"Aku menceraikanmu, Hana. Hari ini, detik ini, saat ini juga."
Hana Anindita terpaku, tangannya yang gemetar mengusap perutnya yang sudah memasuki bulan ketujuh.
Di hadapannya, Bima Erlangga - pria yang berjanji akan menjaganya sehidup semati - menatapnya dengan sorot mata penuh kebencian.
Demi mengejar cinta masa lalunya yang kembali, Bima tega membuang belahan jiwanya sendiri. Bima mengira Hana akan bersimpuh di kakinya, memohon agar tidak ditinggalkan demi janin di rahimnya.
Namun, dugaannya salah besar. Hana hanya tersenyum tipis, mengemasi barang-barangnya, dan pergi tanpa menoleh lagi.
Saat Bima mulai menyadari bahwa Clarissa tidak sesempurna bayangannya, dan saat Hana mulai bersinar di tangan pria lain, sanggupkah Bima menjilat kembali ludah yang telah ia buang?
Atau selamanya ia hanya akan menjadi orang asing bagi anak yang dulu ia tolak kehadirannya?
Kita simak cerita selanjutnya yuk di karya Novel => Karma Suami Durhaka.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
"Seringkali kita harus jatuh hingga ke dasar jurang hanya untuk menyadari bahwa langit yang dulu kita miliki begitu luas. Di episode ini, Bima Erlangga mulai menelan pahitnya menjadi 'rakyat biasa' yang dikejar bayang-bayang kemiskinan. Di saat ia terpaksa menjual harga diri terakhirnya demi sesuap nasi, di Sukamaju, lonceng kebahagiaan Hana siap berdenting. Mari saksikan bagaimana takdir menuliskan dua nasib yang berbeda - satu menuju pelaminan, dan satu menuju kehinaan yang tak berujung."
.
.
Dua hari telah berlalu sejak gembok dingin itu mengunci masa lalu Bima. Apartemen rahasia yang dulu ia anggap sebagai istana tersembunyi, kini terasa seperti sel isolasi.
Ruangan itu sunyi, pengap oleh keputusasaan, dan hanya diterangi cahaya remang dari lampu jalanan Jakarta yang masuk melalui celah gorden.
Bima duduk di tepi ranjang dengan ponsel di tangan. Ia menatap saldo di aplikasi mobile banking-nya. Angka itu menyusut dengan kecepatan yang mengerikan.
Selama dua hari ini, ia tetap memesan makanan mewah melalui layanan antar, tetap membeli rokok impor, dan menenggak minuman keras untuk melupakan kenyataan. Namun, mesin ATM tidak bisa mencetak uang dari kekosongan.
"Hanya tersisa sepuluh juta?" gumamnya dengan suara parau.
Bagi orang biasa, sepuluh juta mungkin cukup untuk sebulan. Namun bagi Bima, yang terbiasa menghabiskan puluhan juta dalam sekali makan malam, angka itu adalah tanda lonceng kematian.
Semua kartu kreditnya yang terhubung dengan Erlangga Group sudah mati. Rekening pribadinya yang dipantau bank pun telah dibekukan. Sepuluh juta di rekening rahasia ini adalah napas terakhirnya.
Ia mencoba menekan nomor Bu Sarah untuk yang keseratus kalinya.
"*Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif*..."
Bima membanting ponselnya ke bantal. "Mama benar-benar membuangku! Dia membiarkan aku membusuk di sini sendirian!" raungnya.
Air mata kemarahan menetes di pipinya yang kini mulai ditumbuhi jenggot tipis yang tak terawat.
Dulu, ada Hana yang akan membelai kepalanya saat ia pusing. Ada Hana yang akan menyiapkan air hangat dan memastikan semua kebutuhannya terpenuhi tanpa ia perlu meminta.
Sekarang? Jangankan belaian, untuk mendapatkan segelas air putih saja ia harus menyeret kakinya sendiri ke dapur.
~~
Berbanding terbalik dengan kegelapan di apartemen Bima, udara di Sukamaju pagi ini beraroma melati dan kayu manis.
Di depan ruko Anindita Pastry, sebuah tenda putih sederhana namun elegan telah berdiri. Janur kuning melengkung cantik, melambangkan sebuah awal yang baru.
Hana duduk di depan cermin besar di dalam kamar rumah barunya yang diberikan Adrian. Ia mengenakan gamis putih berbahan brokat halus.
Wajahnya tidak dipulas riasan tebal, namun binar kebahagiaan di matanya jauh lebih berkilau dari permata manapun.
"Ibu... apakah aku terlihat pantas?" tanya Hana pelan kepada ibu Adrian yang sedang merapikan jilbabnya.
"Kamu sangat cantik, Hana. Kamu terlihat tenang. Itulah yang paling penting," ucap ibu Adrian yang bernama Asih lembut sambil mengelus bahu Hana. "Besok, setelah akad, kamu akan memulai hidup yang benar-benar baru. Lupakan semua duri yang pernah melukai kakimu."
Hana tersenyum. Ia menatap Saka yang sedang digendong oleh salah satu kerabat. Bayinya itu tampak tampan dengan setelan jas kecil berwarna senada.
Esok, Saka akan memiliki seorang ayah yang tidak hanya memberikan nama, tapi juga memberikan cinta dan perlindungan.
dr. Adrian datang ke ruko sebentar untuk menyerahkan hantaran terakhir. Saat mata mereka tidak sengaja bertemu dari kejauhan, Adrian memberikan anggukan mantap dan senyuman yang menenangkan.
