NovelToon NovelToon
Grandmaster Yang Terlupakan

Grandmaster Yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Sistem
Popularitas:10.4k
Nilai: 5
Nama Author: WANA SEBAYA

Lin Qian adalah sosok misterius yang menyembunyikan kekuatan dahsyatnya di balik kehidupan sederhana sebagai pemilik Pusat Seni Bela Diri di Kota Yunzhou. Di matanya, kehidupan fana adalah pelarian dari dunia persilatan yang penuh intrik dan pertumpahan darah.
Namun ketenangan itu terusik ketika murid kesayangannya, Han Yu, hampir tewas akibat konspirasi licik Han Bojin dari Kamar Dagang Yunzhou. Kejadian itu memaksa Lin Qian keluar dari bayang-bayang ketenangan dan menunjukkan secuil kekuatan sesungguhnya—kekuatan yang bahkan membuat seorang Kaisar Bela Diri sekelas Ye Bei berlutut ketakutan hanya dalam hitungan detik.
Kini, berbagai pihak mulai melirik keberadaan Lin Qian. Ada yang ingin berlindung di bawah naungannya, ada yang ingin memanfaatkannya, dan ada pula yang—karena ketidaktahuan—berani mengusiknya.
Semuanya akan segera menyadari satu kebenaran yang sama:
Ada langit di atas langit. Dan langit itu bernama Lin Qian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 : Kitab Tai Chi, Hadiah Guru

Musim gugur datang diam-diam ke Kota Yunzhou.

Daun-daun di tepi jalan mulai menguning, jatuh berputar pelan sebelum menyentuh tanah. Lin Qian berdiri sejenak di depan kiosnya, menatap jalanan yang tetap ramai seperti biasa. Orang-orang berlalu lalang, pedagang berteriak menawarkan dagangan, dan di langit, sesekali kilatan cahaya melesat — para kultivator yang entah ke mana tujuannya.

Dua puluh tahun. Sudah dua puluh kali ia menyaksikan musim berganti di dunia ini.

"Hah, sudah siang." Ia melambaikan tangan ke arah warung mie daging sapi di seberang jalan. Pelayan di sana langsung mengangguk riang, hafal betul pesanan langganan tetapnya.

Lin Qian kembali bersandar di kursi malasnya. Matanya melayang ke arah sekelompok wanita muda yang sedang berkerumun di depan toko kosmetik, lalu menghela napas pelan. Pikirannya terlintas pada Ying'er — gadis tetangga yang dulu sering mampir ke kiosnya, cerewet dan menyenangkan. Sudah berbulan-bulan ia pergi, mengejar impian masuk sekte untuk berkultivasi.

Lebih baik ia tinggal di sini saja, pikir Lin Qian. Setidaknya hidupnya lebih tenang.

Tapi ia tidak bisa memaksa siapa pun. Ia hanya menghela napas lagi.

Pesanannya tiba. Semangkuk mie daging sapi mengepul harum, porsinya seperti biasa — melimpah ruah, hampir tidak muat di mangkuknya. Saat Lin Qian hendak membayar, pelayan itu menggeleng keras sambil tertawa.

"Tidak usah, Tuan Lin! Kalau bukan Anda yang menolong istri saya waktu itu, entah bagaimana nasibnya sekarang." Ia mendorong tangan Lin Qian kembali. "Ini belum sebanding dengan budi Anda."

Lin Qian tidak banyak menolak. Di lingkungan ini, ia memang dikenal bukan sebagai pedagang buku semata. Dengan ilmu pengobatan yang ia kuasai hingga puncak tertinggi, ia sering membantu warga biasa tanpa meminta imbalan. Tidak ada yang tahu dari mana ia belajar — dan ia tidak pernah menjelaskan. Para tetangga hanya menyebutnya Guru Lin, dengan hormat yang tulus.

Namun baru saja ia menyesap kuah pertamanya, keributan pecah di kejauhan.

Di depan gerbang cabang Sekte Lingxue yang berdiri megah di ujung jalan, seorang anak laki-laki berpakaian compang-camping didorong keluar dengan kasar. Tubuhnya kurus, wajahnya penuh goresan luka lama dan baru, tapi matanya — matanya memancarkan sesuatu yang tidak mudah padam.

