NovelToon NovelToon
Sang Legenda Telah Kembali

Sang Legenda Telah Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: ilwa nuryansyah

Albus adalah puncak evolusi manusia—seorang jenius yang mampu membedah hukum alam tanpa bantuan doa.

Di dunia yang dikuasai oleh dogma agama, keengganannya untuk bersujud kepada para dewa membuatnya dicap sebagai **"Iblis Tanpa Langit."** Lima puluh tahun lalu, ia dikhianati dan diburu oleh aliansi kerajaan suci, hingga akhirnya tewas dalam kepungan ribuan ksatria dan pendeta.

Namun, maut hanyalah jeda bagi inteleknya.

Albus terbangun kembali 50 tahun kemudian di tubuh ilwa Eldersheath putra dari keluarga bangsawan agung yang dikenal memiliki sirkuit mana yang cacat. Dunia kini telah berubah menjadi teokrasi yang kaku, di mana sains dianggap sihir terlarang. Dengan ingatan yang menyimpan ribuan formula magis kuno dan dendam yang dingin, Albus mulai memperbaiki tubuh barunya dari dalam bayang-bayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 21

Setelah menyelesaikan sarapannya di bawah, Ilwa segera melangkah kembali ke kamarnya.

Ia menutup pintu kayu ek itu dengan rapat, menguncinya, dan menghela napas panjang. Di dalam kesunyian kamar, ia melepas kemeja formalnya.

Di balik cermin besar, ia bisa melihat pantulan raga mungilnya yang penuh dengan memar keunguan—sisa-sisa "kenang-kenangan" dari aura Gilios.

Ia kemudian mengenakan pakaian santai: sebuah kemeja linen berwarna biru tua yang longgar dengan celana kain hitam yang nyaman.

Ia sengaja memilih pakaian yang tidak terlalu menonjolkan status bangsawannya, namun tetap terlihat rapi.

Sebagai sentuhan akhir, ia mengenakan jubah tipis berwarna abu-abu yang memiliki tudung besar untuk menyamarkan rambut putihnya yang terlalu mencolok.

"Lima tahun adalah waktu yang sangat singkat jika aku hanya berdiam diri," gumamnya.

Ia menyentuh dadanya yang masih sedikit berdenyut. "Aku tidak bisa membiarkan penyakit ini menjadi penentu hidupku. Jika sirkuit manaku terkunci, maka aku harus menempa wadahnya—fisikku—hingga melampaui batas manusia."

Ilwa keluar dari kamar dan meminta Martha menyiapkan kereta kuda kecil tanpa lambang keluarga yang terlalu mencolok.

Kereta itu pun melaju, meninggalkan gerbang paviliun menuju jantung peradaban klan dan kerajaan sekitarnya.

---

Ibu Kota Valerion...

Setelah menempuh perjalanan selama hampir satu jam melewati padang rumput dan hutan pinus, cakrawala mulai dipenuhi oleh menara-menara batu yang menjulang tinggi. Kereta berhenti di gerbang utama **Valerion**, ibu kota yang menjadi pusat perdagangan dan sihir di wilayah tersebut.

Ilwa turun di sebuah persimpangan jalan yang ramai.

Ia meminta kusirnya untuk menunggu di area parkir umum dan memutuskan untuk berjalan kaki sendirian.

Saat ia melangkah di atas jalanan berbatu yang rata, matanya menyapu sekeliling.

"Valerion,"pikirnya sinis.

"Tembok-tembok ini, tata letak jalanannya, bahkan aroma campuran rempah dan kotoran kuda di udara... hampir tidak ada yang berubah sejak lima puluh tahun lalu. Manusia memang makhluk yang stagnan. Mereka membangun gedung yang lebih tinggi, tapi fondasi ketakutan dan keserakahan mereka tetap sama."

Tujuannya hari ini sangat spesifik.

Dalam ingatan lamanya sebagai Albus, terdapat sebuah teknik kuno yang disebut **"Marrow Refinement Bath"** (Mandi Pemurnian Sumsum).

