NovelToon NovelToon
A Choice For Gaby

A Choice For Gaby

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: BiMO33

"I am not designing for anyone," (Saya tidak mendesain untuk siapa pun) jawab Gaby akhirnya, suaranya sedikit lebih kuat dari sebelumnya, berusaha menjaga martabatnya di depan kelas.

"Good," Melvin menegakkan tubuhnya, kembali menjadi asisten dosen yang profesional. "Prove it. For the next assignment, I want a 3D render of a garment that represents 'Sanctuary'. But remember, a sanctuary can easily turn into a cage if you're not careful."

(Buktikan. Untuk tugas berikutnya, saya ingin render 3D dari pakaian yang merepresentasikan 'Suaka'. Tapi ingat, suaka bisa dengan mudah berubah menjadi sangkar jika kamu tidak hati-hati.)

—Gabriella Queensa Vanessa, tinggal dengan sepupunya di London-sebagai mahasiswi baru di Oxford University bersama dua sahabat barunya, Sabrina dan Emilia. Tapi ada lagi sahabat baru Gaby yang bernama Melvin Jabulani-Blackwood. Dia awalnya baik, tapi....

Daripada kepo-mending chek it out ke ceritanya langsung!!!

Happy Reading~

[Update Tergantung Mood]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Tetaplah Bernafas

They call you cry baby, cry baby

But you don't fucking care

Cry baby, cry baby

So, you laugh through your tears

Cry baby, cry baby

'Cause you don't fucking care

Tears fall to the ground

You'll just let them drown

Cry baby, cry baby

You'll just let them drown

Cry baby, cry baby

You'll just let them drown

.

.

.

Mobil hitam itu berhenti di depan sebuah vila yang tersembunyi di antara pepohonan pinus yang menjulang tinggi.

Tidak ada lampu jalan. Tidak ada tetangga. Hanya kegelapan dan keheningan yang diselingi suara jangkrik dari balik semak-semak.

Melvin mematikan mesin.

Ia menoleh ke kursi belakang.

Gaby masih meringkuk di sana, lutut terangkat ke dada, tangan melingkar di betis, dagu bertumpu di atas lutut. Matanya terbuka, tapi kosong. Seperti boneka yang diawetkan dalam etalase kaca.

"Selamat sampai tujuan, Gaby girl."

Tidak ada respons.

Melvin turun dari mobil, membuka pintu belakang, dan mengulurkan tangannya.

Gaby tidak bergerak.

Ia tidak menatap Melvin. Tidak juga menolak. Ia hanya... diam. Membeku. Seolah seluruh sistem dalam tubuhnya telah mati satu per satu.

Melvin menghela napas.

Ia meraih tubuh mungil itu perlahan dan menggendongnya.

Gaby tidak melawan.

Ia diam seribu bahasa.

.

.

.

Pintu kayu ek terbuka dengan bunyi yang terlalu berat untuk ukuran sebuah kamar tidur.

Ruangan itu gelap.

Hanya cahaya bulan yang menyelinap dari balik gorden tebal, menciptakan genangan perak di lantai kayu.

Melvin menyalakan lampu meja.

Cahaya temaram menyinari kamar yang luas, terlalu luas untuk satu orang, terlalu mewah untuk sebuah penjara.

Dindingnya dihiasi panel kayu gelap. Ranjangnya besar, berkaki ukiran, dengan seprai sutra berwarna abu-abu tua yang dingin.

Dan di seberang ranjang, jendela kaca besar memperlihatkan panorama hutan yang gelap, diterangi bulan yang tergantung rendah di langit.

Seperti lukisan.

Atau seperti mimpi buruk yang dibungkus dengan kemasan indah.

Melvin membaringkan Gaby di tepi ranjang.

Ia tidak melepaskannya.

Gaby masih diam. Matanya menatap langit-langit, tidak berkedip.

Melvin mengusap rambutnya.

"Aku akan memandikanmu. Kau pasti lelah setelah perjalanan jauh."

Ia menggendongnya lagi.

...

Uap dingin mulai memenuhi ruangan.

Melvin membuka keran bathtub besar berbahan marmer hitam. Air mengalir deras, dingin. Terlalu dingin untuk ukuran tubuh manusia normal. Tapi ia tidak peduli.

Ia menambahkan essential oil lavender dan beberapa tetes minyak kayu putih. Aromanya tajam, menusuk hidung, memaksa saraf untuk tetap terjaga.

Lalu ia menuangkan cairan busa.

Gunungan busa putih mulai menumpuk di permukaan air, mengapung seperti awan kecil yang mati.

