NovelToon NovelToon
GOMA: THE REBORN

GOMA: THE REBORN

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Action
Popularitas:426
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Mati di puncak gunung Goma justru terbangun di dasar neraka sebagai tengkorak rapuh tanpa daging. Demi kembali ke panti asuhan tempat ia dibesarkan Goma mulai membantai iblis dan memangsa tubuh mereka. Setiap nyawa yang ia telan menumbuhkan otot serta kulit baru di atas tulangnya. Ini bukan hanya tentang bertahan hidup namun tentang pendakian berdarah dari dasar jurang menuju singgasana para dewa yang telah menghina takdirnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak Senyap Diatas Obsidian

Episode 27

Aku merangkak keluar dari dalam gua sempit tempatku bersembunyi tadi dengan gerakan yang sangat hati hati layaknya seekor laba laba yang sedang mengintai mangsanya. Angin malam Gehenna yang bertiup kencang kini mulai membawa serpihan debu obsidian yang tajam yang terasa perih saat bergesekan dengan kulit wajahku yang kini mulai memiliki sensitivitas syaraf yang tinggi. Di bawah kakiku tebing tulang raksasa masih membentang sejauh beberapa ratus meter ke bawah sebelum akhirnya menyentuh dataran obsidian yang mengkilap di pinggiran Kota Oksidian. Aku menarik napas dalam dalam merasakan sensasi energi dingin dari atmosfer ketinggian ini memenuhi kantong paru paru semuku yang kini berdenyut dengan ritme yang teratur.

Dug... dug... dug...

Jantung esensi ku memompa darah hitam ke seluruh ujung sarafku memberikan kehangatan yang sangat kontras dengan suhu udara di sekelilingku. Sebagai seorang pendaki aku tahu bahwa proses turun dari sebuah tebing sering kali jauh lebih berbahaya daripada saat mendaki naik. Saat turun otot otot pahaku harus bekerja sebagai rem alami untuk menahan momentum gravitasi yang terus mencoba menarik tubuhku jatuh ke jurang limbah esensi yang mendidih di bawah sana. Aku menancapkan kuku kuku hitam jari tangan kananku ke sebuah celah kecil di permukaan tulang tebing merasakan kepadatan material kalsium yang sudah membatu selama ribuan tahun tersebut.

"Goma pastikan pijakan kaki kirimu stabil. Aku merasakan ada keretakan pada struktur tulang di bagian bawah itu akibat ledakan bola api tadi," bisik Kharis yang kini melayang rendah di belakang kepalaku dengan mata ungunya yang berpendar redup memberikan sedikit pencahayaan pada jalur turun kami.

"Aku merasakannya Kharis. Getaran dari retakan itu merambat melalui syaraf telapak kakiku. Aku akan menggunakan teknik pemindahan berat badan ke arah sisi kanan tebing yang terlihat lebih kokoh," jawabku melalui transmisi pikiran yang tenang.

Aku menggeser tubuhku ke arah kanan secara perlahan lahan. Setiap inci pergerakan yang kuambil dihitung dengan sangat teliti oleh sistem di dalam kepalaku. Aku tidak ingin melakukan kesalahan kecil yang bisa membongkar posisiku kembali setelah bersusah payah meloloskan diri dari pengejaran Shadow Wings tadi. Aku merasakan bagaimana otot otot bisep dan punggungku menegang saat aku harus menggantungkan seluruh beban tubuhku pada satu pegangan tangan sementara tangan lainnya mencari titik tumpu baru di bawah.

[ SISTEM: ANALISIS KESEIMBANGAN TUBUH ]

[ SISTEM: BEBAN PADA OTOT PAHA: MENINGKAT 30 % ]

[ SISTEM: KELENTURAN SENDI LUTUT: OPTIMAL ]

[ SISTEM: REKOMENDASI: GUNAKAN TEKNIK BACKSTEP PADA CELAH VERTIKAL DI DEPAN ]

Backstep. Sebuah teknik pendakian di mana aku harus memutar tubuhku menyamping agar lututku bisa menekuk lebih dalam serta memberikan daya tekan lebih besar pada pijakan yang sempit. Aku melakukannya dengan sangat halus merasakan gesekan kain jubah pelayanku yang robek dengan permukaan dinding tebing.

