NovelToon NovelToon
Pernikahan Kontrak

Pernikahan Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Yvone Larasati, seorang desainer interior freelance yang keras kepala dan mandiri, terpaksa menelan harga dirinya dan menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Dylan Alexander Hartono, CEO Alexander Group yang dingin dan tak tersentuh. Pernikahan ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan ayah Yvone dari jerat penjara akibat jebakan korupsi politik. Di sisi lain, Dylan membutuhkan citra "pria beristri yang sempurna" untuk mengamankan mega-proyek infrastruktur dan pariwisata pemerintah senilai triliunan rupiah.

Berawal dari selembar kertas yang didasari kebencian dan pragmatisme, batasan antara sandiwara dan kenyataan mulai mengabur. Dikelilingi oleh intrik mematikan dari pejabat korup, ancaman masa lalu keluarga, dan empat rival cinta yang mematikan, Dylan dan Yvone menemukan tempat berlindung pada satu sama lain. Di bawah matahari Bali yang hangat, dinding es Dylan runtuh, dan ketakutan Yvone sirna, melahirkan gairah yang tak terbendung dan pengorbanan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 10

Dua hari berlalu sejak pertengkaran hebat di ruang tengah itu, dan penthouse lantai 65 telah berubah.

Jika sebelumnya interaksi Yvone dan Dylan kaku layaknya rekan bisnis, kini tak ada lagi interaksi sama sekali. Mereka berdua hidup seperti dua hantu yang kebetulan berbagi alamat yang sama. Saat sarapan, hanya terdengar denting sendok yang beradu dengan porselen. Dylan menolak mengangkat wajahnya dari tablet, dan Yvone memilih menatap pantulan dirinya di gelas air mineral.

Namun, di balik keheningan yang mencekik itu, rutinitas tetap berjalan. Pengawal berjas hitam masih menguntit Yvone layaknya bayangan setiap kali ia melangkah keluar gedung, memastikan tidak ada satu celah pun bagi Rangga atau pria mana pun untuk mendekat melebihi batas "profesional".

Pagi ini, Yvone memiliki agenda yang jauh lebih penting daripada memusingkan ego suaminya. Hari ini adalah hari pertamanya diizinkan menjenguk ayahnya.

Rumah Tahanan Kelas I cabang khusus itu terletak di kawasan terpencil di pinggiran Jakarta, tersembunyi di balik tembok beton setinggi empat meter dengan kawat berduri.

Saat mobil SUV hitam milik pengawal Dylan memandu masuk Rolls-Royce yang ditumpangi Yvone melewati gerbang keamanan berlapis, Yvone meremas tali tasnya dengan gugup. Pak Joko membukakan pintu untuknya, wajah paruh bayanya memberikan senyum yang menenangkan.

"Bapak Budi berada di blok medis VIP, Nyonya. Fasilitas di sana jauh lebih baik daripada blok tahanan umum," ucap Pak Joko seraya mengawal Yvone masuk ke lobi.

Yvone hanya bisa mengangguk. Benar saja, ia tidak dibawa ke ruang jenguk komunal yang dibatasi kaca tebal dan interkom. Seorang sipir senior dengan seragam rapi yang anehnya menunduk sangat hormat saat melihat emblem 'Alexander' di jas pengawal Yvone mengantarnya ke sebuah koridor bersih yang lebih mirip bangsal rumah sakit swasta.

Sipir itu membuka pintu kamar nomor 03. "Silakan, Nyonya Hartono. Waktu Anda satu jam."

Yvone melangkah masuk. Kamar itu memiliki jendela berkisi besi, namun udaranya sejuk oleh pendingin ruangan. Di atas ranjang putih, Budi Larasati sedang duduk bersandar, membaca sebuah buku. Pria paruh baya itu masih mengenakan pakaian tahanan, namun wajahnya tidak sepucat malam penangkapannya.

"Ayah!" panggil Yvone, suaranya pecah.

