToon
Toko Roti Cinta Sepoi-sepoi

Toko Roti Cinta Sepoi-sepoi

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:570
Nilai: 5
Nama Author: kawaichanopi

📖 Judul: Toko Roti Cinta Sepoi-sepoi

Deskripsi Cerita:

Di sudut jalan tua yang masih menyimpan jejak sejarah, berdiri kokoh sebuah bangunan kayu bergaya klasik Tiongkok. Di sanalah letak Toko Roti Lian Hua, tempat di mana udara selalu beraroma hangat manis—campuran gula, tepung, dan aroma kayu manis yang khas.

Di balik meja kayu yang sudah usang namun bersih, bekerja seorang gadis bernama Mei Lin. Di usianya yang ke-20, ia sudah menjadi pemilik tunggal toko ini, satu-satunya warisan berharga peninggalan orang tuanya yang telah tiada dalam sebuah kecelakaan misterius. Mei Lin gadis yang ceria, berhati lembut, sangat menyayangi anak kecil dan kucing liar. Namun, takdir memberinya satu ujian berat: ia terlahir bisu. Ia tak bisa bersuara, tak bisa berteriak, dan tak bisa membela diri dengan kata-kata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kawaichanopi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Latihan Di Bawah Angin

Hari-hari di Toko Roti Lian Hua kini berubah total. Dulu, pagi sampai sore hanya diisi aroma roti, tawa pembeli, dan kehangatan sederhana. Sekarang, di samping itu semua, ada nuansa magis yang kental menyelimuti setiap sudut. Kakek Wangsa, sang guru tua yang penuh rahasia, kini menetap di ruang belakang toko, di ruangan kecil yang tenang dan selalu diterangi cahaya lembut alami.

Pagi itu, tepat setelah toko dibuka dan pembeli pertama mulai berdatangan, Kakek Wangsa memanggil Mei Lin dan Jun Jie ke halaman belakang yang luas, tempat biasanya dijemur bahan-bahan alami. Di sana, di bawah pohon besar yang menjadi tempat pertemuan pertama mereka, Kakek Wangsa sudah duduk bersila dengan tenang, menunggu kedua murid barunya itu.

"Kalian sudah siap?" tanya Kakek Wangsa sambil tersenyum bijak, matanya menatap tajam namun penuh kasih sayang. "Ingat ya, apa yang akan kalian pelajari ini bukan ilmu sihir biasa. Ini adalah seni tertinggi keluarga kalian: Mengubah Perasaan Menjadi Kekuatan, dan Mengubah Kekuatan Menjadi Kehidupan."

Mei Lin dan Jun Jie mengangguk mantap. Mereka berdiri berhadapan dengan kakek itu, hati mereka berdebar kencang karena penasaran dan semangat.

"Selama ini," lanjut Kakek Wangsa, "kalian hanya menggunakan sedikit saja dari kemampuan kalian. Mei Lin, kau mengeluarkan kekuatanmu secara naluriah, berdasarkan rasa iba atau kasih sayang. Dan kau, Jun Jie, kau hanya bertindak sebagai pelindung dengan mengandalkan keberanian dan cintamu saja. Itu bagus, itu murni, tapi belum cukup. Melawan Nyonya Sari yang sudah berlatih puluhan tahun, kalian butuh kendali, kecepatan, dan kekuatan yang jauh lebih besar."

Kakek Wangsa menunjuk ke arah Meja Kayu Ajaib yang kini ada di halaman belakang, diletakkan di tempat terbuka agar terkena angin dan sinar matahari sepenuhnya. Di atas meja itu, Buku Resep Kuno terbuka sendiri, halamannya berhembus pelan ditiup angin sepoi-sepoi.

"Hari ini kita mulai pelajaran pertama: Memahami Bahasa Angin dan Rasa."

"Angin dan rasa?" tanya Jun Jie bingung. "Maksud Kakek?"

