NovelToon NovelToon
Pangeran Kedua Jadi Kultivator Yang Tak Tertandingi

Pangeran Kedua Jadi Kultivator Yang Tak Tertandingi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Pangeran
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Neon Pena

Apa yang menyebabkan seseorang Putra Kedua sang Raja menjadi sang Kultivator yang paling hebat?
____
So Guys! ini kisahlah kisah Qinar sang Kultivator kita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neon Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 22

Gunung Sandaran menyisakan satu tempat yang bahkan Ki Kusumo pun enggan untuk memasukinya: Goa Kerak Bumi. Sebuah lubang vertikal yang menembus jantung gunung, di mana cahaya matahari tidak pernah diizinkan masuk sejak ribuan tahun lalu.

"Masuklah," perintah Ki Kusumo. Suaranya bergema dingin di mulut goa. "Satu bulan. Tanpa lampu, tanpa api, tanpa penglihatan Sukma Rembulan-mu. Aku akan menyegel pintu ini dengan mantra penutup indra."

Aku menatap kegelapan di depanku yang tampak seperti mulut monster raksasa. "Bahkan Mata Sukma-ku tidak akan berfungsi, Ki?"

"Tidak. Ujian Keenam ini adalah tentang Indra Keenam: Getaran Jiwa. Jika kau masih mengandalkan matamu, kau akan mati gila di dalam sana. Kau harus 'melihat' dengan Qi yang memancar dari pori-porimu."

Tanpa membantah, aku melangkah masuk. Brak! Pintu batu setebal tiga meter menutup di belakangku. Seketika, dunia menjadi hampa. Tidak ada cahaya, tidak ada suara, bahkan bau tanah pun seolah hilang. Aku sendirian dalam kekosongan yang absolut.

Minggu Pertama.

Kegelapan itu mulai menyerang mental duniaku. Tanpa stimulus visual, otakku mulai menciptakan bayangan-bayangan palsu. Aku merasa ada ribuan serangga merayap di kulitku, atau bisikan-bisikan pengecut yang menyuruhku menyerah.

"Diam," desis ku. Suaraku sendiri terdengar asing di telingaku.

Aku duduk bersila, mematikan fungsi penglihatanku sepenuhnya. Aku mulai memancarkan Qi Manifestasi Level 5-ku ke udara secara tipis dan merata, seperti radar yang menyebar ke seluruh sudut goa.

Minggu Ketiga.

Dunia fisik sudah tidak ada lagi bagiku. Aku tidak lagi merasa memiliki tubuh. Aku adalah energi yang memenuhi ruangan ini. Aku bisa merasakan setiap butir debu yang jatuh, setiap retakan mikro di dinding goa, bahkan pergerakan udara yang disebabkan oleh napasku sendiri.

Inilah yang dimaksud Ki Kusumo. Bukan melihat dengan mata, tapi merasakan keberadaan.

Hari Ketigapuluh.

Pintu goa terbuka dengan dentuman keras. Cahaya matahari menyambar masuk, namun anehnya, mataku tidak silau. Aku tetap terpejam, tapi aku bisa "melihat" Ki Kusumo berdiri di sana dengan detail yang mengerikan—aku bahkan bisa melihat aliran darah di nadinya.

"Waktunya ujian praktek, Qinar," suara Ki Kusumo terdengar serius. "Naik ke pelataran. Musuhmu sudah menunggu."

Aku melompat keluar dari goa. Tubuhku terasa sangat padat, namun ringan seperti asap. Di pelataran luas Puncak Mahkota, telah berdiri tiga sosok yang diselimuti jubah abu-abu. Mereka tidak memiliki wajah, hanya gumpalan asap hitam di balik tudung mereka.

"Simulan Bayangan," gumam Ki Kusumo. "Mereka diciptakan dari energi murni. Mereka tidak memiliki aroma, tidak bersuara, dan bisa menyatu dengan bayangan. Jika kau bisa menghancurkan mereka dalam kondisi mata tertutup, kau lulus."

Aku mengambil sehelai kain hitam, lalu melilitkannya erat-erat di mataku. "Mulai, Ki."

Sret!

Ketiga simulan itu bergerak serentak. Mereka tidak memijak tanah; mereka meluncur di udara. Salah satu dari mereka muncul tepat di belakang leherku, tangannya yang berupa belati energi menebas dengan kecepatan yang melampaui suara.

Aku tidak menoleh. Aku hanya memiringkan kepala dua senti ke kiri. Belati itu lewat begitu saja. Dengan gerakan halus, aku menghantamkan sikutku ke arah yang kosong.

DUARRR!

Simulan pertama meledak menjadi serpihan energi. Aku tidak memukul tubuhnya, aku memukul "inti getaran" jiwanya yang kurasakan lewat indra keenamku.

Dua simulan lainnya menyerang dari arah berlawanan, menciptakan badai tebasan energi yang menutup seluruh ruang gerakku.

"Hanya segini?" tanyaku dingin.

Aku merentangkan kedua tanganku. Qi keemasanku meledak keluar, bukan lagi sebagai gelombang sembarangan, tapi membentuk ribuan jarum energi yang tajam dan padat.

"Manifestasi Ribuan Jarum Petir!"

Jret! Jret! Jret!

Jarum-jarum itu melesat secara otomatis mengejar setiap getaran dari kedua simulan tersebut. Tidak ada tempat bersembunyi. Dalam hitungan detik, kedua simulan itu hancur total, kembali menjadi asap yang terbawa angin.

Aku membuka kain penutup mataku. Mataku kini memancarkan cahaya perak keunguan yang dalam.

Deg!

Sebuah ledakan energi terjadi di dalam pusat duniaku. Seluruh Qi Manifestasi yang tadinya liar, kini memadat menjadi sebuah "Inti Sejati" di dalam dadaku. Tekanan udaraku membuat tanah di sekitarku ambles sedalam sepuluh senti.

"Lulus..." bisikku. "Level 6."

Ki Kusumo berjalan mendekat, wajahnya tampak sangat bangga namun ada guratan kesedihan di sana. "Sembilan tahun. Level 6: Tahap Inti Sejati. Kau sudah melampaui standar guru-guru besar di sekte-sekte ternama, Qinar."

Beliau menatapku yang kini berdiri setinggi bahunya. "Kau sudah bukan lagi murid yang harus kulindungi. Kau adalah senjata hidup yang siap menghancurkan dunia."

Aku mengepalkan tangan, merasakan Inti Sejati yang berdenyut kuat di dadaku. "Satu level lagi, Ki. Satu ujian lagi sebelum aku benar-benar turun dan menyeret ayahku dari tahtanya."

Ki Kusumo mengangguk pelan. "Ya. Ujian terakhir. Ujian yang akan menentukan apakah kau akan menjadi dewa... atau iblis."

1
Sport One
salah fokus🤣 sama kalimat ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!