Ia berlutut di depan gerbang yang tertutup rapat.

"Aku mohon! Aku ingin berkultivasi! Tolong izinkan aku masuk Sekte Lingxue!"

Seorang Tetua cabang keluar dengan wajah masam. Tanpa banyak kata, kakinya terayun — sebuah tendangan keras menghantam dada anak itu hingga terguling di tanah berbatu. Darah menetes dari bibirnya.

"Tidak berbakat, tidak tahu diri! Berani-beraninya datang lagi! Jika kau muncul di sini sekali lagi, jangan salahkan aku jika kakimu tidak bisa berjalan pulang!"

Pintu gerbang ditutup. Keras.

Anak itu terbatuk, meringkuk sebentar menahan sakit. Tapi matanya tidak meninggalkan pintu itu.

"Kasihan sekali," desah pelayan warung di samping Lin Qian. "Begitulah dunia ini, Tuan Lin. Tanpa bakat, kau bukan siapa-siapa."

Lin Qian tidak menjawab. Ia menatap anak itu dengan tatapan yang sulit dibaca.

Aku mengerti perasaan itu.

Anak itu akhirnya bangkit dengan langkah berat. Saat melewati depan warung, matanya melirik sekilas ke mangkuk mie yang masih beruap — lalu cepat-cepat berpaling, menelan ludah diam-diam. Ia terus berjalan.

Namun baru dua langkah, ia berhenti.

Ia membungkuk, mengambil sesuatu dari tanah — sebuah keping emas yang tergeletak di antara debu jalanan. Koin yang dulu dilempar Mei Lian sebagai bayaran. Lin Qian memang sengaja tidak mengambilnya.

Anak itu menoleh ke arah kios Lin Qian dengan ragu.

"Pak Pemilik Toko… apakah ini milik Anda? Saya menemukannya di sini."

Lin Qian tertegun.

Anak itu baru saja diusir, kelaparan, dan mungkin tidak tahu malam ini akan tidur di mana. Namun ia tetap berdiri di sana, mengulurkan koin itu dengan tangan gemetar — bukan karena takut, melainkan karena memang begitulah wataknya.

"Ya, itu milikku," jawab Lin Qian tenang. Ia menatap anak itu sebentar, lalu tersenyum tipis. "Tapi sekarang… itu milikmu. Ambillah."

Mata anak itu membelalak. Ia membungkuk berkali-kali, lalu setengah berlari ke warung mie dan memesan dengan suara bergetar penuh semangat. Lin Qian mengangguk ke arah pelayan — porsi lebih banyak, kekurangannya ia yang tanggung.

Setelah mangkuk kosong dan perut kenyang, anak itu — bernama Han Yu — berlari menghampiri Lin Qian dan berlutut langsung di tanah.

"Wahai Guru yang mulia! Saya sudah memikirkannya matang-matang. Saya tidak punya bakat, ditolak di mana-mana. Tapi Guru adalah orang paling mulia yang pernah saya temui seumur hidup." Kepalanya menyentuh tanah. "Mohon terima saya sebagai murid. Han Yu bersedia mengabdi sepenuh hati — seperti anjing atau kuda pun saya rela!"

Lin Qian menatapnya lama.

Ia tidak pernah berniat menerima murid. Hidupnya sudah cukup tenang tanpa komplikasi tambahan. Tapi melihat anak ini — tulang punggung yang tidak mau patah meski sudah berkali-kali diinjak — ia tidak sanggup berkata tidak.

"Baiklah. Aku terima kau."

Han Yu bersorak, bersujud sampai dahinya merah.

Lin Qian membawanya masuk ke ruang dalam kios. Matanya jatuh pada pedang berkarat yang tergantung di pinggang murid barunya — pedang murahan yang bahkan gagangnya sudah retak. Ia diam sebentar, lalu membuka lemari kayu tua di sudut ruangan.

