NovelToon NovelToon
Cinta Ribuan Duri

Cinta Ribuan Duri

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Duda / CEO
Popularitas:463
Nilai: 5
Nama Author: bidadari

“Alasan untuk mencintaimu hanyalah soal sosial.”

Kalimat itu menghantam hatiku seperti ribuan duri. Aku terdiam, seakan waktu menarikku kembali ke masa lalu.Andai saja saat itu aku tidak menuruti egonya.
Andai saja aku lebih berani mengikuti kata hatiku… untuk menolak perjodohan itu. Mungkin sekarang, hatiku tidak akan dipenuhi luka.

— Cinta Ribuan Duri —

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 – Anak yang Ditemukan

Malam mulai turun perlahan. Lampu-lampu jalan menyala terang, menerangi jalanan kota yang masih dipenuhi kendaraan. Di sebuah pom bensin yang tidak terlalu jauh dari pusat kota, beberapa mobil bergantian berhenti untuk mengisi bahan bakar.

Di antara mobil-mobil itu, sebuah mobil milik Ardila juga ikut berhenti.

Ardila turun dari mobil sambil merapikan tas kerjanya di bahu. Hari itu terasa sangat melelahkan. Setelah pulang dari kantor, ia masih harus mengurus beberapa dokumen yang belum selesai. Kepalanya terasa penuh.

Ia berdiri di samping mobil sambil menunggu petugas mengisi bensin.

Angin malam bertiup pelan.

Namun tiba-tiba telinganya menangkap sesuatu.

Suara tangisan.

Tangisan kecil.

Ardila mengerutkan kening. Ia menoleh ke kanan dan kiri. Tangisan itu terdengar samar, seperti berasal dari arah trotoar kecil di pinggir pom bensin.

“Hm?”

Ia berjalan beberapa langkah mengikuti suara itu.

Semakin dekat, suara tangisan itu semakin jelas.

Seorang anak kecil sedang duduk di dekat tiang lampu.

Anak itu menangis sambil mengusap matanya dengan tangan kecilnya.

“Mama…”

Suara itu membuat langkah Ardila langsung berhenti.

Matanya melebar.

“Itu…”

Ia mengenali wajah kecil itu.

Resa.

Anak kecil yang tadi siang memeluknya di toko es krim.

“Ya Tuhan…”

Ardila langsung berlari kecil menghampiri anak itu.

“Resa?”

Anak kecil itu mengangkat wajahnya yang penuh air mata.

Matanya yang merah langsung menatap Ardila.

Untuk beberapa detik ia hanya menatap.

Kemudian wajah kecil itu berubah.

“Mama…”

Resa langsung berdiri dengan langkah goyah lalu memeluk kaki Ardila.

Tangisannya semakin keras.

“Mama… mama…”

Ardila benar-benar terkejut.

“Sayang… kamu di sini?”

Ia menunduk dan mengangkat tubuh kecil itu.

Resa langsung memeluk lehernya erat.

Tubuh kecilnya masih gemetar karena menangis.

Ardila menatap sekitar pom bensin dengan bingung.

“Papa kamu mana?”

Namun tidak ada jawaban.

Resa hanya terus memeluknya.

“Aku takut…”

Suara kecil itu membuat hati Ardila terasa seperti diremas.

Ia kembali melihat sekeliling.

Tidak ada tanda-tanda Areksa.

Tidak ada bodyguard.

Tidak ada baby sitter.

Tidak ada siapa pun yang terlihat mencari anak ini.

Pikiran Ardila langsung dipenuhi banyak kemungkinan.

“Jangan-jangan…”

Ia menatap wajah kecil Resa lagi.

Anak itu masih terisak di bahunya.

Pikiran buruk mulai muncul di kepalanya.

Apakah Areksa… membuang anak ini?

Ardila mengingat kembali sikap dingin Areksa di toko es krim tadi. Cara pria itu melarang Resa bermain dengannya. Cara wajahnya terlihat tidak peduli.

“Tidak mungkin…”

Namun Resa ditemukan sendirian di pom bensin.

