NovelToon NovelToon
10 Cara Melihat Hantu

10 Cara Melihat Hantu

Status: tamat
Genre:Horor / Misteri / Hantu / Tamat
Popularitas:908
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

10 Cara Melihat Hantu adalah kisah misteri yang menggabungkan rasa penasaran manusia terhadap dunia gaib dengan konsekuensi menakutkan yang tak terduga. Cerita ini berpusat pada seorang remaja bernama Alin yang menemukan sebuah buku tua berdebu berjudul sama—10 Cara Melihat Hantu—di sudut perpustakaan yang hampir terlupakan.
Awalnya, buku itu tampak seperti panduan biasa yang berisi sepuluh metode berbeda untuk membuka “mata batin” dan melihat makhluk tak kasatmata. Mulai dari ritual sederhana seperti menatap cermin di tengah malam, hingga cara yang lebih ekstrem seperti mengunjungi tempat angker seorang diri. Didorong oleh rasa ingin tahu, Alin mencoba satu per satu cara tersebut, tanpa menyadari bahwa setiap langkah yang ia ambil semakin menarik dirinya lebih dalam ke dunia yang seharusnya tidak ia sentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Saat Aku Tidak Berkedip

Pagi datang.

Atau setidaknya… terlihat seperti pagi.

Cahaya masuk dari jendela.

Hangat. Normal. Tenang.

Tapi Alya tahu—

Sesuatu tetap salah.

Ia duduk di tepi tempat tidur, menatap lantai tanpa benar-benar melihat apa pun.

Ia sudah mencoba meyakinkan dirinya.

Semua itu… sudah lewat.

Ia sudah keluar.

Ia masih dirinya sendiri.

Namun—

Perasaan itu tidak hilang.

Perasaan bahwa ada sesuatu… yang ikut keluar bersamanya.

Dan sekarang—

Ada di dalam dirinya.

Atau… sangat dekat.

Alya menarik napas panjang.

“Fokus…” bisiknya pelan.

Ia berdiri.

Langkahnya pelan menuju kamar mandi.

Setiap langkah terasa… terlalu jelas.

Bunyi kakinya di lantai.

Suara napasnya.

Detak jantungnya.

Semua terdengar seperti diperbesar.

Seperti ada sesuatu yang ikut mendengarkan.

Ia membuka pintu kamar mandi.

Cahaya putih langsung menyambut.

Terang.

Menyilaukan.

Normal.

Alya menatap cermin di atas wastafel.

Pantulannya ada di sana.

Utuh.

Tidak ada yang aneh.

Ia menghela napas lega.

“Lihat…” bisiknya ke dirinya sendiri.

“Semua baik-baik aja.”

Ia menyalakan air.

Suara keran mengalir.

Stabil.

Menenangkan.

Alya menunduk, mencuci wajahnya.

Air dingin menyentuh kulitnya.

Nyata.

Menyadarkan.

Ia menutup mata sejenak.

Mencoba menghapus semua sisa ketakutan.

Lalu—

Ia membuka mata.

Dan menatap kembali ke cermin.

Pantulannya…

Masih ada.

Namun—

Ada sesuatu yang berubah.

Sangat kecil.

Sangat halus.

Namun cukup.

Pantulan itu…

Tidak berkedip.

Alya membeku.

Ia menatap matanya sendiri.

Tidak berkedip.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Matanya mulai perih.

Namun pantulan itu—

Tetap tidak berkedip.

“…”

Alya perlahan mengedipkan matanya.

Refleksi itu mengikuti.

Namun—

Sedikit terlambat.

Sangat sedikit.

Tapi cukup.

Cukup untuk membuat napasnya terhenti.

“Aku… cuma salah lihat…”

Ia mengangkat tangannya.

Pantulan itu mengikuti.

Normal.

Ia memiringkan kepala.

Pantulan itu mengikuti.

Normal.

Semua terlihat normal.

Terlalu normal.

Alya tertawa kecil.

Kaku.

“Lihat? Nggak ada apa-apa…”

Namun saat ia hendak berbalik—

Pantulan itu…

Masih menatapnya.

