NovelToon NovelToon
12 Langkah Sebelum Januari

12 Langkah Sebelum Januari

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Single Mom
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: pashadena

Di usia lima belas tahun, Yuni dipaksa melipat rapat mimpinya memakai seragam abu-abu. Sebagai anak sulung dari keluarga yang serbakekurangan, dia harus mengalah demi menghidupi enam adiknya yang lahir beruntun setiap dua tahun sekali. Yuni memilih merantau menjadi buruh pabrik di Jakarta. Namun, kepulangannya dua tahun kemudian justru membawa takdir baru yang tak pernah dia duga: sebuah pinangan dari Hendra, pria mapan yang sama sekali belum dikenalnya.
Demi bakti pada ibu angkat dan harapan bisa mengangkat derajat keluarga, Yuni yang baru berusia 17 tahun akhirnya menerima pernikahan kilat tersebut. Alih-alih menemukan kebahagiaan, Yuni justru terjebak dalam sangkar emas yang dikendalikan penuh oleh ibu mertuanya yang kejam. Di bawah intimidasi mertua dan sikap Hendra yang perlahan berubah dingin, rumah tangga yang baru berjalan lima bulan itu mulai retak di ambang kehancuran.
Hingga suatu malam, sebuah rahasia gelap yang selama ini disembunyikan di balik punggung Yuni akhirnya terbo

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pashadena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: PERJALANAN MENUJU RUNTUHNYA HARAPAN

Perut Laras kini telah membuncit, sebuah pengingat fisik yang tak bisa ia sembunyikan lagi dari tatapan tajam warga desa. Seiring dengan pertumbuhan janin di dalam rahimnya, keberanian Laras justru tumbuh seiring dengan rasa putus asa. Ia tidak bisa lagi diam. Selama dua bulan ini, setiap malam adalah siksaan. Ia menunggu kepulangan Rendra yang tak kunjung tiba, hingga akhirnya, kabar burung dari seorang pedagang keliling yang pernah melewati kota asal Rendra membawanya pada kenyataan yang getir: Rendra tidak pernah kembali ke desa pengasingan, dan Rendra terlihat kembali ke kehidupan lamanya.

Namun, Laras berada dalam labirin kebingungan. Ia tidak tahu di mana sebenarnya Rendra berada. Apakah pria itu bersembunyi di Sukorejo, rumah sang istri yang katanya sedang dalam proses perceraian, ataukah ia benar-benar kembali ke rumah orang tuanya yang megah?

"Aku harus mencarinya," gumam Laras suatu malam saat Satria sudah terlelap di sampingnya. "Jika dia memang berniat membuang kami, aku ingin mendengarnya langsung dari mulutnya. Setidaknya, demi anak yang ada di rahimku ini."

Keesokan harinya, Laras membawa kegelisahannya ke warung Bu Tejo, satu-satunya tempat di mana informasi dan gosip desa berpusat. Dengan suara bergetar dan tatapan yang meredup, ia menceritakan kebingungannya. "Aku ingin menemui Mas Rendra. Tapi aku bingung... apakah dia di rumah istrinya, atau di rumah orang tuanya?"

Para wanita yang berkumpul di warung itu saling bertukar pandang. Beberapa di antara mereka menatap Laras dengan iba, sementara yang lain menatap dengan tatapan menghakimi. Namun, seorang tetangga yang lebih tua, yang sudah lama mengenal seluk-beluk keluarga Rendra dari cerita orang-orang, langsung menyela.

"Laras, dengarkan aku," ucap wanita tua itu dengan nada tegas. "Jangan pernah kau pergi ke rumah wanita yang di Sukorejo itu. Dia itu korban, sama sepertimu. Dia pasti sudah menutup pintu rapat-rapat untuk suaminya yang tidak tahu diri itu. Jika kau datang ke sana, kau hanya akan menambah luka untuk sesama wanita."

Laras terdiam, hatinya mencelos. Ia belum pernah membayangkan Yuni sebagai sosok yang juga terluka. Ia selalu membayangkan Yuni sebagai wanita yang beruntung, istri sah yang memiliki hak segalanya.

"Lalu aku harus ke mana?" tanya Laras lemah.

