"Baiklah, kalau kamu memang tetap ingin mempertahankan janin itu," ucap Bu Esta dengan tatapan tertuju pada perut Raline yang masih rata. Suaranya terdengar tegas dan tajam, membuat Raline menunduk takut.
"Kai akan menikahi kamu, tapi..." kalimatnya terjeda sejenak, sehingga Raline dan orang tuanya menatap wanita itu, menunggu kelanjutannya. "Setelah anak itu lahir, saya akan mengambilnya dan memberikannya pada orang lain. Kamu boleh terus melanjutkan hidupmu, dan Kai... dia akan melanjutkan studi ke Inggris tanpa harus mempertahankan pernikahannya denganmu."
*****
Cek visual karakternya di Ig @lisdaarustandy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisdaa Rustandy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekecewaan Farhan
Malam sudah sangat larut.
Suasana rumah Raline tampak sepi, setelah sebelumnya cukup berisik dengan perdebatan antara dua keluarga.
Raline masih terjaga di kamarnya. Matanya bahkan tak bisa terpejam. Pikirannya masih bertumpu pada momen sebelumnya di ruang tamu.
Raline tak menyangka, pada akhirnya ia benar-benar harus menikah dengan Kaisar. Sesuatu yang bahkan tak pernah ia bayangkan akan terjadi setelah Kaisar menolak bertanggung jawab.
"Ya Allah... aku harap ini keputusan yang benar," ucapnya. "Aku harap ini yang terbaik untuk semuanya."
Ia menarik selimut hingga ke dada, memejamkan mata, berusaha untuk tidur.
Tapi baru saja matanya terpejam, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Raline sontak membuka matanya kembali dan menoleh ke arah pintu kamar.
Seorang pria bertubuh tinggi dengan kacamata bertengger di pangkal hidungnya itu langsung tersenyum pada Raline. Seseorang yang begitu Raline rindukan, dan selalu ia tunggu kedatangannya setiap bulan.
"B-bang Farhan?" gumam Raline, saat sadar yang kini ada di kamarnya adalah Farhan, sang kakak tercinta.
"Hei, botol Yakult!" sapa Farhan sambil tersenyum lebar, menghampiri ranjang adiknya.
Panggilan "botol Yakult" adalah panggilan sayangnya pada Raline. Sebab, adiknya begitu pendek dan mungil, persis botol Yakult.
"Yakin nih udah mau tidur?" tanya Farhan.
"Padahal Abang sengaja langsung masuk kamar kamu biar bisa langsung kasih ini."
Farhan memberikan sesuatu pada adiknya itu. Sebuah paper bag berisi sebuah kotak berukuran sedang.
Raline segera bangkit. Menerima kotak itu dengan perasaan campur aduk.
Kehadiran kakaknya bukan memberikan ketenangan, tapi justru membuatnya semakin merasa terbebani karena tak tahu harus seperti apa menjelaskan pada kakaknya akan semua yang terjadi.
Sejak orang tuanya tahu ia hamil, mereka memang meminta Raline untuk tak memberitahu Farhan lebih dulu tentang itu. Mereka tak mau hal itu mengganggu konsentrasinya, apalagi hal semacam itu bisa membuat Farhan shock karena jelas ia tak akan terima.
"Dek?" tanya Farhan, sadar adiknya tak seperti biasa yang ceria setiap kali ia pulang.
Raline tersentak sedikit, menatap kakaknya yang kini duduk di tepi ranjang.
"Kamu kenapa?" tanya Farhan lagi. Mulai merasa curiga pada adiknya.
"Ini Abang beliin sepatu yang kamu mau waktu itu," kata Farhan sembari mengeluarkan kotak sepatu dari dalam tas dan membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat sepasang sepatu warna putih dengan list pink di bagian samping. Tampak manis dan girly.
Itu adalah sepatu yang Raline minta bulan lalu sebagai hadiah ulang tahunnya. Farhan berjanji akan membelikan sepatu itu jika gajinya telah turun. dan hari ini, Farhan benar-benar membelikan sepatu itu dengan perasaan puas dan penuh suka cita.
Ia yakin, adiknya akan bahagia menerima hadiah darinya.
Tapi tanpa di duga, adiknya justru sama sekali tidak memberikan reaksi senang atau bahagia mendapatkan hadiah itu darinya. Jelas saja itu membuat Farhan curiga adiknya sedang tak baik-baik saja. Apalagi Raline juga terlihat sembab, seperti habis menangis.
"Dek, ada apa?" tanyanya lagi.
"Kenapa jadi diam kayak gini?"
