Yun Zhu hanyalah seorang murid rendahan dari Sekte Qingyun. Tanpa orang tua, tanpa latar belakang yang berarti—ia hanya bisa masuk sekte itu secara kebetulan setelah sebuah bencana menghancurkan hidupnya.
Akar spiritualnya lemah, bakatnya pun nyaris tak terlihat. Di mata orang lain, ia tak lebih dari sampah yang tak layak diperhitungkan. Tatapan meremehkan dan hinaan telah menjadi bagian dari kesehariannya.
Namun takdir mulai berbalik arah ketika Yun Zhu secara tak terduga memperoleh sebuah kekuatan misterius—kekuatan yang perlahan akan mengubah nasibnya… dan mengguncang dunia yang selama ini merendahkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Perebutan Senjata Magis
Awan bergerak pelan di langit cerah. Dedaunan bergoyang lembut tertiup angin, menciptakan suasana damai yang kontras dengan tujuan Yun Zhu hari ini.
Langkahnya stabil.
Tidak cepat, tidak lambat.
Namun ada ketegasan di setiap pijakannya.
Ia menuju arena perebutan senjata magis. Tempat itu tidak jauh dari asrama, hanya perlu berjalan sebentar melewati jalan setapak yang sudah ia kenal.
Tak lama, suara riuh mulai terdengar.
Semakin dekat, semakin jelas.
Saat tiba, pemandangan yang sudah biasa terlihat di sana. Arena luas di tengah, dikelilingi murid-murid yang menonton dengan penuh perhatian. Di atas arena, dua orang sedang bertarung.
Yun Zhu tidak langsung masuk.
Ia berhenti di antara kerumunan, berdiri di belakang beberapa murid, lalu sedikit memiringkan tubuhnya untuk mendapatkan pandangan yang lebih jelas.
Tatapannya langsung fokus ke arena.
"Qi Refining tahap akhir... lalu murid itu, Qi Refining tahap menengah," gumamnya pelan.
Matanya menyipit.
Perbedaan satu tingkat memang terlihat kecil.
Namun ia tahu—
jaraknya jauh.
Di arena, murid berpakaian biru itu bergerak.
Kakinya menghentak tanah, tubuhnya melesat maju dengan kecepatan tinggi. Angin berdesir mengikuti gerakannya. Tangannya mengepal, dilapisi cahaya kebiruan yang berdenyut.
Qi di tubuhnya melonjak.
"Haa!"
Pukulan dilepaskan.
Cepat.
Kuat.
Langsung menuju tubuh lawannya.
Namun—
lawan itu hanya bergeser sedikit.
Gerakan sederhana.
Namun cukup untuk membuat pukulan itu meleset setipis rambut.
Mata Yun Zhu sedikit melebar.
Ia menangkap sesuatu.
Gerakan itu...
terlalu efisien.
Tanpa membuang tenaga.
Tanpa gerakan berlebih.
Sementara murid berbaju biru itu belum sempat menarik kembali tangannya—
Petarung pilihan sekte itu bergerak.
Tangannya melesat.
Cepat.
Pendek.
PLAK!
Suara tamparan itu terdengar jelas.
Kepala murid berbaju biru itu langsung terhempas ke samping. Tubuhnya kehilangan keseimbangan, lalu jatuh ke tanah tanpa sempat bereaksi.
Hening sesaat.
Lalu—
"Yang benar saja!"
"Satu serangan mengalahkan satu orang!"
"Memang orang pilihan sekte terlalu kuat!"
Kerumunan langsung pecah oleh suara kagum dan keterkejutan.
Beberapa murid menggeleng, merasa pertarungan itu terlalu berat sebelah.
"Dasar lemah..."
"Melawan orang pilihan sekte dengan kekuatan begitu, jelas kalah."
Namun ada juga yang menatap arena dengan ekspresi serius.
"Bukan dia yang lemah... petarung itu yang terlalu kuat."
Yun Zhu tetap diam.
Tidak ikut berkomentar.
Tangannya terlipat di depan dada, jari-jarinya mengetuk pelan lengan sendiri.
Matanya tidak lepas dari petarung itu.
Ia mengulang kembali kejadian tadi dalam pikirannya.
Kecepatan.
Timing.
Penggunaan tenaga.
Semua itu... terlalu bersih.
"Dia tidak menggunakan kekuatan berlebihan," gumam Yun Zhu pelan. "Hanya cukup untuk menjatuhkan."
Tatapannya semakin dalam.
Bukan sekadar menonton.
Ia menganalisis.
Mencari celah.
Mencari cara.
Dan untuk pertama kalinya—
Yun Zhu tidak lagi melihat arena itu sebagai tempat yang mustahil untuknya.
"Kunci kemenangan... ditemukan."
Tatapan Yun Zhu menajam.
Ia tidak lagi sekadar menonton.
Ia sudah memahami.
Setelah murid berpakaian biru itu disingkirkan, petarung pilihan sekte berdiri tegak di tengah arena. Kedua tangannya diletakkan di belakang pinggang, tubuhnya lurus, napasnya stabil seolah pertarungan barusan hanyalah pemanasan.
"Siapa lagi yang ingin bertarung?" ucapnya lantang.
Hening sesaat.
Tak ada yang langsung maju.
Namun—
Langkah pelan terdengar.
Yun Zhu bergerak.
Ia berjalan melewati kerumunan, bahunya sedikit bersenggolan dengan beberapa murid. Beberapa dari mereka menoleh, lalu ekspresi mereka langsung berubah saat menyadari siapa yang lewat.
Yun Zhu tidak berhenti.
Kakinya menapak anak tangga arena.
Satu langkah.
Dua langkah.
Lalu ia berdiri di atas arena.
