Niatnya mencari kontrakan murah.
Yang didapat justru desa yang dipenuhi hantu.
Endric belum sempat beradaptasi, sudah diajak berbicara oleh pocong. Ia juga belum sempat kabur, tetapi jalan di desa itu terus berputar tanpa arah. Belum sempat bersantai, namanya malah sudah masuk dalam daftar tumbal.
Di desa itu, aturan hidupnya sederhana, jangan pernah keluar malam, jangan menjawab saat dipanggil, dan jangan bersikap terlalu akrab dengan warga karena belum tentu mereka manusia.
Untungnya, Endric memiliki “teman”. Sayangnya, temannya adalah pocong.
Sekarang pilihannya hanya dua, kabur, yang hampir pasti gagal, atau bertahan sambil berpura-pura waras di desa paling tidak normal yang pernah ia temui.
Dan yang jadi masalahnya, besok malam adalah gilirannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nyaris Saja
Garis hitam itu bergerak lagi. Tidak secepat saat dipanggil tadi, tetapi tetap merayap perlahan dan mantap, seolah memiliki tujuan yang pasti. Dari bahu, garis itu naik ke leher Endric, tipis seperti bayangan urat yang tidak seharusnya ada. Endric berdiri kaku di tengah ruangan, tangannya menggantung di sisi tubuh, sementara matanya terpaku pada pantulan dirinya di kaca jendela. Ada sesuatu yang berubah, dan ia bisa merasakannya semakin jelas.
"Ini sudah terlalu jauh," gumamnya.
Suaranya pelan, hampir tenggelam oleh sunyi. Dadanya terasa sesak, bukan karena takut semata, tetapi karena kesadaran bahwa ia mulai kehilangan kendali.
Gandhul berdiri di sampingnya, kali ini tanpa sikap santai yang biasa ia tunjukkan. Wajahnya lebih tegang, matanya tidak lepas dari pergerakan garis itu.
"Iya," jawabnya pelan.
Endric mengangkat tangan dan menyentuh lehernya. Permukaannya terasa dingin, tetapi di bawah kulit ada sensasi lain, sesuatu yang bergerak pelan dan hidup. Ia menelan ludah, mencoba menahan rasa asing yang membuat perutnya mengeras.
"Kalau ini sampai kepala, gue selesai, ya?" tanya Endric.
Gandhul tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap, seolah menimbang sesuatu yang tidak ingin ia ucapkan.
Beberapa detik berlalu, terasa lebih lama dari seharusnya.
"Lo berubah."
Endric menghela napas panjang, napasnya berat dan tidak stabil.
"Gue gak mau berubah."
"Masalahnya, lo lagi diproses."
Endric tertawa pendek, kering, tanpa humor.
"Gue bukan adonan, cok."
Candaan itu tidak dibalas. Gandhul tetap diam, membuat suasana terasa semakin berat. Endric kembali menatap tangannya, memperhatikan garis hitam yang terus bergerak di bawah kulitnya, seolah mengabaikan keinginannya.
"Lo masih di situ?" tanyanya.
Garis itu langsung merespons.
"kami di sini"
Endric mengangguk pelan, mencoba menahan reaksi yang muncul di dadanya.
"Oke. Kita ngomong serius."
Gandhul menoleh, alisnya sedikit terangkat.
"Baru juga tadi serius."
"Sekarang lebih serius."
Endric menegakkan badan. Bahunya ditarik ke belakang, berusaha terlihat lebih kuat daripada yang ia rasakan.
"Lo bilang bisa bantu gue."
"bisa"
"Sekarang gue butuh lo berhenti."
Sunyi kembali turun, menekan dari segala arah.
Beberapa detik berlalu.
"tidak bisa"
Endric mendecak, rasa kesal bercampur dengan panik.
"Kenapa?"
"sudah mulai"
Endric menatap lehernya lagi. Garis itu bergerak naik, sedikit lebih tinggi dari sebelumnya. Sensasinya semakin nyata, tidak lagi samar.
