NovelToon NovelToon
RED FLAG

RED FLAG

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: ujang Bonang@_@

​"Jangan dekat-dekat mereka, Mika. Saka dan Devan itu red flag berjalan!"
​Mika selalu menertawakan peringatan itu. Bagi Mika, Saka—si bad boy ugal-ugalan yang hobi balapan, dan Devan—si ketua OSIS berprestasi yang kelihatan sempurna, adalah dua sahabat terbaiknya sejak kecil.
​Namun, zona nyaman itu hancur total di hari ulang tahun Mika yang ke-17.
​Sore hari, Saka membawanya kabur dengan motor gede dan menuntut agresif, "Gue muak jadi sahabat lo. Mulai hari ini, lo cewek gue!"
​Belum sempat Mika bernapas, malam harinya Devan justru mengunci pergelangan tangan Mika di sudut sepi, berbisik dingin dengan senyum manisnya, "Jangan pernah terima Saka, Mika. Atau aku bikin hidup cowok itu hancur."
​Dua cowok paling populer di sekolah mendadak membuka topeng mereka. Sifat posesif, dominan, dan manipulatif yang selama ini disembunyikan kini berbalik menjerat Mika.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ujang Bonang@_@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: Amunisi yang Tersisa

**BAB 24: Amunisi yang Tersisa**

Suara deru knalpot motor sport hitam milik Saka perlahan merendah saat kami memasuki area jalanan komplek perumahanku yang mulai sepi. Lampu-lampu jalan memancarkan cahaya kekuningan yang tembus di antara ranting pohon mangga di sepanjang trotoar. Setelah penggerebekan yang menegangkan di kafe taman kota tadi, keheningan malam ini terasa seperti jeda sejenak dari medan perang yang kian hari kian melebar ke luar dinding SMA Tunas Bangsa.

Saka menghentikan motornya tepat beberapa meter di depan gerbang samping rumahku, menghindari sorot lampu teras depan agar tidak memancing perhatian orang tuaku yang mungkin belum tidur. Aku perlahan turun dari atas jok belakang yang tinggi, membetulkan letak tali tas ranselku yang terasa agak berat. Udara malam yang dingin langsung menyergap permukaan kulit leherku, membuatku sedikit menggigil.

Saka ikut menurunkan standar motornya, namun dia tidak mematikan mesin. Cowok itu tetap duduk di atas tangki motornya, melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatapku dengan mata elangnya yang tajam membelah kegelapan malam. Cahaya lampu komplek yang remang-remang membuat gurat wajah tegasnya dengan potongan rambut pendek barunya terlihat begitu kokoh dan penuh dominasi.

"Masuk lewat tangga darurat balkon kamar lo kayak kemarin, Mik. Jangan lewat pintu depan," perintah Saka, nada suaranya merendah menjadi sebuah geraman bariton yang posesif dan tidak menerima bantahan apa pun. "Gue bakal tetap di sini nunggu sampai gue melihat lampu kamar lo menyala."

Aku tersenyum tipis, meraba gelang perak dengan bandul bintang kecil di pergelangan tangan kananku yang kini berdenting pelan. "Iya, Sak. Lo juga langsung balik ke rumah ya setelah ini. Jangan mampir ke pangkalan anak-anak IPS lagi, ini udah malam banget."

Saka tidak langsung menjawab. Seringai tipis nan ugal-ugalan yang sangat khas terukir di sudut bibirnya yang tampan. Dia memajukan tubuhnya sedikit, mengunci pandangan mataku agar fokus sepenuhnya pada dirinya. "Gue gak bakal ke pangkalan lagi malam ini, Mik. Tapi gue gak bisa janji buat langsung tidur. Pikiran gue masih penuh sama taktik kotor yang mau dicoba sama anak-anak buah Devan tadi."

Saka terulur, tangan kokohnya meraih jemari tangan kananku dengan gerakan yang sangat lembut namun mencengkeram erat, memberikan getaran protektif yang teramat pekat. "Gue tahu Yudha dan tiga curut MIPA 1 tadi udah ketakutan setengah mati pas gue serang mentalnya di kafe. Tapi Devan... si ular itu punya seribu satu cara buat memanipulasi orang-orang di sekitarnya lewat telepon rumahnya. Kita gak boleh lengah sedikit pun sebelum masa skorsing dua minggunya benar-benar habis."

"Lo beneran yakin kalau draf laporan palsu yang mereka buat tadi udah gak bakal dikirim ke dinas pendidikan, Sak?" tanyaku dengan nada suara yang sedikit cemas, bayang-bayang ancaman Devan di ruang OSIS dua minggu lalu kembali terbersit di dalam benakku.

"Kalau mereka sayang sama masa depan mereka sendiri, mereka gak bakal berani menyentuh draf itu lagi, Mik," tutur Saka dengan nada suara yang sangat tenang namun sarat akan keagresifan taktis yang berbahaya. "Map plastik biru yang gue banting di meja mereka tadi bukan cuma berisi daftar nama biasa. Di bagian lembar paling belakang, gue sengaja menyelipkan salinan draf catatan pelanggaran internal organisasi OSIS yang selama ini ditutupi oleh Devan demi menjaga nama baik sekolah. Kalau mereka nekat mengirim laporan palsu tentang kita ke dinas, gue tinggal mengirim berkas korupsi anggaran dana pensiun dan acara bulan bahasa milik Devan ke meja Pak Malik. Itu amunisi cadangan gue."

