Aulia dipaksa ayah & ibu tirinya dijual ke Alexandra, mafia kejam seharga 1 miliar. Terperangkap di dunia gelap sang penguasa, bisakah cinta tumbuh di tengah rantai, bahaya, dan obsesi gila itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana L., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu Maut
Langit New York menyambut mereka dengan siluet gedung pencakar langit yang menembus awan kelabu simbol ambisi, kekuasaan, dan peluang tak terbatas. Pesawat pribadi Surya Corp mendarat di Bandara JFK dengan protokol keamanan setingkat kepala negara. Begitu tangga pesawat diturunkan, deretan limosin hitam lapis baja sudah berjejer rapi, dikawal konvoi polisi khusus yang disewa Alex dengan harga miliaran dolar hanya demi kelancaran jalan.
Di dalam kabin mobil mewah itu, Aulia menatap keluar jendela dengan mata berbinar kagum. Ini kali pertamanya menginjakkan kaki di Amerika Serikat pusat ekonomi dunia, tempat di mana mimpi dibuat… atau dihancurkan.
Namun, tatapan Alex tidak tertuju pada pemandangan kota. Manik mata elangnya tertancap tajam pada wajah Aulia yang kini terlihat makin mempesona. Perubahan gadisnya dalam beberapa bulan terakhir luar biasa drastis: dari gadis kampung yang pemalu, kini berubah menjadi wanita elegan berkarisma, yang mampu membuat Raja, Ratu, hingga jutawan dunia tunduk hormat. Dan hal itu… justru membuat sisi posesif Alex meledak ke level yang tak masuk akal.
“Jangan terlalu sering tersenyum ke luar jendela, Sayang,” bisik Alex rendah, tangannya besar dan panas mencengkeram pinggang kecil Aulia erat, menarik tubuh gadis itu menempel penuh padanya. “Setiap pria yang melihatmu akan berpikir hal kotor. Dan di kota ini, banyak serigala berbulu domba. Aku benci harus membunuh ribuan orang hanya karena mereka menatap apa yang murni milikku.”
Aulia terkekeh pelan, menggenggam jari-jari kasar Alex yang menancap di pinggangnya. Ia menoleh, menatap wajah tampan yang kini mengerutkan kening cemburu.
“Kau berlebihan, Alex. Aku hanya melihat gedung tinggi. Dan ingat… seberapa keras pun dunia berusaha merayuku, hatiku sudah dikunci selamanya olehmu. Kau pemegang kuncinya, ingat?” bisik Aulia manja, lalu mengecup rahang tegas pria itu lembut.
Gerakan kecil itu saja sudah cukup meredakan sedikit api cemburu di dada Alex, meski matanya masih memancarkan kewaspadaan tinggi. “Ingat janjimu. Satu kesalahan kecil, dan aku akan mengurungmu di istana pribadi kita di pulau terpencil. Hanya aku yang bisa melihatmu, mendengarmu, dan menyentuhmu.”
Aulia hanya menggeleng sambil tersenyum geli. Ia tahu, di balik ancaman “penjara cinta” itu, tersimpan rasa takut Alex yang mendalam takut kehilangan satu-satunya cahaya dalam hidup gelapnya.
Konvoi berhenti di depan Plaza Hotel, salah satu hotel paling legendaris dan eksklusif di Central Park South. Alex menyewa satu lantai penuh seluruh sayap utara dengan biaya ratusan ribu dolar per malam. Privasi mutlak, keamanan tak tertembus, dan akses langsung ke puncak kekuasaan kota New York.
Namun, New York bukan Eropa. Di sini, aturannya berbeda. Lebih kasar, lebih cepat, lebih materialistis, dan jauh lebih agresif. Industri mode Amerika tidak peduli pada etiket kerajaan atau garis keturunan. Mereka hanya peduli satu hal: Uang & Ketenaran. Dan siapa pun yang dianggap mengancam posisi mereka, akan disingkirkan dengan cara paling kotor, publik, dan memalukan.
Hanya sehari setelah kedatangan mereka, undangan demi undangan berdatangan, sekaligus serangan halus yang mulai terasa.
Malam itu, di acara Gala Fashion Council di Lincoln Center acara paling bergengsi yang menentukan arah mode dunia Aulia hadir sebagai bintang tamu kehormatan sekaligus calon mitra kolaborasi raksasa. Malam ini ia mengenakan gaun satin merah darah rancangannya sendiri, berpotongan tinggi berani yang memamerkan kaki jenjangnya, namun tetap anggun dengan ekor gaun panjang berbordir kristal hitam. Rambutnya digelung tinggi, menampakkan leher jenjang dan kalung berlian merah delima seharga satu gedung apartemen hadiah terbaru dari Alex.