Tidak mengikuti.

Alya berhenti.

Pelan.

Ia menoleh lagi.

Dan kali ini—

Pantulan itu sudah kembali normal.

Seolah tidak terjadi apa-apa.

Alya langsung keluar dari kamar mandi.

Ia tidak ingin melihat lagi.

Tidak sekarang.

Tidak hari ini.

Siang hari terasa panjang.

Terlalu panjang.

Alya mencoba melakukan hal biasa.

Makan.

Duduk.

Membuka ponsel.

Namun semua terasa… jauh.

Seperti ia melihat hidupnya dari luar.

Seperti ada jarak tipis antara dirinya dan dunia.

Dan jarak itu—

Semakin terasa.

Ia duduk di ruang tamu.

Sunyi.

Tidak ada suara TV.

Tidak ada musik.

Hanya suara jam.

Tik.

Tok.

Tik.

Tok.

Normal.

Namun—

Alya mulai sadar.

Suara itu…

Tidak dari jam.

Ia menoleh ke dinding.

Jam di sana diam.

Jarumnya tidak bergerak.

Namun suara—

Masih ada.

Tik.

Tok.

Tik.

Tok.

Alya menelan ludah.

Perlahan…

Ia menunduk.

Dan melihat—

Tangannya.

Jarinya.

Bergerak.

Sedikit.

Seperti mengetuk sesuatu yang tidak ada.

Tik.

Tok.

Tik.

Tok.

Ia langsung menarik tangannya.

Napasnya memburu.

“Bukan aku…” bisiknya cepat.

Namun jari itu—

Masih bergerak.

Sendiri.

Pelan.

Berulang.

Seperti… mengikuti ritme sesuatu.

Yang tidak ia dengar.

Yang tidak ia kontrol.

Alya berdiri cepat.

Kursi bergeser keras.

Ia mundur.

Menatap tangannya sendiri.

Seperti melihat sesuatu yang asing.

“Berhenti…”

Namun jari itu tidak berhenti.

Justru—

Lebih cepat.

TikTokTikTokTikTok—

Lalu—

Mendadak berhenti.

Sunyi.

Total.

Alya terengah-engah.

Tangannya kembali diam.

Normal.

Seolah tidak terjadi apa-apa.

Namun jantungnya—

Masih kacau.

Malam datang lebih cepat dari biasanya.

Atau mungkin…

Ia tidak sadar waktu berjalan.

Alya duduk di kamar.

Lampu menyala.

Namun ia tetap merasa gelap.

Ia menatap cermin lagi.

Tidak bisa menahan diri.

Pantulannya ada di sana.

Normal.

Berkedip.

Bernapas.

Semua sesuai.

Namun—

Ia tahu.

Itu hanya masalah waktu.

Alya berdiri.

Mendekat.

Sangat dekat.

Hampir menyentuh kaca.

Ia menatap matanya sendiri.

Dalam.

“Kalau kamu di sana…” bisiknya.

“Keluar aja.”

Sunyi.

Tidak ada jawaban.

Namun—

Perlahan…

Pantulan itu tersenyum.

Lebih dulu.

Alya tidak.

Namun pantulan itu—

Tersenyum.

Pelan.

Lebar.

Sama seperti sebelumnya.

Alya mundur cepat.

Jantungnya hampir meledak.

“Udah mulai…” bisiknya.

Pantulan itu tidak berhenti.

Ia tetap tersenyum.

Menatap Alya.

Lalu—

Ia mengangkat tangannya.

Namun—

Alya tidak.

Pantulan itu melambaikan tangan.

Pelan.

Seolah menyapa.

“Alya…”

Suara itu keluar dari dalam kepalanya.

Bukan dari luar.

Bukan dari cermin.

Dari dalam.

“Sekarang aku bisa bergerak lebih bebas…”

Alya menutup telinganya.

“Diam…”

Namun suara itu tetap ada.

“Tubuh ini… enak juga ya…”

Pantulan itu mendekat.

Lebih dekat.

Seolah menempel ke kaca dari dalam.

