NovelToon NovelToon
SIMFONI TAK BERATURAN

SIMFONI TAK BERATURAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyelamat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:542
Nilai: 5
Nama Author: Ghuci Shintara

Novel Ringan ini berlatar tahun 2002 yang menceritakan tentang takdir mempertemukan kembali kedua insan yang berakhir dalam ikatan suci secara paksa atau mungkin dijodohkan karena hutang budi.

Pertemuan tak terduga sore itu di lapangan lari Velodrom Rawamangun Jakarta Timur saat Sandi tengah ikut ujian praktek lari pelajaran penjas kelas 2 semester 2 dari sekolah SMPnya Pejuang Bangsa dengan seorang gadis yang dimana, dia adalah teman sekelasnya dulu di SD Bhayangkara Jakarta.

Saat Sandi berlari estafet untuk mengambil nilai praktek dan memberikan tongkat ke rekannya, dia berhenti dan matanya menatap ke arah seorang gadis yang berpakaian olahraga dari SMP yang berbeda, dia melihat gadis itu bersama 2 rekannya sedang di goda oleh siswa SMA yang sedang melakukan praktek lari di Velodrom Rawamangun Jakarta juga.

Dimulai dari pertemuan tak terduga itu, kehidupan Sandi berubah 180 derajat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Ninja hijau Sandi membelah aspal mulus kawasan Pondok Indah yang mulai temaram dipayungi deretan pohon angsana raksasa. Suasana di sini sangat kontras dengan hiruk-pikuk Jatinegara; hening, sejuk, dan teratur. Ketika motornya berhenti tepat di depan gerbang besi tinggi menjulang yang menjadi benteng kemegahan rumah Saskia, gadis itu turun dengan gerakan lambat, seolah sengaja mengulur waktu agar momen ini tidak cepat berakhir.

Saskia memutar tubuhnya, menatap Sandi yang masih duduk tegak di atas motornya. Tangannya menarik-narik ujung jaket Sandi dengan wajah memohon. "Ayo, San... mampir dulu sebentar. Minum es sirup atau apa gitu di dalam. Mama pasti senang kalau tahu kamu yang antar aku," ajak Saskia dengan nada merayu.

Sandi melirik jam tangan digitalnya yang sudah menunjukkan angka kritis, lalu menggelengkan kepala dengan tegas namun tetap tenang. "Enggak, Sas. Ini sudah hampir Magrib. Lo tahu sendiri jalur pulang dari sini ke rumah gue itu 'medan perang'. Gue juga harus buru-buru sampai rumah supaya nggak lupa amanah nyokap lo tadi pagi. Gue harus bicara serius sama Ibu soal rencana pertemuan mereka."

Mendengar alasan yang membawa-bawa urusan orang tua, Saskia hanya bisa mengembuskan napas panjang. Bahunya sedikit merosot, menunjukkan rasa berat hati yang tak bisa ia sembunyikan. Namun, Sandi yang sudah sangat hafal dengan perubahan emosi sahabatnya itu, segera mengulurkan tangan. Ia menepuk bagian atas helm retro yang masih dikenakan Saskia dengan gerakan akrab.

"Nggak usah cemberut begitu, mukanya jadi tambah mirip bakpao," goda Sandi, membuat Saskia refleks memegang pipinya. "Inget kesepakatan Kelompok Sableng tadi? Kalau ada tugas kelompok lagi, kita bakal 'invasi' rumah lo seharian penuh. Jadi simpan tenaga lo buat nyambut kita nanti."

Seketika, binar di mata Saskia kembali menyala. Ia mengangguk mantap, sebuah senyum manis terukir kembali di bibirnya. "Iya juga ya! Oke, aku nggak sedih kok. Janji ya, nanti harus jadi ke sini bareng yang lain. Ya sudah, kamu hati-hati di jalan ya, San. Makasih banyak ya... sudah mau repot-repot nganterin aku sampai depan gerbang begini."

Sandi terkekeh sinis, sengaja ingin menjahili Saskia untuk terakhir kalinya hari ini. "Ya, walaupun sebenarnya gue sangat amat terpaksa lahir batin nganterin lo karena ancaman 'Oneng' lo itu."

"Iih, Sandi mah!" Saskia tertawa renyah sambil mendaratkan cubitan gemas di lengan Sandi yang dibalut jaket. "EGP (Emang Gue Pikirin)! Yang penting selamat sampai tujuan dan bisa peluk kamu di motor!" lanjutnya sambil menjulurkan lidah dengan jenaka.

