Bukan kisah pengantar tidur. Bukan untuk anak-anak manusia yang polos.
Ini adalah kitab untuk anak-anak jiwa yang sudah siap menghadapi kenyataan di balik kegaiban.
Bahwa di balik dinding realitas yang kau anggap nyata, terdapat celah.
Dan di dalam celah itu... hukum alam mati. Logika hancur.
Segala sesuatu menjadi abstrak, melengkung, dan berteriak.
PS: "Kamu bisa lari dari entitas di depan matamu, tapi kamu tidak bisa lari dari entitas di relung pikiranmu sendiri."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berbagi Kisah Mistis (Bag 3)
“Pengalaman seram saya... tidak terjadi di rumah tua, bukan di desa terpencil, dan bukan di gunung,” ujar Fajar, suaranya pelan namun sangat jelas, menusuk telinga semua orang. “Tapi... terjadi di tempat yang kita datangi setiap hari. Di sekolah kita sendiri.”
Semua anak tersentak kaget. Mata mereka membelalak. Sekolah? Tempat yang biasa mereka isi dengan tawa dan main kejar-kejaran itu ternyata menyimpan kisah mistis.
“Ini terjadi sekitar tiga bulan yang lalu,” lanjut Fajar, suaranya mulai bergetar mengingat kejadian itu. “Saat itu saya harus tinggal lebih lama di sekolah karena ada tugas kelompok yang belum selesai. Perlahan-lahan satu per satu teman dan guru pulang, hingga akhirnya bangunan sekolah itu menjadi sunyi, tidak ada suara yang paling menonjol saat itu kecuali detak jam di dinding."
"Saat saya selesai membereskan buku dan ingin pulang, saya berjalan menuju pintu kelas. Tapi saat tangan saya hampir menyentuh gagang pintu..."
"HEESSSSS!!!"
"Sebuah hembusan angin yang sangat kencang tiba-tiba bertiup dari dalam kelas, dari arah belakangku. Angin itu begitu kuat hingga mendorong pintu itu tertutup rapat dengan bunyi BAM!!! yang menggelegar."
"Secara bersamaan... ruang kelas tiba-tiba menjadi gelap gulita. Pekat. Tidak ada sedikitpun cahaya yang masuk karena seluruh tirai jendela tampak bergerak menutup rapat. Ventilasi pun seakan disumbat, apa saja celah yang dapat dilalui cahaya menghilang."
"Saya panik. Jantung saya rasanya mau copot. Saya mulai meraba-raba dinding, mencari saklar atau apa saja. Tapi di tengah kepanikan itu... mata saya yang mulai terbiasa dengan gelap menangkap sesuatu."
"Di depan papan tulis yang besar itu... ada sosok."
"Sosok samar seorang pria. Dia berdiri tegak. Memakai seragam sekolah yang sudah usang, warnanya pudar kecokelatan, dan bahunya tampak koyak. Badannya tinggi besar. Tapi... saya tidak melihat kakinya. Tubuhnya hanya tampak dari atas kepala sampai setengah pinggang saja. Sisanya... kabur dan lenyap ditelan udara. Dia melayang! Mengambang di udara sekitar satu meter di atas lantai keramik!"
"Wajahnya tidak terlihat jelas, tertutup oleh bayangan gelap. Tapi saya bisa merasakan... dia sedang menatap ke arah saya."
"Saya tidak bisa bergerak. Saya tidak bisa berteriak. Saya hanya bisa menutup wajah dengan kedua tangan dan berdoa."
"Setelah beberapa detik yang mencekam. Tiba-tiba saya mendengar suara kreeekk... pintu kelas terbuka kembali dengan sendirinya. Cahaya terang koridor yang remang masuk menerangi ruangan."
"Saat saya memberanikan diri membuka sedikit celah jari... sosok itu sudah hilang. Tidak ada apa-apa di depan papan tulis. Seluruh tirai jendela kelas terbuka kembali. Seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa."
"Keesokan harinya, saya menceritakan hal ini kepada Pak Duan, guru agama kita yang memang terkenal pengertian. Wajah Pak Duan berubah serius mendengar cerita saya. Beliau tidak terlihat kaget, justru tampak sedih."
"Kamu beruntung bisa selamat, Nak," kata Pak Duan pelan. "Bangunan sekolah kita ini memang sudah tua. Bapak sendiri juga pernah melihatnya, ada banyak kejadian mistis yang juga dialami oleh murid-murid lain." Ungkapnya. Saya hanya mengangguk, dan tak berselang lama, terdengar suara benda jatuh di ruangan kelas, kami sempat terdiam karena terkejut, tapi kami sudah tahu siapa pelakunya."
