"sebuah kontrak yang menyelamatkan namun siksaan dari profesor untuk mahasiswinya..."
Akankah yang awalnya siksaan itu menjadi sebuah kenikmatan atau kebahagiaan, bisa jadi penyesalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: Penyatuan di Balik Tirai Hitam
BAB 22: Penyatuan di Balik Tirai Hitam
Suara desau angin malam beradu dengan gemercik air mancur buatan di balkon penthouse. Namun, di dalam kamar tidur utama yang bernuansa hitam dan abu-abu arang itu, suasananya terasa begitu sunyi sekaligus sarat akan ketegangan seksual yang teramat pekat. Udara di sekitar mereka mendadak terasa begitu tipis dan menghangat, bahkan sebelum AC sentral sempat mendinginkan ruangan.
Kiara berdiri mematung di sisi ranjang king size berseprai sutra hitam. Ia baru saja selesai membersihkan diri, mengenakan sebuah gaun tidur satin tipis berwarna merah marun bertali spageti yang mengekspos bahu mulusnya serta lekuk dadanya yang indah. Jantungnya berdegup dengan ritme yang teramat ekstrem, memburu seolah ingin melompat keluar dari rongganya. Ada rasa gugup, malu, namun di sudut hatinya yang terdalam, ada debaran gairah yang liar yang mulai menuntut untuk dipuaskan setelah semua ketegangan di kampus siang tadi.
Cklek.
Pintu kamar mandi terbuka. Adrian melangkah keluar dengan penampilan yang sanggup membuat wanita mana pun kehilangan akal sehatnya. Pria berumur dua puluh sembilan tahun itu hanya mengenakan celana tidur satin hitam panjang tanpa atasan. Rambut hitamnya yang setengah basah jatuh berantakan di dahinya, dan sisa-sisa tetesan air berkilau di atas dada bidangnya yang berotot keras, menjalar turun melewati perut six-pack-nya yang sempurna hingga tenggelam di balik ban celananya.
Adrian melepas kacamata bacanya, meletakkannya di atas nakas, lalu mengunci pandangan elangnya lurus pada sosok Kiara. Tatapan pria itu seketika berubah menjadi begitu gelap, lapar, dan dipenuhi oleh api obsesi kepemilikan yang teramat pekat.
"Kamu tidak melarikan diri ke kamar tamu lagi, hm? Anak pintar," bisik Adrian. Suara baritonnya mendadak berubah menjadi sangat rendah, serak, dan berat, bergaung seksi di dalam keheningan kamar.
Langkah kaki tegap Adrian memangkas jarak di antara mereka tanpa suara. Sebelum Kiara sempat menanggapi, tangan kekar Adrian sudah merayap ke pinggang ramping Kiara, menarik tubuh mungil itu dalam satu sentakan lembut namun tegas hingga perut mereka menempel tanpa celah. Kiara terkesiap, kedua telapak tangannya otomatis bertumpu pada dada telanjang Adrian yang terasa begitu panas dan keras bak batu karang.
"Adrian... l-lampunya belum dimatikan," cicit Kiara dengan wajah yang sudah merona merah padam, mencoba mencari alasan karena tidak kuat menatap tatapan lapar sang profesor yang begitu mengintimidasi batinnya.
Adrian terkekeh sangat tipis—sebuah kekehan sensual yang membuat dada Kiara berdesir hebat hingga ke ujung jari kakinya. "Biarkan menyala, Kiara. Malam ini, aku ingin melihat dengan sangat jelas bagaimana tubuh indah ini menyerah sepenuhnya di bawah kuasaku. Aku ingin melihat setiap ekspresimu saat aku mengklaim apa yang menjadi milikku."
Tanpa memberikan kesempatan bagi Kiara untuk memprotes, Adrian menundukkan kepalanya, langsung membungkam bibir ranum Kiara dengan sebuah ciuman yang luar biasa dalam.
Berbeda dengan malam pertama mereka yang kasar karena cemburu, kali ini Adrian melumat bibir Kiara dengan ritme yang lambat, menuntut, namun dipenuhi oleh kelembutan yang teramat menyiksa. Lidah hangat Adrian menyusup masuk, menjelajahi rongga mulut Kiara dengan dominasi mutlak, menyesap manisnya madu bibir gadis itu seolah ia sedang kehausan di tengah padang pasir.
"Mphhh... Adrian..."
Lenguhan seksi lolos dari sela bibir Kiara saat ciuman itu turun menjajah leher jenjangnya. Tangan besar Adrian bergerak dengan cekatan ke punggung Kiara, menurunkan tali gaun tidur satinnya perlahan, membiarkan kain tipis itu merosot jatuh ke atas lantai marmer, mengekspos keindahan tubuh polos Kiara di bawah siraman lampu kamar yang temaram.
Adrian menatap mahakarya di depannya dengan napas yang kian memburu kasar. Jakunnya naik turun dengan ekstrem. "Kamu... luar biasa indah, Kiara. Sangat indah hingga membuatku gila," bisik Adrian seksi sebelum mengangkat tubuh mungil Kiara dengan mudah, menghempaskannya dengan lembut ke atas ranjang sutra hitam.
