Saskia Mahendra adalah dokter hewan brilian yang mati kelelahan di laboratorium. Kini ia terbangun sebagai Saskia Utami, 20 tahun, terlilit utang koperasi, dikepung Bibi dan Paman serakah yang siap merampas tanahnya.
Namun, ia membawa sesuatu dari alam kematian: Air Suci. Warisan jiwa yang bisa menyembuhkan ternak dan memicu pertumbuhan ajaib. Setiap tetes bisa mengubah sapi kurus jadi Wagyu bernilai fantastis, tapi setiap tetesnya juga menguras nyawanya sendiri. Harga yang harus ia bayar diam-diam.
Ketika hasil peternakannya menembus standar daging termahal Indonesia, CEO agribisnis raksasa datang membawa kontrak, dan bahaya. Daniel Hardjono. Jenius, arogan, dan terlalu berbahaya untuk dipercaya. Di antara klausul kontrak berdarah dan ciuman yang tak direncanakan, Saskia harus menghadapi ancaman yang lebih ganas dari preman desa, mata-mata korporat internasional yang tahu ada rahasia di kandangnya, dan akan membunuh untuk mendapatkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Ada Sesuatu
Tubuh Saskia terasa panas membakar, berbanding terbalik dengan kulit sapi kaku di dekat kakinya.
Matahari sudah terbit. Cahaya jingga masuk melalui celah-celah dinding papan, menerangi kandang yang berantakan. Ember terbalik. Jerami basah berserakan. Selang air masih menetes pelan dari sistem pendingin bambu yang sekarang tidak berguna. Dan di sudut paling belakang, bangkai sapi Wagyu dengan nomor registrasi WF-007 terbaring kaku.
Saskia masih duduk di sampingnya. Tidak bergerak sejak subuh tadi. Lututnya tertekuk di depan dada. Tangannya masih menyentuh bulu hitam yang sudah tidak hangat lagi. Matanya terbuka, tapi pandangannya kosong.
Ia tidak menangis. Air matanya sudah kering di pipi, meninggalkan jejak putih di kulit yang kotor oleh lumpur dan debu kandang. Bibirnya kering. Pecah-pecah. Punggungnya membungkuk seperti orang tua berusia delapan puluh tahun.
Tubuhnya terasa panas. Sangat panas.
Ia tahu ini demam. Mungkin infeksi. Mungkin kelelahan. Mungkin efek samping dari lima tetes Air Suci yang ia gunakan dalam satu malam, ditambah tiga tetes sia-sia untuk sapi yang sudah mati. Tubuhnya tidak dirancang untuk menahan pengurasan sebanyak ini.
Tapi ia tidak peduli.
"Harus... pindahkan..." bisiknya pada diri sendiri. "Bangkai tidak boleh... di kandang... bisa menular..."
Ia mencoba bangkit. Lututnya gemetar. Tangannya mencari pegangan di dinding. Satu langkah. Dua langkah. Dunia berputar.
Tangannya terlepas dari dinding. Lututnya menghantam lantai tanah. Jerami basah menyambut tubuhnya yang ambruk.
Ia mencoba bangkit lagi. Tidak bisa. Tangannya terlalu lemah. Kakinya terlalu gemetar. Kepalanya terlalu panas.
Di ambang kesadarannya, ia mendengar suara mobil. Bukan angkutan desa. Bukan truk pakan. Suara mesin yang halus dan mahal. Suara yang mulai ia kenali.
Alphard hitam.
Pintu kandang didorong. Langkah kaki. Bukan satu orang. Dua. Tiga.
"Astaga..."
Suara Budi. Kaget. Horor. Mungkin karena melihat bangkai sapi. Mungkin karena melihat Saskia tergeletak di lantai.
"Pak Daniel, Mbak Saskia—"
"Aku lihat."
Suara Daniel. Dingin. Datar. Seperti biasa.
Langkah kaki mendekat. Sepatu kulit mengkilap berhenti tepat di depan wajah Saskia. Dari lantai tanah, ia bisa melihat ujung sepatu itu. Kotor lagi. Kena lumpur kandang. Daniel pasti tidak suka.
"Mbak Saskia."
Saskia tidak menjawab. Bukan karena tidak mau. Tapi karena tidak bisa. Tenggorokannya terasa seperti amplas. Suaranya hilang.
"Budi, pindahkan bangkai sapi itu. Panggil tim disposal. Sekarang."
"Baik, Pak."
Langkah kaki Budi menjauh. Terdengar suara telepon, lalu suara orang-orang yang mulai bekerja.
Saskia masih tergeletak di lantai. Matanya menatap sepatu Daniel.
Lalu ia merasakan sesuatu yang tidak ia duga.
Tangan.