“Aku bisa lihat…”

“Aku bisa dengar…”

“Aku bisa… ngerasain…”

Nada suaranya berubah.

Lebih pelan.

Lebih dalam.

“Aku bisa… jadi kamu…”

Alya menggeleng keras.

“Enggak! Ini tubuhku!”

Pantulan itu tertawa.

Dan untuk pertama kalinya—

Suaranya keluar.

Dari cermin.

Bukan dari dalam kepala.

Namun—

Langsung.

Nyata.

“Belum lama lagi…”

Cahaya lampu mulai redup.

Pelan.

Berkedip.

Sekali.

Dua kali.

Lalu—

Padam.

Gelap.

Namun kali ini—

Alya masih bisa melihat.

Siluet dirinya.

Di cermin.

Namun—

Tidak bergerak.

Tidak berkedip.

Tidak bernapas.

Seperti patung.

Dan di belakangnya—

Ada sesuatu.

Berdiri.

Tinggi.

Kurus.

Tidak memiliki wajah.

Namun—

Memegang bahunya.

Alya langsung berbalik.

Tidak ada siapa-siapa.

Ia kembali ke cermin—

Sosok itu—

Lebih dekat.

Tangannya kini di leher Alya.

Di pantulan.

Namun—

Alya tidak merasakannya.

Belum.

“Dia juga nunggu…” suara itu berbisik.

“Yang dari dalam…”

“Yang dari luar…”

“Yang kamu buka…”

“Yang kamu gak pernah tutup…”

Alya mulai sulit bernapas.

Bukan karena dicekik.

Namun karena—

Rasa.

Rasa bahwa sesuatu…

Sedang masuk.

Perlahan.

Mengisi ruang kosong.

Di dalam dirinya.

“Aku gak butuh kamu lagi…” suara itu berkata.

“Cukup tubuhnya.”

Pantulan itu mulai berjalan.

Keluar dari cermin.

Perlahan.

Seperti sebelumnya.

Namun kali ini—

Lebih mudah.

Lebih cepat.

Alya mundur.

Namun tubuhnya—

Tidak merespon.

Kakinya tidak bergerak.

Tangannya tidak bisa diangkat.

Ia hanya bisa melihat.

Saat—

Dirinya sendiri…

Keluar.

Sepenuhnya.

Dan berdiri di depannya.

Mereka berhadapan.

Sama.

Persis sama.

Namun—

Satu hidup.

Satu tidak.

“Akhirnya…” katanya.

Nada suaranya ringan.

Hampir bahagia.

Alya mencoba bicara.

Namun suaranya tidak keluar.

Tubuhnya… bukan miliknya lagi.

Sosok itu mendekat.

Menyentuh wajah Alya.

Lembut.

Hangat.

“Tenang aja…” katanya.

“Aku bakal jaga semuanya.”

Ia tersenyum.

Lalu—

Mendorong.

Dan dalam sekejap—

Dunia berputar.

Gelap.

Dingin.

Kosong.

Alya membuka mata.

Namun—

Ia tidak di kamarnya.

Ia di dalam—

Cermin.

Ia bisa melihat keluar.

Melihat kamarnya.

Melihat—

Dirinya.

Yang sekarang berjalan santai.

Mengambil napas.

Menggerakkan tubuh.

Seolah tidak terjadi apa-apa.

“Alya…” suara itu terdengar.

Dari belakangnya.

Ia menoleh.

Dan di dalam dunia cermin itu—

Ia tidak sendirian.

Bayangan-bayangan itu…

Semua ada di sana.

Menatapnya.

Tersenyum.

Menunggu.

“Selamat datang…” salah satu dari mereka berkata.

“Akhirnya kamu di sini…”

Alya mundur.

Namun tidak ada tempat.

Tidak ada batas.

Hanya ruang yang tidak berujung.

Dan di luar—

Dirinya.

Yang sekarang bukan dirinya—

Menatap cermin.

Dan tersenyum.

Lampu menyala kembali.

Dan untuk pertama kalinya—

Yang di luar…

Bukan Alya lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!