Di dalamnya tersimpan sebuah pedang panjang. Karya tangannya sendiri — ditempa dengan ilmu pandai besi yang telah ia kuasai hingga setara dengan kehebatan para dewa. Begitu terhunus sedikit saja, cahaya dingin menyilaukan memenuhi ruangan.

"Guru tidak punya harta kekayaan, dan tidak bisa mengajarimu teknik kultivasi." Lin Qian menyodorkan pedang itu. "Tapi ini… ambillah. Hadiah dari gurumu."

Han Yu menerimanya dengan kedua tangan gemetar. Matanya berkaca.

"Murid akan menjaganya dengan nyawa!"

Jauh dari keramaian Yunzhou, di puncak Gunung Baiyun yang diselimuti awan abadi, Mei Lian melangkah cepat memasuki aula utama Sekte Lingxue.

Di singgasana batu giok di ujung aula, Patriark Tianhe duduk dengan mata terpejam — tenggelam dalam kultivasi tertutupnya. Aura dahsyat yang memancar darinya membuat udara di sekitar terasa berat seperti sebelum badai.

Mei Lian berlutut. "Guru, maafkan gangguan ini. Tapi murid membawa sesuatu yang harus Guru lihat sendiri."

Patriark Tianhe membuka matanya perlahan. Tatapannya dingin. "Apa yang berani kau bawa ke hadapanku saat aku berkultivasi?"

Mei Lian menyodorkan kitab itu dengan kedua tangan.

Patriark Tianhe menatapnya sebentar dengan jijik — sebuah buku lusuh, tidak memancarkan energi apa pun, tampak seperti sampah jalanan. Ia hampir menolak, namun mengingat muridnya yang tidak pernah berlaku sembrono, ia membukanya dengan enggan.

Halaman pertama.

Tubuhnya langsung menegang.

Wajahnya berubah — kekagetan, ketidakpercayaan, lalu sesuatu yang lebih dalam dari keduanya. Seperti seseorang yang seumur hidup menatap cahaya lilin, tiba-tiba berhadapan langsung dengan matahari.

Tangannya gemetar memegang buku itu.

Di hadapan goresan tinta yang ditulis santai namun mengandung makna seluas langit dan bumi, Patriark Tianhe — seorang ahli tingkat Roh Bela Diri yang ditakuti ribuan orang — merasa dirinya tidak lebih dari seorang murid baru yang baru belajar berdiri.

"Ha ha ha ha!"

Tawa menggelegar meledak dari dadanya. Aura dahsyat yang selama ini tersimpan rapi meluap tak terkendali — rambutnya terangkat tanpa angin, lantai aula retak di bawah kakinya. Tubuhnya melesat ke atas, menembus atap aula, meroket tinggi ke angkasa.

Di bawah, Mei Lian hanya memandang ke atas dengan tenang.

Kini ia semakin yakin.

Pemuda berpenampilan sederhana yang duduk santai di kios buku pinggir jalan itu — bukan manusia biasa. Sama sekali bukan.

-----bersambung bab 3 ------

1
Azkiya Faiha
oke...
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
ditunggu update terbaru nya thor 😀😀👍👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
hehehehe...lanjut Thor
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
🤣🤣kenapa sang ahli alkemis sampe belepotan kotoran🤣
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
🤣🤣musim kawin
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
🤣🤣🤣dirampok sampe telanjang
Hadi Hadi
up to pdf 😍😍
Hadi Hadi
semangat 👍👍
Hadi Hadi
😍😍😍👍
Hadi Hadi
lanjut 💪💪
Hadi Hadi
sikat 💪💪💪
Hadi Hadi
up up up 👍👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
🤣🤣jurus pamungkas pura2 mati🤣🤣🤣
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
bantaaaaaaaiiiiii
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
🤣🤣cuma lewat saja🤣👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
wahahahahaha...mantap Thor
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
🤣🤣🤣senjata makan tuan 🤣🤣
Doanta Charo
astaga baru ini baca novel kultivasi ngakak abisss🤣🤣🤣🤣p
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
penyesalan memang datang dibelakang 🤣👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
hahahaha... kejutan demi kejutan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!