King Stone (27 tahun) bisa dengan mudah melupakan ratusan wanita yang pernah singgah di hidupnya selama menjadi playboy.
Namun, gadis di hadapannya ini adalah pengecualian mutlak.
Olivier Martinez merupakan cinta pertama sekaligus mantan kekasih King selama tiga tahun di masa high school—gadis yang dulu ia tinggalkan begitu saja demi ego remaja agar tidak terikat oleh seorang wanita di masa depan.
Kini, roda kehidupan berputar. Di dalam rumah sakit mewah miliknya sendiri, King sama sekali tidak memiliki kuasa atas Olivier.
Di hadapan sang mantan kekasih yang menatapnya penuh kebencian dan kini bersenjatakan sumpah medis sebagai dokter residen, King harus menghadapi kenyataan pahit. Ia sadar bahwa luka penyesalan di hatinya jauh lebih sulit disembuhkan daripada luka sayatan parah di perutnya.
Pertemuan tak terduga ini menjadi awal dari karma masa lalu yang siap menghancurkan keangkuhannya.
~~~~~
Happy reading 🦋🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#6
Rasa sakit fisik akibat sayatan di perutnya sama sekali tidak sebanding dengan hantaman telak kata-kata Olivier Martinez yang masih terngiang di benak King Stone.
Malam telah sepenuhnya turun membungkus kota Chicago, menyisakan keheningan yang mencekam di dalam kamar rawat VIP nomor satu Stone Hospital.
King berbaring telentang, menatap langit-langit kamar yang putih pualam. Tangan kanannya yang terbebas dari jarum infus terangkat, menutupi sepasang matanya yang terasa panas.
Di bawah remang lampu tidur, ingatan pria berusia 27 tahun itu mendadak terseret mundur dengan paksa, menembus lorong waktu sejauh Beberapa tahun yang lalu—ke masa di mana semuanya dimulai, dan ke masa di mana ia menghancurkan satu-satunya hati yang tulus mencintainya.
Saat itu, King Stone belum genap berusia enam belas tahun. Dia adalah pangeran mahkota klan Stone yang pemberontak, arogan, dan selalu dikelilingi oleh kemewahan serta rasa takut dari orang-orang di sekitarnya. Namun, semua benteng keangkuhannya runtuh ketika ia bertemu dengan Olivier Martinez, seorang gadis berwajah lembut namun memiliki tatapan mata bulat yang paling berani di koridor high school elite tempat mereka bersekolah.
Butuh waktu berbulan-bulan bagi King untuk meruntuhkan pertahanan Olivier hingga akhirnya gadis itu menerima perasaannya. Namun, darah muda seorang Stone yang terbiasa mendapatkan apa pun yang diinginkan dengan cepat, bergejolak terlalu liar.
Baru seminggu mereka resmi berpacaran, King yang saat itu sedang dipenuhi ego remaja dan obsesi kepemilikan yang tinggi, membawa Olivier ke area belakang tribun stadion sekolah setelah latihan American Football usai.
Di bawah bayang-bayang senja, King mengurung tubuh mungil Olivier di dinding, menatapnya dengan pandangan lapar yang belum matang.
"Tidur denganku, Olivier. Malam ini, di hotel pusat kota," bisik King belasan tahun lalu, suaranya yang baru pecah terdengar serak dan menuntut.
Olivier remaja terkejut, namun matanya tidak memancarkan ketakutan. Dengan tangan gemetar, ia mendorong dada bidang King yang saat itu sudah lebih tinggi darinya. "Tidak, King. Kita baru seminggu bersama. Aku bukan wanita seperti itu, dan aku tidak ingin melangkah terlalu jauh di usia kita yang sekarang."
Penolakan itu sempat membuat King Stone meradang. Ego pangeran klan Stone-nya terluka.
Selama beberapa hari, ia mendiamkan Olivier, mengabaikan gadis itu di koridor sekolah demi menunjukkan kekuasaannya. Namun, alih-alih memohon maaf seperti wanita-wanita lain, Olivier justru tetap tegak, berjalan melewati King seolah pria itu tidak pernah ada.
Hal itulah yang membuat King sadar bahwa Olivier Martinez berbeda. Gadis itu tidak bisa dibeli atau ditekan dengan nama besar keluarganya. King justru semakin bertekuk lutut dan terobsesi.
Hingga akhirnya, satu bulan berlalu.
Hari itu adalah hari ulang tahun King Stone yang keenam belas. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya di mana klan Stone akan menggelar pesta mewah bak perjamuan kerajaan di kastel megah milik keluarga mereka di pinggiran Chicago, King memilih untuk melarikan diri.
Dia menolak menghadiri pesta formal yang diatur oleh ayahnya, Kyle Stone, dan memilih menunggu Olivier di depan gedung perpustakaan kota dengan motor besar hitamnya.
Ketika Olivier keluar dengan tas ransel beratnya, King menghadangnya. Tidak ada lagi paksaan atau tatapan menuntut yang arogan. Yang ada hanyalah sepasang mata elang remaja yang memohon dengan sangat tulus.
"Ikutlah bersamaku, olive. Hanya malam ini. Ini ulang tahunku," pintanya lirih.
Olivier menatap wajah keras remaja di hadapannya, melihat gurat kesepian yang tersembunyi di balik topeng pewaris takhta klan mafia legal tersebut.
Setelah terdiam cukup lama, Olivier akhirnya mengangguk pelan. Ia menerima helm yang diulurkan King dan naik ke jok belakang, melingkarkan lengannya di pinggang King untuk pertama kalinya dengan sukarela.
