PARTNER SIALAN!

PARTNER SIALAN!

Bab 1: Semester ZONK!

"Zonk!" 

Satu kata itu keluar barengan sama asep tipis yang mendesis dari sela-sela mesin motor matic gua. Gua melongo, masih megang stang motor di depan gerbang kampus yang ramenya minta ampun.

Sumpah, Sagitarius emang katanya jiwa petualang, tapi nggak gini juga cara semesta ngasih petualangan di jam delapan pagi!

"Mampus gua... Statistik Pak Bambang!" gua monolog panik sambil liat jam tangan. Kurang lima belas menit lagi kuis dimulai. Kalau telat, fiks gua wasalam semester ini.

Gua buru-buru standar samping, masa bodo sama motor yang nasibnya entah gimana, terus lari sekencang mungkin ke arah gedung perpustakaan pusat.

Kenapa perpus? Karena cuma di sana gua bisa dapet Wi-Fi stabil buat upload tugas pra-kuis yang filenya segede gaban.

Begitu pintu kaca perpus kebuka....

BRUK! 

Gua hampir aja nyungsep kalau nggak nahan badan pakai meja resepsionis. Napas gua udah kayak orang abis lari maraton keliling Monas.

Mata gua liar nyari satu-satunya harta karun di tempat ini: Meja dengan colokan listrik yang masih hidup.

"Penuh... penuh... kok penuh semua sih?!" gua bisik-bisik histeris.

Sampai akhirnya, mata gua nangkep satu titik di pojok ruangan. Di sana, di meja paling strategis dekat jendela, duduk seorang cowok dengan kaos hitam polos.

Dia lagi asik metik gitar akustik tanpa suara, cuma jarinya yang nari-nari di atas fret sambil natap layar laptop yang isinya deretan angka dan grafik rumit.

Dedikasi Aruna Pradipta.Si jenius Aquarius dari jurusan sebelah yang denger-denger otaknya udah kayak superkomputer. Ganteng? Banget. Nyebelin? Jauh lebih banget.

Gua langsung nyamperin mejanya tanpa permisi.

BRAK! 

Tas totebag gua mendarat keras di sebelah laptopnya.

"Ded! Geser dikit, gua butuh colokan itu!" kata gua telak, sambil megang kabel charger laptop gua kayak mau nyabet orang.

Dia nggak nengok. Jarinya masih lincah di atas fret gitarnya, tetep tanpa suara. Matanya masih nempel ke layar. "Cari meja lain, Rey. Meja ini udah gua booking pakai doa."

"Dih? Sejak kapan perpus bisa di-booking pakai doa? Meja lain penuh, ya! Buruan geser, gua ada kuis sepuluh menit lagi!"

Dedik akhirnya berhenti metik gitar. Dia nengok pelan, benerin letak kacamata tipisnya, terus natap gua datar. Datar banget, sedatar jalan tol yang baru diaspal.

"Logikanya gini, Reyna..." suara dia tenang tapi nusuk. "Gua dateng dari jam enam pagi demi dapet colokan ini karena baterai laptop gua bocor."

"Lo dateng jam delapan lewat empat lima, napas udah kayak knalpot bajaj, terus minta gua geser? Public space itu siapa cepat dia dapat, bukan siapa paling cantik dia dapet."

Gua melotot. "Lo bilang gua cantik? Oke, makasih. Tapi gua tetep butuh colokan itu, Dedik!"

"Gua bilang 'bukan', Rey. Kuping lo perlu di-servis juga kayak motor lo yang barusan berasap di depan gerbang itu?"

Gua kesentak. "Lo liat?! Lo liat motor gua mogok dan lo diem aja nggak bantuin?"

Dedik balik natap layarnya. "Gua liat dari jendela lantai dua. Dan menurut perhitungan gua, kalau gua turun buat bantuin lo, motor lo tetep nggak bakal bener, dan gua bakal kehilangan meja ini. High risk, zero gain. Nggak logis."

Gua tarik napas dalem-dalem. Sabar, Rey... Sagitarius nggak boleh main fisik di perpus.

"Gini ya, Mas Aquarius yang Terhormat. Gua cuma butuh upload file. Lima menit doang! Abis itu gua cabut. Sumpah!" gua pasang muka melas paling maut.

Dedik narik gitarnya ke pelukan, kayak lagi ngelindungin bayi.