Budi mendongak. Buku di tangannya terjatuh ke pangkuan. Matanya melebar penuh kelegaan sebelum berkaca-kaca. "Vone... Ya Tuhan, putriku."

Yvone berlari kecil dan menghambur ke pelukan ayahnya. Aroma obat-obatan dan karbol menusuk hidungnya, namun pelukan itu terasa seperti rumah. Tangis Yvone pecah tak tertahankan, meluapkan semua ketakutan, kelelahan, dan tekanan yang ia pendam selama berminggu-minggu.

"Ayah baik-baik saja, Vone. Jangan menangis," Budi mengelus punggung putrinya dengan tangan gemetar. Ia menangkup wajah Yvone, menatapnya lekat-lekat. "Kau terlihat... sangat berbeda, Nak."

Tatapan Budi turun ke pakaian Yvone blus sutra mahal, tas branded yang diberikan Tara, dan akhirnya, sebuah cincin berlian mencolok di jari manis kirinya. Wajah pria tua itu berubah mengeras, penuh dengan kecurigaan dan kekhawatiran.

"Pak Darma bilang kau yang mengatur kepindahanku ke sini. Dia bilang kau mendapat bantuan dari Alexander Group," suara Budi merendah, menuntut penjelasan. "Lalu dua hari yang lalu, kepala sipir datang dan memanggilku dengan sebutan 'mertua Tuan Hartono'. Apa yang sebenarnya terjadi, Yvone? Jelaskan pada Ayah, sekarang."

Yvone menelan ludah. Ini adalah momen yang paling ia takuti. Berbohong di depan pria yang mengajarinya kejujuran sejak kecil. Ia menarik kursi ke sisi ranjang dan duduk, menautkan jemarinya dengan jemari ayahnya.

"Ayah... aku dan Dylan... kami sudah menikah," Yvone memulai, memaksakan seulas senyum malu-malu yang telah ia latih ratusan kali di depan cermin.

"Menikah?!" Budi setengah berseru. "Kau bahkan tidak pernah menyebut namanya! Bagaimana bisa putriku yang selalu sibuk dengan sketsa bangunannya tiba-tiba menikahi salah satu pria paling berkuasa di negeri ini?!"

"Kami bertemu beberapa bulan lalu di sebuah pameran properti, Yah," Yvone merangkai dusta dengan lancar, hatinya terasa perih dengan setiap kata yang keluar. "Awalnya kami hanya berteman. Dylan... dia pria yang sangat tertutup. Kami menyembunyikan hubungan ini karena statusnya. Tapi ketika Ayah ditangkap, aku hancur. Dylan melihatnya, dan dia... dia melamarku. Dia bilang dia tidak bisa melihatku menderita, dan dengan menjadi istrinya, dia bisa menggunakan kekuatan legalnya untuk melindungiku dan Ayah."

Budi menatap mata putrinya dalam-dalam, mencari jejak kebohongan. Yvone membalas tatapan itu tanpa berkedip, mempertahankan topeng 'istri yang diselamatkan oleh cinta'.

"Yvone... Dylan Alexander Hartono bukanlah ksatria berbaju zirah," desah Budi lelah, memijat pelipisnya. "Ayah tahu siapa dia. Ayah tahu sejarah keluarganya. Ayah kandungnya meninggal karena dibunuh belasan tahun lalu akibat konflik politik dengan kelompok yang sama yang menjebak Ayah sekarang. Dylan adalah pria pendendam yang menghalalkan segala cara untuk bisnisnya. Kau yakin dia menikahimu karena cinta? Bukan karena menjadikan kita pion dalam permainannya melawan Menteri Hadi?"

Jantung Yvone berdegup kencang. Ayahnya terlalu cerdas. Namun ia harus meyakinkannya, atau Budi mungkin akan melakukan hal nekat seperti mengakui kejahatan palsu demi membebaskan Yvone dari Alexander Group.