Cerita Fajar mengakhiri kebisuan dengan teror yang nyata. Sekolah mereka, tempat yang biasa terasa aman, ternyata menyimpan sesuatu.
Ninda mengangkat kepalanya perlahan. Wajahnya berkeringat, namun matanya tampak berbinar aneh, campuran antara rasa takut dan ingin berbagi beban.
“Saya... saya juga punya cerita,” ucap Ninda datar, nada suaranya terasa mati. “Tapi cerita ini... tentang sesuatu yang membuat saya merasa trauma.”
“Kejadiannya saat saya dan keluarga berlibur ke sebuah vila di atas bukit. Lokasinya sangat sepi, terpencil, dikelilingi oleh hutan pinus yang lebat. Vila itu berdiri sendiri, tidak ada tetangga, tidak ada rumah lain di sekelilingnya. Hanya ada kami dan kegelapan hutan."
"Malam ketiga, saya terbangun karena merasa ada yang aneh. Suasana terlalu sunyi. Lalu saya mendengarnya. Suara musik. Bukan lagu ceria, tapi nada-nada sedih, lambat, dan memilukan. Seperti seseorang yang sedang memainkan biola dengan nada yang sangat pelan namun menusuk hati. Nyiiii nyeeee nyaa nyiiii..."
"Saya mengira mungkin ada pengunjung lain atau penjaga vila yang sedang bermain musik. Jadi saya mendekatkan wajah ke kaca jendela kamar, mencoba melihat ke bawah."
"Tapi... luar sana gelap gulita. Tidak ada satu pun lampu yang menyala. Tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali. Namun suara biola itu semakin keras, semakin jelas, dan saya yakin, sumbernya berada tepat di bawah jendela tempat saya berdiri."
"Rasa penasaran mengalahkan rasa takut. Saya diam-diam berjalan keluar kamar, menuju jendela besar di dapur yang menghadap ke halaman belakang."
"Dan saat saya melihat ke luar..."
"Saya melihatnya."
"Di atas sebuah batu besar yang datar, tepat di bawah sinar bulan yang samar, duduk sosok hitam pekat. Bentuknya seperti manusia, tapi sangat besar dan menjijikkan."
"Rambutnya... rambutnya itu bukan rambut biasa. Tampak panjang, hitam, dan bergerak-gerak sendiri. Rambutnya adalah ratusan ekor ular hitam yang saling melilit, menggeliat-geliat, dan bergerak seolah memiliki kehidupan sendiri. Wajahnya tertutup oleh rambut-rambut liar itu."
"Dan di depannya... dia memegang biola. Dia yang memainkannya."
"Tapi ada bagian lain yang menambah kengerian... di antara suara gesekan biola, saya mendengar suara lain. Suara keramaian. Teriakan banyak orang yang tertahan, minta tolong, meraung kesakitan, seolah-olah mereka terperangkap di dalam tubuh makhluk itu atau terkurung di dalam tanah."
"TOLONGGGG!!! KELUARKAN SAYAAA!!!"
"Suara itu terdengar sangat jelas bercampur alunan biola yang tenang namun menusuk. Saat saya melacak sekali lagi dimana sumber jeritan berasal, saya melihat bahwa jeritan ternyata berasal dari rambut ular di kepala sosok hitam itu.
"Saya tidak bisa berpikir lagi. Kaki saya lembek. Saya langsung berbalik, lari sekencang-kencangnya kembali ke kamar, mencebur ke tempat tidur, dan menarik selimut menutupi seluruh tubuh saya sampai ke kepala. Saya gemetar hebat sepanjang malam, berdoa agar makhluk berbulu ular itu tidak memanjat naik dan masuk ke dalam kamar saya."
"Sampai sekarang, setiap kali saya melihat rambut yang panjang dan kusut, saya selalu teringat sosok itu... dan suara teriakan-teriakan yang tertahan...”
Ninda mengakhiri ceritanya dengan keringat yang mengalir di pelipisnya.
Di dalam rumah pohon yang bergoyang-goyang karena tiupan angin, sepuluh anak kecil saling berpandangan. Mereka sadar, dunia ini jauh lebih besar dan jauh lebih menakutkan daripada yang mereka bayangkan. Dan malam ini, di antara ranting-ranting pohon Trembesi yang menderu, mereka tidak sendirian. Ada sesuatu yang sedang mendengarkan cerita mereka dari balik dinding di luar sana.
hati bertanya tanya
mengapa di saat paling horor seperti yg digambarkan di awal cerita,
Mereka bertukar cerita horor ?🥹
Apakah jawabannya ada di bab selanjutnya?