Embun baru saja tamat Sekolah dari Desa, Sehingga dia terpaksa ikut dengan Bu Wina, Warga tetangganya karena dia memang butuh pekerjaan dalam menyambut hidup.
Embun tinggal seorang diri, setelah ibunya meninggal dunia, sejak saat itu dia menghadapi getirnya hidup didunia ini.
Sementara Rido Prasetio adalah Pewaris Talzus Group, dia terus dipaksa nikah oleh sang Ibu, Karena menurut sang Ibu, Usia Rido Sudah sangat Jauh berumur.
Karena merasa kesal dengan ibunya, Rido mengajak teman temannya untuk datang ke Bar, sehingga mereka mabuk dan mengalami kecelakaan beruntun.
Penasaran dengan ceritanya, ayo terus ikuti ceritanya disini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeprism4n Laia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Kemarahan Sang Ayah
Mendengarkan jawaban dari sang pembantu, Rido hanya bisa mendengus kesal “Dasar Wanita Gila”.
Sementara embun langsung meninggalkan Rido sendirian, setelah dia dikatai gila oleh sang tuan muda.
“Heeii Tunggu! Aku masih belum siap!” panggil Rido yang merasa terhina dengan sikap embun yang tidak mengindahkannya sama sekali.
“siapa yang tuan dirumah ini? Dia atau saya! Dasar s”alan awas saja kau anak kecil!” gerutu Rido dengan amarahnya yang sampai ke ubun ubun.
Rido makan malam bersama dengan keluarganya, mereka dilayani oleh para pembantu senior tanpa adanya embun yang kadang kadang menyebalkan menurut Rido.
Rido mengedarkan pandangannya keseluruh pelayan, namun dia tidak menemukan keberadaan anak itu “dimana anak bandel itu?” gumamnya sambil meraih gelas minuman.
Tiaras yang melihat gelagak Rido yang masih belum menyentuh makanannya, terkecuali dengan Giancarlo sang ayah, dia langsung menyerbu makanan itu bagaikan orang kelaparan yang berada di tengah peperangan.
“Kamu kenapa masih belum menyentuh makananmu?” Tanya sang ibu kepada Rido.
“Emm.. saya tidak suka dagingnya, saya mau telur dadar campur tepung dan mentega” jawab Rido yang membuat permintaan sedikit sulit.
Tiaras melihat bu Farel, kemudian meminta bu Farel untuk meminta koki membuatkan permintaan sang tuan muda barusan “bi Farel, tolong buatkan telur dadar yang diinginkan oleh Tuan Muda”.
“Baik Nyonya, saya langsung meminta koki” sahut bu Farel dengan sopan.
Namun sebelum bu Farel melangkahkan kakinya dari ruangan itu, tiba tiba sebuah suara terdengar tegas “Tidak bi! Saya mau pelayan embun yang membuatnya”.
Semua pelayan terkejut mendengar permintaan sang tuan muda, mereka tidak menyangka Rido akan membuat permintaan seperti itu.
“maaf tuan muda, pelayan embun tidak bisa membuat masakan sesuai dengan selera tuan muda, karena dia pelayan baru disini” potong bu Wina dengan terbur buru, dia sedikit gugup takut akan menyinggung sang tuan dingin itu.
Rido menatap tajam kearah bu Wina, yang membuat nyali bu Wina langsung ciut bagaikan kepiting rebus, sampai dia menunduk.
“Saya tidak suka adanya penolakan bi! Dia sudah ditugaskan oleh ibu saya untuk melayani saya selagi saya masih dalam keadaan pemulihan” ucap Rido dengan tatapan dinginnya.
“Sudah bi! Cepat panggilkan nak embun kesini, jangan menolak permintaan tuan muda” timpal Tiaras dengan cepat, dia takut Rido akan semakin marah ketika banyak penolakan dari para pembantu itu.
Dengan langkah cepat bu Wina langsung memanggil embun, dia semakin khawatir embun telah membuat sebuah kesalahan yang sangat besar. Dengan meremas jari jarinya bu wina berjalan kearah embun yang masih sibuk dengan cuciannya.
“nak embun, cepat ikut saya keruang makan, tuan muda menyuruhmu untuk membuatkan dia telur dadar dengan campur tepung dan mentega” bu wina buru buru menyampaikan keluhannya kepada embun, sambil dia menarik tangan embun masuk kedalam.
Embun hanya bisa mengerutkan keningnya dengan rasa penasaran, sambil berjalan dia berkata “Bu Wina, apa maksudnya itu? Apa maksudnya telur dadar campur tepung dan mentega, saya belum pernah mendengar hal seperti itu?”.
“Siiisst,, sudah, sudah! Kamu jangan banyak Tanya, kamu ikuti saja apa yang disuruh oleh tuan muda” sergah bu Wina dengan penuh rasa cemasnya.
Sampai diruang makan, Rido melemparkan tatapan tajamnya yang penuh dengan rasa permusuhan, dia menatap embun dengan penuh kabut dendam.
“nak Embun tolong buatkan telur dadar yang di campur tepung dan mentega, karena tuan muda tidak bisa makan daging” pinta Tiaras dengan nada lembut kepada Embun yang barusan sampai dihadapannya.
“Kok tiba tiba tuan muda tidak suka makan daging nyonya, padahal baru tadi siang dengan lahap makan daging sapi, atau jangan jangan tuan muda sedang sariawan ya?” cerocos embun dengan tidak memperdulikan tatapan sang majikannya.