"Nggak bisa. Gua lagi simulasi komposisi buat aransemen lagu baru sekalian ngerjain tugas pemodelan data. Sekali gua kegeser, fokus gua buyar. Dan lo tau kan, fokus gua itu mahal?"

"Sombong amat lo! Emang apa sih susahnya cuma geser dikit? Kursi lo masih sisa banyak spacenya!"

"Space fisik emang ada, tapi space mental gua terbatas. Keberadaan lo di radius satu meter aja udah bikin udara di sini kerasa lebih berisik, padahal lo belum ngomong."

"DEDIK!"

"Sssttt!" seisi perpus langsung nengok ke arah gua. Petugas perpus yang mukanya kayak guru BK galak udah siap-siap melotot.

Gua langsung nunduk, malu banget. Gua duduk paksa di kursi depan Dedik, nggak peduli dia setuju apa nggak. Gua colok kabel laptop gua ke satu-satunya lubang tersisa di bawah meja yang untungnya masih kosong.

"Gua tetep di sini," bisik gua penuh penekanan.

Dedik cuma ngangkat bahu. Dia mulai metik gitarnya lagi. Tring... tring... meskipun pelan, suaranya kedengeran jelas di kuping gua karena jarak kita deketan banget.

"Lagu apaan sih itu? Galau banget kayak orang ditinggal nikah," ejek gua sambil nunggu laptop gua loading.

"Ini namanya harmoni, Rey. Sesuatu yang nggak bakal lo pahamin karena hidup lo isinya cuma gas-rem-gas-rem tanpa strategi."

"Hih! Sok puitis lo. IPK tinggi nggak jamin lo punya perasaan ya!"

"Gua punya perasaan," jawab Dedik enteng, matanya masih fokus. "Gua ngerasa lo lagi panik karena belum ngerjain tugas Statistik. Mau gua kasih tau nggak?"

"Apa?!"

"File tugas lo itu... kalau lo upload sekarang, nggak bakal keburu. Portalnya udah ditutup dua menit yang lalu."

Gua membeku. Gua liat jam di pojok kanan bawah laptop. Jam 08:52. Batas upload jam 08:50.

"DEMI APA?!" gua hampir teriak lagi tapi langsung gua tutup pakai tangan. "Kok tutup jam segini sih?! Bukannya jam sembilan?!"

"Pak Bambang tadi malem update di grup kelas, katanya mau dimajuin biar nggak ada yang nyontek pas di jalan. Lo nggak baca grup?" Dedik nanya tanpa dosa.

Gua lemes. Gua senderan di kursi perpus yang keras, rasanya mau nangis tapi malu sama cowok es di depan gua. "Gua mati... gua fiks ngulang semester depan..."

Dedik diem. Dia ngeliatin gua yang udah kayak maba gagal ospek. Dia narik napas panjang, terus narik laptopnya mendekat ke arah gua.

"Siniin file lo."

Gua nengok, bingung. "Buat apa? Kan udah tutup."

"Portal emang tutup buat mahasiswa umum. Tapi asisten dosen Pak Bambang semester ini kebetulan temen satu band gua. Gua bisa minta tolong dia buat 'nyelipin' file lo ke server dalem lewat pintu belakang."

Mata gua langsung berbinar. "Serius, Ded?! Lo mau bantuin gua?!"

Dedik natap gua datar lagi. "Ada syaratnya."

"Apa? Apa aja gua lakuin! Lo mau gua bayarin makan di kantin seminggu? Atau lo mau gua cuciin motor lo?"

Dedik geleng-geleng. Dia nunjuk selembar brosur yang ada di atas mejanya. Brosur tentang Proyek Penelitian Kreatif Antar Fakultas.

"Gua butuh partner buat proyek ini. Syaratnya harus beda jurusan. Anak-anak lain nggak ada yang mau karena mereka bilang gua terlalu perfeksionis dan ribet."

"Gua butuh orang yang 'kosong' kayak lo biar gampang gua arahin."

Gua baca brosur itu. "Proyek Lapangan? Tiga bulan? Bareng lo?!"

"Pilihannya cuma dua, Reyna," Dedik metik satu nada tinggi di gitarnya yang bunyi nyaring banget.

"Lo jadi partner 'sialan' gua selama tiga bulan ke depan, atau lo ngulang kelas Statistik Pak Bambang sendirian semester depan. Pilih mana?"

Gua nelen ludah. Ngelihat muka Dedik yang sok ganteng tapi minta ditabok itu, rasanya gua lebih milih dikejar anjing gila. Tapi Statistik itu neraka dunia.