"Anjir."
Gandhul langsung mendekat, suaranya lebih tegas.
"Lo harus nahan."
"Gimana caranya?!"
"Balikin kontrol ke atas."
Endric mengernyit, kebingungan bercampur frustasi.
"Ke atas apaan?"
"Ke kepala lo. Pikiran lo. Lo harus lebih kuat dari yang di dalam."
Endric menghela napas, mencoba mencerna.
"Oke. Kedengarannya gampang."
"Tidak gampang."
"Ya gue tahu!"
Ia menutup mata, memaksa dirinya fokus. Endric mencoba merasakan tubuhnya sendiri, mencari batas antara dirinya dan sesuatu yang lain di dalam. Namun, batas itu tidak lagi jelas, seolah mulai larut menjadi satu.
"Gue masih gue," bisiknya.
Garis itu bergerak.
"kami juga"
Endric langsung membuka mata, napasnya tersendat.
"Tidak. Lo bukan gue!"
Garis itu berdenyut lebih kuat, seolah merespons emosi yang meningkat.
"kami di dalam kamu"
Endric menggertakkan gigi, rahangnya mengeras.
"Dan lo tetap bukan gue."
Gandhul mengangguk, nada suaranya sedikit menguat.
"Bagus. Jangan kasih mereka jadi satu."
Endric menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri. Namun, tiba-tiba penglihatannya berubah. Lapisan realitas di sekitarnya seperti bergeser, membuka sesuatu yang sebelumnya tersembunyi. Bayangan muncul di mana-mana, tidak hanya di sudut ruangan, tetapi di dinding, langit-langit, bahkan lantai. Semuanya mengarah padanya.
"Gue tidak suka upgrade ini," katanya pelan.
Suara lain menyusup, tipis tetapi jelas.
"kami buka"
Endric langsung menoleh ke tangannya, jantungnya berdegup lebih cepat.
"Lo buka apa?!"
"mata"
Tenggorokannya terasa kering. Tubuhnya menegang tanpa ia sadari.
"Gue tidak minta lihat sebanyak ini."
Gandhul memperhatikan ekspresi Endric yang berubah drastis.
"Lo lihat lebih banyak, ya?"
Endric mengangguk pelan, matanya terus bergerak mengikuti bayangan-bayangan itu.
"Sekarang kayak lagi di kosan penuh penghuni tak kasatmata."
Gandhul tertawa kecil, singkat.
"Selamat."
"Gue tidak mau selamat kayak gini."
Tiba-tiba satu bayangan bergerak cepat. Tidak seperti yang lain, bayangan itu langsung muncul di depan Endric. Wajahnya kosong, tetapi tatapannya terasa dalam dan menekan.
"beri," bisiknya.
Endric refleks mundur, jantungnya melonjak.
"Woi!"
Bayangan itu tidak berhenti. Ia semakin mendekat, tangannya yang hitam terangkat ke arah dada Endric.
"beri tempat"
Endric mendorongnya secara spontan. Tangannya menyentuh sesuatu yang dingin dan nyata, membuatnya tersentak.
"Anjir!"
Gandhul berteriak dari samping, suaranya tajam.
"Jangan kasih masuk!"
Endric menarik tangannya, tetapi bayangan itu sudah menyentuh dadanya. Dalam sekejap, sesuatu meresap masuk, sedikit, tetapi cukup membuat napasnya terputus.
"Ndhul."
"Lawan!"
Tanpa berpikir panjang, Endric memukul bayangan itu sekuat tenaga. Bayangan itu goyah dan mundur sedikit, tetapi tidak hilang.
"kami banyak," bisiknya.
Endric menggertakkan gigi, matanya menyala oleh tekad.
"Gue satu!"
Ia meraih meja kecil di sampingnya dan menghantamkannya ke arah bayangan itu. Meja tersebut menembus tubuh bayangan, tetapi cukup untuk mendorongnya jauh hingga akhirnya menghilang.