Raline tidak menjawab. Ia semakin menundukkan kepala, menyembunyikan wajahnya yang sudah basah kuyup oleh air mata. Jari-jarinya meremas pinggiran selimut dengan kencang, sementara bibir bawahnya digigit kuat-kuat hingga memucat, mencoba menahan isak yang nyaris meledak. Ia tak tahu harus memulai dari mana. Bagaimana cara menjelaskan kehancuran ini pada Farhan? Kakaknya itu adalah pelindungnya, dan Raline tahu pasti, setelah kata-kata itu terucap, dunia Farhan akan ikut runtuh bersamanya.
Di ambang pintu, Pak Umar dan Bu Dinar berdiri mematung. Napas mereka memburu. Mereka baru saja menyadari bahwa putra sulung mereka langsung masuk ke kamar adiknya begitu tiba di rumah. Sehingga mereka memutuskan untuk segera menyusul.
Niat hati ingin mencegah, namun langkah mereka kalah cepat oleh takdir. Kini, mereka hanya bisa menatap punggung Farhan yang duduk di depan Raline, menanti jawaban yang akan menghancurkan hati siapa pun yang mendengarnya.
"Ada apa, Lin?"
Sekali lagi Farhan bertanya. Suaranya yang tadi ceria kini berubah berat, sarat akan kecurigaan. Namun, Raline tetap bungkam. Keheningan di kamar itu terasa begitu menyesakkan, hanya menyisakan suara isak tangis Raline yang tertahan.
Merasa ada yang tidak beres, Farhan perlahan memutar tubuhnya. Ia menoleh ke arah ayah dan ibunya yang berdiri kaku di dekat pintu. Tatapannya tajam, menuntut penjelasan atas atmosfer kelam yang menyelimuti rumah ini.
"Ada apa ini, Bu, Pak? Kenapa Raline seperti ini? Kenapa dia menangis?" cecar Farhan.
Pak Umar terdiam seribu bahasa. Ia memilih menunduk dalam, menghindari tatapan putra sulungnya yang penuh selidik. Ketidakmampuan sang ayah untuk menatap matanya membuat firasat buruk di dada Farhan semakin menguat.
Farhan bangkit dari tepi ranjang. Langkahnya terasa berat saat ia menghampiri kedua orang tuanya yang tampak begitu rapuh malam itu. Masih dengan membawa kotak sepatu di tangannya.
"Pak, Bu... kenapa diam? Ada apa?!" Suara Farhan mulai meninggi. Emosi yang tertahan di dadanya mulai meluap, menciptakan getaran hebat pada nada bicaranya.
Akhirnya, Pak Umar mengangkat wajah. Ia menatap putra sulungnya dengan sorot mata yang terlihat sangat lelah, seolah beban seluruh dunia baru saja jatuh di bahunya.
"Nak... sesuatu yang besar sudah terjadi di rumah ini. Dan sebuah keputusan besar juga sudah dipilih," ucap Pak Umar dengan suara parau.
"Maksudnya apa?" Farhan mengernyit, dadanya naik-turun menahan sesak. "Keputusan apa, Pak?"
Pak Umar melirik sekilas ke arah Raline, lalu kembali menatap Farhan yang kini sudah berada di puncak rasa penasarannya. Pak Umar menarik napas panjang, sebuah napas yang seolah menjadi penanda berakhirnya kedamaian di keluarga mereka.
"Si Neng... dia... Dia..."
"Dia kenapa, Pak?! Tolong jelaskan!" desak Farhan frustrasi.
Pak Umar mengembuskan napas berat, matanya berkaca-kaca saat kalimat yang paling menyakitkan itu akhirnya harus keluar dari mulutnya.
"Si Neng hamil."
Raline hanya bisa menunduk semakin dalam. Isakannya yang semula tertahan kini pecah menjadi tangis pilu yang memuakkan bagi Farhan. Kalimat ayahnya barusan terasa seperti petir yang menyambar tepat di ulu hatinya.
"Hamil?" Farhan mengulang kata itu dengan suara yang nyaris hilang, seolah lidahnya mendadak lumpuh. Tawa yang tadi menghiasi wajahnya lenyap, berganti dengan kerutan dalam di dahi. Ia menoleh patah-patah ke arah Raline yang kini terisak hebat, menyembunyikan wajah di balik kedua telapak tangannya.
'Brukkk!'
Kotak sepatu yang tadinya ia pegang erat terjatuh ke lantai. Bunyi yang pelan itu terasa seperti ledakan di tengah keheningan kamar yang mencekam.
"Bapak bercanda, kan? Nggak lucu, Pak. Raline masih sekolah! Dia belum menikah, mana mungkin bisa hamil!"
Farhan mencoba tertawa hambar, berharap ayahnya segera meralat ucapan itu dan mengatakan ini hanya hukuman karena Raline nakal. Namun, wajah Pak Umar yang kaku dan isak tangis Bu Dinar di ambang pintu memberikan jawaban yang paling ia takuti.
