NovelToon NovelToon
NEW SAGA WARISAN PRIMORDIAL

NEW SAGA WARISAN PRIMORDIAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Abai Shaden

Ribuan tahun setelah Kaisar Primordial Wang Tian menghilang ke dalam keheningan dimensi untuk menjaga keseimbangan alam, silsilah darahnya telah bercabang menjadi klan-klan besar yang menguasai berbagai penjuru dunia.

​Istri pertama, Lin Xuelan, melahirkan garis keturunan Penjaga Samudra. Istri ketiga, Mora, melahirkan klan Bayangan Langit. Istri keempat, Lin Xia (setelah menjadi manusia sepenuhnya), melahirkan garis Pedang Dewa. Namun, cerita kita kali ini bermula dari garis keturunan istri kedua, Sui Ren, Sang Permaisuri Angin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abai Shaden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: Penyucian Dimensi dan Kehampaan yang Menghakimi

Langit di atas Lembah Kematian tidak lagi menampakkan warna. Ia telah berubah menjadi kanvas abu-abu yang retak, di mana petir ungu dari Benua Mistis dan badai pasir merah saling bertabrakan, menciptakan anomali gravitasi yang mengangkat bebatuan raksasa ke udara. Di pusat kekacauan ini, **Wang Jian** berdiri berhadapan dengan **Leluhur Wang Sui-Ren**, yang tubuh logam arwahnya kini berpendar dengan cahaya merah berdenyut—detak jantung dari Inti Benua itu sendiri.

"Kau mendengarnya, Jian?" Leluhur tertawa, suara logamnya bergesekan menciptakan nada yang memilukan. "Setiap kali kau menyerangku, kau menyerang tanah yang kau pijak. Aku adalah akar, aku adalah batu, aku adalah nafas dari Benua Pasir Merah ini. Bunuh aku, dan kau akan menjadi jagal bagi jutaan nyawa yang tak berdosa!"

Jian menatap telapak tangannya. **Qi Kehampaan** yang berwarna hitam-emas berputar di sana dengan tenang, namun ia bisa merasakan resonansi yang mengerikan. Leluhur tidak berbohong. Melalui teknik terlarang *Soul-Anchor*, bajingan tua itu telah mengikat esensi nyawanya ke dalam struktur molekuler inti planet.

### **Keputusasaan di Garis Depan**

Di bawah mereka, pertempuran terhenti. Para prajurit dari kedua belah pihak menengadah ke langit dengan ngeri. Mereka bisa merasakan tanah yang mereka pijak mulai bergetar tidak stabil. Retakan-retakan besar mulai muncul di permukaan benua, mengeluarkan uap belerang dan energi magma yang tidak terkendali.

**Wang Lei** mencoba menebas barisan mayat logam yang tersisa, namun ia berhenti saat melihat api putihnya justru memicu gempa bumi kecil. "Sial! Dia benar-benar menyandera seluruh dunia ini!"

**Wang Han** muncul di samping Lei, wajahnya pucat. "Tekanan dimensinya meningkat. Jika Jian melepaskan kekuatannya sekarang, benua ini akan pecah seperti kaca yang dipukul palu."

Di barisan belakang, **Lin Meiling** menutup matanya, mencoba melakukan pelacakan energi menggunakan otoritas Alkemis Surgawinya. Ia bisa melihat jaring-jaring energi merah yang menghubungkan jantung Leluhur ke setiap sudut benua. Itu adalah jaring laba-laba maut yang sempurna.

"Jian..." bisik Meiling melalui transmisi suara jiwa. "Jangan menyerang jantungnya. Kau harus menemukan 'titik nol' dari frekuensinya. Jika kau bisa menyelaraskan Qi Kehampaanmu dengan frekuensi benua, kau bisa memutus ikatannya tanpa menghancurkan intinya!"

### **Pencerahan di Ambang Kehancuran**

Mendengar suara Meiling, Jian menarik napas panjang. Ia menutup matanya, mengabaikan provokasi Leluhur yang terus menghujaninya dengan tebasan pedang dimensi. Setiap serangan Leluhur merobek kulit naga Jian, namun Jian tidak membalas. Ia sedang mendengarkan.

Ia tidak lagi mendengarkan suara badai atau teriakan perang. Ia mendengarkan detak jantung benua.

*Dug... dug... dug...*

Itu adalah irama yang kuno, berat, dan penuh dengan rasa sakit akibat eksploitasi Leluhur. Jian menyadari bahwa **Qi Kehampaan** miliknya—yang lahir dari penyatuan semua elemen—adalah kunci yang sempurna. Kehampaan bukanlah ketiadaan, melainkan asal mula segala sesuatu. Ia adalah wadah yang mampu menampung dan menetralisir semua frekuensi.

"Kau pikir kau telah menyatu dengan benua ini, Tua Bangka?" Jian membuka matanya. Emas di pupilnya kini memudar menjadi putih jernih yang menakutkan. "Kau hanyalah parasit. Dan parasit... harus dipisahkan dari inangnya."

### **Teknik Pemungkas: Penyucian Dimensi**

Jian merentangkan tangannya. Tombak hitamnya menghilang, terurai menjadi partikel energi murni. Ia mulai melakukan gerakan tangan yang sangat lambat, namun setiap gerakannya meninggalkan jejak cahaya di udara yang tidak mau hilang.

**"Sembilan Putaran Naga: Putaran Terakhir - Kehampaan yang Menghakimi!"**

Tiba-tiba, sebuah keheningan mutlak jatuh di seluruh lembah. Suara angin hilang. Suara pedang hilang. Bahkan detak jantung para prajurit seolah berhenti sesaat.