Sandi hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah ajaib itu. "Sudah sana masuk, keburu nyokap lo nyariin. Gue cabut ya, Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam, Sandi!" seru Saskia sembari melambaikan tangan dengan semangat kearah punggung Sandi.

Sandi menginjak pedal gigi, deru mesin Ninja-nya memecah kesunyian sore itu saat ia memutar balik menuju jalur pulang. Di kaca spion, ia masih sempat melihat Saskia berdiri di depan gerbang hingga sosoknya mengecil dan menghilang di tikungan. Perjalanan pulang kali ini terasa lebih ringan bagi Sandi, meski perutnya masih sesekali terasa kaku. Pikirannya kini terfokus pada satu hal: menyampaikan pesan Mama Saskia kepada Ibunya.

Malam Minggu di Jakarta memang tidak pernah bersahabat bagi pengendara motor. Sandi harus berjibaku dengan lautan kendaraan yang memadati setiap jengkal aspal, mulai dari bus kota yang berasap hitam hingga deretan mobil pribadi yang hendak menghabiskan malam di pusat perbelanjaan. Perjalanan yang seharusnya singkat dari Pondok Indah ke Jatinegara terpaksa memakan waktu hampir dua jam.

Sandi baru bisa memarkirkan Ninja hijaunya di depan teras rumah yang bersahaja tepat pada pukul 19.57 WIB. Badannya terasa remuk, namun aroma masakan yang tercium dari balik pintu seolah menjadi bahan bakar baru baginya.

"Sandi pulang, Bu," sapa Sandi lemas sembari melepas jaketnya.

Ibu Sandi yang sedang menata meja makan menoleh dengan senyum teduh. "Telat banget pulangnya, San. Pasti macet ya? Sana mandi dulu biar segar. Ibu baru saja selesai masak tahu sama tempe balado kesukaan kamu. Masih hangat itu."

Sandi hanya mengangguk patuh. Air dingin yang mengguyur tubuhnya seketika melunturkan debu jalanan dan rasa penat. Setelah berpakaian santai, ia segera menghampiri ibunya untuk menikmati makan malam sederhana namun penuh nikmat di bawah temaram lampu ruang makan.

Di sela-sela denting sendok dan piring, Sandi teringat amanah yang sempat tertunda. "Ibu... tadi Mamanya Saskia bilang kalau beliau ingin sekali bertemu sama Ibu. Kira-kira Ibu ada waktu luang kapan?"

Ibu Sandi menghentikan suapannya sejenak, tampak berpikir. "Ketemu Ibu? Ada perlu apa emangnya, San? Apa masalah sekolah?" tanya beliau sedikit khawatir.

"Sandi juga nggak tahu pasti, Bu. Katanya cuma mau kenalan saja sama Ibu, mungkin karena Saskia sering main sama Sandi. Nggak ada urusan sekolah kok," jawab Sandi menenangkan.

Ibunya mengangguk perlahan. "Hmm, kalau Senin atau Selasa besok kayaknya Ibu bisa, San. Pak Haji Romli tadi bilang mau ke Tangerang besok subuh buat nengok cucunya, jadi Senin dan Selasa dia nggak naruh cucian hariannya. Ibu jadi sedikit lebih santai."

Mendengar itu, wajah Sandi cerah. "Oke deh, Bu. Nanti Sandi kabari Saskia. Mungkin lewat wartel atau telepon koin di depan komplek saja biar cepat."

"Yaudah, kalau gitu biar Ibu saja yang cuci piringnya. Kamu langsung saja kabari Saskia, mumpung belum terlalu malam," ujar Ibu Sandi hendak bangkit.

Sandi dengan sigap menahan pundak ibunya. "Nggak usah, Bu. Ibu istirahat saja di kamar, biar Sandi yang beresin semua piring kotor ini. Habis itu baru Sandi jalan ke wartel. Ibu pasti capek kan seharian ini?"

Ibu Sandi tersenyum haru melihat perhatian anak semata wayangnya. Beliau mengusap kepala Sandi lembut lalu mengangguk, melangkah perlahan menuju kamar untuk mengistirahatkan tubuhnya yang mulai renta.

Setelah memastikan dapur bersih dan piring-piring tertata rapi di rak, Sandi mengambil kunci motor dan dompetnya. Ia melangkah keluar menembus udara malam Jatinegara menuju wartel terdekat, berniat memberikan kabar gembira ini kepada "Si Oneng" yang mungkin sudah menunggu teleponnya sejak tadi.