Tangan yang mengangkat tubuhnya. Satu lengan di bawah lututnya. Satu lengan di bawah punggungnya. Tubuhnya terangkat dari lantai tanah, dari jerami basah, dari kotoran kandang. Dadanya menempel ke sesuatu yang hangat dan padat. Setelan jas mahal. Dada bidang.
Daniel Hardjono menggendongnya.
Saskia ingin memberontak. Ingin bilang: "Lepaskan saya, saya bisa jalan sendiri." Tapi mulutnya tidak bisa bergerak. Tubuhnya tidak bisa melawan. Kepalanya terkulai ke bahu Daniel. Pipinya menempel di kain jas yang halus dan mahal. Aroma parfum maskulin yang samar, bercampur dengan aroma kandang.
"Berat lo cuma berapa sih?" Suara Daniel rendah, lebih ke dirinya sendiri. "Kayak anak SMA."
Itu bukan pujian. Itu kritik. Tapi nada suaranya... berbeda. Tidak setajam biasanya.
Daniel berjalan keluar kandang. Melewati pintu yang copot satu engselnya. Melewati halaman tanah yang becek. Melewati pagar bambu yang sudah reyot. Alphard hitam sudah menunggu dengan pintu belakang terbuka. Budi berdiri di sampingnya, wajahnya masih pucat.
"Buka pintunya lebih lebar."
"Baik, Pak."
Daniel menurunkan Saskia ke kursi belakang. Gerakannya hati-hati, tidak sekasar yang Saskia bayangkan. Kepalanya disandarkan ke sandaran kulit. Tubuhnya diselimuti... jaket? Jaket Daniel. Jas mahal seharga puluhan juta rupiah, sekarang dipakai untuk menutupi tubuh gadis desa yang kotor dan demam.
"Budi. Suruh sopir bawa ke rumah sakit terdekat."
"Rumah sakitnya—"
"Rumah sakit umum saja. Yang ada UGD-nya."
"Baik, Pak."
Daniel duduk di kursi depan, di samping sopir. Mesin mobil menyala. Alphard hitam bergerak perlahan meninggalkan kandang.
Di sepanjang perjalanan, Saskia sadar-setengah-sadar. Matanya sesekali terbuka, menangkap potongan-potongan gambar. Jalan desa yang berlubang. Pohon jati di pinggir jalan. Langit biru di balik kaca jendela. Punggung kepala Daniel di kursi depan. Bahunya tegang. Lehernya kaku.
Satu kali, Saskia melihat Daniel menoleh. Cepat. Hanya satu detik. Matanya menatap Saskia dari kaca spion samping. Lalu kembali menatap ke depan.
Beberapa menit kemudian, ia menoleh lagi. Kali ini lebih lama. Dua detik. Tiga detik.
Saskia ingin bilang: "Kenapa lo lihat-lihat?" Tapi yang keluar dari mulutnya hanya gumaman tidak jelas.
"Jangan ngomong. Istirahat." Suara Daniel. Masih datar. Tapi ada sesuatu di ujung nadanya yang tidak bisa Saskia identifikasi.
Mobil terus melaju. Jalan desa berganti jalan aspal. Jalan aspal berganti jalan raya. Suara klakson. Suara motor. Suara kota yang mulai ramai.
Saskia merasakan demamnya semakin tinggi. Tubuhnya menggigil di bawah jaket Daniel. Keringat dingin membasahi dahinya. Kepalanya berputar. Gambar-gambar di sekitarnya kabur.
Tapi di antara semua kekaburan itu, ia melihat satu hal dengan jelas.
Daniel menoleh lagi. Kali ini lebih lama. Lima detik. Sepuluh detik. Matanya tidak lagi dingin. Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang tidak bisa ia sembunyikan dengan semua lapisan Armani dan kata-kata tajamnya.
Lalu Daniel menatap ke depan lagi. Tangannya mengepal di atas pangkuan. Rahangnya mengatup.
"Aku lagi ngitung kerugian," katanya tiba-tiba, lebih ke dirinya sendiri. "Satu sapi mati. Seratus lima puluh juta. Biaya disposal. Biaya investigasi. Biaya rumah sakit."
Budi, yang duduk di kursi tengah, tidak berkomentar.
"Belum termasuk biaya... ini."
Daniel tidak menyelesaikan kalimatnya.
Saskia tidak tahu apa maksudnya. Kepalanya terlalu panas untuk berpikir. Tapi di balik kelopak matanya yang terpejam, ia mendengar nada suara Daniel. Bukan nada marah. Bukan nada dingin.
Nada yang terdengar seperti seseorang yang berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
Daniel menatap wajah pucat dalam dekapannya. Ia meyakinkan diri bahwa ini murni soal kerugian investasi