NovelToon NovelToon
Always His

Always His

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daena

Catherina Lawrence (24 tahun) mengira pernikahannya dengan Adrian Mettond, senior di kampusnya dulu, adalah pelabuhan tenang setelah badai masa lalu yang kelam. Namun, belum genap satu tahun berjalan, kenyataan pahit menghantamnya. Adrian ternyata tidak siap menjadi ayah bagi putra mereka, Liam, dan sang ibu mertua terus memperlakukannya layaknya orang asing yang tak diinginkan.

Di tengah dinginnya sikap Adrian, Catherina dihantui oleh bayang-bayang Everest Cavanaught—mantan kekasih sekaligus "pangeran berandalan" dari masa Lalunya. Hubungan Empat tahun itu berakhir karena keegoisan Catherina, meninggalkan luka yang belum sembuh. Ironisnya, semakin Liam tumbuh, wajah sang bayi justru semakin menyerupai Everest, bukan Adrian.

Terjebak dalam rumah tangga yang hampa dan penuh tuntutan, Catherina mulai mempertanyakan segalanya.

Apakah Adrian benar-benar mencintainya?
.
.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#18

Siang itu, udara di apartemen Everest terasa dingin, namun bagi Catherina, dingin ini jauh lebih jujur daripada kehangatan palsu di mansion Mettond. Di tangannya, sebuah amplop cokelat besar dari pengadilan baru saja terbuka. Isinya adalah surat keputusan perceraian yang keluar dengan kecepatan yang tidak masuk akal.

Catherina membaca baris demi baris dokumen itu dengan mata berkaca-kaca. Perceraian itu dinyatakan sah, sangat kilat, dan yang paling menyakitkan adalah alasan yang tertera di sana: Perselingkuhan istri yang menyebabkan lahirnya anak dari pria lain.

Semuanya sudah disiapkan. Adrian dan tim hukumnya seolah-olah sudah menyusun skenario ini sejak lama, menunggu saat yang tepat untuk membuangnya ke jalanan dengan label wanita Pezina. Kini, secara hukum, ia bukan lagi milik Adrian Mettond. Ia kehilangan segalanya—status, harta gono-gini, dan nama baik. Namun, saat ia menatap Liam yang sedang bermain dengan jemarinya sendiri di atas karpet bulu, Catherina merasakan kelegaan yang luar biasa.

"Tidak apa-apa, Sayang," bisik Catherina, mencium kening Liam. "Biarkan dunia tidak mengakuimu sebagai Mettond. Biarkan Adrian membuangmu. Karena sekarang, kau sudah memiliki Everest Cavanaught yang menerimamu tanpa syarat."

Catherina mengiklaskan semuanya. Nama baiknya mungkin hancur di mata publik, tapi jiwanya akhirnya merdeka. Ia tidak butuh pengakuan dari pria yang bahkan tidak pernah sudi menyentuh anaknya.

Di saat yang sama, di sebuah mansion bergaya Eropa klasik yang berdiri angkuh di perbukitan eksklusif, suasana sedang memanas. Ini adalah mansion besar keluarga Cavanaught. Everest berdiri di tengah ruang keluarga yang luas, berhadapan dengan kedua orang tuanya yang tampak terguncang oleh berita yang meledak di media.

"Kau gila, Everest!" gertak ayahnya, Tuan Cavanaught, sambil melempar koran pagi ke atas meja marmer. "Wanita itu baru saja diceraikan karena skandal anak haram, dan kau ingin membawanya ke keluarga ini? Dia itu sudah bekas orang lain, Everest! Jangan biarkan emosimu menghancurkan nama besar kita!"

Everest tidak bergeming. Ia menatap ayahnya dengan tatapan yang sama tajamnya. "Tidak, Dad. Dia bukan bekas siapa-siapa. Akulah yang menidurinya pertama kali. Akulah yang memiliki hatinya sejak awal. Kenapa Daddy tidak mengerti?"

Ibunya, Nyonya Cavanaught, memijat pelipisnya dengan frustrasi. "Apa yang akan teman-teman Mommy katakan, Sayang? Kau mengakui putra orang lain sebagai anakmu? Itu memalukan! Mommy tidak setuju kau menikahi wanita yang baru saja ditendang oleh keluarga Mettond."