Begitu melangkah masuk bergandengan tangan dengan Alex, seluruh ruangan hening. Kombinasi Alex yang berwibawa mematikan dengan kekayaan tak terhitung, dan Aulia yang memancarkan kecantikan, bakat, dan keanggunan langka, membuat mereka seolah pasangan raja dan ratu yang turun dari surga.
Namun, di balik sorak sorai dan jabat tangan palsu, musuh sudah mengintai.
Di Amerika, pesaing terberat Aulia adalah Marcus Sterling, raja mode Amerika yang sombong, narsis, dan punya koneksi kuat dengan dunia bawah tanah New York kelompok Mafia Italia yang berkuasa di timur laut. Marcus merasa posisinya terancam. Ia tidak bisa menerima fakta bahwa gadis muda dari Asia, pasangan pengusaha misterius, tiba-tiba dianggap sebagai “Jenius Abad Ini” dan merebut semua klien elitnya.
Saat sesi diskusi panel dimulai, Marcus sengaja melemparkan pertanyaan jebakan di depan ratusan tamu dan jurnalis internasional.
“Nona Aulia,” suara Marcus terdengar merendah namun tersenyum licik. “Karya Anda di Eropa memang… unik. Tapi New York bukan Milan atau London. Kami tidak suka seni yang ‘bertele-tele’ dan ‘bercerita’ terlalu banyak. Di sini, kami suka hal yang simpel, seksi, dan menjual. Bukankah Anda hanya membawa mitos-mitos budaya yang ketinggalan zaman? Dan saya dengar… kesuksesan Anda lebih karena dompet tebal Tuan Surya, bukan karena bakat murni. Apa komentar Anda?”
Ruangan hening. Pertanyaan itu serangan terbuka, bertujuan meruntuhkan kredibilitas Aulia sekaligus menghina Alex. Para jurnalis siap dengan pena dan kamera, mencium bau skandal besar.
Tubuh Alex menegang kaku. Aura membunuhnya meluap, siap menghancurkan pria menyebalkan di depan itu dalam hitungan detik. Jari-jarinya mengepal hingga buku-buku jarinya memutih. Di dalam kepalanya, ia sudah menyusun 10 cara mengerikan membuat Marcus menghilang dari muka bumi malam ini juga.
Namun, Aulia menahan lengan Alex perlahan. Ia menatap Marcus dengan tenang, senyumnya manis namun matanya tajam sebilah pisau bedah. Ia tidak marah, tidak tersinggung karena orang hebat tidak perlu membuktikan diri pada orang kecil.
Aulia berdiri tegak, suaranya jernih, lantang, dan penuh wibawa, terdengar jelas ke seluruh penjuru ruangan.
“Tuan Sterling, Anda bilang karya saya bertele-tele? Budaya saya ketinggalan zaman? Dan kesuksesan saya hanya karena uang pasangan saya?” Aulia tertawa kecil, rendah, dan elegan suara tawa yang membuat Marcus merasa sangat kecil. “Izinkan saya mengingatkan satu hal sederhana, Tuan. Mode tanpa cerita hanyalah kain perca mahal. Mode tanpa jiwa hanyalah kostum. Amerika mungkin suka hal simpel, tapi dunia… dunia haus makna, keaslian, dan kedalaman. Dan soal uang… ya, pasangan saya memang orang paling kaya dan berkuasa. Tapi ketahuilah ini, Tuan: Alexandra Surya tidak akan pernah mengeluarkan satu sen pun untuk barang atau wanita yang tidak BERHARGA. Jika dia mendukungku, itu karena dia melihat apa yang kau tidak punya: Kualitas, Integritas, dan Bakat Nyata. Kau boleh meremehkan saya. Tapi saat seluruh klien terbesarmu beralih ke saya dalam 3 bulan ke depan… jangan menangis pada kamera. Cukup belajar: Di dunia ini, bakat selalu menang atas kesombongan.”
Keheningan pecah menjadi tepuk tangan gemuruh yang berdiri. Bahkan banyak pengusaha Amerika sendiri yang mengangguk setuju mereka muak dengan kesombongan Marcus. Wajah Marcus merah padam, mulutnya terbuka-tutup tak berkutik, hancur lebur di hadapan publiknya sendiri.