"Datangilah rumah orang tua Rendra," saran tetangga lain. "Keluarga Wijaya itu orang terpandang. Jika Rendra memang berniat meninggalkanmu dan anak dalam kandunganmu, maka di sana lah tempatnya. Dia pasti sudah kembali ke bawah ketiak ibunya yang angkuh itu. Datangilah mereka. Tuntut hakmu. Jangan biarkan anakmu lahir tanpa status yang jelas hanya karena mereka merasa kaya dan bisa menginjak-injak orang kecil."

Saran itu menghujam jantung Laras. Rumah orang tua Rendra? Tempat yang bagi Laras terasa seperti istana yang tak terjangkau, tempat yang pasti akan menolaknya mentah-mentah. Namun, bayangan Satria yang sering bertanya di mana ayahnya, dan tendangan lembut dari bayi di dalam kandungannya, memberikan Laras kekuatan yang tak masuk akal.

"Mereka tidak akan menerimaku," bisik Laras, lebih kepada dirinya sendiri.

"Memang tidak akan," timpal tetangga yang tadi. "Tapi kau harus pergi. Bukan untuk meminta mereka menerima, tapi untuk menunjukkan bahwa kau punya harga diri. Biarkan mereka tahu bahwa ada darah daging Rendra yang kau kandung. Biarkan mereka merasa malu jika sampai menelantarkan cucu mereka sendiri."

Keputusan itu terasa berat, seperti membawa batu besar di pundak Laras. Ia pulang ke rumah, menatap Satria yang sedang bermain dengan potongan kayu di depan pintu. Ia merasa sangat berdosa. Ia telah membuat anaknya terjebak dalam situasi yang tak seharusnya.

Laras mulai mengumpulkan sedikit uang hasil sisa tabungannya. Ia tidak memiliki banyak, hanya cukup untuk ongkos perjalanan dan sedikit bekal selama di jalan. Ia harus menitipkan Satria pada salah satu tetangga yang masih mau berbaik hati, sebuah hal yang paling berat dalam hidupnya. Ia tidak tega meninggalkan bocah itu, namun membawa Satria ke dalam konfrontasi yang mungkin akan brutal bukanlah hal yang bijak.

Malam sebelum keberangkatan, Laras duduk di tepi makam suaminya, Bayu, dan makam ibunya. Ia membisikkan permohonan maaf dan meminta kekuatan. Ia merasa sedang berjalan menuju lubang buaya, namun ia tidak punya pilihan lain. Statusnya sebagai janda yang mengandung anak dari seorang pria yang telah kembali ke "rumah asalnya" menuntut sebuah kejelasan.

Penulis merekam setiap langkah Laras. Ia adalah seorang wanita yang telah kehilangan segalanya, namun kini ia sedang mempertaruhkan sisa harga dirinya demi masa depan yang tidak pasti. Ia tidak menyadari bahwa di balik tembok tinggi rumah orang tua Rendra, Rendra telah menjadi orang yang sama sekali berbeda—seorang pria yang telah mematikan nuraninya dan bersiap untuk menyangkal segalanya.

Perjalanan menuju rumah orang tua Rendra adalah perjalanan menuju kenyataan yang paling pahit. Laras tidak tahu bahwa saat ia menaiki bus antarkota itu, ia bukan hanya membawa janin di perutnya, tetapi juga membawa bom waktu yang akan meledakkan kedamaian semu yang sedang dibangun oleh Rendra dan keluarganya. Ia berangkat dengan secercah harapan bahwa cinta akan menang, padahal di sana, di ujung perjalanan itu, hanya ada kebencian yang sudah mendarah daging dan ketidakadilan yang siap menyambutnya dengan tangan terbuka.

Saat bus mulai melaju, Laras menempelkan tangannya ke perut. "Anakku," bisiknya, "kita akan menemui ayahmu. Apapun yang terjadi, kita harus kuat." Ia tidak tahu bahwa saat ia melangkah maju, ia sedang melangkah menuju babak terakhir dari kehidupan yang pernah ia bangun, dan menuju titik balik di mana ia akan benar-benar memahami arti dari sebuah pengkhianatan yang tak termaafkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!