"Dia mencintaiku, Ayah," Yvone mengenggam tangan Budi lebih erat. Ia menundukkan kepala, membiarkan air mata sungguhan jatuh, biarlah ayahnya mengira itu air mata keharuan. "Dan dia menepati janjinya. Ayah aman di sini. Bukankah itu yang terpenting? Tolong, percayalah padaku."

Budi menatap putrinya cukup lama, sebelum akhirnya menghela napas panjang tanda menyerah. Ia mengusap rambut Yvone. "Selama kau bahagia, Vone. Jika dia menyakitimu satu sentimeter saja, Ayah tidak akan ragu mencekik leher konglomerat itu meski Ayah berada di balik jeruji besi."

Yvone tertawa hambar di sela tangisnya. Dia sudah menyakitiku, Ayah. Dia mengurungku.

Tiga puluh menit berlalu dengan obrolan ringan tentang keadaan Lia dan kuliah adiknya. Saat waktu besuk hampir habis, seorang pria berjas putih dengan stetoskop menggantung di lehernya mengetuk pintu dan masuk.

"Maaf mengganggu, Bapak Budi. Waktunya untuk pemeriksaan tensi," sapa dokter itu ramah. Ia menoleh pada Yvone. "Anda pasti Nyonya Hartono."

Yvone berdiri dan mengangguk. "Ya, Dok. Bagaimana perkembangan kondisi jantung ayah saya?"

Dokter itu memeriksa monitor di dinding sebelum tersenyum. "Jauh lebih baik, Nyonya. Anda tidak perlu khawatir. Suami Anda benar-benar tidak main-main soal kesehatan mertuanya."

Yvone mengerutkan kening bingung. "Maksud Dokter?"

"Ah, Bapak Hartono tidak memberi tahu Anda?" Dokter itu tampak terkejut. "Tiga hari yang lalu, asisten pribadi beliau datang kemari membawa dokter spesialis kardiologi terbaik dari Mount Elizabeth Singapura, khusus untuk memeriksa Bapak Budi secara privat. Seluruh obat-obatan beliau juga langsung diganti dengan resep impor dari Swiss yang tidak tersedia di Indonesia. Ditambah lagi instruksi ketat untuk rotasi perawat setiap enam jam di kamar ini."

Napas Yvone tertahan di tenggorokan. Ia menatap dokter itu dengan tak percaya.

Dylan melakukan semua itu? Pria yang sama yang membentaknya dan melemparkan map berisi profil Rangga dua malam lalu? Pria yang menolak memberinya ruang bernapas?

"Dia... dia yang mengaturnya?" bisik Yvone, lebih kepada dirinya sendiri.

"Betul sekali. Beliau memastikan semuanya sempurna sebelum Anda datang menjenguk hari ini," senyum dokter itu tulus.

Saat Yvone berjalan keluar dari rutan, pandangannya terasa kosong. Angin panas Jakarta tidak mampu mengusir rasa dingin yang merayap di kulitnya, namun kali ini bukan dingin karena takut, melainkan karena kebingungan.

Dylan Alexander Hartono adalah teka-teki yang kontradiktif. Di satu sisi, pria itu adalah tiran yang memperlakukannya layaknya barang pajangan. Namun di sisi lain, pria itu memenuhi isi kontrak bahkan melampauinya dengan sangat diam-diam, tanpa meminta pengakuan apalagi pujian.

Pria itu adalah sangkar emas yang mengurungnya, sekaligus perisai besi yang melindunginya.

Malam itu, jam menunjuk pukul sebelas ketika lift pribadi penthouse berdenting.

Yvone, yang entah mengapa tidak bisa memejamkan mata, sedang duduk di pantry dapur yang remang-remang, membuat secangkir teh chamomile panas. Ia mendengar langkah kaki berat mendekat.

Dylan muncul dari lorong. Pria itu tampak berantakan. Jasnya disampirkan di bahu, kerah kemejanya terbuka tiga kancing, dan rambutnya yang biasa rapi kini sedikit acak-acakan karena terus disisir dengan jari. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, tampak memikul beban yang sangat berat.

