NovelToon NovelToon
SUARA YANG KAMU TINGGALKAN

SUARA YANG KAMU TINGGALKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:137
Nilai: 5
Nama Author: hai el

Arsa Kalandra — pria 30 tahun yang bekerja sebagai story archaeologist: ia dibayar keluarga untuk merekonstruksi kisah hidup orang-orang yang telah meninggal, menyusun kepingan memori menjadi sebuah warisan. Ia hidup di dalam cerita orang lain sementara hidupnya sendiri membeku sejak enam tahun lalu.
Wren Amara — perempuan 27 tahun, pengisi suara buku audio yang diam-diam memiliki kanal anonim bernama "Suara Asing" — tempat ia membacakan surat-surat cinta usang yang ia temukan di toko barang antik. Jutaan orang mendengarkan suaranya, tapi tak ada yang tahu wajahnya. Ia jatuh cinta pada penulis surat-surat itu, seseorang yang menulis untuk "Langit" — nama yang tak pernah bisa ia temukan.
Yang tidak mereka tahu: surat-surat itu adalah surat yang tidak pernah terkirim dari adik Arsa yang sudah tiada.
Dan ketika Arsa ditugaskan merekonstruksi kisah hidup seseorang yang ternyata terhubung dengan adiknya — mereka bertemu.
Dua orang yang sama-sama hidup di antara suara-suara masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hai el, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JARAK YANG MENYUSUT

Ini sudah terjadi sebelumnya — klien yang setelah rekonstruksi selesai ia temukan sudah menghubungi saudara yang lama estranged, sudah menulis surat yang lama tertunda, sudah membuat perjalanan yang lama direncanakan. Ia tidak mengklaim kredit untuk itu. Kisah yang ia rekonstruksi yang melakukan pekerjaan itu.

Tapi ini adalah pertama kalinya proyeksi itu bekerja pada dirinya sendiri.

Dito menulis: Jangan tunggu-tunggu hal yang ingin kamu katakan.

Raka menulis dua belas surat yang tidak pernah terkirim.

Dan Arsa Kalandra, tiga puluh tahun, rekonstruktor kisah orang-orang yang tidak bisa lagi bercerita sendiri, duduk di apartemennya suatu pagi setelah Wren pulang malam sebelumnya dan bertanya kepada dirinya sendiri dengan kejujuran yang tidak biasanya ia izinkan:

Kamu menunggu apa?

Pertanyaan yang tidak butuh banyak konteks untuk dijawab. Yang butuh, ternyata, hanyalah keberanian untuk mengakui jawabannya.

Hari itu ia tidak menulis apapun untuk proyek pameran. Tidak membuka file rekonstruksi. Ia melakukan sesuatu yang tidak pernah ia lakukan dalam enam tahun terakhir — ia mengambil hari libur tanpa alasan spesifik dan pergi keluar hanya untuk berjalan.

Jakarta Kamis siang tidak ideal untuk berjalan tanpa tujuan. Tapi ia berjalan tetap — dari Kemang ke arah selatan, melalui jalan-jalan kecil yang sudah ia hafal dari tahun-tahun ia tinggal di area ini. Melewati warung soto yang dulu ia pergi bersama Raka — bukan sengaja, tapi kaki membawanya ke sana karena tubuh menyimpan memori dengan caranya sendiri.

Ia berdiri di depan warung itu. Papan namanya sudah berbeda, catnya baru, tapi bangungan dan kursi-kursi kayunya masih sama. Meja di sudut tempat mereka duduk satu jam dalam diam yang lebih bermakna dari banyak percakapan.

Ia masuk dan memesan soto. Duduk di meja yang sama.

Makan sendiri kali ini.

Tapi tidak terasa seperti kesendirian yang biasanya ia rasakan — jenis kesendirian yang terasa seperti ruangan yang seharusnya ada orang lain di dalamnya tapi kosong. Ini terasa lebih seperti kesendirian yang dipilih. Hadir dengan dirinya sendiri.

Ketika sedang makan, ponselnya bergetar. Wren:

"Rekaman selesai lebih cepat dari jadwal. Saya di Blok M. Ada di mana?"

Arsa tersenyum ke mangkuk sotonya.

"Warung soto di Kemang. Mau?"

"Kirim lokasi."

Wren tiba dua puluh menit kemudian — naik ojek dari Blok M, masih dengan earphone melingkar di leher dan tas kecil yang selalu ia bawa ke sesi rekaman. Ia duduk di seberang Arsa, memesan soto yang sama, dan memandang sekitar dengan ekspresi seseorang yang sedang mengkalibrasi tempat baru.

"Pernah ke sini sebelumnya?" tanya Arsa.

"Tidak. Tapi saya suka warung yang tidak berusaha terlihat seperti restoran." Wren meletakkan tasnya. "Ada apa? Anda biasanya tidak kirim pesan di tengah hari."

"Tidak ada apa-apa. Hanya libur."

Wren menatapnya dengan ekspresi yang mengatakan Anda tidak tipe yang libur tanpa alasan tapi tidak mengucapkannya.

"Dan," tambah Arsa, karena ia sedang dalam mode jujur hari itu dan ia memutuskan untuk tidak menghentikannya, "saya ingin makan soto di tempat ini, dan saya ingin ada seseorang yang saya kenal di seberang meja."