"Oke... deal," kata gua pasrah.

Dedik senyum tipis. Tipis banget, sampai gua nggak yakin itu senyum atau cuma kedutan di bibir. "Pilihan yang logis. Siniin flashdisk lo."

Gua ngasih flashdisk dengan tangan gemeteran. Gua nggak tau ini keputusan bener apa nggak.

Yang gua tau, mulai hari ini, hidup gua nggak bakal tenang. Dedikasi Aruna Pradipta baru aja narik gua masuk ke dunianya yang penuh itung-itungan dan petikan gitar nyebelin.

"Oh, satu lagi, Rey," kata Dedik pas gua udah mau cabut ke kelas.

"Apa lagi?!"

"Lain kali kalau motor mogok, jangan cuma diliatin. Coba dicek bensinnya. Kayaknya lo cuma kehabisan bensin, bukan rusak mesin. Sagitarius emang suka lupa hal-hal kecil ya?"

Gua diem seribu bahasa. Gua cek indikator bensin di ingatan gua... dan bener. Tadi pagi emang udah kedip-kedip merah.

"DEDIK SIALAAANNN!"

Gua baru aja mau lari balik ke parkiran buat cek bensin, tapi langkah gua mendadak kaku. HP di saku celana gua getar. Ada notifikasi masuk dari grup kelas Statistik.

[Grup Statistik A - Pak Bambang]

Pak Bambang: "Selamat pagi. Karena ada kendala teknis di server pusat, batas upload tugas pra-kuis saya perpanjang sampai jam 12 siang nanti. Silakan yang belum upload segera selesaikan." 

Gua mematung. Mata gua melotot natap layar HP. Jadi... gua nggak perlu bantuan asdos temennya Dedik? Gua nggak perlu jadi partner dia buat proyek tiga bulan itu?!

Gua langsung puter balik, mau lari lagi ke perpus buat batalin kesepakatan gila tadi. Gua nggak mau terjebak sama cowok Aquarius kaku itu cuma gara-gara masalah yang ternyata nggak ada!

Tapi pas tangan gua baru aja mau nyentuh gagang pintu perpus, satu pesan WhatsApp masuk dari nomor nggak dikenal.

[0812-xxxx-xxxx]:

"File lo udah masuk ke server asdos. Kontrak proyek kita udah gua submit ke email kaprodi. Nama lo dan nama gua udah fiks jadi partner nomor urut 69. Welcome to the team, Partner Sialan. See you at 4 PM di kantin." 

Gua lemes. Pintu kaca perpus di depan gua kerasa kayak tembok raksasa.

"DEDIKASIIII!!! BATALIIINNN!!!"

Gua teriak frustrasi di depan pintu, sementara dari balik kaca, gua bisa liat Dedik cuma ngangkat gitarnya sambil dadah-dadah pelan dengan muka datarnya yang minta ditabok.

Gua bener-bener dapet Partner Sialan.

