"Mantan kabur, adiknya malah melamar? Dunia ini sudah gila!"
Bagi Cantik (26 tahun), hidupnya berakhir tragis saat rencana pernikahannya hancur karena Satria, sang calon suami, ketahuan selingkuh tepat sebulan sebelum hari H. Di tengah rasa sakit hati dan niatnya untuk menutup diri dari laki-laki, sebuah kekacauan muncul di depan pagarnya.
Bukan Satria yang datang meminta maaf, melainkan Juna (18 tahun), adik kandung Satria yang baru saja pamer foto ijazah SMA. Tidak tanggung-tanggung, bocah ugal-ugalan itu datang membawa rombongan motor sport, spanduk lamaran, hingga surat izin menikah dari ibunya sendiri!
Bagi Cantik, Juna hanyalah "bocil" bau matahari yang tidak tahu diri. Namun bagi Juna, Cantik adalah bidadari yang sudah ia incar sejak ia masih memakai seragam putih-abu.
"Lu itu berlian, Kak! Nggak pantes nangisin kerikil kayak Bang Satria. Daripada jadi mantan kakak, mending jadi istri adek. Gaskeun?!"
Sanggupkah Cantik mempertahankan tembok gengsinya mengahadapi pesona Juna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14. Trending Topik
Pagi itu, udara Jakarta baru saja mulai menghangat, namun di jagat maya, sebuah "bom atom" baru saja diledakkan oleh tangan seorang mekanik muda berjiwa pemberontak.
Juna, yang baru saja mencuci mukanya dari sisa-sisa oli semalam—meskipun masih ada sedikit noda hitam di belakang telinganya—duduk di atas jok motor sport-nya.
Seringai nakal tersungging di wajahnya saat jempolnya menari di atas layar ponsel.
Satu klik. Hanya satu klik untuk mengubah status "adik ketemu gede" menjadi "pemilik hati seutuhnya" di mata dunia.
Foto mirror selfie itu bukan sekadar gambar. Itu adalah proklamasi. Di sana, Juna yang masih belepotan oli, dengan kaos hitam yang melekat di tubuh atletisnya, memeluk Cantik dari belakang.
Cantik, dengan gaun merah maroon yang masih ia kenakan dari semalam, tampak bersandar pasrah. Matanya yang sembap justru menambah kesan "nyata" dan emosional, seolah ia baru saja diselamatkan dari badai dan akhirnya menemukan pelabuhan yang tenang.
Juna menekan tombol share. Targetnya? Grup WhatsApp Keluarga Besar "Bani Sudirjo". Tak berhenti di situ, ia juga melemparnya ke Instagram, Facebook, dan Twitter dengan caption yang sanggup membuat telinga Satria panas sejuta derajat:
"Ternyata barang orisinal emang paling cocok di tangan mekanik handal. Maaf ya yang kemarin gagal dapet berlian, sekarang berliannya udah aman di pelukan brondong. #BukanAdikLagi #CalonImamMasaDepan #SorryBangSat"
Goncangan di Grup "Bani Sudirjo"
Detik berikutnya, ponsel Juna bukan lagi sekadar bergetar, tapi seperti sedang mengalami kejang-kejang. Notifikasi masuk seperti air bah.
Grup "Bani Sudirjo" yang biasanya hanya berisi pesan "Selamat Pagi" bergambar bunga atau link berita hoaks kesehatan, mendadak berubah menjadi arena gladiator.
Papa: "JUNA! APA-APAAN INI?! Kenapa kamu pelukan sama mantan calon kakak iparmu?! Hapus sekarang! Kamu mau bikin Papa kena stroke pagi-pagi?!"
Tante Mira: "Loh, Juna? Ini Cantik kan? Kok bisa? Bukannya Cantik itu tunangannya Satria kemarin? Duh, dunia sempit ya, atau emang seleranya sama? Hati-hati loh nanti ketuker."
Om Herman: "Waduh, ini mah namanya 'Pagar Makan Tanaman', tapi pagarnya jauh lebih ganteng dan gagah. Hahaha! Lanjutkan Jun! Papa kamu cuma kaget aja karena kalah update sama anaknya. Hidup Brondong!"
Juna hanya tertawa renyah membaca rentetan pesan itu. Ia tahu Papanya pasti sedang memegang dada sambil meminum obat darah tinggi, tapi ia juga tahu bahwa ini adalah satu-satunya cara agar keluarga besarnya berhenti menjodoh-jodohkan Cantik dengan bayang-bayang Satria.
Trending Topic: #BrondongMenangBanyak
Di luar lingkaran keluarga, badai yang lebih besar terjadi. Netizen Indonesia, yang memang punya insting detektif tingkat dewa, langsung mengaitkan foto ini dengan drama "Stroller Keramat" di pernikahan Satria dan Sintia kemarin.
Dalam hitungan jam, algoritma Twitter (X) menangkap lonjakan interaksi. Tagar #BrondongMenangBanyak dan #TimCantikJuna meroket menjadi trending topic.
"Gila, ini plot twist terbaik tahun ini! Habis dikhianati abangnya, dapet adiknya yang spek dewa begini? Cantik lu keren banget!" tulis salah satu akun dengan ribuan retweet.
"Definisi 'barang orisinal di tangan yang tepat'. Liat tuh Juna, belepotan oli aja masih cakep. Daripada yang ono, sok mapan tapi isinya limbah," sahut netizen lainnya.
Sementara dunia sedang merayakan keberanian Juna, di sebuah kontrakan sempit dengan cat tembok yang mulai mengelupas, Satria sedang berjuang dengan keran air yang bocor. Tangannya basah, bajunya kotor, dan hatinya sudah lebih dulu berantakan.