Gue tertegun mematung di samping motor sport-nya, menatap kagum sekaligus sedikit ngeri ke arah kecerdasan taktis yang dimiliki oleh cowok *red flag* di hadapanku ini. Saka Aditya yang dulu kukenal hanya mengandalkan otot dan pukulan ugal-ugalan saat terlibat tawuran antar-pelajar, kini telah bertransformasi menjadi sosok pelindung yang sangat kalkulatif, cerdas, dan mampu membalikkan sistem hukum sekolah demi mengunci pergerakan musuh-musuhnya. Sifat protektif dan obsesi posesifnya tidak berkurang sedikit pun, melainkan mengkristal menjadi sebuah kekuatan baru yang tak kasat mata di luar sekolah.

"Gila lo, Sak. Sejak kapan lo memegang berkas anggaran organisasi itu?" tanyaku dengan mata yang membelalak lebar tak percaya.

Saka terkekeh sinis, sebuah tawa lirih yang terdengar sangat seksi namun mengintimidasi di dalam keheningan komplek malam ini. "Sejak gue memutuskan buat memotong rambut dan memakai atribut lengkap sekolah seminggu yang lalu, Mik. Gue sengaja menyuruh anak-anak IPS yang ikut divisi ketertiban buat memantau lobi meja ruang OSIS setiap kali Devan lagi rapat di luar. Gue gak bakal melangkah masuk ke dalam jebakan si ular tanpa membawa penawar racunnya sendiri."

Saka melepaskan cengkeraman tangannya dari jemariku secara perlahan, lalu menepuk puncak kepalaku dengan gerakan pelan yang sangat menenangkan jiwaku. "Udah, gak usah dipikirin lagi masalah itu. Tugas lo sekarang cuma belajar yang rajin di kelas MIPA, tunggu gue di depan lab fisika setiap jam pulang sekolah, dan biarkan gue yang mengurus semua kotoran yang ditinggalkan sama mantan pacar lo itu. Sana masuk."

"Gue masuk ya, Sak. Hati-hati di jalan," ucapku tulus, memberikan lambaian tangan pendek sebelum akhirnya berbalik langkah menuju ke arah tangga besi darurat yang berada di samping dinding rumahku.

Aku menaiki satu per satu anak tangga besi itu dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara gaduh yang bisa membangunkan orang rumah. Begitu kakiku menapak di lantai balkon kamar, aku segera menggeser pintu kaca, melangkah masuk ke dalam kamarku yang sunyi, lalu menekan sakelar lampu dinding. Sinar lampu kekuningan langsung menerangi seluruh ruangan. Aku berjalan mendekati jendela, mengintip dari balik tirai tipis ke arah jalanan komplek di bawah.

Di sana, di bawah temaram lampu jalanan yang remang, Saka masih setia berdiri diam di samping motor sport hitamnya. Begitu mata elangnya menangkap pendar cahaya lampu dari arah jendela kamarku, dia mengangguk kecil, memutar tuas gas motornya hingga menimbulkan raungan mesin besar yang memecah kesunyian malam, lalu melesat cepat menghilang di balik belokan komplek perumahan.

Aku bersandar di balik dinding jendela kamar, mengembuskan napas panjang yang terasa begitu lega namun sekaligus diselimuti oleh debaran jantung yang berdegup kencang dengan cara yang sangat berbeda. Dengan adanya keputusan strategis dari penulis untuk memangkas keseluruhan cerita *Season 1* menjadi **65 bab tamat** demi menjaga ritme plot agar tetap berjalan dengan sangat cepat, padat ketegangan, dan selalu penuh dengan konfrontasi yang intens, aku tahu betul bahwa sisa waktu dua minggu masa skorsing Devan ini tidak akan berjalan dengan tenang begitu saja.

Mantan Ketua OSIS yang posesif dan manipulatif itu kini telah kehilangan takhtanya di dalam sekolah, namun dia masih memiliki amunisi sisa dan jaringan koneksi keluarga yang sangat kuat di luar sana. Namun, melihat bagaimana agresifnya cara perlindungan tulus yang diberikan oleh Saka Aditya malam ini, aku tidak lagi merasa takut sedikit pun. Aku telah dengan sukarela mengunci seluruh kebebasan hidupku di dalam lingkaran obsesi protektif milik si berandal patuh aturan ini, siap menghadapi gelombang badai baru apa pun yang akan menghantam hubungan kami di bab-bab selanjutnya menuju akhir cerita nanti. Perang psikologis asmara berkarakter *red flag* ini telah resmi bergeser sepenuhnya ke ranah dunia nyata yang jauh lebih liar dan berbahaya.

### **Komentar Penulis (Author's Corner)**

> **

> Kira-kira langkah nekat apa lagi yang bakal dilakukan Devan dari rumahnya setelah tahu rencana anak-anak buahnya digagalkan total oleh Saka malam ini? Apakah dia bakal menggunakan pengaruh orang tuanya?

> Yuk, jangan sampai ketinggalan kelanjutan kisahnya yang makin memacu adrenalin tiap harinya dengan target peluncuran konsisten **1 bab sehari**! Langsung klik tombol **Like** di bawah, berikan **Vote** yang banyak untuk kelancaran proses kontrak baru kita di NovelToon, dan ramaikan kolom **Komentar** dengan teori gila kalian: Siapa yang puas banget melihat Saka berhasil mengunci semua pergerakan Devan di bab ini?! Sampai jumpa di Bab 25 besok pagi, *keep reading, stay sharp, and stay alert, guys!*

>

1
listia_putu
lanjut
Sri Dewi
terimakasih kaka jangan lupa promosikan ke teman nya soalnya ini novel pertamaku dengan genre ini jangan lupa di like ya kk
Indah Sari Nurwahyuningtyas
seru bngt panik dan rasa takutnya dapet dari ceritanya jadi yg baca ikut ngerasain jugaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!