Everest tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mengandung kemenangan mutlak. Ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan ponselnya, lalu menunjukkan sebuah foto yang ia ambil pagi tadi. Foto itu memperlihatkan wajahnya yang sedang tertidur di samping Liam. Sudut pengambilan fotonya menunjukkan kemiripan garis rahang, bentuk hidung, dan lekuk bibir yang identik di antara keduanya.

"Dia anakku, Mom. Tidak perlu tes DNA untuk melihat bahwa dia adalah cucu kalian. Lihatlah wajahnya baik-baik," ujar Everest tenang.

Stefhanie, adik Everest yang sejak tadi hanya menyimak di sudut ruangan, mendekat dan melihat foto itu. Matanya membelalak. "Tunggu... Everest, berarti malam wisuda itu... kau menidurinya?"

Everest menoleh ke arah adiknya, lalu kembali menatap orang tuanya. "Kau ingat malam itu, Stef? Aku kembali dari London tanpa mengabari siapa pun, bahkan Mommy dan Daddy tidak tahu aku mendarat di kota ini malam itu. Aku hanya ingin menemuinya untuk terakhir kali sebelum aku benar-benar menyerah. Malam itu juga aku kembali ke London. Dan malam itu... menghasilkan Liam."

Ruangan itu mendadak senyap. Nyonya Cavanaught menutup mulutnya dengan tangan, terkejut bukan main. "Jadi... kau melakukan itu dan langsung pergi? Kau membiarkan cucuku lahir di tengah keluarga Mettond dan mendapatkan julukan anak haram? Oh Tuhan, kenapa putraku bisa begitu licik?"

Tuan Cavanaught berdehem, kemarahannya sedikit mereda, digantikan oleh pemikiran logis seorang pebisnis. "Itu bukan licik, itu taktik bisnis untuk mengamankan aset," gumamnya, meski matanya masih menyiratkan keterkejutan.

"Aku bahkan tidak tahu kalau malam itu akan menghasilkan Liam, Mom," Everest membela diri, suaranya kini terdengar lebih manusiawi. "Rasa marah dan putus asa saat mendengar dia menerima lamaran Adrian membuatku melakukan hal nekat itu. Aku ingin dia selalu mengingatku, tapi aku tidak pernah menduga dia akan hamil secepat itu."

Everest menarik napas panjang. "Selama ini aku mencoba melupakannya, sampai akhirnya rumor tentang bayi Adrian yang sama sekali tidak mirip dengannya mulai sampai ke telingaku di London. Itulah yang menyadarkanku. Kalo Liam... mungkin adalah putraku. Dan saat aku melihatnya langsung kemarin, aku tahu dugaanku seribu persen benar."

Everest menatap orang tuanya dengan tegas. "Keluarga Mettond telah membuang permata yang paling berharga. Mereka memberikan jalan bagiku untuk mengambil kembali apa yang memang menjadi milikku sejak awal. Jika kalian tidak ingin mengakui Liam, maka aku akan membawa Liam dan Catherina pergi dari sini dan membangun dinasti sendiri. Tapi jika kalian menginginkan pewaris Cavanaught yang sesungguhnya... maka terimalah mereka."

Nyonya Cavanaught menatap foto di ponsel Everest sekali lagi. Rasa rindu pada cucu pertama yang tidak pernah ia sangka keberadaannya mulai meluluhkan hatinya. "Bawa dia kemari, Everest. Bawa Catherina dan cucuku. Mommy ingin melihat sendiri apakah dia benar-benar memiliki mata nakalmu."

Everest tersenyum puas. "Dia akan datang, Mom. Tapi jangan pernah sebut dia anak adrian di depanku, atau kalian akan kehilangan aku selamanya."

Malam itu, rahasia gelap yang tersimpan selama ini akhirnya terungkap di balik dinding mansion Cavanaught. Everest telah memenangkan satu pertempuran besar—restu keluarganya. Kini, ia hanya perlu memastikan bahwa dunia tahu bahwa Liam bukan sekadar "anak perselingkuhan", melainkan pangeran mahkota dari kerajaan bisnis paling berpengaruh di negeri ini. Dan bagi Adrian Mettond, badai yang sesungguhnya baru saja akan dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!