Tidak ada drama, tidak ada bentakan. Hanya ada kedamaian.
Hana tahu, Bima mungkin sedang hancur di Jakarta. Berita tentang penyitaan aset Erlangga Group sudah sampai ke telinganya lewat berita lokal.
Namun, anehnya, tidak ada rasa dendam di hati Hana. Yang ada hanyalah rasa syukur karena ia telah diselamatkan dari badai itu sebelum semuanya terlambat.
~~
Kembali ke Jakarta, Bima berdiri di balkon apartemennya, menatap ke bawah, ke arah parkiran di mana mobil sport Lamborghininya terparkir.
Mobil itu adalah simbol kejayaan terakhirnya. Mesin bertenaga tinggi yang dulu ia gunakan untuk memamerkan kesombongan di jalanan protokol.
"Aku harus menjualnya," desis Bima.
Ia tidak punya pilihan. Jika ia ingin bertahan hidup, jika ia ingin punya modal untuk sekadar menyambung napas, benda itu harus pergi.
Pikiran untuk menggagalkan pernikahan Hana sudah menguap, berganti dengan insting bertahan hidup yang paling dasar, yaitu Perut.
Bima mengambil kunci mobilnya dan melajukan kendaraan itu menuju sebuah showroom mobil mewah milik kenalan lamanya, seorang pria licik bernama Koh Ahua yang biasa menampung mobil-mobil bermasalah.
Sesampainya di sana, Koh Ahua menyambut Bima dengan senyum miring yang menghina. Ia tahu Bima sedang jatuh. Berita di televisi sudah cukup menjelaskan posisi Bima sekarang.
"Wah, Tuan Muda Erlangga. Tumben datang ke bengkel kecil saya," ucap Koh Ahua sambil mengisap cerutunya.
"Aku ingin menjual ini. Segera. Berapa kau berani ambil?" tanya Bima, mencoba menjaga nada bicaranya agar tetap terdengar berwibawa, meski tangannya gemetar.
Koh Ahua berkeliling memutari mobil sport itu. "Mobil bagus. Tapi kamu tahu kan, Bima? Erlangga Group sedang dalam pengawasan bank. Menjual mobil ini sama saja dengan menjual barang sitaan yang belum terdata. Risikonya besar buat saya."
"Ini atas nama perusahaan cangkang, bukan Erlangga Group langsung! Kau tahu itu!" bentak Bima.
"Tetap saja. Orang-orang sedang mencari asetmu. Saya berani ambil 2 Miliar. Tunai sekarang juga," ucap Koh Ahua santai.
Bima terbelalak. "2 Miliar?! Mobil ini harganya 7 Miliar, Ahua! Jangan gila!"
"Kalau tidak mau, silakan bawa pergi. Kita lihat berapa lama lagi bank akan menemukan apartemen dan mobilmu ini. Di luar sana, kamu itu sedang jadi buronan publik, Bima," Koh Ahua meludah ke lantai. "2 Miliar, atau kamu pulang dengan mobil yang sebentar lagi akan ditarik paksa."
Bima terdiam. Dadanya sesak. Rasanya seperti jantungnya diremas. Ia menatap mobil kesayangannya, lalu menatap angka di dalam kepalanya.
Dengan 2 Miliar, ia bisa membeli sedan biasa, menyewa rumah kecil, dan memulai hidup baru, atau setidaknya bertahan dari kelaparan.
"Satu syarat," suara Bima melemah. "Tukarkan dengan satu unit sedan bekas yang masih layak jalan. Sisanya tunai."
Koh Ahua tertawa terbahak-bahak. "Tentu, tentu! Saya punya Toyota Camry bekas tahun lama di belakang. Cocok untukmu yang sekarang."
Proses transaksi itu berjalan cepat dan hina. Bima menandatangani surat-surat itu dengan tangan yang terasa berat.
Saat ia menyerahkan kunci Lamborghininya dan menerima kunci sedan tua yang catnya sudah memudar, Bima merasa dunianya benar-benar runtuh.
Ia masuk ke dalam sedan bekas itu. Aroma parfum mewah berganti dengan aroma jok kulit lama dan debu. Saat ia menghidupkan mesin, suaranya tidak lagi menggelegar, hanya getaran halus yang terasa ringkih.
Bima melajukan mobil sedan itu menuju minimarket terdekat. Ia turun, membeli mie instan dan air mineral dalam jumlah banyak.
Saat ia berdiri di kasir, ia teringat akan pernikahan Hana yang dilangsungkan besok.
Bima mengepalkan tangannya erat.
"Besok..." bisik Bima dengan air mata yang kini jatuh tak terbendung di depan kasir yang menatapnya heran. "Besok dia akan sah menjadi milik pria lain... dan aku di sini, membeli mie instan dengan uang hasil menjual harga diriku."
Malam itu, di apartemennya, Bima makan dengan air mata sebagai bumbunya. Ia melihat kalender. Besok adalah hari Sabtu. Hari di mana Hana akan mengucap janji suci.
Bima ingin pergi ke sana, ia ingin berteriak, tapi ia sadar, ia bahkan tidak punya keberanian untuk menatap wajah Hana dengan kondisi sekacau ini.
Ia benar-benar telah menjadi asing di hidupnya sendiri.
Apakah Bima akan tetap nekat datang ke pernikahan Hana dengan mobil sedannya yang butut?
Jangan lewatkan momen akad nikah Hana di episode selanjutnya yaaa!
...----------------...
**To Be Continue** ....
Bima semangat 🔥💪🥰