Melvin menurunkan Gaby ke dalam bathtub.

Air dingin menyentuh kulitnya.

Gaby tersentak.

Mata kosongnya untuk pertama kalinya menunjukkan sesuatu, bukan kesadaran, tapi refleks. Tubuhnya menggigil, bibirnya membiru.

"N-no..."

Itu kata pertama yang keluar dari mulutnya sejak meninggalkan London.

Melvin tidak mendengarkan.

Ia sendiri masuk ke dalam bathtub, air meluber ke lantai marmer. Dingin yang sama menusuk kulitnya, tapi ia tidak menggigil. Ia sudah terbiasa dengan dingin. Ia terbiasa dengan segala hal yang tidak biasa.

Ia menarik Gaby ke dalam dekapannya.

Punggung Gaby menempel di dada bidangnya. Kepala Gaby bersandar di bahunya.

"Don't be afraid,, Gaby girl. I'm here."

Gaby menggigil hebat.

Rasa dingin yang menyelimuti tubuh, perasaan takut yang menggerogoti hati... Dua hal dalam satu waktu. Menyertakan dominasi Melvin yang terlalu gelap, tidak terkendali.

Melvin mencium puncak kepala Gaby.

Lebih lama.

Dan possessive~

"You should know," bisiknya di sela-sela rambut Gaby, "setiap malam selama setahun di pulau itu, aku memandikanmu seperti ini. Do you remember that?"

Gaby tidak menjawab.

"Your silence is a lie, darling. Your body, however... it’s far more honest. It never pulls away, does it? It melts, shivering in all the right ways because it knows exactly where it belongs...

.. You feel safe here, anchored in my shadow, even if those pretty lips of yours refuse to bleed the truth. Go on, keep your secrets. I can hear your heart racing against my chest, and that’s the only confession I’ll ever need."

Dan kalimat panjang puitis itu hanya dibalas diam.

Membuat Melvin menarik napas panjang. Bibirnya melengkung membentuk senyuman manis. Terlalu manis. Tidak mengenal tempat dan kondisi.

Lalu memeluk Gaby semakin erat.

. ..

Air mulai mendingin.

Bukan, sudah dingin sejak awal. Tapi dingin itu kini terasa berbeda. Bukan menusuk. Tapi... membius. Seperti air yang perlahan meracuni rasa takut hingga yang tersisa hanya mati rasa.

Gaby berhenti menggigil.

Melvin merasakannya.

Ia tersenyum semakin lebar, mata birunya berkilat indah, sempurna. Terlalu sempurna~

Tangan besarnya mulai bergerak.

Perlahan.

Dari bahu Gaby, menyusuri lengan, hingga jemari.

Lalu kembali.

Ke leher.

Ke tulang selangka.

Ke...

Robek.

Kemeja Gaby yang basah disobek dari kerah hingga ujung. Kain itu melayang ke lantai marmer, basah, kusut, tidak berguna.

Gaby menutup matanya.

Ia tidak bisa melihat. Tapi ia bisa merasakan.

Tangan Melvin meraih bra-nya. Membuka pengait di belakang dengan gerakan yang terlalu terlatih seolah ia telah melakukan ini ribuan kali. Mungkin memang.

Kain satin itu melorot, jatuh ke air.

Gaby menahan suaranya kuat-kuat sampai air matanya tak lagi mampu di bendung, berusaha tetap waras di tengah-tengah rasa dingin yang menyiksa, dan rasa frustasi yang berteriak histeris ingin di ungkapkan lewat teriakan. Tapi Gaby tetap diam, meyakinkan dirinya sendiri 'Everything will be fine after this' . Tentu saja.

Tapi tidak dengan perlakuan Melvin, yang menggoyahkan keyakinannya.

Tangan Melvin tidak berhenti.

Meraba.

Mengelus.

Menelusuri setiap lekuk tubuh Gaby dengan jemarinya yang dingin, sedingin air yang merendam mereka berdua.

"Don't cry, Gaby girl...

.. Don't... cry... hmm?"

Bisikan itu pelan. Penuh dominasi. Manis tapi beracun. Seperti racun yang tertelan bersama madu.

Gaby membuka matanya.

Ia mulai sadar untuk-seharusnya ia melawan. Tidak seharusnya ia diam menerima perlakuan tidak bermoral ini. Ia seharusnya tidak pasrah seperti ini.

Tapi ketika ia ingin melawan. Ingin berteriak. Ingin memukul.

Tangannya tidak bisa bergerak.

Sejak kapan?

Ia menunduk.