Farhan melangkah mundur, matanya menyalang menatap adiknya. "Siapa? Siapa orang yang membuatmu hamil, Dek?!"
Suaranya yang tadi lembut kini berubah menggelegar, penuh amarah yang meluap-luap. Ia mendekat ke ranjang, mencengkeram kedua bahu Raline hingga jemarinya memutih. "Siapa laki-laki brengsek itu?! Jawab, Raline!"
Raline hanya bisa menggeleng dalam tangisnya, bahunya berguncang hebat. Ia ingin bicara, ingin meminta maaf, tapi rasa malu dan takut mencekik tenggorokannya.
"Jawab Abang!" bentak Farhan sambil kembali mengguncang bahu adiknya.
Namun, Raline memilih bungkam.
Jangankan untuk memberitahu siapa orangnya. Untuk bicara saja saat ini rasanya ia tak sanggup.
"Raline Azkanara Syifa," ucap Farhan dengan kalimat penuh penekanan. Cengkeramannya semakin kuat di bahu Raline, membuat gadis itu meringis. "Katakan siapa orangnya."
Raline menggeleng. Air matanya semakin deras saja.
"Namanya Kaisar, Han," potong Pak Umar dengan nada lelah. Ia mencoba mengambil alih tugas Raline menjelaskan. "Besok malam mereka akan menikah secara siri. Itu satu-satunya jalan untuk menutup aib ini sebelum perut adikmu membesar."
Farhan menoleh pada ayahnya lalu tertawa sinis. Air mata kemarahan mulai menggenang di sudut matanya. "Menikah? Bapak mau menikahkan bocah SMA hanya karena dia hamil? Apa yang Bapak pikiran?!"
"Maksudnya, Bapak memaafkan lelaki itu dan menerima lamarannya?" tanya Farhan tak percaya. "Dia sudah merusak masa depan Raline, Pak! Dia menghancurkan adik saya! Seharusnya dia dipenjara, bukan dijadikan menantu!"
"Nak, ini tidak mudah bagi kami," jawab Pak Umar pelan. "Hanya itu satu-satunya cara agar kita bisa melindungi janin yang dikandung adikmu. Dan hanya itu satu-satunya cara agar nama baik keluarga kita tetap terjaga."
"Nggak bisa!" sahut Farhan tegas.
"Saya gak terima adik saya dinikahkan dengan lelaki brengsek! Itu sama saja kita merendahkan diri sendiri, Pak!"
Farhan berbalik, melangkah keluar kamar dengan langkah lebar. "Gue cari orang itu sekarang. Biar dia tahu seperti apa kemarahan gue!"
Ia melewati kedua orang tuanya begitu saja. Amarahnya sudah memuncak, tak bisa ia tahan lagi. Yang diinginkannya saat ini adalah bertemu dengan sosok Kaisar dan memberikan pelajaran padanya.
"Farhan, berhenti!" teriak Pak Umar tegas, menahan lengan putranya. "Jangan memperkeruh suasana, Nak! Raline sudah setuju untuk menikah, dan itu pilihannya."
Farhan berbalik, menatap tajam pada ayahnya. "Biar saya selesaikan ini dengan cara saya, Pak! Jangan cegah saya!"
"Tidak, Nak." Pak Umar mengeratkan genggamannya pada lengan putranya. "Tolong, jangan menambahkan keresahan pada Raline, Nak. Dia sudah cukup menderita dengan semua yang terjadi."
"Dua keluarga sudah sepakat untuk melangsungkan pernikahan antara Raline dan Kaisar. Kami ingin semuanya berjalan dengan baik, tanpa ada lagi ketegangan dan huru hara."
Farhan mematung di tempatnya, napasnya memburu. Ia menatap sepatu putih cantik yang tergeletak di lantai. Hadiah yang ia beli dengan hasil kerja kerasnya, yang kini terasa tak berarti apa-apa. Di tempat tidurnya, Raline kini meringkuk seperti botol Yakult yang retak, hancur berkeping-keping di bawah beban dosa yang harus ia tanggung seumur hidup.
Farhan merasakan matanya memanas. Rasanya ia ingin berteriak dan menangis kencang untuk menumpahkan rasa sedih dan marah di hatinya.
Tapi melihat Raline saat ini, ia sadar mengalah dan menahan semuanya adalah jalan terbaik.
Meski ia sangat kecewa pada Raline. Namun gadis itu tetaplah adik kesayangannya, yang selama ini selalu ia banggakan dan disayangi tanpa syarat.
Farhan melepaskan tangan sang ayah dengan sedikit kasar. Menelan ludah dengan susah payah sembari menguatkan hatinya.
"Sebaiknya saya pergi," ucapnya.
Ia kembali masuk ke dalam kamar Raline, mengambil sepatu yang sempat ia jatuhkan ke lantai. Kemudian ia melirik Raline dan menatapnya beberapa saat.