Suara teriakan para penjaga di puncak tebing sekarang sudah terdengar sangat sayup mengisyaratkan bahwa aku sudah berada cukup jauh dari jangkauan pandangan mereka. Namun aku tetap waspada. Eyes of the Abyss milik ku terus memindai setiap pergerakan energi di sekitarku. Aku melihat adanya beberapa mahluk terbang kecil yang sedang berputar putar di kejauhan namun mereka sepertinya lebih tertarik pada bangkai mahluk liar daripada mencari penyusup sepertiku.

Setelah menempuh perjalanan turun yang sangat melelahkan selama hampir dua jam akhirnya telapak kaki baruku menyentuh permukaan tanah yang datar. Aku berdiri tegak di atas batuan obsidian yang dingin sambil melakukan peregangan pada otot otot lenganku yang terasa sedikit kaku. Aku menyeka keringat esensi yang menetes di pelipis wajahku menggunakan punggung tangan kiriku yang sudah dilapisi kulit metalik yang kuat.

"Kita sudah sampai di dasar tebing Goma. Sekarang kita harus melewati padang obsidian ini untuk mencapai perbatasan wilayah luar kembali. Tapi ingat para Silent Watcher pasti sudah memperketat penjagaan di sepanjang jalur utama," ucap Kharis sambil duduk di atas sebuah batu besar yang menyerupai bentuk tengkorak.

"Aku tidak akan melewati jalur utama Kharis. Aku akan merayap di antara reruntuhan pilar tulang yang ada di sisi barat padang ini. Di sana banyak bayangan yang bisa ku manfaatkan untuk mengaktifkan kemampuan Shadow Veil milik ku secara maksimal."

Aku mulai berlari dengan kecepatan sedang menjaga agar suara langkah kakiku diredam oleh bantalan daging di telapak kakiku. Setiap langkahku di atas obsidian menghasilkan suara tap tap tap yang sangat halus hampir tidak terdengar oleh telinga mahluk biasa. Aku merasa tubuhku jauh lebih efisien sekarang. Oksigen esensi yang masuk ke jantungku dialirkan dengan sangat cepat ke arah otot kaki memberikan daya dorong yang stabil.

[ SISTEM: MEMULAI PROSES PEMINDAIAN JARAK JAUH ]

[ SISTEM: TERDETEKSI PATROLI PRAJURIT KOTA PADA JARAK 200 METER ]

[ SISTEM: JUMLAH TARGET: 4 MAHLUK ]

[ SISTEM: SARAN: MASUKI MODE SILUMAN SEKARANG ]

Aku segera merendahkan posisi tubuhku bersembunyi di balik sebuah pilar tulang yang sudah tumbang dan tertutup debu hitam. Aku melihat sekelompok Silent Watcher yang mengenakan jubah abu abu berjalan dengan formasi persegi melintasi padang obsidian. Tombak tombak mereka memancarkan cahaya ungu yang menyapu permukaan tanah seolah olah mereka sedang mencari jejak kaki atau residu energi yang kutinggalkan.

Aku menahan napas ku sepenuhnya membiarkan jantungku berdenyut sesepi mungkin melalui kontrol kehendak jiwa. Aku merasakan bagaimana Kharis di dalam jubahku menggigil hebat. Aku menepuk pelan bagian luar jubahku untuk menenangkan roh kecil itu. Aku menunggu sampai patroli tersebut berada di titik terjauh dari posisiku sebelum aku memutuskan untuk bergerak kembali.

Tenang Goma. Jangan biarkan adrenalinmu meledak sekarang. Kau adalah bayangan di dunia ini.

Setelah patroli itu menghilang di balik kabut malam aku mengaktifkan kemampuan Shadow Veil. Tubuhku kembali menjadi transparan menyatu dengan kegelapan reruntuhan pilar. Aku melesat maju dengan kecepatan penuh menggunakan kemampuan Burst Dash.