Udara malam Jatinegara terasa semakin pekat oleh sisa-sisa emisi kendaraan, namun Sandi tetap memacu Ninja hijaunya dengan sabar, menyusuri gang-gang sempit yang diterangi lampu merkuri yang remang-remang. Ia sempat mampir ke dua wartel di dekat pasar, namun pemandangannya serupa: bilik-bilik kayu sempit itu penuh sesak oleh kaum muda yang sedang dilanda asmara jarak jauh, terlihat dari raut wajah mereka yang tersenyum malu-malu atau justru cemberut menahan rindu sambil melilitkan kabel telepon ke jari.

Tak mau membuang waktu mengantre, Sandi memutuskan bergeser ke kampung sebelah. Di sana, di bawah naungan tiang listrik yang berdiri angkuh, berderet box telepon koin berwarna biru kusam yang sudah mulai mengelupas catnya. Beruntung, ada satu pesawat telepon yang baru saja ditinggalkan penggunanya. Sandi segera merapat, merogoh saku jeansnya, dan mengeluarkan lima keping koin seratusan bergambar rumah gadang yang sudah ia siapkan sejak dari rumah.

Ia sengaja tidak menghubungi ponsel Saskia yang bermerek mahal itu; ia tahu betul pulsa ponsel adalah "pembunuh" dompet paling kejam bagi kantong pelajar. Dengan telaten, ia memasukkan koin satu per satu—klung, klung, klung—lalu menekan kombinasi nomor telepon rumah Saskia yang sudah ia hafal di luar kepala.

Tut... tut...

Baru dua kali nada sambung berbunyi, terdengar suara klek yang menandakan gagang telepon di seberang sana telah diangkat.

"Halo!" suara melengking yang sangat khas itu menyambar indra pendengaran Sandi. Ia bisa membayangkan Saskia pasti sedang duduk bersila di atas karpet bulu di ruang tengahnya, menanti telepon dengan tingkat kewaspadaan tinggi.

Sandi menarik napas, mencoba mengubah suaranya menjadi lebih berat dan berwibawa, sisa-sisa latihan wawancara radionya. "Halo, selamat malam. Apakah benar ini kediaman Ibu Desi yang terhormat?"

"Iya, benar sekali. Maaf, ini dengan siapa ya?" suara Saskia terdengar agak ragu, namun tetap penuh rasa ingin tahu.

"Ini dengan seseorang yang memiliki niat suci untuk berkenalan dengan putri Ibu Desi... kalau tidak salah namanya Saskia Fiana Putri, ya?" pancing Sandi sambil menahan tawa.

"Eh? Bagaimana kamu bisa tahu namaku? Ini siapa sih? Jangan macam-macam ya!" Saskia mulai terdengar panik, suaranya sedikit meninggi.

Sandi tidak bisa lagi menahan tawa renyahnya. "Maaf, salahku. Namaku mungkin tidak penting bagi dunia, tapi apakah benar kamu itu Saskia Fiana Putri, spesialis 'Oneng' tingkat nasional yang hobi makan es krim sampai celemotan?"

Hening sejenak di seberang sana. Satu detik... dua detik... lalu...

"SANSAN!!!!!!" teriakan Saskia begitu menggelegar sampai Sandi harus menjauhkan gagang telepon dari telinganya agar tidak tuli mendadak. "Ya ampun, Sandi! Aku kira siapa! Aku sudah takut mau diculik tahu!"

Sandi terkekeh, ia menyandarkan bahunya ke box telepon koin yang dingin. "Mana ada penculik menelepon dulu untuk reservasi? Itu namanya penculik sopan santun. Kalau hipnotis lewat telepon, itu baru masuk akal di zaman sekarang."

"Ih, tapi aku beneran senang kamu telepon! Tumben banget, San? Ada apa? Kangen ya sama aku? Ngaku deh, kan tadi baru ketemu masa sudah rindu berat?" goda Saskia dengan nada manja yang mulai kembali ke mode aslinya.

Sandi mencibir, meski Saskia tak bisa melihatnya. "Dih, kepedean lo setinggi Monas. Gue menelepon ini karena punya misi diplomatik. Gue mau menyampaikan kabar buat nyokap lo, kalau hari Senin atau Selasa besok, nyokap gue ada waktu untuk bertemu. Nyokap lo ada di rumah nggak sekarang?"

Nada bicara Saskia langsung berubah layu, seolah bunga yang baru saja disiram air panas. "Yah... kok malah cari Mama sih? Kan aku teman kamu, San. Harusnya yang ditanya kabarnya itu aku, bukan Mama."

Sandi mulai merasa emosinya sedikit terpancing oleh logika 'Oneng' sahabatnya itu. "Eh, Saskia Fiana Putri Tralala Trilili! Gue ini sedang menyampaikan amanah dari nyokap lo sendiri tadi pagi. Dan lo harus sadar, gue ini menelepon pakai telepon koin pinggir jalan. Kalau tiba-tiba suaranya hilang, itu artinya koin gue sudah habis dimakan mesin. Paham lo?"