Endric terengah-engah. Napasnya tidak teratur, dadanya naik turun dengan cepat.
"Gue tidak kuat kalau satu-satu begini."
Gandhul mengangguk, wajahnya serius.
"Makanya lo harus kontrol yang di dalam."
Endric langsung menatap tangannya, sorot matanya berubah tajam.
"Lo bantu gue sekarang!"
Garis itu bergerak lebih cepat.
"kami bantu"
"Gimana?!"
"kami tahan yang luar"
Endric mengernyit, ragu, tetapi tidak punya banyak pilihan.
"Serius?"
"iya"
Endric menelan ludah, lalu mengangguk.
"Lakuin!"
Tiba-tiba semua bayangan berhenti serempak. Perubahan itu begitu mendadak hingga membuat Endric membeku.
"Eh?"
Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang menekan.
Bayangan-bayangan itu perlahan mundur, menjauh darinya, seolah ada sesuatu yang menahan mereka.
"Berhasil?" bisik Endric.
Gandhul mengangguk.
"Yang di dalam lo lagi kerja."
Endric menghela napas panjang, sedikit lega.
"Ya Tuhan. Gue jadi punya pasukan."
"Lebih ke penumpang."
"Ya tetap."
Endric berdiri lebih tegak. Untuk pertama kalinya, ia merasakan sedikit kendali, meskipun rapuh.
"Oke," katanya pelan.
"Kalau gini, gue bisa manfaatin."
Gandhul mengangkat alis, memperhatikan perubahan itu.
"Lo mulai adaptasi."
Endric tersenyum tipis, pahit.
"Daripada mati."
Namun, senyum itu langsung lenyap saat ia kembali menatap kaca. Pantulannya berbeda. Garis hitam itu sudah mencapai leher dan mulai merambat ke pipi, tipis tetapi jelas, seperti retakan pada wajahnya sendiri.
Endric membeku, tubuhnya kaku.
"Ndhul."
"Iya."
Endric menelan ludah, suaranya nyaris tidak keluar.
"Ini sudah kelihatan di luar."
Gandhul melihat, lalu terdiam beberapa saat sebelum menarik napas.
"Rek."
Endric menoleh.
"Apa?"
Gandhul menghela napas pelan.
"Lo sudah tidak bisa sembunyi lama-lama."
Endric mengusap wajahnya. Tangannya gemetar, napasnya kembali tidak stabil.
"Gue belum siap."
"Lo tidak dikasih waktu."
Sunyi jatuh lagi, lebih berat dari sebelumnya.
Beberapa detik berlalu.
Dari luar rumah terdengar suara langkah. Pelan, tetapi jumlahnya banyak. Endric langsung menoleh ke arah pintu, tubuhnya kembali tegang.
"Ini siapa lagi."
Gandhul ikut menegang, matanya mengarah ke sumber suara.
"Bukan warga."
Endric menelan ludah, rasa tidak nyaman menjalar ke seluruh tubuh.
"Terus?"
Langkah itu berhenti tepat di depan pintu. Hening sesaat, lalu terdengar suara pelan, seperti kuku yang menggesek kayu.
Krek.
Krek.
Jantung Endric berdetak lebih cepat, menghantam dadanya.
"Gue tidak buka."
Gandhul mengangguk.
"Bagus."
Namun, suara itu tidak berhenti. Ia berpindah ke dinding dan jendela, mengelilingi rumah seperti mencari celah masuk. Endric mundur perlahan, matanya mengikuti arah suara dengan waspada.
"Ndhul."
"Iya."
"Ini lebih dari satu, ya."
Gandhul menjawab pelan, hampir berbisik.
"Kayaknya."
Ia berhenti sejenak, lalu menatap Endric dengan wajah tegang.
"Yang di luar sekarang lagi nyari wadah baru."