Wusss!

Aku melewati padang obsidian dengan sangat cepat seolah olah aku adalah embusan angin malam yang tidak memiliki wujud. Dalam hitungan menit aku sudah berada di perbatasan wilayah tengah yang ditandai dengan perubahan tekstur tanah dari obsidian keras kembali menjadi pasir abu abu yang gembur. Aku berhenti sejenak di bawah naungan sebuah pohon tulang raksasa yang sudah mati kering.

[ SISTEM: STATUS DESKRIPSI PETA DIMENSI TERRA ]

[ SISTEM: PROGRES: 12 % ]

[ SISTEM: ESTIMASI WAKTU TERSISA: 42 JAM ]

[ SISTEM: KETERANGAN: KOORDINAT AWAL MULAI TERLIHAT PADA BAGIAN SELATAN GEHENNA ]

Selatan Gehenna. Itu artinya pintu gerbang tersebut berada jauh di arah yang berlawanan dengan Kota Oksidian ini. Aku harus melewati Hutan Sumsum serta Rawa Sumsum sekali lagi untuk mencapainya.

"Goma kau lihat cahaya ungu di ujung cakrawala itu. Itu adalah tanda bahwa badai esensi akan segera melanda wilayah ini dalam hitungan jam. Kita harus segera menemukan tempat perlindungan di Hutan Rusuk sebelum badai itu menghancurkan kulit barumu," Kharis menunjuk ke arah langit yang mulai berubah warna menjadi ungu kemerahan yang sangat pekat.

Aku menatap ke arah yang ditunjuk Kharis. Aku bisa merasakan tekanan udara yang semakin berat menjepit rongga dadaku. Badai esensi di Gehenna bukanlah badai angin biasa melainkan badai energi murni yang bisa meluluhkan jaringan daging bagi mahluk yang tidak memiliki perlindungan yang cukup. Sebagai seorang pendaki aku selalu menghormati kekuatan alam. Aku tahu kapan harus bertarung dan kapan harus bersembunyi untuk bertahan hidup.

"Ayo Kharis. Kita tidak boleh membuang energi lebih banyak lagi di sini. Aku butuh mangsa segar di Hutan Rusuk untuk memperkuat lapisan kulit metalik ku sebelum badai itu tiba."

Aku mulai melangkah masuk ke wilayah pasir abu abu. Setiap langkahku sekarang membawa beban tanggung jawab yang lebih besar. Di dalam jubahku peta menuju Bumi tersimpan dengan aman serta di dalam jiwaku api dendam kepada para dewa semakin membara. Aku bukan lagi mahluk kasta rendah yang tidak tahu apa apa. Aku adalah Goma yang sedang meretas takdirnya sendiri melalui darah dan tulang neraka.

Ibu Widya panti asuhan kita adalah tujuan akhirku. Tidak peduli seberapa jauh aku harus merangkak tidak peduli seberapa banyak badai yang harus ku lewati aku berjanji akan berdiri kembali di depan pintu itu dengan tubuh yang utuh serta kekuatan yang mampu mengguncang dunia.

Aku berlari menembus kegelapan malam menuju arah Hutan Rusuk yang mulai terlihat siluetnya di kejauhan. Perjalanan pulang ku masih sangat jauh serta babak baru dari pendakian berdarah ini baru saja dimulai. Aku siap untuk menelan setiap musuh yang berani menghalangi jalanku menuju pintu keluar neraka ini.

1
diy
hadir thor🤭
diy
tetap semangat 💪
M Agus Salim: siap💪
total 1 replies
diy
hmmm menarik☕
M Agus Salim: terima kasih sudah mampir untuk membaca karya novelku 🙏
total 1 replies
diy
semakin menarik ☕
M Agus Salim: terima kasih sudah mampir untuk membaca karya novelku 🙏
total 1 replies
diy
dibanyakin dong bab nya hehe 🤭
diy
semangat author💪
M Agus Salim: selalu 💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!