"Nyaris Jadi Kita" mengisahkan transformasi emosional dan profesional Arelia dari seorang wanita yang hanya dianggap sebagai "tempat pulang" bagi masa lalunya, menjadi "Arsitek Takdir" yang menyelamatkan dinasti korporat Adhitama Group di tengah kiamat finansial global. Melalui perjalanan penuh intrik dari Jakarta hingga London, Arelia berhasil menepis bayang-bayang pengkhianatan dan manipulasi pasar untuk membangun kedaulatan energinya sendiri, hingga akhirnya ia menyadari bahwa tujuan hidup yang paling agung bukanlah untuk bersandar pada pria mana pun, melainkan untuk menjadi muara bagi kebahagiaan dan harga dirinya yang mandiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Jeda
Pagi hari di Jakarta tidak pernah memberikan ampun bagi mereka yang patah hati. Suara alarm dari ponselku berbunyi tepat pukul lima tiga puluh, memecah kesunyian unit apartemenku yang biasanya terasa menenangkan, namun pagi ini terasa begitu dingin. Aku menatap langit-langit kamar selama beberapa menit, membiarkan ingatan semalam merembes masuk ke dalam kesadaranku seperti noda tinta di atas kertas putih.
Kaivan pergi semalam. Ia pergi dengan kebohongan yang bahkan tidak ia usahakan agar terdengar masuk akal.
Aku memaksakan diri untuk bangun. Ritual pagiku berjalan secara mekanis; menyeduh teh melati tanpa gula, mandi dengan air dingin yang sanggup membuat kulitku mati rasa, dan memulaskan riasan yang sedikit lebih tebal dari biasanya. Aku butuh topeng ini. Aku butuh dunia melihat Arelia yang tajam dan presisi, bukan Arelia yang baru saja menyadari bahwa tujuh tahun hidupnya hanyalah sebuah penantian panjang tanpa garis finis.
Ponselku bergetar di atas meja rias. Satu pesan WhatsApp masuk.
Kaivan: "Rel, maaf ya semalam. Kakakku rewel banget minta ditemani makan subuh tadi. Aku sudah di lobi kantor, aku pesankan kopi kesukaanmu. Jangan telat, hari ini kita ada rapat besar sama Pak Dimas."
Aku menatap layar itu dengan tatapan kosong. Kakakku rewel banget. Jika dulu aku akan tersenyum dan memaklumi "kedekatannya" dengan keluarga, kini kalimat itu hanya terdengar seperti penghinaan terhadap kecerdasanku. Ia bahkan tidak menyebutkan nama Nadine. Ia masih mencoba menjaga ilusi ini tetap utuh, seolah aku adalah bagian dari rencananya untuk tetap merasa aman saat ia mencoba mengejar masa lalunya.
Aku tidak membalas. Aku memasukkan ponsel ke dalam tas, menyambar kunci mobil, dan berangkat menembus kemacetan Gatot Subroto yang sudah mulai menggila.
Lantai lima belas masih beraroma pembersih lantai dan kopi saat aku melangkah masuk. Di sudut ruangan, Kaivan sudah duduk di mejanya. Ia terlihat segar dengan kemeja biru muda yang disetrika licin—kemeja yang aku belikan sebagai hadiah ulang tahunnya tahun lalu. Di atas mejaku, sebuah cup kopi dari gerai favorit kami sudah bertengger manis, masih mengeluarkan uap tipis.
"Pagi, Rel!" sapanya ceria. Suaranya memenuhi ruangan yang masih sepi, terdengar begitu akrab hingga membuat dadaku nyeri.
"Pagi," jawabku pendek. Aku duduk dan langsung menyalakan komputer, sengaja menyibukkan diri dengan tumpukan berkas yang sebenarnya sudah kukerjakan semalam.