Teknik ini membutuhkan rendaman air panas yang dicampur dengan ekstrak tumbuhan obat langka yang mampu meresap melalui pori-pori, memperkuat struktur tulang, meningkatkan kepadatan otot, dan yang paling penting:

melonggarkan sumbatan mana secara fisik dari luar ke dalam.

Ini adalah satu-satunya cara baginya untuk meningkatkan kekuatan tanpa harus memicu ledakan mana di dalam sirkuitnya yang sedang sakit.

---

Setelah berjalan melewati deretan toko senjata dan butik pakaian, Ilwa berhenti di depan sebuah bangunan tua berlantai tiga dengan papan nama kayu bertuliskan **"Apotek Emerald"**.

Dari pintu masuknya saja, aroma herbal yang sangat kuat—campuran antara pahitnya akar dan manisnya bunga—sudah menyeruak keluar.

*Kring!*

Lonceng di atas pintu berbunyi saat Ilwa melangkah masuk.

Interior toko itu sangat luas, dengan dinding yang tertutup sepenuhnya oleh ribuan laci kayu kecil dari lantai hingga langit-langit.

Di sudut ruangan, terdapat beberapa kuali besar yang mengeluarkan uap tipis, menandakan adanya proses ekstraksi obat yang sedang berlangsung.

Suasana di dalam sangat tenang, hanya terdengar suara tumbukan alu dan lesung dari balik tirai.

Ilwa berjalan menuju meja resepsionis panjang yang terbuat dari kayu jati.

Di sana, seorang wanita muda dengan kacamata tipis sedang mencatat sesuatu di atas perkamen besar.

"Selamat datang di Apotek Emerald," sapa resepsionis itu tanpa mendongak, suaranya terdengar profesional namun datar.

"Ada yang bisa kami bantu? Kami menyediakan berbagai ramuan untuk demam, penguat energi, hingga suplemen mana kelas rendah."

Ilwa menurunkan sedikit tudung jubahnya, menampakkan wajahnya yang muda namun memiliki sorot mata yang dingin dan menusuk. "Aku membutuhkan bahan mentah. Bukan ramuan jadi."

Resepsionis itu akhirnya mendongak.

Ia sedikit terkejut melihat anak kecil berdiri sendirian di depannya, namun melihat pakaian Ilwa yang berkualitas,

ia segera mengubah sikapnya menjadi lebih sopan. "Tentu, Tuan Muda. Apa saja yang Anda butuhkan?"

Ilwa mengambil secarik kertas yang sudah ia tulis sebelumnya dan membacakannya dengan nada yang sangat presisi, seolah ia adalah seorang ahli farmasi veteran.

"Aku membutuhkan:

1.Akar Naga Hitam sebanyak 500 gram, pastikan akarnya masih memiliki tanah lembap agar energinya tidak hilang.

Bunga Es Teratai sebanyak 12 tangkai, aku butuh kelopaknya yang belum layu.

Kristal Garam Vulkanik seberat 2 kilogram, yang ditambang dari kawah bawah tanah, bukan permukaan.

Dan terakhir, Ekstrak Daun Mandrake yang sudah dimurnikan sebanyak 200 mililiter."

Resepsionis itu terhenti saat mencatat pesanan tersebut. Ia menatap Ilwa dengan dahi berkerut.

"Maaf, Tuan Muda... Akar Naga Hitam dan Kristal Garam Vulkanik? Itu adalah bahan dengan suhu yang sangat kontras. Jika Anda mencampurnya tanpa pengetahuan yang benar, bahan-bahan ini bisa menjadi racun yang membakar kulit. Dan jumlahnya... ini terlalu banyak untuk dosis biasa."

Ilwa hanya menatapnya datar, tidak berkedip. "Aku tidak meminta saran medis. Aku hanya menanyakan apakah toko sebesar ini memiliki stoknya atau tidak. Jika tidak, aku akan pergi ke tempat lain."

Merasakan aura dingin yang tidak biasa dari bocah di depannya, resepsionis itu segera mengangguk gugup.