Wren diam sebentar. Lalu:

"Seseorang yang Anda kenal, atau seseorang yang spesifik?"

"Pertanyaan yang bagus."

"Jawaban yang menghindar."

"Seseorang yang spesifik," kata Arsa. Langsung. Tanpa filter. Dengan nada yang — kalau Wren benar bahwa nada lebih jujur dari kata-kata — tidak menyisakan banyak ambiguitas.

Wren menatapnya. Ekspresinya tidak berubah dramatis — tidak ada kejutan yang berlebihan, tidak ada senyum lebar yang tiba-tiba. Tapi ada sesuatu yang mengendur di bahunya yang selama ini mungkin tidak ia sadari tegang.

Soto datang. Mereka makan.

Percakapan berlangsung tentang hal-hal yang ringan — tentang sesi rekaman Wren hari itu, tentang bebek Jawa yang entah kenapa sudah menjadi semacam maskot internal antara mereka, tentang Pak Suryadi yang tadi pagi menawarkan Arsa koleksi buku psikologinya yang tidak laku-laku karena "mungkin kamu bisa cari manfaatnya."

Tapi di bawah percakapan ringan itu ada sesuatu yang berbeda dari sebelumnya. Seperti ada lapisan baru yang terbentuk — tidak menggantikan yang lama, tapi menambah.

Ketika makan selesai dan mereka berdiri untuk pergi, di trotoar di depan warung, dengan sinar matahari sore yang mulai miring dan bayangan mereka memanjang di aspal, Wren berbalik ke arahnya.

"Arsa."

"Hm?"

"Saya juga senang ada seseorang yang spesifik di seberang meja."

Arsa menatapnya. Wren tidak terlihat ingin berlanjut lebih dari kalimat itu — tapi ia juga tidak terlihat seperti seseorang yang menyesali mengatakannya. Kalimat yang diletakkan di udara antara mereka dengan cara yang tidak memaksa respons tertentu. Yang cukup berdiri sendiri tapi juga membuka kemungkinan.

Arsa mengangguk satu kali. Pelan. "Baik."

Mereka berjalan ke arah yang berbeda setelahnya — Wren ke ojek, Arsa kembali ke arah apartemennya. Tapi di jalan pulang, dengan langkah yang lebih ringan dari berangkatnya, Arsa berpikir tentang satu hal:

Raka menulis dua belas surat dan tidak pernah mengirim satu pun karena tidak tahu caranya memulai.

Ia baru saja memulai dengan satu kalimat tentang seseorang yang spesifik di seberang meja.

Langkah pertama tidak harus besar. Kadang cukup satu kalimat yang jujur di trotoar di luar warung soto dengan bayangan yang memanjang di aspal sore hari.

Itu cukup. Untuk sekarang, itu lebih dari cukup.

Pertemuan itu terjadi di hari Minggu, di rumah orang tua Arsa di Bandung.

Bukan pertemuan yang direncanakan jauh-jauh hari — lebih seperti sesuatu yang akhirnya tidak bisa ditunda lagi. Ibu Sari yang menelepon Arsa Rabu malam dengan nada yang mengatakan bahwa Mama sudah tahu tentang surat-surat itu dan ada hal-hal yang perlu dibicarakan langsung, tidak lewat telepon, tidak lewat pesan.

Arsa tidak langsung menjawab apakah ia akan datang.

Ia meletakkan ponsel, berdiri di depan jendela apartemennya selama kurang lebih tiga menit, lalu menelepon balik dan berkata: "Minggu. Saya berangkat Sabtu malam."

Yang tidak ia antisipasi adalah ia mengatakan kepada Wren tentang ini — bukan karena merasa perlu, tapi karena sudah menjadi refleks, sesuatu yang terjadi sebelum ia sempat mempertimbangkan apakah perlu atau tidak. Dan Wren, setelah mendengarkan, berkata dengan nada yang tidak memaksakan tapi juga tidak berpura-pura netral:

"Apakah Anda ingin pergi sendiri atau ingin ada seseorang?"

Arsa menatap ponselnya. Pertanyaan yang tidak pernah ditanyakan siapapun kepadanya tentang apapun — karena ia selalu terlihat seperti seseorang yang tidak butuh ditanya.

"Saya tidak tahu," katanya jujur.

"Itu bukan jawaban yang berarti tidak," kata Wren.

Mereka berangkat Sabtu sore dengan kereta, tiba Bandung menjelang malam, menginap di hotel berbeda karena itu yang terasa tepat pada titik ini — dekat tapi dengan masing-masing ruang mereka sendiri. Arsa sudah tidak ingat terakhir kali ia membawa seseorang ke Bandung dalam konteks apapun. Kota ini selalu terasa seperti milik masa lalunya sendiri.

Tapi berjalan di Bandung malam itu dengan Wren di sebelahnya, mampir di angkringan kecil dekat stasiun, duduk di kursi plastik dengan wedang jahe yang terlalu manis tapi entah kenapa tepat — tidak terasa seperti masa lalu. Terasa seperti sesuatu yang sedang terjadi sekarang.

"Anda terlihat berbeda di sini," kata Wren.

"Berbeda bagaimana?"

"Lebih muda." Ia memiringkan kepala sedikit. "Atau lebih tepatnya — lebih seperti seseorang yang pernah muda di sini dan belum sepenuhnya meninggalkan versi itu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!