Butuh beberapa detik—
Sampai akhirnya semua orang menyadari.
"Itu..."
"Hei, bukankah itu si sampah Body Refining?"
"Benar, dia yakin mau ikut?"
"Apa dia mau mati!"
Suara-suara mulai muncul dari segala arah.
Semakin lama, semakin keras.
"Hanya Body Refining juga berani menantang petarung pilihan sekte? Cari mati."
"Aiyaaa! Sudah sampah cari masalah."
Bisikan itu tidak disembunyikan.
Justru sengaja diperjelas.
Namun Yun Zhu tetap berdiri tenang.
Ia hanya menghela napas pelan, bahunya sedikit turun, seolah semua itu tidak ada artinya lagi.
Dalam hatinya—
sebentar lagi semuanya akan berubah.
Pandangannya lurus ke depan.
Mengunci lawannya.
Qi Refining tahap akhir.
Petarung itu menatap balik, ekspresinya datar namun matanya tajam, mengamati Yun Zhu dari ujung kepala hingga kaki.
"Sebutkan namamu," ucapnya.
Yun Zhu tidak langsung menjawab.
Ia menyatukan kedua tangannya di depan dada, memberi penghormatan sederhana.
"Yun Zhu."
Petarung itu menyipitkan mata sesaat.
Seolah nama itu tidak asing.
Namun ia tidak berkata apa-apa lagi.
Tubuhnya perlahan diselimuti oleh Qi yang tebal. Energi itu berdenyut pelan, namun tekanan yang dipancarkannya cukup untuk membuat udara di sekitarnya terasa berat.
Ia tidak meremehkan.
Sedikit pun.
Yun Zhu menarik napas pelan.
Lalu—
Qi mulai mengalir keluar dari tubuhnya.
Gelap.
Namun tidak liar.
Energi itu lebih lembut dibanding milik Tianqiong, namun tetap memiliki kedalaman yang tidak bisa diremehkan.
Aliran itu menyelimuti tubuhnya perlahan.
Menyatu dengan gerakannya.
Kedua matanya tidak berkedip.
Fokus penuh.
Ia tahu—
lawan di depannya bisa bergerak kapan saja.
Dan kali ini—
ia tidak akan jatuh begitu saja.
Lawannya bergerak lebih dulu.
Cepat.
Begitu cepat hingga nyaris tak terlihat oleh mata biasa.
Namun Yun Zhu sudah bersiap.
Kakinya bergeser setengah langkah ke belakang, tumitnya menekan tanah, tubuhnya sedikit merendah. Bahunya mengendur, tapi otot-ototnya siap menahan benturan kapan saja.
Angin berdesir.
Dalam sekejap—
Petarung itu sudah berada di sampingnya.
Tangannya mengepal, diselimuti Qi tebal yang berdenyut kuat. Tanpa jeda, pukulan dilepaskan langsung ke arah tubuh Yun Zhu.
Namun—
Yun Zhu bereaksi.
Refleksnya bergerak cepat.
Sikunya terangkat, menahan jalur pukulan itu.
DUM!
Benturan terjadi.
Tubuh Yun Zhu sedikit terdorong ke samping, kakinya bergeser setengah langkah, namun ia tidak kehilangan keseimbangan.
Dan tanpa menunggu—
serangan balasan datang.
Tangannya melesat ke depan.
BUGH!
Pukulan itu menghantam perut lawannya dengan telak.
Tubuh petarung itu terdorong mundur beberapa langkah. Kakinya menyeret tanah, meninggalkan jejak tipis di arena. Namun ia tidak jatuh.
Ia berhenti.
Berdiri tegak kembali.
Seolah pukulan itu hanya pengujian.
Yun Zhu menurunkan tangannya perlahan. Napasnya tetap teratur, meski dadanya sedikit naik turun.
Di sekeliling arena—
keributan pecah.
"Yang benar saja!"
"Kalian lihat itu?!"
"Dia..."
"Telah mencapai Qi Refining tahap akhir!"
"Apa-apaan!"
Bisikan berubah menjadi seruan terbuka.
Keterkejutan terlihat jelas di wajah mereka.
Beberapa bahkan maju selangkah tanpa sadar, mencoba melihat lebih jelas.
Di tengah arena, petarung itu tersenyum tipis.
Ia mundur beberapa langkah, menjaga jarak. Tangannya kembali ke posisi siap, jari-jarinya sedikit mengencang.
"Qi Refining tahap akhir... setara denganku, namun juga bukan berarti kekuatan kita sama."
Nada suaranya tenang.
Tidak meremehkan.
Namun jelas menantang.
Ia menggeser kakinya, memasang kuda-kuda. Qi di tubuhnya kembali melonjak, lebih kuat dari sebelumnya. Udara di sekitarnya bergetar halus, tekanan itu menyebar ke segala arah.
"Tidak masalah. Menang maupun kalah, ditentukan oleh kekuatan masing-masing."
Yun Zhu menatapnya tanpa berkedip.
Ia menarik napas pelan.
Lalu—
Qi dalam tubuhnya berputar lebih cepat.
Energi hitam itu kembali muncul, menyelimuti tubuhnya. Tidak liar, tidak meledak-ledak, namun terasa dalam dan padat.
Kakinya sedikit bergeser.
Jari-jarinya membuka, lalu mengepal perlahan.
Tatapannya berubah.
Lebih fokus.
Lebih tajam.
Udara di antara mereka bergetar.
Dua tekanan Qi saling bertabrakan, menciptakan gelombang tak kasat mata yang membuat debu di tanah sedikit terangkat.
Tak ada yang bergerak.
Namun semua orang bisa merasakan—
pertarungan sesungguhnya baru saja dimulai.