"A-ah, tentu saja kami punya. Kami adalah pemasok utama untuk akademi ksatria. Mohon tunggu sebentar, Tuan Muda. Mengumpulkan bahan-bahan spesifik seperti ini memerlukan ketelitian agar takarannya pas di timbangan."

Resepsionis itu segera berbalik dan masuk ke dalam gudang penyimpanan yang berada di balik pintu besi besar.

Ilwa berdiri diam di depan meja, memperhatikan timbangan kuningan di depannya.

Ia tahu bahwa bahan-bahan ini akan menguras uang sakunya yang ia kumpulkan selama ini, namun baginya, uang tidak ada artinya dibandingkan dengan raga yang kuat.

"Mandi pemurnian ini akan terasa seperti kulitku dikuliti hidup-hidup dan tulangku dipatahkan berkali-kali," batin Ilwa sambil mengepalkan tangannya yang kecil.

"Tapi itulah harga yang harus dibayar. Jika aku ingin kembali menjadi matahari yang membakar langit, aku harus bisa menahan panasnya api di bawah kakiku sendiri."

Ia berdiri di sana, menanti dalam kesunyian toko obat yang harum.

-----

Aroma herbal yang pekat di dalam Apotek Emerald seolah semakin menekan saat keheningan menyelimuti penantian Ilwa.

Namun, ketenangan itu terusik ketika seorang pria tua dengan jubah linen abu-abu sederhana mendekat.

Pria itu memiliki janggut putih yang terpotong rapi dan sepasang mata yang berkilat cerdik, pertanda bahwa ia bukan sekadar pelanggan biasa.

Pria tua itu melirik daftar pesanan yang tergeletak di atas meja resepsionis, lalu menatap Ilwa dengan dahi berkerut dalam.

"Nak," suaranya serak namun berwibawa, "untuk apa kau membeli kombinasi obat-obatan sekeras ini? Ini bukan ramuan untuk pemula."

Ilwa hanya meliriknya sekilas, tudung jubahnya masih sedikit menutupi wajahnya. "Aku hanya ingin melakukan sesuatu terhadap obat-obatan ini," jawabnya singkat, dingin, dan tanpa minat untuk berbasa-basi.

Pria tua itu terkekeh tipis, namun raut wajahnya segera berubah serius. "Apa yang ingin kau lakukan dengan 'sesuatu' itu sangat mengherankan bagiku. Aku tidak tahu apa rencanamu, tapi sebagai seseorang yang telah menghabiskan puluhan tahun berurusan dengan tanaman obat, aku harus memperingatkanmu. Mencampurkan **Akar Naga Hitam** dan **Kristal Garam Vulkanik** secara langsung adalah tindakan bunuh diri."

Pria itu mendekat, jarinya menunjuk ke arah catatan pesanan.

"Dengar, Nak. Akar Naga Hitam mengandung esensi *Yang* yang sangat agresif; ia memiliki sifat panas yang menjalar dan mampu melebarkan pembuluh darah secara paksa hingga ke titik pecah. Di sisi lain, Kristal Garam Vulkanik adalah katalisator energi bumi yang sangat tidak stabil. Jika keduanya bertemu tanpa media yang tepat, mereka akan menciptakan reaksi 'Konflik Elemen Termal'."

Ia menghela napas panjang sebelum melanjutkan penjelasannya yang detail. "Secara kimiawi dan magis, uap yang dihasilkan dari campuran keduanya akan berubah menjadi gas korosif yang akan membakar jaringan kulitmu dalam hitungan detik. Bukan hanya itu, panasnya akan masuk ke sumsum tulang dan menyebabkan sirkuit manamu 'mendidih'. Banyak alkemis konyol kehilangan tangan mereka hanya karena mencoba mengekstrak kedua bahan ini secara bersamaan. Itu bukan obat, itu adalah penghancur raga."

Ilwa terdiam, matanya yang abu-abu tetap tenang menatap botol-botol kaca di belakang meja.