Kaivan memutar kursinya ke arahku. Ia menyandarkan sikunya di pembatas kubikel kami, menatapku dengan binar mata yang selalu berhasil membuatku luluh. Selama tujuh tahun, tatapan ini adalah rumahku. Namun hari ini, aku merasa seperti tamu asing di rumah sendiri.
"Kamu kurang tidur? Matamu agak sembab," ucapnya lembut. Ia mengulurkan tangan, hendak menyentuh helai rambutku yang terlepas dari kunciran, namun aku refleks menghindar dengan berpura-pura mengambil pulpen yang jatuh.
Gerakanku membuat tangan Kaivan menggantung di udara selama beberapa detik. Ia mengerutkan kening, tampak bingung dengan penolakanku yang tidak biasa.
"Aku cuma capek, Van. Revisi draf semalam lumayan menguras energi," kataku tanpa menatapnya.
"Maaf ya, semalam aku tinggal. Aku janji, makan siang ini aku yang traktir. Kita ke tempat sushi yang baru buka di lantai bawah?" ia mencoba membujuk, suaranya kembali manis.
"Kita lihat nanti. Aku harus selesaikan laporan permodalan ini sebelum jam sepuluh."
Biasanya, Kaivan akan terus mendesak sampai aku mengiyakan. Tapi pagi ini, ia terdistraksi. Ponselnya berbunyi lagi. Ia segera menarik ponsel itu dan mengetik balasan dengan kecepatan yang hanya dimiliki oleh orang yang sedang dilanda antusiasme luar biasa. Senyum yang terbit di bibirnya bukan senyum yang ia berikan padaku. Itu adalah senyum seorang pria yang sedang jatuh cinta kembali.
"Eh, Rel," panggilnya tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Kamu ingat nggak restoran Prancis yang dulu sering didatangi anak-anak angkatan kita? Yang di daerah Menteng itu?"
"Maksudmu Le Jardin?" suaraku terdengar kering.
"Nah, itu! Kayanya minggu depan aku mau ke sana. Menurutmu suasananya masih bagus nggak buat... ya, buat makan malam formal?"
Makan malam formal. Aku tahu maksudnya adalah kencan. Dan aku tahu dia tidak sedang merencanakan itu denganku.
"Masih bagus," jawabku singkat. Aku merasa seolah ada gumpalan batu yang menyumbat tenggorokanku.
Sepanjang pagi itu, aku terjebak dalam ironi yang menyakitkan. Aku adalah analis utamanya, orang yang memastikan setiap langkah profesionalnya tidak bercelah, sementara dia adalah orang yang sedang mempersiapkan langkah pribadinya untuk meninggalkanku. Kami bekerja berdampingan, bahu kami nyaris bersentuhan, namun jarak di antara kami terasa ribuan kilometer.
Maya, sahabatku sekaligus rekan di divisi riset, menghampiri mejaku saat jam makan siang hampir tiba. Ia melirik Kaivan yang sedang asyik menelepon di koridor luar, lalu menatapku dengan pandangan penuh selidik.
"Rel, lu oke?" bisik Maya. Ia meletakkan sebuah majalah bisnis di meja, namun matanya tetap tertuju padaku.
"Aku oke, May. Kenapa?"
"Lu nggak lihat Instagram pagi ini?" Maya mencondongkan tubuhnya. "Si 'Masa Lalu' itu posting foto lagi makan di kafe daerah Senopati. Dan tebak, ada tangan cowok yang kelihatan di pinggir foto. Jam tangannya... mirip banget sama jam tangan yang lu kasih ke Kaivan waktu promosi kemarin."
Aku merasa duniaku seolah berhenti berputar sejenak. Aku meraih gelas air mineral dan meminumnya hingga tandas, berusaha mengusir rasa mual yang mendadak muncul.
"Mungkin cuma kebetulan," gumamku, sebuah pembelaan yang bahkan terdengar bodoh di telingaku sendiri.