Anak sekecil ini tidak mungkin berada di sini sendirian tanpa alasan.

Ardila mengusap punggung kecil itu pelan.

“Sudah… jangan menangis.”

Resa menempelkan wajahnya di bahu Ardila.

“Mama… jangan pergi…”

Kata itu membuat hati Ardila terasa semakin berat.

Ia menatap langit malam sebentar.

Jika ia meninggalkan anak ini di sini, siapa yang akan menjaganya?

Jika ia menunggu, tidak ada jaminan orang tuanya akan kembali.

Ardila menarik napas panjang.

“Baiklah.”

Ia memeluk Resa sedikit lebih erat.

“Aku akan membawamu pulang dulu.”

Resa tidak menjawab.

Namun tangannya semakin erat memeluk Ardila.

Seolah ia tidak ingin dilepaskan lagi.

Beberapa menit kemudian Ardila kembali ke mobilnya dengan Resa di gendongan.

Ia duduk di kursi pengemudi sambil menatap anak kecil itu.

“Mulai sekarang kamu ikut aku dulu, ya.”

Resa hanya menatapnya dengan mata basah.

Namun kali ini ia tidak menangis lagi.

---

Sekitar satu jam kemudian mobil Ardila berhenti di depan rumah keluarga Rafa.

Rumah besar itu terlihat terang seperti biasa.

Ardila turun dari mobil sambil menggendong Resa yang sudah mulai mengantuk.

Ia berjalan masuk ke dalam rumah.

Begitu sampai di ruang tamu, Mama Rafa langsung menoleh.

“Kamu baru pulang?”

Namun kalimatnya langsung berhenti ketika melihat anak kecil di gendongan Ardila.

“Itu anak siapa?”

Ardila berdiri dengan sedikit gugup.

“Aku menemukannya di pom bensin.”

Papa Andreo yang sedang duduk membaca koran juga menatap mereka dengan kening berkerut.

“Apa maksudmu menemukan?”

Ardila menjelaskan pelan.

“Tadi dia sendirian. Tidak ada orang tuanya.”

Mama Rafa langsung terlihat tidak senang.

“Lalu kenapa kamu membawanya ke sini?”

Ardila memeluk Resa sedikit lebih erat.

“Dia masih sangat kecil.”

“Tidak mungkin aku meninggalkannya di sana.”

Saat itu Rafa yang baru turun dari tangga juga ikut melihat ke arah mereka.

“Apa yang terjadi?”

Mama Rafa menunjuk Resa.

“Istrimu membawa anak tidak jelas ke rumah ini.”

Rafa menatap Ardila dengan wajah dingin.

“Anak siapa itu?”

Ardila menggeleng pelan.

“Aku tidak tahu.”

Papa Andreo langsung berkata tegas.

“Kalau tidak tahu, kenapa kamu bawa ke sini?”

Ardila terdiam beberapa detik sebelum akhirnya berkata,

“Aku ingin merawatnya.”

Kalimat itu langsung membuat ruangan menjadi sunyi.

Mama Rafa langsung berdiri dari kursinya.

“Apa?”

“Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja.”

Mama Rafa menggeleng keras.

“Tidak!”

“Rumah ini bukan panti asuhan.”

Papa Andreo juga terlihat tidak setuju.

“Kamu terlalu gegabah.”

Rafa menatap Resa beberapa detik.

Kemudian ia berkata datar,

“Kita tidak tahu asal-usul anak itu.”

Ardila menatap mereka satu per satu.

“Tapi dia membutuhkan seseorang.”

Mama Rafa langsung menjawab dengan tajam.

“Itu bukan urusanmu.”

Ardila menggigit bibirnya.

Resa yang setengah tertidur di bahunya bergerak pelan.

“Mama…”

Suara kecil itu membuat Ardila semakin yakin.

Ia menatap keluarga Rafa dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

“Aku tidak akan meninggalkannya.”

Namun wajah Mama Rafa langsung berubah dingin.

“Kalau begitu…”

Ia menatap Ardila tajam.

“Anak itu tidak boleh tinggal di rumah ini.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!