Saat kembali duduk di samping Alex, pria itu langsung menarik pinggang Aulia hingga mereka hampir bersentuhan bibir. Tatapan Alex bukan lagi sekadar kagum. Itu tatapan kekaguman mutlak, nafsu membara, dan rasa bangga yang meledak-ledak. Napas Alex berat dan panas membelai wajah Aulia.
“Kau baru saja membungkam Raja Mode Amerika dengan satu pidato indah, Sayang,” bisik Alex parau, tangannya meremas pinggang Aulia penuh kepemilikan. “Kau tahu apa yang dilakukan wanita hebat sepertimu pada pria sepertiku? Kau membuatku gila. Gila karena bangga, gila karena cemburu, dan gila karena ingin menguncimu selamanya hanya untukku. Kau semakin bersinar, semakin banyak serigala yang mengintai… dan itu artinya, aku harus semakin kejam melindungimu.”
Namun, Alex tahu, serangan verbal hanyalah permulaan. Marcus Sterling memiliki hubungan darah dengan Keluarga Moretti, mafia paling berkuasa di Pantai Timur. Menjatuhkan Marcus berarti mengumumkan perang terbuka pada jaringan kriminal Amerika.
Malam itu juga, setelah acara usai, di ruang pribadi hotel, Alex mengadakan pertemuan darurat dengan tangan kanannya, Rio. Peta New York terbentang di meja, ditandai titik-titik merah markas musuh. Aura Alex berubah total kini bukan lagi kekasih yang lembut, melainkan Don Utama yang dingin dan menghitung nyawa musuh seperti menghitung uang kertas.
“Moretti mengira mereka penguasa di sini,” ucap Alex dingin, matanya menatap peta tajam. “Mereka tidak tahu bahwa mereka sedang bermain di halaman belakangku. Kirim pesan pada Don Moretti. Katakan padanya: Aku tidak mencari masalah. Tapi jika mereka berani menyentuh sehelai rambut pun di kepala Aulia… aku akan kubur seluruh keluarga mereka beserta bisnis, gedung, dan nama baik mereka sampai ke generasi ketujuh. Dan untuk Marcus Sterling… mulai besok, aku mau saham perusahaannya jatuh bebas, pasokan kainnya terputus total, dan setiap orang yang berbisnis dengannya akan dianggap musuhku. Hancurkan dia perlahan, secara finansial, sosial, dan mental. Aku ingin dia merasakan neraka sebelum aku memutuskan apakah dia pantas hidup atau mati.”
“Siap, Bos!” jawab Rio tegas, merinding mendengar nada membunuh tuannya. Alex tidak main-main. Di matanya, harga diri Aulia lebih mahal daripada seluruh kota New York.
Saat Rio keluar, Aulia melangkah masuk perlahan, mendekap tubuh Alex dari belakang, menempelkan pipinya ke punggung lebar pria itu. Ia merasakan ketegangan, amarah, dan bahaya yang memancar dari tubuh kekasihnya.
“Kau mau perang habis-habisan demi aku, Alex?” bisik Aulia lembut, tangannya melingkar di dada pria itu.
Alex berbalik perlahan, menatap wajah Aulia dengan tatapan yang melembut seketika, meski api bahaya masih menyala di kedalaman manik matanya. Ia menangkup wajah gadis itu dengan kedua tangannya, mencium kening, mata, hidung, lalu bibir Aulia dalam ciuman dalam, lapar, dan penuh janji.
“Demi kau? Aku akan bakar seluruh dunia jika kau minta, Sayang,” gumam Alex di antara ciuman, suaranya serak dan berat. “New York, Mafia Moretti, Pemerintah Amerika… semuanya tidak ada artinya dibanding satu detik kesedihan di matamu. Biarkan aku yang kotor, biarkan aku yang berdarah, biarkan aku yang jadi monster. Tugasku hanya satu: Pastikan kau berdiri di puncak dunia dengan tangan bersih dan senyum paling indah.”
Aulia merasakan air mata bahagia menggenang. Di kota yang kejam dan liar ini, di tengah perang besar yang baru saja dideklarasikan Alex demi dirinya, Aulia merasa lebih aman daripada di tempat lain mana pun. Karena ia tahu, pria di hadapannya bukan sekadar kekasih. Ia adalah Dinding Baja, Payung Pelindung, dan Segalanya baginya.