Sebuah bola cahaya putih-hitam raksasa mulai terbentuk di atas kepala Jian. Bola itu tidak memancarkan panas atau tekanan, namun Leluhur Wang Sui-Ren mulai berteriak histeris. Ia merasakan ikatan *Soul-Anchor*-nya mulai bergetar hebat.

"Apa yang kau lakukan?! Kau akan memicu keruntuhan!" raung Leluhur.

"Tidak," jawab Jian tenang. "Aku sedang melakukan 'Penyucian'. Aku menarik esensi benua keluar dari tubuh busukmu, dan mengembalikannya ke tempat asalnya."

Jian mendorong bola cahaya itu perlahan. Saat bola itu menyentuh tubuh logam Leluhur, tidak terjadi ledakan besar. Sebaliknya, terjadi proses yang menyerupai penguapan. Logam arwah yang membentuk tubuh Leluhur mulai terkelupas, namun energi merah Inti Benua tidak ikut hancur. Ia justru mengalir lembut keluar dari tubuh Leluhur, dipandu oleh Qi Kehampaan Jian menuju tanah di bawah mereka.

### **Jeritan Terakhir Sang Parasit**

"TIDAK! KEKUATANKU! KEHIDUPANKU!"

Leluhur Wang Sui-Ren mencoba melawan, namun ia tidak memiliki apa pun untuk dipegang. Kekuatannya didasarkan pada pencurian dan pengikatan. Di hadapan Kehampaan yang memurnikan segala bentuk ikatan, ia tidak berdaya.

Tubuh logam arwahnya hancur menjadi debu rongsokan. Rohnya yang hitam dan terdistorsi mencoba melarikan diri menuju celah dimensi, namun Jian lebih cepat.

Jian muncul di depan roh Leluhur dalam sekejap mata. Ia mencengkeram leher roh tersebut dengan tangan yang dilapisi **Api Putih Pemurni** milik Lei yang telah ia asimilasi.

"Ini untuk ibuku. Ini untuk Meiling. Dan ini untuk setiap nyawa yang kau korbankan demi ambisimu yang tidak masuk akal," ucap Jian datar.

Jian mengepalkan tangannya.

*KRAK!*

Roh Leluhur Wang Sui-Ren hancur menjadi partikel-partikel cahaya yang tak bermakna. Tidak ada reinkarnasi. Tidak ada sisa kesadaran. Leluhur klan Wang, penguasa bayangan dua benua, telah dihapus sepenuhnya dari eksistensi.

### **Terobosan di Tengah Kedamaian: Ranah Nascent Soul**

Begitu Leluhur lenyap, energi murni yang dilepaskan dari proses penyucian itu kembali membanjiri tubuh Jian. Benua Pasir Merah, seolah-olah berterima kasih karena telah dibebaskan dari parasit, memberikan berkahnya.

Dantian Jian bergetar hebat. Inti Kristal Bintang 9 yang ada di dalamnya mulai retak, namun bukan karena hancur. Dari dalam retakan itu, muncul sesosok bayi kecil yang bercahaya keemasan—manifestasi dari jiwa Jian yang telah mencapai tingkat ketuhanan.

**[TEROBOSAN WANG JIAN]:**

 * **Ranah:** Melampaui Kristalisasi Inti... Masuk ke **Ranah Nascent Soul Bintang 1!**

Cahaya keemasan memancar dari tubuh Jian, menjangkau hingga ke ujung benua. Luka-luka para prajurit sembuh seketika. Tanah yang retak menutup kembali. Bunga-bunga kecil mulai tumbuh di antara pasir merah, sebuah keajaiban yang belum pernah terjadi selama ribuan tahun.

### **Akhir dari Badai, Awal dari Legenda**

Jian turun perlahan ke tanah. Kakinya menyentuh pasir yang kini terasa hangat dan bersahabat. Meiling berlari ke arahnya dan langsung memeluknya erat, diikuti oleh Lei, Han, dan Chen.

"Sudah berakhir?" tanya Wang Chen dengan mata berkaca-kaca.

"Ya," jawab Jian sambil mengusap rambut Meiling. "Leluhur sudah tidak ada. Klan Wang yang lama telah mati."

Jian menoleh ke arah ketiga saudaranya. "Tapi klan Wang yang baru... baru saja dimulai. Kita akan membangun kembali Benua Tengah dan menjaga Benua Pasir Merah ini. Tidak ada lagi istri pertama atau ketiga. Hanya ada satu keluarga."

Wang Lei mengangguk mantap. "Lalu, apa rencana kita selanjutnya, Kakak?"

Jian menatap ke arah cakrawala, ke arah di mana matahari oranye terbenam dengan indahnya. "Kita akan pulang. Tapi sebelum itu... aku ingin melihat bunga-bunga ini mekar di seluruh gurun ini."

Di bawah langit Benua Pasir Merah yang kini tenang, Sang Naga Surgawi akhirnya menemukan kedamaiannya. Perjalanannya dari dasar jurang menuju puncak dimensi telah selesai, namun legenda tentang Wang Jian baru saja dimulai.

Status Kultivasi Akhir - Penutup Seri:

1
evelyn Syaquita
new saga
adalah bacaan wajib bagi penggemar genre kultivasi yang mencari cerita dengan kedalaman emosional dan aksi yang memukau. Meskipun memiliki beberapa kiasan (tropes) klasik genre Xianxia, eksekusinya tetap terasa segar dan membuat ketagihan.
evelyn Syaquita
Tahapan dari Qi Condensation hingga [Tahap Tertinggi] dijelaskan dengan detail yang memuaskan, membuat pembaca ikut merasakan jerih payah sang protagonis dalam bermeditasi dan menerjang kesengsaraan langit (Heavenly Tribulation).😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!