Terpopuler

Comments

Protocetus

Protocetus

jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada

2026-06-05

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Semester ZONK!
2 Bab 2: Jangan Coba-Coba!
3 Bab 3: Sabtu Pagi yang Berisik
4 BAB 4: Kompetisi Tak Terduga
5 BAB 5: Rivalitas Di Desa Pinus
6 BAB 6: Disangka Macan, Ternyata Mantan (Eh, Maksudnya Anjing!)
7 BAB 7: Jangan Main-Main sama Anak Teknik (Apalagi yang Aquarius)
8 BAB 8: Aura Pengacara di Balik Aroma Minyak Kayu Putih
9 BAB 9: Logika vs Jas Rapi
10 BAB 10: Sagitarius Beraksi, Aquarius Bergetar
11 BAB 11: Bertahan Hidup dari Fitnah dan Hipotermia
12 BAB 12: Pertahanan Terakhir Di Desa Pinus
13 BAB 13: Efek Samping Pasca-Trauma
14 BAB 14: Frekuensi yang Beradu
15 BAB 15: Disonansi Di Koridor Kampus
16 BAB 16: Sabotase Frekuensi
17 BAB 17: Pesan Gelap Di Balik Layar
18 BAB 18: Logika Di Balik Semangkok Bakso
19 BAB 19: Refreshing Kognitif Di Kusrsi Nomor 13
20 BAB 20: Protokol Isolasi
21 BAB 21: Distorsi Di Tengah Kabut
22 BAB 22: Beyond The Words
23 BAB 23: Sinkronisasi Hati
24 BAB 24: Distorsi Masa Lalu
25 BAB 25: Interferensi Frekuensi
26 BAB 26: Paradoks Jitter
27 BAB 27: Mata-Mata Amatiran
28 BAB 28: Rendang, Rumus, Dan Rasa Cemburu
29 BAB 29: Rumor, Fitnah, Dan Logika Bakso
30 BAB 30: Investasi, Imigrasi, Dan Indomie
31 BAB 31: Logistik VS Logika
32 BAB 32: Apartemen Sempit & Tetangga Berisik
33 BAB 33: Survival Mode: MRT & Jalur Kaki
34 BAB 34: Bahasa Inggris "SAKIT GIGI"
35 BAB 35: Masak-Masak Berujung Alarm Asap
36 BAB 36: Kencan Logis Di Marina Bay
37 BAB 37: Serangan Rindu & Bakso Sintetis
38 BAB 38: Kostum Tradisional VS Black Tie
39 BAB 39: Audit Cinta & Efisiensi Anggaran
40 BAB 40: Bambu Mabuk & Diplomasi Koplo
41 BAB 41: Pulang Kampung Gaya Sultan (KW)
42 BAB 42: Musuh Dalam Selimut (Pabrik Semen)
43 BAB 43: Markas Besar di Kandang Ayam
44 BAB 44: Operasi Intelijen Sagitarius
45 BAB 45: Trading di Tengah Sawah
46 BAB 46: Puncak Perang Bambu (Resonansi Rontok)
47 BAB 47: Diplomat Seblak (Negosiasi Pedas)
48 BAB 48: Audit Tanah Massal & Pesta Rakyat
49 BAB 49: Kencan Di Atas Rakit (Momen Penenang)
50 BAB 50: Undangan Dari Ibu Kota (Plot Twist)
51 BAB 51: Pesentasi Tanpa Data (The Power of Emak-Emak)
52 BAB 52: Resonansi Langsung (Gendang Telinga Komisaris)
53 BAB 53: Intelijen Kantin (Skandal Kerupuk Kaleng)
54 BAB 54: Kencan Mall Mewah (Gegar Budaya)
55 BAB 55: Malam Gala & Ancaman Clarissa
56 BAB 56: Wasiat Dalam Kaleng Kerupuk
57 BAB 57: Misi Penyamaran (Dedik Jadi Tukang Kebun)
58 BAB 58: Mawar Hitam & Kerupuk)
59 BAB 59: Misi "Mr. & Mrs. Baut" Di Changi
60 BAB 60: Duel di Singapore Flyer (Sanggul Vs Ulekan)
61 Bab 61: Balapan Pesawat vs Jet Pribadi
62 Bab 62: Terjebak Macet di Puncak (Latihan Sabar Ala Sagitarius)
63 BAB 63: Konser "Kucing Garong" Di Kandang Ayam
64 BAB 64: Syukuran Desa & Gosip "Pangeran Bambu"
65 BAB 65: Misteri Sumur Stroberry & Hacker Bocil
66 BAB 66: Tragedi Ubin & Linggis Karatan
67 BAB 67: Aki Seblak, Helikopter, Dan Filosofi Empang
68 BAB 68: Konser Ikan Mas Dan Frekuensi Cinta
69 BAB 69: Lamaran Formal dan Audit Restu
70 BAB 70: Peletakan Batu Pertama Dan Sabotase Terasi
71 BAB 71: Operasi "Pura-Pura Ningrat"
72 BAB 72: Turbulensi Frekuensi Cinta
73 Bab 73: Dinner Horor di Orchard Road
Episodes

