NovelToon NovelToon
Mr. Langit Tutor Nakal Ku

Mr. Langit Tutor Nakal Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romansa Fantasi / Bad Boy
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Jee Jee

cinta pertama jaman aku SMP sulit sekali aku lupakan... kenangan manis nya masih sama dan luka semasa SMA juga yang sulit aku lupa.. hingga suatu hari sahabat terdekat yang dari lahir udah barengan sama aku! kenalkan aku sama dia.. Tutor nakal ku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29

Matahari baru saja naik, tapi Langit sudah tidak sabar untuk segera mengeluarkan Jelita dari kosannya. Perasaan tidak enak yang ia rasakan semalam bukannya hilang, malah makin menjadi-jadi. Baginya, membiarkan Jelita kuliah di gedungnya sendiri tanpa pengawasannya hari ini adalah ide yang sangat buruk.

"Lang, gue ada kelas jam 10! Kenapa lo malah bawa gue ke kampus lo sih?" protes Jelita saat Porsche hitam Langit malah belok ke arah fakultas teknik, bukannya fakultas ekonomi.

Langit hanya melirik lewat kacamata hitamnya dengan seringai miring. "Hari ini kelas lo ditiadakan, Sayang. Gue udah cek jadwal lo lewat Felicia."

Jelita melotot. "Langit! Lo bener-bener ya—"

"Gue nggak tenang, Jee," potong Langit, suaranya mendadak serius saat memarkir mobilnya di area parkir khusus teknik. "Hari ini lo ikut gue. Lo ngerjain tugas di perpus bareng gue, Windi, sama Haikel. Pokoknya lo harus ada di radius yang bisa gue liat setiap detik."

Jelita menghela napas panjang. Posesif Langit hari ini benar-benar di level akuisisi total. Tapi di satu sisi, ada rasa lega yang menyelinap. Dengan berada di kampus Langit, dia terhindar dari kemungkinan bertemu Yayan yang kemarin bener-bener nekat nyekap di mobil mewahnya itu

Sesampainya di perpustakaan, Windi dan Haikel sudah nangkring dengan tumpukan buku yang tingginya hampir menutupi wajah mereka. Begitu melihat Langit datang menggandeng Jelita dengan wajah "jangan-sentuh-milik-gue", Windi langsung nyengir lebar.

"Wih, ada yang bawa asupan vitamin langsung ke TKP nih," ledek Windi sambil menggeser kursinya.

"Diem lo, Win. Bantuin gue jagain Jelita. Gue mau ke meja referensi bentar," perintah Langit. Dia mendudukkan Jelita di antara dirinya dan Windi, benar-benar dikunci dari segala sisi.

Haikel geleng-geleng kepala. "Lang, lo itu mau ngerjain tugas akhir apa mau jaga tahanan politik sih? Segitunya banget."

"Dua-duanya," jawab Langit singkat sebelum berjalan pergi.

Windi menyenggol lengan Jelita begitu Langit menjauh. "Jee, lo jujur sama gue. Semalem si Langit nggak aneh-aneh kan? Muka lo masih agak pucat, tapi bibir lo... ehem, kayaknya asupannya kelebihan ya?"

Jelita langsung menutupi wajahnya dengan buku. "Windi! Lo bisa diem nggak?!"

"Tapi serius, Jee," suara Windi merendah. "Gue seneng Langit bawa lo ke sini. setidak nya gue gak perlu nyariin lo ke kosan lo saking kangen nya gue"

Jelita nyengir aja denger omongan windi. Dia menatap layar laptopnya dan kembali fokus. Dia merasa aman di sini, di markas Langit, dikelilingi oleh sahabat-sahabatnya.

Dua jam berlalu dengan tenang. Langit fokus dengan skripsinya, sesekali tangannya di bawah meja meraba lutut Jelita atau sekadar menggenggam jemari gadis itu untuk memastikan Jelita masih di sana. Jelita sendiri sibuk merangkum jurnal akuntansi, merasa nyaman dengan keheningan yang diciptakan Langit.

"Gue mau ke toilet bentar," pamit Jelita pelan.

Langit langsung mendongak. "Gue anter sampe depan pintu."

"Lang! Ini perpus, toiletnya cuma dekat dari sini!" Jelita mendengus, merasa Langit terlalu berlebihan.