Saat melihat Yvone di dapur, langkah Dylan terhenti. Matanya menatap Yvone dalam diam, kewaspadaan instingnya mengambil alih.

Yvone membalas tatapannya. Ia mengingat percakapannya dengan dokter di rutan siang tadi. Menimbang harga dirinya, Yvone menarik napas panjang. Ia mengambil cangkir bersih, menuangkan teh panas ke dalamnya, lalu berjalan mendekati mini bar yang memisahkan mereka.

Ia meletakkan cangkir teh itu di hadapan Dylan.

Dylan menatap cangkir yang mengepulkan asap tipis itu, lalu menatap Yvone dengan kening berkerut. "Apa ini? Ritual permohonan maaf karena kau berniat melanggar aturan lagi besok?" ucapnya dengan nada sinis yang letih.

Yvone tidak terpancing. Ia menatap lurus ke mata pria lelah di hadapannya.

"Ini teh," jawab Yvone pelan. "Dan sebuah ucapan terima kasih."

Alis Dylan menukik tajam. "Terima kasih untuk apa?"

"Untuk dokter spesialis dari Singapura. Untuk obat-obatan dari Swiss. Dan untuk rotasi perawat enam jam," sebut Yvone satu per satu, suaranya tulus tanpa sedikit pun nada sarkas. "Aku menjenguk ayahku hari ini. Beliau terlihat lebih sehat daripada saat ia berada di rumah."

Wajah Dylan seketika mengeras. Ia memalingkan wajah, mengambil cangkir teh itu tanpa menatap Yvone. "Itu sudah tertulis dalam kontrak, Yvone. Klausa satu, menjamin kelangsungan hidup aset. Jangan mengubahnya menjadi drama melankolis."

"Kau bisa saja hanya memindahkannya ke sel yang lebih baik dan memberinya dokter rutan biasa, Dylan. Itu sudah memenuhi kontrak," potong Yvone, melangkah ke sisi meja agar bisa melihat wajah pria itu. "Tapi kau melakukan lebih. Kau memberinya perawatan kelas dunia secara diam-diam. Kenapa?"

"Karena aku tidak suka hasil kerja setengah-setengah," desis Dylan. Pria itu menenggak teh panas itu seolah itu adalah whiskey, meletakkan cangkirnya dengan sedikit bantingan. Matanya kembali menatap Yvone, kelam dan defensif. "Dan karena aku benci jika ada sesuatu yang bisa kugunakan untuk menekan Menteri Hadi mati karena gagal jantung sebelum waktunya."

Dylan berbalik membelakangi Yvone, bersiap menuju ruang kerjanya. "Jangan pernah mengira aku melakukannya untukmu."

Namun kali ini, Yvone tidak merasa terintimidasi. Ia menatap punggung lebar yang perlahan menjauh itu. Untuk pertama kalinya, Yvone menyadari bahwa di balik kata-kata berbisa dan kekejaman yang Dylan tunjukkan, pria itu menggunakan dinding esnya sebagai pertahanan diri.

Dylan Alexander Hartono tidak tahu bagaimana menerima rasa terima kasih, apalagi kehangatan, karena ia telah melupakan bagaimana rasanya menjadi manusia biasa.

"Kau pembohong yang buruk, Tuan Hartono," bisik Yvone pelan di ruang yang sunyi, senyum kecil yang pedih terbit di bibirnya.

Langkah kaki di tangga sejenak terhenti, meski hanya sepersekian detik, sebelum akhirnya Dylan melanjutkan perjalanannya naik ke lantai dua.

1
Titien Prawiro
Bacanya deg2gan terus.
k
bagus sekali
k
lia kasihan
p
memang bagus😍
p
👍👍👍👍
1
lanjut
1
absen
Sang_Imajinasi
Jangan Lupa beri vote dan dukungan 🙏
Xiao Bar
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!