Kakek Wangsa tertawa kecil, lalu mengulurkan tangannya ke udara. Angin sepoi-sepoi yang biasa itu perlahan berputar, membentuk pusaran kecil di telapak tangannya, berkilauan indah.

"Angin bukan sekadar udara yang bergerak, Nak. Bagi keluarga kalian, Angin adalah Pembawa Pesan dan Penyambung Hati. Anginlah yang menyebarkan aroma rotimu ke hati orang lain. Anginlah yang menyampaikan rasa sayangmu ke dalam adonan. Selama ini angin sudah membantu kalian diam-diam, tapi kalian belum pernah bicara dengannya, belum pernah memerintahnya, dan belum pernah menjadikannya teman sejatimu."

Kakek Wangsa menatap Mei Lin lekat-lekat.

"Mei Lin, kau punya hubungan paling dekat dengan angin. Angin selalu ada bersamamu sejak kecil, kan? Angin tahu isi hatimu, angin tahu sedih dan bahagiamu. Sekarang, cobalah panggil dia. Bukan dengan suara, karena kau lebih paham bahasa hati... tapi dengan perasaan yang jelas dan tegas. Katakan padanya apa yang kau inginkan."

Mei Lin mengangguk perlahan. Ia menarik napas panjang, memejamkan matanya, dan menenangkan pikirannya. Ia membayangkan dirinya menyatu dengan udara di sekitarnya. Ia tidak lagi memikirkan toko, tidak memikirkan musuh, tidak memikirkan apa pun. Ia hanya merasakan... merasakan hembusan lembut yang selalu ada di dekatnya.

"Angin kawanku... Sahabatku yang selalu setia... Datanglah lebih dekat. Bicaralah padaku. Ajarilah aku," bisik Mei Lin dalam hatinya, penuh ketulusan dan kerendahan hati.

Dan saat itu terjadi...

WUSSS!

Angin sepoi-sepoi berhembus kencang sekali, tapi sama sekali tidak menyakitkan atau merusak apa pun. Angin itu berputar mengelilingi tubuh Mei Lin, mengangkat ujung gaunnya dan rambutnya dengan lembut, seolah sedang memeluk dan menari gembira di dekat gadis itu. Di sekeliling Mei Lin, muncul ribuan kilatan cahaya kecil berwarna putih keemasan, berterbangan seperti debu bintang.

Mata Mei Lin terbuka, matanya bersinar terang benderang, penuh keheranan dan kegembiraan. Ia bisa mendengar! Bukan suara kata-kata, tapi ribuan pesan, ribuan perasaan, ribuan kenangan yang dibawa oleh angin dari seluruh penjuru kota, dari hutan, dari bukit, dari rumah-rumah penduduk.

Ia mendengar rasa bahagia seorang ibu yang memeluk anaknya.

Ia mendengar rasa syukur seorang petani yang panen raya.

Ia juga mendengar samar-samar rasa takut dan gelisah dari arah bukit tempat kediaman Nyonya Sari.

Mei Lin langsung menulis cepat di bukunya, tangannya bergerak lincah dan bersemangat:

"Aku dengar, Kakek! Angin itu bicara padaku! Dia membawa semua perasaan orang-orang! Rasanya... rasanya luar biasa banyak dan indah!"

Kakek Wangsa tersenyum puas sekali. "Bagus! Itu baru permulaan, Nak. Kau baru saja membuka telingamu bagi dunia. Sekarang, kau bisa menggunakannya untuk membuat roti yang lebih hebat. Karena kau tahu persis apa yang dibutuhkan hati orang yang memakan rotimu. Kau tidak perlu menebak-nebak lagi."

Lalu giliran Jun Jie. Kakek Wangsa beralih menatap pemuda itu dengan sorot mata yang lebih tajam dan menantang.

"Nah, giliranmu, Penjaga Perisai. Kau punya tugas berbeda. Kalau Mei Lin adalah Pendengar dan Pemberi, kau adalah Penahan dan Penguat. Kekuatanmu bukan untuk menyebar rasa, tapi untuk mengumpulkan energi dan menjaganya tetap utuh."