"Satu meter pun gue nggak rela lo sendirian hari ini," balas Langit tetap bangun dari kursinya. Dia benar-benar mengantar Jelita sampai depan pintu toilet mahasiswi dan berdiri bersandar di tembok depan pintu masuk dengan gaya bodyguard elite.

Saat Jelita keluar, Langit langsung merangkul pundaknya lagi. "Udah? Ayo balik ke meja."

Begitu Jelita duduk kembali di kursinya, suasana perpustakaan Teknik yang kaku seolah makin menekan. Langit tidak melepaskan tangan Jelita, ia justru menarik kursi gadis itu hingga benar-benar menempel dengan kursinya. Windi dan Haikel sudah kembali tenggelam dalam tumpukan buku, menyisakan Jelita yang harus berjuang membuka buku akuntansinya dengan satu tangan yang bebas.

Di saat itulah, dua mahasiswi cantik dengan gaya yang sangat feminin dan elegan mendekat. Mereka adalah Serena dan Mira, teman sekelas Langit yang terkenal punya image lembut dan pintar. Mereka berjalan pelan, membawa beberapa jurnal, dan berhenti tepat di depan meja mereka.

"Hai, Lang. Hai, Win, Kel. Lagi fokus banget ya?" sapa Serena dengan suara yang sangat alus, seolah tidak ingin merusak keheningan perpustakaan.

Langit tidak mendongak. Matanya tetap terkunci pada layar laptop yang penuh dengan kodingan rumit. Ia hanya bergumam pelan sebagai jawaban.

Mira ikut menimpali sambil menaruh jurnalnya di atas meja, matanya sesekali melirik Jelita yang sedang sibuk menulis angka-angka neraca. "Ini loh, Lang... kita berdua agak bingung sama referensi yang dikasih Pak Heru kemarin. Bagian analisis datanya kayaknya ada yang beda sama jurnal internasional yang lo pegang. Boleh minta tolong tunjukkin bagian mana yang lo pake?"

Langit masih diam. Jemarinya masih lincah menari di atas keyboard. Namun, tiba-tiba, tangan kiri Langit yang tadinya diam di atas meja bergerak. Dengan gerakan yang sangat santai! ia meraih bahu Jelita dan menarik gadis itu agar bersandar sepenuhnya di bahunya.

Jelita tersentak, tangannya yang sedang memegang pulpen sempat terhenti. Ia menoleh ke arah Langit, tapi pria itu bahkan tidak meliriknya. Langit tetap fokus pada layar laptopnya, wajahnya datar, namun suaranya terdengar sangat lembut dan berat saat ia berbisik tepat di samping kepala Jelita.

"Capek ya ngerjain angka terus? Nyender dulu sini, Jee. Istirahat lima menit," gumam Langit.

Jelita tertegun. Pria itu seolah ingin menunjukkan pada siapa pun yang ada di meja itu bahwa dunia intinya saat ini adalah Jelita, bahkan di tengah kesibukan skripsinya.

Serena dan Mira membeku di tempat. Senyum alus di wajah Serena sedikit goyah. Ia tidak menyangka Langit akan melakukan tindakan seintim itu secara natural di depan mereka, tanpa merasa perlu menjelaskan siapa gadis yang sedang bersandar di bahunya itu.

"Eh... sori, Lang. Kayaknya kita ganggu ya?" ucap Serena, suaranya tetap diusahakan terdengar manis meskipun ada nada getir di sana. "Tadi kita cuma mau nanya referensi kok. Kalau lo lagi sibuk nemenin... eh, siapa namanya tadi? Kita bisa tanya Haikel aja."

Langit akhirnya berhenti mengetik sejenak, tapi ia tetap tidak melepaskan sandaran kepala Jelita di bahunya. Ia melirik Serena dan Mira sekilas dengan tatapan yang dingin.

"Tanya Haikel atau Windi. Gue lagi nggak bisa" jawab Langit singkat, lalu kembali fokus pada layarnya.

Mira mencoba mencairkan suasana dengan tawa kecil yang terdengar "prihatin". "Wah, posesif banget ya sekarang. Kasihan loh ceweknya kalau harus nyender terus gitu, nanti lehernya pegal. Emang dia jurusan apa sih, Lang? Kok rajin banget ngerjain tabel-tabel gitu di perpus Teknik?"