Dalam sekejap, tubuh tegap Adrian sudah mengurungnya kembali di bawah sekat kedua lengannya yang kokoh. Sentuhan kulit-ke-kulit yang begitu intens mengirimkan gelombang sengatan listrik panas yang melumpuhkan seluruh akal sehat Kiara. Di bawah tatapan elang sang profesor yang super tengil namun perkasa, pertahanan batin Kiara lebur seada-adanya. Rasa cemburu dan sakit hati akibat Clarissa siang tadi mendadak menguap, digantikan oleh gelombang gairah yang membara yang dialirkan oleh sentuhan jemari Adrian di atas kulitnya.
Adrian mulai menandai setiap jengkal tubuh Kiara dengan ciuman-ciuman panas yang posesif, memberikan hisapan-hisapan lembut yang meninggalkan jejak kemerahan samar di dada dan perut Kiara—sebuah tanda mutlak bahwa gadis itu adalah miliknya seutuhnya, tak boleh ada yang menyentuhnya. Jemari panjang Adrian menyusup di sela jemari Kiara, menguncinya di atas bantal, menyatukan jemari mereka dengan begitu erat seiring dengan ritme penyatuan mereka yang kian memanas.
Malam itu, di bawah temaram lampu kamar dan seprai sutra hitam yang kusut, terjadi pergolakan gairah yang luar biasa intens. Suara desahan yang memburu, lenguhan seksi Kiara yang memanggil nama Adrian, dan bisikan-bisikan bariton Adrian yang sarat akan kepemilikan mutlak memenuhi udara. Adrian mengklaim haknya bukan lagi sebagai suami di atas kertas, melainkan sebagai pria yang jiwanya telah terikat sepenuhnya oleh pesona sang mahasiswi.
Setiap sentuhan, dorongan, dan lumatan malam itu dilakukan dengan penuh penekanan gairah yang dalam, membawa Kiara terbang melayang ke puncak kenikmatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Tubuh Kiara melengkung pasrah, mencengkeram bahu kokoh Adrian kuat-kuat saat gelombang pelepasan yang luar biasa nikmat menghantam mereka berdua secara bersamaan, menyisakan deru napas yang memburu di tengah keheningan malam yang panjang.
Satu jam setelah pergolakan gairah yang membakar itu usai, kamar tidur utama kembali diselimuti keheningan yang intim dan menenangkan.
Hawa panas sisa pergulatan masih terasa, namun kali ini tidak ada lagi air mata kesedihan atau rasa hancur di dada Kiara. Yang ada hanyalah rasa hangat yang menjalar di seluruh hatinya.
Kiara berbaring miring berlindung di balik selimut tebal, dengan kepala yang bersandar nyaman di atas dada bidang Adrian yang masih naik-turun mengatur napas. Jantung Adrian berdetak konstan di bawah telinga Kiara, memberikan rasa aman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Adrian sendiri memeluk tubuh mungil Kiara dengan teramat erat dari belakang, seolah takut jika ia mengendurkan pelukannya semili saja, gadis itu akan menghilang. Tangan besar Adrian bergerak perlahan, mengusap punggung polos Kiara yang tertutup selimut dengan gerakan ritmis yang menenangkan. Sisi tengil dan dingin sang profesor mendadak luntur, menyisakan sosok pria pelindung yang sedang mendekap harta paling berharganya.
"Apakah masih terasa sakit, hm?" bisik Adrian rendah, suaranya terdengar begitu serak dan seksi pasca pelepasan. Pria itu menunduk, mengecup puncak kepala Kiara yang wangi dengan lembut.
Wajah Kiara memerah di dalam dekapan Adrian. Ia menyembunyikan wajahnya yang merona di ceruk leher Adrian, menghirup aroma maskulin suaminya yang maskulin. "Tidak... tidak lagi," lirih Kiara malu-malu, jemari mungilnya memainkan kancing celana tidur Adrian yang berada di dekatnya.
Adrian terkekeh pelan, sebuah suara bariton yang bergetar di dadanya dan terasa begitu nyaman di telinga Kiara. Adrian meremas pinggang Kiara gemas, lalu memutar tubuh gadis itu agar menatap langsung ke arahnya. Di bawah tatapan mata elang Adrian yang kini begitu lembut dan dalam, Kiara tahu... ia sudah benar-benar kalah. Ia tidak lagi bisa memungkiri bahwa hatinya telah jatuh sepenuhnya ke dalam pelukan sang profesor dingin yang kejam ini.
"Mulai malam ini, jangan pernah berpikir untuk tidur di kamar lain lagi, Kiara," bisik Adrian posesif, menempelkan keningnya di kening Kiara. "Kamu adalah milikku. Kamar ini, ranjang ini, dan seluruh hidupku... adalah tempatmu yang sesungguhnya. Kontrak itu mungkin berharga tiga ratus lima puluh juta, tapi bagiku... nilaimu sudah tidak bisa diukur dengan uang lagi, Mahasiswaku."
Mendengar kalimat pengakuan yang teramat dalam dan manis itu, sebuah senyuman tulus akhirnya terukir di bibir ranum Kiara. Ia melingkarkan kedua lengannya di leher kokoh Adrian, menarik pria itu untuk kembali memenjarakannya dalam sebuah ciuman malam yang hangat dan penuh cinta, mengunci takdir mereka yang kini tak lagi bisa dipisahkan oleh selembar kertas perjanjian apa pun.