"Rel, sampai kapan lu mau jadi 'nyaris'?" Maya menekan suaranya. "Dia menjadikan lu tempat pulang karena lu selalu ada. Lu itu pelabuhan, Rel. Tapi pelabuhan itu tempat buat kapal bersandar sebelum dia pergi lagi ke tengah laut. Lu nggak capek cuma jadi cadangan?"
Aku terdiam. Maya benar. Selama tujuh tahun ini, aku bangga menjadi orang yang paling mengenal Kaivan. Aku tahu kopi kesukaannya, aku tahu ketakutan terbesarnya, aku tahu cara menenangkan amarahnya. Tapi aku lupa satu hal: seseorang bisa mengenalmu dengan sangat baik, namun tetap tidak mencintaimu dengan cara yang sama.
Kaivan kembali masuk ke ruangan dengan wajah yang berseri-seri. Ia menyambar kunci mobilnya.
"Rel, maaf banget! Makan siang sushinya kita tunda besok ya? Kakakku mendadak minta diantar ke dokter, dia sepertinya belum cocok sama cuaca Jakarta," ia bicara dengan nada terburu-buru, bahkan tidak menunggu jawabanku. "Kopinya dihabiskan ya! Dah, Rel!"
Ia melangkah pergi dengan ringan, meninggalkan aroma parfum cendana yang kini terasa seperti racun bagiku.
Aku menatap cup kopi yang kini sudah dingin. Aku mengambil cup itu, berjalan menuju pantri, dan menuangkan isinya ke dalam wastafel. Aku memperhatikan cairan hitam itu mengalir hilang ke dalam lubang pembuangan, persis seperti tujuh tahun waktuku yang kubuang demi pria yang bahkan tidak bisa menyebutkan namaku di hadapan wanita lain.
"Aku bukan pelabuhan, May," bisikku pada kesunyian pantri yang dingin.
"Terus lu apa, Rel?" Maya tiba-tiba sudah berdiri di ambang pintu.
Aku menarik napas panjang, menatap bayangan diriku di cermin pantri. Mataku yang biasanya penuh dengan binar harapan, kini terlihat lelah. Lelah yang bukan karena pekerjaan, tapi lelah karena terus-menerus membohongi diri sendiri.
"Aku adalah rumah yang sudah terlalu lama dibiarkan terbuka, sampai pemiliknya lupa kalau rumah juga bisa dikunci dari dalam," jawabku.
Malam itu, aku tidak menunggu Kaivan untuk pulang bersama. Aku memesan taksi online dan pulang ke apartemenku sendiri. Di sepanjang perjalanan, aku menatap gedung-gedung Jakarta yang menjulang tinggi, menyadari bahwa kota ini terlalu besar untuk sekadar meratapi satu pria.
Sesampainya di rumah, aku tidak menyalakan lampu. Aku hanya duduk di balkon, menatap kegelapan. Ponselku bergetar berkali-kali.
Kaivan: "Rel, kamu sudah pulang? Tadi aku ke mejamu kamu sudah nggak ada. Aku tadi ke dokter lama banget. Kamu marah ya?"
Kaivan: "Rel, angkat teleponku dong."
Kaivan: "Jangan begini, aku jadi merasa bersalah."
Dia merasa bersalah. Tapi dia tidak berhenti.
Aku mematikan ponselku sepenuhnya. Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, aku memilih untuk tidak memberikan "kepulangan" yang nyaman baginya. Malam ini, aku ingin memberikan jeda. Jeda bagi hatiku untuk bernapas, dan jeda bagi hidupku untuk menyadari bahwa menjadi "nyaris" adalah bentuk siksaan yang paling kejam.
Namaku Arelia. Dan malam ini, aku baru saja mengunci pintu rumahku dari dalam. Kaivan mungkin punya kuncinya, tapi aku sudah memasang grendel yang tidak akan bisa ia buka hanya dengan kata-kata manis.
Pertempuran sesungguhnya baru saja dimulai.
tarik nafas dulu Thor,terkadang kita harus lebih gila untuk menghadapi kegilaan org lain