Langit menyeringai tipis, ia tidak menjawab pertanyaan soal jurusan Jelita. langit justru meraih tangan Jelita yang ada di atas meja, menggenggamnya erat, lalu membawanya ke bibirnya untuk dikecup singkat—masih tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya.

"Nggak akan pegal. Bahu gue udah didesain khusus buat dia. Udah ya, gue mau lanjut. Kel, urusin nih temen sekelas lo," perintah Langit pada Haikel.

Windi yang sejak tadi menonton hanya bisa menahan tawa sambil menutup mulutnya dengan jurnal. Wajah Serena dan Mira mendadak pucat pasi. Mereka merasa seperti figuran yang sedang menonton adegan utama sebuah film romantis yang tidak diinginkan. Mereka tidak punya pilihan selain bergeser ke arah Haikel dengan harga diri yang sedikit tercoreng.

"Gila... si Langit bener-bener ya. Alus banget cara ngusirnya," bisik Windi begitu Serena dan Mira mulai sibuk bertanya pada Haikel di ujung meja.

Jelita mencoba bangkit dari bahu Langit karena merasa tidak enak ditatap banyak orang, tapi tangan Langit di bahunya justru semakin menekan lembut. "Diem, Jee. Nyender aja. Gue butuh lo biar otak gue nggak panas," bisik Langit lagi.

Jelita hanya bisa pasrah. Tembok betonnya mencair seketika di bawah perlakuan Langit yang sangat tidak terduga ini. Ia melanjutkan menulis angkanya dengan posisi kepala yang masih menempel di bahu Langit. Meskipun hatinya merasa menang dari "ular-ular" Teknik tadi, .

1
D_wiwied
andai kamu tau siapa yg dikejar yayan, apa msh bisa ketawa kamu Lang 😆
jhiee: biar gelut aja sekalian😁
total 1 replies
D_wiwied
agak aneh sih menurutku kenapa ga ada yg ngeh kalo dua org ini saudara kembar, dan jelita jg bukannya dia tau klo Langit punya sodara kembar kenapa ga mikir sampe kesana
jhiee: karena langit gak pernyataan bilang punya kembaran dia cuma bilang punya abang😁
total 1 replies
Vike Kusumaningrum 💜
Pusing otornya, mau ngasih Jelita ke siapa🤣🤣
D_wiwied
bener2 tutor sesat kamu Lang, mana muridnya nurut parah lg 😆😆
D_wiwied: bangetttt 😆
total 2 replies
falea sezi
lanjutt
falea sezi
jelita jangan maruk ya loe
jhiee: jelita gak maruk kak😭 cuma si yayan aja yang susah move on😭
total 1 replies
falea sezi
aduh jee lom nikah kok belah duren🤣
jhiee: 🤣🤣nakal kan beb🤣
total 1 replies
Vike Kusumaningrum 💜
Bingung mau pro ke siapa 🙄🥺
jhiee: aku juga bingung☺ mau pilih langit tapi kasihan yayan😭 mau pilih yayan tapi effort langit gede😭😭
total 1 replies
Vike Kusumaningrum 💜
Gimana ceritanya itu, maksapun kamu udah telat Yan, Langit udah jauuuuh merubah Jelita, bahkan udah icip2 jg. lah kamu ???

susah jadi dirimu Jee. mana sodaraan pula. 🤦‍♀️
jhiee: kedua nya boleh gak beb😭😭😭 soalnya aku aja dilema.. mau milih siapa🤣🤣
total 1 replies
Desy Bengkulu
akan kan mereka bertemu ??

hohoho jawbanya ada di tangan kk author tercinta ini 🤣🤣🤣
jhiee: hahaha rahasia🤣
total 1 replies
Desy Bengkulu
🤣🤣🤣🤣masih jadi misteri , kucing agen rahasia 🤣🤣🤣
Desy Bengkulu
ngakak aku baca nya kak dari awal sampek yg ini , makan kurma si langit ngajarin yg enggak² berjung uji nyali kesabaran , tapi bagus sih, si langit bisa jaga kehormatan jelita
jhiee: sebenarnya ini novel harus di kasih label 21+ 🤣 karena ini gendre nya agak beda dari yang lain😭kalau di novel lain lebih mementingkan etika kalau di sini trabas aja🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!