Kakek Wangsa menunjuk ke arah Meja Kayu Ajaib itu. Di atasnya sudah tersedia bahan-bahan sederhana: tepung, air, sedikit garam. Tidak ada gula, tidak ada mentega.

"Hari ini ujian pertamamu berdua. Kalian harus membuat roti yang namanya ROTI KOKOH TANPA RASA. Kedengarannya aneh, kan? Tapi ini ujian dasar yang paling sulit. Kalian harus membuat roti yang rasanya biasa saja, hambar, tidak ada nikmatnya sama sekali... tapi punya kekuatan pertahanan paling dahsyat. Roti ini nanti yang akan jadi pondasi dari semua roti pelindung lainnya."

Jun Jie mengerutkan kening bingung. "Hambar, Kakek? Tapi kan inti dari roti kami adalah rasa kasih sayang dan kelezatannya?"

"Betul," jawab Kakek Wangsa tegas. "Tapi untuk bertahan dalam pertempuran melawan sihir hitam, rasa manis atau lezat itu kadang jadi kelemahan. Kejahatan suka hal yang manis dan menggoda. Tapi kekuatan yang kokoh, tenang, dan sederhana... itu yang tidak bisa ditembus kegelapan. Ingat, rasa itu ada di hati, bukan di lidah. Kalian harus masukkan kekuatan keteguhan hati, keberanian, dan kesetiaan ke dalam adonan ini, tanpa ada rasa manis sedikit pun. Bisa kalian lakukan?"

Mei Lin dan Jun Jie saling pandang. Tantangan ini unik dan sulit. Selama ini mereka selalu membuat roti yang sedap dan bikin hati senang. Sekarang harus membuat yang hambar tapi penuh kekuatan?

Namun mereka tahu, Kakek Wangsa tidak memberi tugas yang tidak berguna. Mereka mengangguk mantap, lalu berjalan beriringan menuju meja kayu itu.

Mereka mulai bekerja. Kali ini caranya berbeda.

Mei Lin tidak memasukkan rasa bahagia atau kenangan indah. Ia memejamkan mata, dan mengirimkan rasa Ketenangan. Ia membayangkan gunung batu yang kokoh berdiri ribuan tahun, tidak goyah diterpa badai apa pun. Cahaya emas dari tangannya keluar, namun kali ini warnanya lebih pekat, lebih tenang, dan lebih padat.

Jun Jie di sebelahnya, menguleni dengan kekuatan penuh. Ia tidak memikirkan kasih sayang, tapi memikirkan Kesetiaan dan Kekokohan. Ia membayangkan tembok tebal yang melindungi kota, benteng yang tidak bisa diruntuhkan apa pun. Cahaya perak dari tubuhnya bersinar terang, menyelimuti adonan itu, membuatnya terasa berat, padat, dan kuat.

Angin sepoi-sepoi berhembus pelan, kali ini membawa pesan ketenangan dan kekuatan, ikut masuk menyatu ke dalam adonan.

Berjam-jam mereka bekerja. Tidak ada senyum lebar, tidak ada rasa haru. Yang ada hanya fokus, kesungguhan, dan kerja sama yang sangat erat. Mereka harus mengendalikan kekuatan mereka agar tidak berlebihan, agar tidak ada rasa sedap yang muncul sedikit pun. Ini butuh kendali diri yang luar biasa besar.

Saat adonan selesai dibentuk menjadi balok-balok persegi yang sederhana, mereka memanggangnya dengan api yang tenang dan stabil, bukan lagi api cinta yang menyala-nyala, tapi api keteguhan yang diam namun abadi.

Ketika roti itu keluar dari tungku, pemandangan yang mereka lihat sangat berbeda.

Roti itu warnanya putih pucat, biasa saja, tidak berkilau indah seperti biasanya. Aromanya pun biasa, hanya bau tepung matang yang sederhana. Tidak ada keharuman yang menyengat atau menggugah selera.