King tidak membawa Olivier ke kastel mewah klan Stone yang dingin dan dipenuhi oleh ratusan pelayan serta penjaga bersenjata.
Tempat itu bukanlah rumah bagi King, melainkan penjara berlapis emas. King justru membawa Olivier ke sebuah gedung kondominium mewah di kawasan komersial Chicago, naik menggunakan lift khusus menuju sebuah apartemen pribadi di lantai enam belas.
Tempat itu adalah properti pertama yang dibeli King menggunakan uang hasil investasinya sendiri, di mana tidak ada satu pun anggota klan Stone yang diizinkan masuk.
Apartemen itu memiliki dinding kaca besar yang menampilkan kerlap-kerlip lampu kota Chicago di bawahnya. Suasananya begitu sunyi, hanya ada suara helaan napas mereka yang saling bersahutan.
Di depan kaca besar yang memantulkan keindahan malam, King memeluk Olivier dari belakang. Wajahnya diletakkan di ceruk leher Olivier, menghirup dalam-dalam aroma harum lavender yang menjadi candu barunya.
"Di sini tidak ada nama Stone, Oliv," bisik King remaja, suaranya bergetar oleh emosi yang meluap. "Di tempat ini, aku hanya King. Pria yang sangat mencintaimu."
Olivier membalikkan tubuhnya di dalam dekapan King. Ketika ia mendongak, ia melihat ketulusan yang teramat dalam di mata elang pria itu.
Malam itu, bertepatan dengan detik-detik usianya menginjak enam belas tahun, ketika King kembali meminta dengan sentuhan lembut dan kecupan bertubi-tubi di keningnya, Olivier akhirnya mengangguk.
Ia menyerahkan seluruh jiwa dan raganya kepada King Stone, mempercayakan kesuciannya kepada pria yang ia yakini akan menjadi masa depannya.
Setelah malam yang panjang dan penuh badai asmara remaja itu mereda, mereka berbaring bersama di atas ranjang king-size, berselimutkan kain sutra putih. Olivier bersandar di dada bidang King yang naik turun dengan teratur, mendengarkan detak jantung pria itu yang berdegup kencang.
King mengecup puncak kepala Olivier dengan penuh rasa syukur, mengeratkan pelukannya seolah takut gadis di dalam dekapannya akan menguap seperti embun pagi.
"Terima kasih, Olivier... Terima kasih telah mempercayai aku," bisik King dengan nada suara yang begitu manis, jauh dari kesan kejam yang biasa ia tunjukkan di luar.
Tangannya yang besar memainkan jemari tangan Olivier yang lentik. "Dengar aku, Olive. Aku tahu siapa diriku dan bahaya apa yang mengintai di belakang namaku. Tapi aku bersumpah demi hidupku sendiri, aku tidak akan pernah meninggalkanmu di masa depan."
Olivier mendongak, menatap mata King dengan binar penuh harap. "Kau berjanji, King? Dunia kita sangat berbeda. Suatu hari nanti, keluarga mu pasti akan memaksamu menikahi wanita dari kalanganmu."
King menyeringai, sebuah seringai penuh determinasi yang sangat matang untuk anak seusianya.
"Biarkan mereka mencoba. Aku adalah King Stone. Tidak ada yang bisa mengatur hidupku, termasuk keluarga ku sendiri. Ketika aku memegang kendali penuh atas klan ini nanti, aku akan menjadikanmu satu-satunya istri ku. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu atau memisahkan kita. Kau adalah milikku. Selamanya."
Kata-kata manis itu... janji yang begitu kokoh terucap di lantai enam belas apartemen pribadinya, malam itu terasa seperti kebenaran mutlak yang tidak akan pernah goyah oleh badai apa pun.
Olivier remaja tersenyum cerah, memercayai setiap kata yang keluar dari bibir manis sang pangeran Stone tanpa tahu bahwa sepuluh tahun kemudian, janji itu hanyalah menjadi belati paling beracun yang mengoyak hidupnya.
Bip. Bip. Bip.
Bunyi pelan dari mesin monitor jantung di samping ranjang rumah sakit membuyarkan kilas balik memori tersebut.
King Stone membuka matanya dengan sentakan pelan. Napasnya sedikit memburu, dan dadanya terasa sangat sesak hingga ia harus mencengkeram sprei dengan kuat untuk menahan gejolak emosi yang menguras tenaganya.
King memalingkan wajahnya menatap jendela besar kamar rawat VIP yang juga menampilkan kerlap-kerlip lampu kota Chicago—pemandangan yang sama persis dengan yang sering ia lihat bersama Olivier dari lantai enam belas apartemennya dulu.
"Kau salah, Olivier..." bisik King pada kegelapan kamar, suaranya tercekat di tenggorokan. "Aku tidak pernah melupakan janji itu. Aku tidak pernah benar-benar mencampakkan mu."
Rasa penyesalan yang membakar batinnya membuat King tidak bisa memejamkan mata sepanjang malam.
Setiap kali ia mencoba tidur, bayangan wajah Olivier yang menatapnya dengan tatapan kosong dan penuh kebencian beberapa jam lalu terus menghantuinya.
Wanita itu telah berubah sepenuhnya. Olivier Martinez yang dulu lembut dan hangat menatap nya, kini telah menjelma menjadi Dokter Martinez yang berhati sedingin es, yang menganggap keberadaan King Stone tidak lebih dari seonggok daging pasien yang membusuk.
mudah2an si Nora tiap malem minta tidur sm emak bapaknya 🤣🤣🤣