Updated 73 Episodes

1
Bab 1: Semester ZONK!
2
Bab 2: Jangan Coba-Coba!
3
Bab 3: Sabtu Pagi yang Berisik
4
BAB 4: Kompetisi Tak Terduga
5
BAB 5: Rivalitas Di Desa Pinus
6
BAB 6: Disangka Macan, Ternyata Mantan (Eh, Maksudnya Anjing!)
7
BAB 7: Jangan Main-Main sama Anak Teknik (Apalagi yang Aquarius)
8
BAB 8: Aura Pengacara di Balik Aroma Minyak Kayu Putih
9
BAB 9: Logika vs Jas Rapi
10
BAB 10: Sagitarius Beraksi, Aquarius Bergetar
11
BAB 11: Bertahan Hidup dari Fitnah dan Hipotermia
12
BAB 12: Pertahanan Terakhir Di Desa Pinus
13
BAB 13: Efek Samping Pasca-Trauma
14
BAB 14: Frekuensi yang Beradu
15
BAB 15: Disonansi Di Koridor Kampus
16
BAB 16: Sabotase Frekuensi
17
BAB 17: Pesan Gelap Di Balik Layar
18
BAB 18: Logika Di Balik Semangkok Bakso
19
BAB 19: Refreshing Kognitif Di Kusrsi Nomor 13
20
BAB 20: Protokol Isolasi
21
BAB 21: Distorsi Di Tengah Kabut
22
BAB 22: Beyond The Words
23
BAB 23: Sinkronisasi Hati
24
BAB 24: Distorsi Masa Lalu
25
BAB 25: Interferensi Frekuensi
26
BAB 26: Paradoks Jitter
27
BAB 27: Mata-Mata Amatiran
28
BAB 28: Rendang, Rumus, Dan Rasa Cemburu
29
BAB 29: Rumor, Fitnah, Dan Logika Bakso
30
BAB 30: Investasi, Imigrasi, Dan Indomie
31
BAB 31: Logistik VS Logika
32
BAB 32: Apartemen Sempit & Tetangga Berisik
33
BAB 33: Survival Mode: MRT & Jalur Kaki
34
BAB 34: Bahasa Inggris "SAKIT GIGI"
35
BAB 35: Masak-Masak Berujung Alarm Asap
36
BAB 36: Kencan Logis Di Marina Bay
37
BAB 37: Serangan Rindu & Bakso Sintetis
38
BAB 38: Kostum Tradisional VS Black Tie
39
BAB 39: Audit Cinta & Efisiensi Anggaran
40
BAB 40: Bambu Mabuk & Diplomasi Koplo
41
BAB 41: Pulang Kampung Gaya Sultan (KW)
42
BAB 42: Musuh Dalam Selimut (Pabrik Semen)
43
BAB 43: Markas Besar di Kandang Ayam
44
BAB 44: Operasi Intelijen Sagitarius
45
BAB 45: Trading di Tengah Sawah
46
BAB 46: Puncak Perang Bambu (Resonansi Rontok)
47
BAB 47: Diplomat Seblak (Negosiasi Pedas)
48
BAB 48: Audit Tanah Massal & Pesta Rakyat
49
BAB 49: Kencan Di Atas Rakit (Momen Penenang)
50
BAB 50: Undangan Dari Ibu Kota (Plot Twist)
51
BAB 51: Pesentasi Tanpa Data (The Power of Emak-Emak)
52
BAB 52: Resonansi Langsung (Gendang Telinga Komisaris)
53
BAB 53: Intelijen Kantin (Skandal Kerupuk Kaleng)
54
BAB 54: Kencan Mall Mewah (Gegar Budaya)
55
BAB 55: Malam Gala & Ancaman Clarissa
56
BAB 56: Wasiat Dalam Kaleng Kerupuk
57
BAB 57: Misi Penyamaran (Dedik Jadi Tukang Kebun)
58
BAB 58: Mawar Hitam & Kerupuk)
59
BAB 59: Misi "Mr. & Mrs. Baut" Di Changi
60
BAB 60: Duel di Singapore Flyer (Sanggul Vs Ulekan)
61
Bab 61: Balapan Pesawat vs Jet Pribadi
62
Bab 62: Terjebak Macet di Puncak (Latihan Sabar Ala Sagitarius)
63
BAB 63: Konser "Kucing Garong" Di Kandang Ayam
64
BAB 64: Syukuran Desa & Gosip "Pangeran Bambu"
65
BAB 65: Misteri Sumur Stroberry & Hacker Bocil
66
BAB 66: Tragedi Ubin & Linggis Karatan
67
BAB 67: Aki Seblak, Helikopter, Dan Filosofi Empang
68
BAB 68: Konser Ikan Mas Dan Frekuensi Cinta
69
BAB 69: Lamaran Formal dan Audit Restu
70
BAB 70: Peletakan Batu Pertama Dan Sabotase Terasi
71
BAB 71: Operasi "Pura-Pura Ningrat"
72
BAB 72: Turbulensi Frekuensi Cinta
73
Bab 73: Dinner Horor di Orchard Road

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!