Kakek Wangsa mendekat, mengambil sepotong, lalu menggigitnya perlahan.

Wajahnya tidak berubah senang atau bahagia. Ia hanya mengangguk pelan, lalu menelan potongan itu.

"Bagus..." ucapnya pelan namun penuh pujian. "Benar-benar hambar di lidah. Tidak ada rasa apa pun. Tapi rasakan di sini..." Kakek Wangsa menunjuk dadanya. "Di sini terasa kokoh, aman, dan damai. Kekuatannya ada di tulang, bukan di lidah. Kalian berhasil."

Mei Lin dan Jun Jie menghela napas lega, tersenyum bangga. Ujian pertama selesai, dan mereka lulus dengan nilai sempurna.

"Tapi ingat," lanjut Kakek Wangsa sambil menatap ke arah bukit yang tertutup kabut samar, "ini baru permulaan. Kalian harus bisa membuat berbagai macam jenis roti dengan berbagai macam fungsi. Ada roti penangkal racun, roti pembawa pesan, roti pemulih tenaga, sampai roti penyegel kekuatan. Semakin banyak jenis yang kalian kuasai, semakin lengkap senjata kita menghadapi Nyonya Sari."

Tiba-tiba, angin sepoi-sepoi berubah menjadi sedikit lebih kencang dan membawa pesan mendesak. Mei Lin langsung menegakkan tubuhnya, matanya menatap tajam ke arah utara. Ia merasakan sesuatu.

"Ada orang datang lagi, Kakek. Bukan pasukan, tapi... seseorang yang terluka parah. Dia lari dari arah kediaman Nyonya Sari. Dia minta tolong!" tulis Mei Lin dengan tangan gemetar karena kaget.

Jun Jie langsung bersiap siaga. "Apakah dia musuh atau kawan, Lin?"

Mei Lin memejamkan mata sejenak, merasakan lebih dalam. Lalu ia membuka mata dan menggeleng cepat, tulisannya tegas:

"Bukan musuh. Dia ketakutan. Dia minta perlindungan. Dia tahu banyak rahasia di sana... Dia pembelot!"

Kakek Wangsa tersenyum tipis, senyum yang penuh arti. "Tepat sekali waktunya. Perang ini tidak cuma soal kekuatan, tapi juga soal hati dan pengkhianatan. Sepertinya kekejaman Nyonya Sari mulai membuat anak buahnya sendiri takut dan ingin lari. Kalau kita bisa selamatkan dia, kita akan tahu semua rencana jahat Nyonya Sari sampai ke akar-akarnya."

"Jun Jie, Mei Lin... cepat ke gerbang belakang! Ada seseorang yang butuh pertolongan kita sekarang juga. Dan hati-hati... Nyonya Sari pasti mengirim pengejar untuk membungkam mulut orang ini selamanya."

Tanpa buang waktu lagi, Mei Lin dan Jun Jie berlari secepat kilat menuju gerbang belakang halaman. Jantung mereka berdegup kencang. Latihan hari ini selesai lebih cepat dari jadwal, dan petualangan baru yang menegangkan pun segera dimulai.

Di balik semak-semak di pinggir jalan setapak, sesosok bayangan kecil tergeletak lemah, pakaiannya robek-robek dan berdarah, napasnya tersengal-sengal. Di belakangnya, kabut hitam tipis mulai bergerak cepat mendekat, berisikan makhluk-makhluk bayangan pemburu yang mengerikan.

Pertolongan harus datang secepat mungkin. Dan di sinilah Mei Lin dan Jun Jie akan menguji hasil latihan pertama mereka: Roti Kokoh Tanpa Rasa, untuk melindungi nyawa orang yang berani membelot dari kegelapan.

 

1
listia_putu
❤️
Kawaichan Opi: ,terima kasih
total 1 replies
HiaTus
💪 sukses karyanya kak
Kawaichan Opi: terima kasih kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!