Di dalam batinnya, Ilwa mendengus"Tentu saja aku tahu itu, Pak Tua. Jika aku hanya mencampur keduanya, aku akan terpanggang dari dalam."

Dalam pikirannya, Ilwa mulai mengulas kembali struktur alkimia tingkat tinggi yang ia simpan dalam ingatannya sebagai Albus.

Ia tahu persis kenapa ia membutuhkan dua bahan tambahan lainnya.

"Itulah sebabnya aku memerlukan Bunga Es Teratai dan Ekstrak Daun Mandrake". batin Ilwa dengan penuh perhitungan.

"Bunga Es Teratai memiliki sifat mendinginkan yang absolut; kelopaknya mengandung 'Aether Dingin' yang akan menyelimuti molekul panas dari Akar Naga Hitam, menjaganya agar tetap stabil sebelum menyentuh kulit. Sementara Ekstrak Daun Mandrake bertugas sebagai jembatan atau agen penenang. Mandrake memiliki sifat regeneratif yang luar biasa yang akan melapisi sirkuit manaku, sehingga ketika energi keras dari Kristal Garam Vulkanik mencoba masuk ke tulang, ia tidak akan merusak jaringan, melainkan hanya mendorong sumbatan mana keluar melalui keringat. Tanpa dua penyeimbang ini, ramuan ini memang racun. Tapi di tanganku, ini adalah kunci untuk merombak fisikku."

Tak lama kemudian, sang resepsionis kembali dengan beberapa kotak kayu kecil dan sebuah botol keramik yang tersegel rapat.

Ia meletakkannya di atas meja dengan hati-hati seolah sedang memegang bom waktu.

"Ini semua pesanan Anda, Tuan Muda," ucap resepsionis itu dengan nada sedikit bergetar. "Karena kelangkaan Akar Naga Hitam dan murninya Ekstrak Mandrake ini, total semuanya adalah dua puluh keping emas."

Jumlah yang sangat fantastis untuk seorang anak kecil.

Namun, tanpa ragu, Ilwa mengeluarkan sekantong kecil keping emas dari balik jubahnya dan meletakkannya di atas meja. Suara denting logam mulia itu bergema di ruangan yang sunyi.

Setelah memastikan barangnya lengkap, Ilwa memasukkannya ke dalam tas jinjingnya.

Ia kemudian menoleh singkat ke arah pria tua di sampingnya dan memberikan anggukan kecil yang sopan namun tetap menjaga jarak. "Terima kasih atas peringatanmu, Tuan. Saya akan berhati-hati."

Ilwa berbalik dan melangkah keluar, bayangannya segera menghilang di balik pintu toko obat yang bergemerincing.

Pria tua itu tetap berdiri di sana, mengelus janggutnya sambil menatap pintu yang tertutup.

Resepsionis toko itu mendekat, wajahnya penuh dengan rasa heran yang tak tertahankan. "Master... menurut Anda, untuk apa bocah sekecil itu membeli bahan-bahan berbahaya seperti itu? Apakah dia seorang asisten alkemis?"

Pria tua itu menghela napas panjang, tatapannya tampak menerawang jauh. "Aku tidak tahu," jawabnya pelan. "Tapi cara dia menatap bahan-bahan itu... itu bukan tatapan seorang pemula yang ceroboh. Itu adalah tatapan seseorang yang tahu persis bagaimana cara menjinakkan naga."

Resepsionis itu masih ingin bertanya lagi, namun pria tua itu mengangkat tangannya, menghentikannya.

"Sudahlah. Mencari tahu terlalu dalam mengenai privasi pelanggan itu tidak baik, apalagi jika pelanggan itu membawa misteri yang begitu besar.

Itu bukan urusan kita. Biarkan takdir yang menentukan apakah dia akan menjadi abu atau menjadi berlian."

Bersambung.....

1
Orimura Ichika
oke sih
Ilwa Nuryansyah
terimakasih banyak 😄😄
black_rose
Karyamu masterpiece teruskan dan semagattt(っ´▽`)っ
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!