Sejak kapan pergelangan tangannya terikat seperti ini? Sejak kapan?

Gaby tidak tahu.

Tapi di sana, melingkar erat di kedua pergelangan tangannya, sabuk kulit itu mengikatnya. Menyatukan kedua tangannya, cukup untuk melumpuhkan, cukup untuk membuatnya tidak bisa melawan setiap kehendak Melvin padanya.

"K-kapan..."

"Kau terlalu lelah untuk memperhatikan," jawab Melvin tenang. "Aku tidak ingin kau menyakiti dirimu sendiri saat mencoba melawan."

Gaby terisak.

Bukan isakan keras. Bukan tangisan histeris yang memecah keheningan. Tapi isakan kecil, pelan, putus asa seperti burung merpati yang kakinya patah dalam kurungan emas.

Melvin membiarkannya.

Ia menegakkan tubuhnya di dalam air. Tubuhnya yang basah oleh busa dan minyak esensial tampak seperti patung marmer yang hidup. Dingin, sempurna, dan tidak terjangkau oleh emosi manusia normal.

Ia membuka pakaiannya sendiri.

Satu per satu.

Kemeja basah melorot ke lantai. Celana panjang diikuti. Hingga tidak ada lagi yang tersisa di antara mereka kecuali air dan busa yang mulai luntur.

Melvin kembali memeluk Gaby.

Kali ini, tidak ada kain yang memisahkan kulit mereka.

Gaby membeku.

Tubuhnya kaku seperti kayu. Ia tidak bisa bernapas. Tidak bisa berpikir benar.

Melvin menekan lehernya, bukan untuk melukai, tapi untuk memastikan Gaby tidak bisa menjauh. Untuk memastikan kepalanya tetap bersandar di bahunya, tidak ke mana-mana.

"Kau sangat manis saat diam," bisik Melvin di telinganya. "Tapi kau lebih manis lagi saat kau berhenti menangis."

Gaby berhenti menangis.

Tangisan tidak akan menyelesaikan segalanya. Tangisan tidak mendatangkan siapapun untuk menolongnya bebas dari cengkraman pria gila yang sedang memeluknya dalam kengerian yang dingin-beracun..

*

Melvin menarik Gaby keluar dari bathtub.

Air mengalir dari tubuh mereka berdua, membasahi lantai marmer yang dingin.

Ia membawanya ke bawah shower.

Air dingin mulai membasahi mereka dari kepala hingga ujung kaki.

Gaby menggigil lagi.

Tapi ia tidak meronta.

Melvin menekannya pada kaca.

Punggung Gaby menempel di permukaan yang dingin, dadanya menempel di dada Melvin yang hangat. Hangat karena darahnya mendidih, bukan karena air.

Ia mengecup leher Gaby.

Bukan ciuman ringan.

Tapi ciuman yang dalam, basah, meninggalkan jejak merah yang akan membiru besok pagi.

"I won’t let you slip through my fingers again, Gaby girl...

.. I shan't be letting you go again. Not now, not ever. You’ve had your run, but you belong back here, tucked away where the world can't find you. Your pulse is erratic... terrified? Or perhaps just relieved that the chase is finally over. Stay still, darling. You're mine to keep now, and I’m a very, very greedy man."

Gaby menutup matanya.

Menikmati rasa sakit yang mulai terasa manis.

.

.

.

Melvin memakaikan bathrobe pada Gaby.

Tebal, hangat, terbuat dari bahan mewah yang menyerap setiap tetes air dari kulitnya.

Ia menggendongnya lagi, terlalu mudah, seperti menggendong anak kecil. Dan mulai berjalan menuju ranjang.

Gaby dibaringkan di atas seprai sutra yang dingin.

Melvin naik ke sampingnya.

Ia menyalakan sebuah musik box tua di meja nakas.

Lagu pelan, sendu, seperti lagu pengantar tidur yang diputar di rumah duka. Horror~

Cahaya temaram dari lampu meja menciptakan bayangan yang menari-nari di dinding, seperti siluet makhluk halus yang menyaksikan dari kejauhan.

Melvin memeluk Gaby.

Dari belakang.

Tangannya melingkar di perut Gaby, menariknya hingga tidak ada jarak di antara mereka.

Gaby membiarkannya.

A little... Strange...

Di tengah semua ketakutan, semua kekacauan, semua keputusasaan...

Ada sesuatu yang hangat dari pelukan ini.

Gaby perlahan meraih tangan Melvin yang melingkar di perutnya. Jemari kasar yang telah merobek pakaiannya, meraba tubuhnya, menelusuri setiap inci kulitnya.