"MAS SATRIA! LIHAT INI! ADIKMU BENERAN GILA! DIA MAU KITA MATI PELAN-PELAN YA?!" teriakan Sintia dari dalam kamar memecah kesunyian.
Satria menyambar ponsel Sintia dengan tangan gemetar. Begitu layar menyala, dunianya seolah runtuh untuk kedua kalinya. Ia melihat adiknya—bocah yang dulu selalu ia remehkan dan ia suruh-suruh—kini memeluk erat wanita yang seharusnya menjadi miliknya.
Rasa cemburu yang membakar, malu yang menyesakkan, dan amarah yang meluap bercampur menjadi satu di dada Satria. Ia melihat Cantik tersenyum.
Senyum yang tidak pernah ia lihat selama setahun terakhir mereka berhubungan. Senyum yang menunjukkan rasa aman.
"Juna... bajingan kamu..." desis Satria. Suaranya pecah.
Ia mencoba menelepon Juna, namun nomornya dialihkan.
Ia mencoba menelepon Cantik, namun yang ia dapati hanyalah nada sibuk—ia sudah diblokir secara permanen.
Satria terduduk di lantai kamar mandi yang basah. Harga dirinya yang sudah hancur lebur di pelaminan kemarin, kini digilas habis oleh adik kandungnya sendiri di depan seluruh rakyat Indonesia.
Sintia di sampingnya terus meracau soal reputasi, tapi Satria tidak mendengar. Ia hanya bisa melihat foto itu berulang kali, menyadari bahwa ia telah kehilangan berlian untuk mendapatkan sesuatu yang kini terasa seperti beban.
Di rumah Cantik, suasana tak kalah heboh. Cantik baru saja selesai memoles lipstik tipis saat ponselnya bergetar hebat sampai hampir jatuh dari meja rias.
Begitu ia melihat ribuan notifikasi yang menandai namanya, wajahnya langsung pucat, lalu perlahan berubah menjadi merah padam.
"JUNA!!! LU BENERAN GILA YA!" teriak Cantik dari dalam rumah saat ia mendengar suara knalpot motor Juna berhenti tepat di depan pagarnya.
Cantik berlari keluar dengan napas memburu. Ia masih memakai gaun kantor yang sudah ia rapikan sedikit, namun emosinya meledak-ledak.
"Jun! Apa-apaan postingan itu?! Lu tahu nggak grup keluarga besar gue lagi kebakaran?! Netizen juga lagi heboh, tagar nama gue trending nomor satu! Lu mau naruh muka gue di mana, Juna?!"
Juna melepas helmnya dengan gerakan santai, seolah-olah ia baru saja mengunggah foto makanan, bukan skandal keluarga.
Ia turun dari motor, melangkah mendekati Cantik dengan langkah yang penuh percaya diri.
Tanpa mempedulikan protes Cantik, ia mencubit hidung wanita itu dengan gemas.
"Naruh muka lu? Ya ditaruh di pundak gue lah, Kak. Aman, nyaman, dan nggak bakal ada yang berani nyentuh apalagi nyakitin lagi," jawab Juna enteng, matanya menatap Cantik dengan binar yang sangat jujur.
"Gue nggak mau ada rahasia-rahasiaan lagi, Cantik. Gue mau semua orang tahu, termasuk Bang Satria dan Mas Adrian si jas perlente itu, kalau lu adalah milik gue. Gue mau mereka tahu kalau 'barang orisinal' itu harganya mahal dan cuma bisa dimiliki sama pria yang punya nyali buat pasang badan, bukan cuma pasang tampang."
Cantik terdiam. Marahnya yang tadi meledak-ledak mendadak kehilangan tenaga. Ada sesuatu dalam suara Juna yang membuatnya merasa... sangat berharga.
"Tapi Jun... Kata Sindi, Papa lu marah banget di grup. Beliau bilang bakal coret nama lu dari silsilah kalau nggak dihapus!"
"Biasa, Papa lagi tensi tinggi aja karena kalah cepat viral sama anaknya," goda Juna.
"Nanti juga kalau kita bawain cucu yang lucu, Papa bakal luluh sendiri. Percaya deh."
"Cucu palamu peyang! Kita aja baru jadian semalam!" seru Cantik, meskipun kali ini ia tidak bisa menahan senyum geli.
"Yaudah, mending sekarang kita sarapan bubur. Anggap aja ini selebrasi kemenangan kita jadi trending topic. Lu cantik banget hari ini, Kak. Merah-merah gitu mukanya, kayak stroberi beneran. Ayo naik."
Juna merangkul bahu Cantik, membimbingnya naik ke atas motor sport-nya.
Meskipun dunia sedang gaduh membicarakan mereka, Cantik menyadari satu hal: ia merasa sangat terlindungi.
Juna tidak memberikan ruang bagi keraguan atau rasa malu. Dia menghantam semua stigma umur dan status dengan keberanian yang brutal namun tulus.
Saat motor melaju membelah jalanan pagi, Cantik memeluk pinggang Juna lebih erat dari biasanya. Ia tidak peduli lagi pada notifikasi ponselnya yang terus berbunyi.
Di balik punggung Juna yang kokoh, ia merasa bahwa drama keluarga, caci maki Satria, dan komentar netizen hanyalah bising latar belakang yang tak berarti dibandingkan rasa aman yang ia rasakan sekarang.
"Jun?" panggil Cantik di balik helmnya.
"Ya, Sayang?"
"Jangan pernah hapus foto itu ya."
Juna tersenyum lebar di balik kaca helmnya.
"Nggak akan pernah, Sayangku."