Saskia tertawa renyah, seolah omelan Sandi adalah musik merdu baginya. "Iya, iya, paham Bos Sandi. Nanti aku sampaikan ke Mama deh pesannya."

"Gak! Gue nggak percaya sama memori jangka pendek lo itu," potong Sandi tegas. "Yang ada besok pagi lo pasti sudah lupa. Panggil nyokap lo sekarang juga sebelum koin terakhir gue jatuh!"

Saskia mendengus manja namun patuh. "Iya, bawel banget sih. Sebentar ya, aku panggil Mama dulu."

Sandi mendengar suara gagang telepon diletakkan di atas meja, diikuti suara teriakan Saskia yang memanggil-manggil ibunya dari kejauhan. Sembari menunggu, Sandi memainkan kabel telepon yang melilit-lilit dengan jarinya, menatap lampu-lampu kendaraan yang lewat di depannya dengan perasaan campur aduk.

"Iya, halo?" suara lembut dan berwibawa dari seorang wanita paruh baya akhirnya terdengar.

"Selamat malam, Tante Desi? Ini Sandi, Tante," sapa Sandi dengan sopan santun yang kembali ke level maksimal.

"Oh, Sandi! Bagaimana, San? Sudah bicara dengan Ibumu?" tanya Mama Saskia dengan nada antusias.

"Sudah, Tante. Seperti amanah Tante tadi pagi, Sandi sudah sampaikan ke Ibu. Katanya untuk hari Senin atau Selasa besok, Ibu bisa meluangkan waktu karena jadwal cucian sedang agak longgar."

"Oh, syukurlah kalau begitu! Kalau begitu kita tentukan saja hari Senin depan, ya? Pulang sekolah kamu langsung ke rumah Tante saja bersama Ibumu."

Sandi sedikit terkejut. "Hah? Langsung ke rumah Tante? Maksudnya Ibu yang ke sana?"

"Iya, San. Sekalian Tante ingin menjamu kalian, kita makan malam bersama di sini supaya suasana kenalannya lebih akrab. Bagaimana?" ajak Mama Saskia dengan nada tulus.

Sandi menggaruk kepalanya yang tidak gatal, membayangkan ibunya yang sederhana harus masuk ke rumah mewah di Pondok Indah. "Waduh, kalau soal makan malam itu... Sandi kurang yakin Ibu bakal mau, Tante. Ibu orangnya agak segan kalau merepotkan orang lain. Tapi nanti Sandi coba bicarakan lagi dengan baik pelan-pelan."

"Iya, coba dirayu ya, San. Pokoknya hari Senin sepulang sekolah kamu jemput Ibumu dulu, lalu langsung meluncur ke rumah Tante. Tante tunggu ya."

"Iya Tante, nanti Sandi usahakan semaksimal mungkin. Kalau begitu Sandi pamit dulu ya Tante, soalnya koin di telepon ini sudah mulai habis suaranya..."

"Iya, Sandi. Terima kasih ya sudah bela-belain mencari telepon koin malam-malam begini cuma untuk memberi kabar. Tante hargai sekali usahamu."

"Sama-sama Tante, selamat ma—"

"MAMA! Aku mau ngomong lagi sama Sandi! Gantian dong, Ma!" Tiba-tiba suara rusuh Saskia terdengar di latar belakang, disusul suara rebutan gagang telepon yang sangat heboh.

"Halo, San! Sandi, dengar nggak? Kamu harus janj—"

Tut... tut... tut...

Suara Saskia terputus seketika. Layar kecil di pesawat telepon menunjukkan angka nol, dan koin terakhir Sandi telah resmi jatuh ke dalam perut mesin. Sandi terdiam sejenak, menatap gagang telepon yang kini hanya mengeluarkan nada sibuk. Ia tidak bisa menahan tawa membayangkan wajah Saskia yang pasti sedang merengut kesal karena diputus secara sepihak oleh durasi koin.

Sandi menggelengkan kepalanya pelan, menyimpan kembali sisa recehan di sakunya, lalu melangkah menuju Ninja hijaunya. Ia menghidupkan mesin motornya, memutar balik arah, dan membiarkan angin malam Jatinegara menyapu wajahnya saat ia melaju pulang ke rumah dengan perasaan lega karena tugas diplomatiknya telah usai.

1
Shintara
Yuk di baca yuk
Shin Nara
Next thor
Shintara: update setiap jam 9 pagi ya kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!