Ia menarik tangan itu ke atas.

Ke bibirnya.

Melvin tertegun sesaat. Lalu ia tersenyum.

Gaby membiarkan jemari Melvin menyentuh bibirnya.

Ia tidak menciumnya. Tidak membelainya. Ia hanya... membiarkan ujung jari itu berada di sana, merasakan tekstur bibir bawahnya yang sedikit pecah-pecah karena kering.

"Merasa sangat nyaman, Gaby?" bisik Melvin.

Gaby tidak menjawab.

Tapi ia tidak melepaskan tangan Melvin.

Melvin tersenyum.

Senyum kemenangan.

Ia mengecup belakang kepala Gaby, rambutnya yang masih lembap, kulit di belakang telinganya yang sensitif.

"Tidurlah.Kita akan menghadapi hari esok dengan drama yang manis."

Gaby memejamkan mata.

Musik box terus berputar.

Lagu sendu itu mengalun pelan, mengiringi malam yang dingin di vila tersembunyi di antara pepohonan pinus.

Dan di pelukan pria yang telah menghancurkan hidupnya ini... Entah mengapa Gaby merasa... aman.

Aman dengan cara yang salah.

Yang membuatnya seolah hidup dalam sangkar emas..

Ia mengkhianati Emrys.

Ia tahu itu.

Tapi ia tidak punya energi untuk merasa bersalah.

Mungkin besok.

Mungkin lusa.

Mungkin tidak pernah.

...

Sementara di London, jauh dari aura magis pegunungan.

Di penthouse nya, Emrys belum juga tertidur.

Ia berdiri di ruang kontrol keamanan, menatap puluhan layar yang menampilkan rekaman CCTV dari seluruh penjuru London.

Tidak ada jejak.

Tidak ada satu pun kamera yang menangkap mobil hitam tanpa pelat itu.

Seperti setan, Melvin datang dan pergi tanpa meninggalkan bayangan.

Keytlon masuk ke ruangan. Wajahnya lelah.

"Tim keamanan sudah menyebar ke semua pintu keluar kota. Pelabuhan, bandara, stasiun kereta."

"And-then..?"

"Belum ada kabar."

Emrys membanting tinjunya ke meja.

"Dia tidak mungkin menghilang begitu saja! Dia membawa mobil, dia membawa Gaby. Pasti ada yang melihat!"

"Emrys..." Keytlon meletakkan tangan di bahu sahabatnya. "Kita akan menemukannya. Tapi kau harus tenang. Jika kau kehilangan kendali, kau tidak akan bisa berpikir jernih."

Emrys mengepalkan tangannya.

"Dia sudah mengambilnya sekali. Aku tidak akan membiarkan dia mengambilnya lagi."

"Kita tidak akan biarkan," kata Keytlon. "Tapi kita butuh waktu."

Emrys menatap layar kosong di hadapannya.

Bayangan Gaby yang tertawa, Gaby yang menangis, Gaby yang memanggilnya "Kak" dengan suara manja, berputar di kepalanya.

"Aku akan menjemputmu."

...

Musik box berhenti berputar.

Keheningan menggantikannya.

Melvin masih terjaga.

Ia menatap wajah Gaby yang tertidur di pelukannya.

Bekas air mata masih basah di pipinya. Bibirnya sedikit terbuka, napasnya teratur.

"I will always hug you, Gaby," bisiknya.

Malam itu, di vila tersembunyi di antara pepohonan pinus yang menjulang, dua manusia tidur dalam satu pelukan.

Satu dalam kemenangan.

Satu dalam kepasrahan.

Dan di luar, angin malam berhembus kencang, membawa serta doa-doa yang tak pernah sampai ke langit.

-------------;;

To Be Continued...

1
Jj^
Thor kasih visualnya Melvin yg rambut putih itu pasti cakep bgtt dah😁
Jj^: ok thor
total 3 replies
Jj^
terimakasih Thor😍
Jj^
lanjut Thor 🤗
Jj^
yg banyak update nya thor aku makin penasaran maaf ngelunjak 😁
Jj^
makin seru nih Thor🤩
Thinker Bully ><: aku juga😄👍
total 4 replies
Jj^
terimakasih Thor 🤗
lanjut update lagi thor
🤗
Jj^: siapp thor🤗
total 2 replies
Jj^
lanjut Thor 🤗
Jj^: semangat Thor aku selalu menunggu 🤗
total 2 replies
Thinker Bully ><
Keep up the good work for myself.
delta_core127
up lagi dong~
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!