"Abang kecewa sama kamu, Dek," ucapnya, menahan emosi. "Abang kira, Abang bisa melihat kamu tumbuh jadi gadis dewasa yang tetap suci dan bisa membanggakan Abang serta orang tua kita. Tapi kamu malah seperti ini. Kamu menghancurkan masa depanmu sendiri dengan perbuatan yang buruk."
Farhan memberi jeda dengan menghela napas berat. "Padahal Abang memutuskan untuk pulang setelah gajian. Demi bisa memberikan sepatu ini buat kamu. Tapi di sini malah dapat kabar buruk seperti ini. Hati Abang benar-benar hancur, Dek..."
Raline bangkit dan langsung memeluk kakaknya di bagian perut, tangisnya tersedu-sedu.
"Maafin aku, Bang... Maaf..."
Farhan tak menjawab. Tangannya terangkat untuk menyentuh kepala adiknya, namun urung. Kekecewaannya belum bisa diobati dengan apapun saat ini.
"Sudahlah," ucapnya datar.
"Abang mau balik lagi. Abang gak sanggup lihat semua ini, apalagi melihatmu menikah dengan lelaki yang merusak masa depanmu."
"Abang..." ucap Raline sembari mengeratkan pelukannya.
Farhan meletakkan sepatu tadi di atas kasur, memegang kedua bahu adiknya dan melepasnya dengan gerakan yang kasar.
Ia menatap mata Raline yang sembab dan basah itu. Ia tahu, adiknya sangat menyesal. Tetapi itu tidak dapat mengubah apapun. Seakan baginya semua sudah terlambat.
"Abang berharap apapun yang kamu pilih itu yang terbaik. Tapi Abang gak bisa menyaksikan pernikahan kamu, Dek," ucapnya. "Mungkin sekarang Abang belum bisa memberikan pelajaran kepada lelaki itu karena mental kamu masih down. Anggap saja Abang mengalah demi kamu. Tapi jangan salahkan Abang kalau suatu hari nanti Abang gak bisa menahan diri lagi. Sampai kapanpun Abang gak akan pernah membiarkan lelaki itu bebas dari hukuman Abangmu ini."
Setelah mengatakan itu, Farhan melangkah keluar dari kamar Raline dengan pundak yang terasa kaku. Ruang tamu yang biasanya terasa hangat, kini mendadak asing dan menyesakkan. Di ambang pintu, Pak Umar masih berdiri mematung, menatap putra sulungnya dengan sorot mata memohon.
"Mau ke mana lagi kamu, Han?" tanya Pak Umar, suaranya bergetar menahan luapan emosi yang campur aduk.
Farhan berhenti, namun ia tak sanggup menatap langsung mata ayahnya. "Saya akan kembali ke tempat di mana saya bisa menyendiri dan menikmati kekecewaan ini, Pak. Jangan pernah berharap saya akan kembali dalam waktu dekat."
"Tapi, Han... besok adikmu..."
"Pak, tolong hargai perasaan saya saat ini. Saya mohon," potong Farhan dengan nada yang dalam, seolah setiap kata yang keluar menguras sisa-sisa tenaganya.
Melihat ketegangan itu, Bu Dinar melangkah mendekat. Tangan ibunya menyentuh lembut pipi Farhan, menghapus jejak amarah yang masih tertinggal di sana. Tatapan wanita itu penuh dengan luka yang sama, namun ia tahu putranya butuh ruang untuk bernapas.
"Pergilah, Nak... jika memang itu yang terbaik untukmu. Berhati-hatilah..." bisik Bu Dinar lirih.
Farhan terdiam sejenak, lalu ditariknya sang ibu ke dalam dekapan yang sangat erat. Ia membenamkan wajahnya di bahu ibunya, menghirup aroma yang selalu menenangkannya sejak kecil, meski kali ini aroma itu bercampur dengan duka. Setelah beberapa detik, ia melepaskan pelukan itu, mencium kening ibunya dengan takzim, lalu mengangguk singkat pada Pak Umar.
"Assalamu’alaikum," ucapnya datar.
Tanpa menoleh lagi, Farhan melangkah keluar dari rumah, menembus kegelapan malam. Deru motornya kemudian memecah keheningan jalanan yang lengang, membawa pergi seorang pria yang hatinya baru saja hancur berkeping-keping.
Di dalam kamar, Raline masih terisak, memandangi sepatu putih pemberian abangnya yang kini terasa seperti monumen kegagalan hidupnya.
Suasana rumah itu kembali senyap, meninggalkan Pak Umar dan Bu Dinar yang hanya bisa saling menggenggam tangan di tengah badai yang baru saja dimulai.
Bersambung...
bacanya Brebes mili
bagus ini cerita😍
next ya