“baru kali ini saya melihat pelayan banyak sekali pertanyaan! Apakah kau sudah tidak mau kerja disini lagi Hah!” bentak Giancarlo dengan sangat tegas, yang membuat semua pelayan yang berada ditempat itu bergidik ngeri.
Melihat sang ayah sudah naik pitam, Rido tersenyum tipis tanpa bisa dilihat oleh siapapun
“ayah jangan begitu ah! Membuat suasana jadi tegang, sudahlah nak embun, cepat kau buatkan permintaan tuan muda” tegur Tiaras yang mencairkan suasana.
Tanpa berpikir dua kali, embun langsung bergegas pergi kedapur, dengan cepat dia langsung meraih bahan bahan makanan yang dipesan oleh Rido, tanpa babibu lagi dia langsung mengaduk adonan makanan itu.
Dengan sangat ragu ragu embun membuat telur dadar itu, dia tidak menyangka dia akan mendapatkan tugas yang serumit itu, tanpa dia sadari bu wina sudah berada dibelakangnya, bu wina langsung mengarahkannya untuk membuat telu dadar.
Dalam waktu singkat, telur dadar campur tepung dan mentega sudah tersaji di depan sang tuan muda, Tiaras sedikit terkejut melihat telur yang sudah tersaji di meja makan, menjadi menggunggah seleranya ingin mencicipi masakan itu, namun niatnya terpaksa ia urungkan karena dia tidak bisa merebut makanan itu dari tangan anaknya.
“Silahkan tuan muda” ucap embun mempersilahkan Rido untuk menyantap gorenganya.
Dengan tenangnya Rido langsung menggeser piring itu kearah embun, sambil dia berkata dengan enteng “kau harus mencicipi makanan itu, karena saya takut kau sudah mencampur sesuatu di telur ini, karena kau sepertinya keberatan telah disuruh olehku”.
‘bruaak” suara meja ketika Gian memukulnya dengan sangat keras, kemudian dia berkata dengan sangat keras “Siapa kau berani keberatan disuruh oleh anak saya hah! Kau cepat keluar dari rumah ini”.
“Tu, tuan! Saya benar benar tidak merasa keberatan kok, saya ikhlas untuk membuatkan masakan itu untuk tuan muda, tolong jangan keluarkan saya dari rumah ini, saya tidak tau mau harus kemana lagi, kalau saya keluar dari sini” pinta embun dengan berlinang air mata.
“Ayah ini kenapa sih? Kok malah marah marah seperti itu, memangnya embun salah apa disini? Jelas jelas dia sudah mengerjakan tugasnya dengan benar, lalu apalagi yang kurang!” sanggah Tiaras tidak terima dengan kelakuan sang suami yang gegabah.
Rido langsung meninggalkan tempat itu, dia menjalankan kursi roda listriknya kearah kamarnya, dia merasa senang sekarang ketika embun sudah mendapatkan amukan dari sang ayah.
Dengan amarah yang menggebu gebu, Giancarlo berkata “terserah ibu sajalah sekarang! Yang jelas jangan lagi saya lihat dia ada dirumah ini mulai besok” dengan kaki panjangnya langsung meninggalkan meja makan.
Tiaras menjadi dilemma, dia juga tidak punya hak untuk melawan sang suami, dilain sisi dia juga sangat kasih dengan keadaan embun saat ini.
“kalian bereskan semua ini, lalu kalian istirahat, dan nak embun, maafkan suami dan anak saya ya, saya juga tidak bisa melawan mereka, karena saya juga punya keterbatasan” saran Tiaras yang mengelus lembut kepala embun.
Embun hanya bisa menganggukan kepalanya dengan tersedu sedu, dia baru saja sampai di kota ini tapi sudah malah mendapatkan masalah seperti ini. Dengan deraian air mata dia pergi menuju kamarnya, dengan diikuti oleh bu Wina dari belakang.
Setelah sampai di dalam kamarnya, dia langsung duduk disamping ranjang tidurnya dengan memeluk lututnya “Ibu.. aku harus bagaimana sekarang ini? Aku tidak tau salahku? Aku tidak punya siapa siapa di kota ini, ibu,, aku merindukanmu” lirihnya dengan deraian air mata terus saja turun bisa ditahan.
Bu wina ikut terduduk disamping embun, dia mengelus puncak kepala embun dengan perasaan sangat sedih “Kamu bisa menganggap saya sebagai ibumu, kamu bisa memelukku kalau kau mau, karena ibu sudah menganggapmu sebagai anak ibu sendiri”.
Mendengar perkataan bu wina, embun langsung berhambur memeluk bu wina “kenapa harus terjadi dalam hidupku seperti ini bu, sepertinya aku sudah tidak sanggup lagi” ucap embun lirih.
“Kamu yang sabar ya nak, semua ini hanyalah ujian dari Allah, kamu harus tegar untuk menghadapinya, besok ibu temani kamu mencari kos kosan disekitar sini, biar bisa ibu melihatmu setiap hari” ucap bu wina dengan menetaskan air matanya, sambil dia mengelus punggung embun yang masih berada di dalam pelukannya.
Kembali dengan Rido yang masih berkutat didepan Laptopnya, sekarang sudah menunjukkan tengah malam namun dia masih terus mengecek CCTV perusahaannya melalui aplikasi kamera yang ada di Laptopnya, dia juga mengecek kondisi keluar masuknya keuangan perusahaan, dia tidak bisa lengah untuk memantau perusahaannya setiap waktu.
“Ting” suara chat masuk di HPnya.
“Sayang apa kabarmu? Apa kamu masih marah samaku? Sayang aku mau pulang besok lo, apa kamu tidak mau menjemputku di bandara KNO?” isi pesan itu.