Gadis miskin dipaksa menikah menggantikan kakaknya dengan CEO dingin.
Awalnya dihina dan diabaikan, tapi perlahan suaminya berubah.
Tanpa diketahui, sang istri ternyata memiliki identitas tersembunyi yang bisa menghancurkan semua orang yang meremehkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 - Resepsi Yang Memalukan
Resepsi dimulai dengan kemewahan yang terasa asing bagi Alyssa. Lampu gantung besar berkilauan di atas kepala, memantulkan cahaya ke lantai marmer yang licin dan mengilap seperti cermin. Meja-meja bundar tersusun rapi dengan bunga putih dan lilin kecil yang menyala tenang, menciptakan suasana elegan yang seharusnya hangat dan menyenangkan bagi siapa pun yang hadir.
Namun yang Alyssa rasakan justru sebaliknya. Udara di sekitarnya terasa dingin, bukan karena suhu ruangan, melainkan karena tatapan dan sikap orang-orang yang tidak pernah benar-benar menerimanya. Gaun pengantin yang ia kenakan semakin terasa berat, seolah setiap langkahnya membawa beban yang tidak terlihat.
Ia berdiri di samping Daren Wijaya, menjaga jarak yang bahkan tidak perlu diukur untuk terasa jelas. Orang-orang datang silih berganti, memberi ucapan selamat, tersenyum dengan sopan, dan berjabat tangan dengan pria di sebelahnya. Sementara dirinya hanya menjadi pelengkap yang berdiri tanpa peran, hadir tetapi tidak benar-benar dianggap.
“Selamat, Daren. Akhirnya menikah juga.”
“Semoga perusahaannya makin berkembang setelah ini.”
“Pengantinnya… berbeda ya dari yang kami dengar sebelumnya.”
Kalimat terakhir itu selalu disampaikan dengan nada halus, tetapi cukup tajam untuk meninggalkan jejak. Tidak ada yang benar-benar berusaha menyembunyikan rasa penasaran mereka, bahkan sebagian tampak menikmati situasi yang tidak biasa ini.
Alyssa hanya tersenyum tipis, menjaga ekspresinya tetap stabil meskipun dalam hati ia mulai lelah. Senyum itu terasa seperti topeng yang harus terus ia pakai, tidak peduli seberapa berat rasanya. Ia tidak tahu sampai kapan ia bisa mempertahankannya.
Daren di sampingnya tidak pernah menanggapi komentar-komentar itu. Ia hanya mengangguk seperlunya, berbicara singkat dengan tamu-tamu penting, lalu beralih ke orang berikutnya tanpa memperkenalkan Alyssa. Tidak ada satu pun kalimat yang keluar darinya untuk menjelaskan situasi atau sekadar mengakui keberadaan wanita di sampingnya.
Seolah semua ini memang bukan urusannya.
Seiring waktu berjalan, bisikan mulai terdengar lebih jelas. Orang-orang tidak lagi terlalu berhati-hati, seolah yakin bahwa suara mereka tidak akan sampai atau tidak akan direspons.
“Aku yakin ini bukan yang dijodohkan sebelumnya.”
“Iya, aku dengar yang asli kabur.”
“Kasihan juga ya si CEO, dapat pengganti.”
Kata pengganti itu terus berulang, masuk ke telinga Alyssa tanpa bisa ia hindari. Ia mencoba mengatur napasnya, berusaha tetap tenang meskipun setiap kata terasa menekan.
Ini hanya sementara, katanya dalam hati, mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Semua ini akan berlalu, dan ia hanya perlu bertahan sedikit lebih lama.
Namun semakin lama ia berdiri di sana, semakin jelas bahwa ini bukan sekadar acara. Ini adalah panggung besar, dan ia menjadi pusat perhatian dengan cara yang tidak pernah ia inginkan.
Seorang wanita paruh baya dengan gaun mewah mendekat, langkahnya mantap dan penuh percaya diri. Senyum tipis menghiasi wajahnya, tetapi matanya menilai tanpa ragu.
“Ternyata benar,” katanya sambil menatap Alyssa dari ujung kepala hingga kaki. “Bukan Arin.”
Alyssa sedikit menunduk, menjaga sikapnya tetap sopan. “Saya Alyssa.”
Wanita itu mengangguk kecil, senyumnya tidak berubah. “Saya tahu. Kami sudah diberi tahu.”
Nada suaranya membuat Alyssa mengerti bahwa mengetahui tidak sama dengan menerima. Ada jarak yang sengaja dipertahankan, dan ia berada di luar lingkaran itu.
“Semoga kamu bisa menyesuaikan diri,” lanjut wanita itu. “Keluarga Wijaya punya standar.”
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi maknanya berat. Seolah ada garis tak terlihat yang harus ia lewati, tanpa ada jaminan ia akan pernah benar-benar diterima.
“Saya akan berusaha,” jawab Alyssa pelan.
Wanita itu mengangguk singkat, lalu beralih ke Daren. “Kamu benar-benar tidak punya pilihan lain?”
Daren menatapnya tanpa ekspresi. “Pernikahan tetap berjalan. Itu yang penting.”
“Yang penting bagi siapa?” tanya wanita itu, sedikit menaikkan alisnya.
Daren tidak menjawab. Ia hanya memalingkan pandangan, mengakhiri percakapan tanpa perlu penjelasan.
Situasi itu berakhir begitu saja, tetapi cukup untuk membuat Alyssa memahami posisinya. Ia bukan bagian dari keluarga ini, bukan seseorang yang diharapkan, hanya solusi untuk masalah yang harus diselesaikan.
Beberapa saat kemudian, MC memanggil mereka ke panggung utama. Alyssa berjalan di samping Daren, menjaga jarak setengah langkah seperti sebelumnya. Ia sempat berharap pria itu akan melakukan sesuatu untuk menjaga penampilan di depan publik, setidaknya menggandeng tangannya atau memperlambat langkah.
Namun tidak ada yang berubah. Daren berjalan lurus ke depan tanpa menoleh, tanpa menunggu, membuat Alyssa harus menyesuaikan langkah agar tidak tertinggal.
Di atas panggung, kamera mulai berkilat. Cahaya lampu terasa lebih terang, membuat setiap ekspresi semakin terlihat jelas.
“Lebih dekat sedikit, Pak, Bu,” kata fotografer.
Alyssa bergeser mendekat, mencoba mengikuti arahan. Namun Daren tetap berdiri tegak, tangannya di sisi tubuh, tidak menunjukkan niat untuk mendekat.
Tidak ada sentuhan, tidak ada usaha untuk terlihat seperti pasangan.
Beberapa tamu mulai berbisik lagi, kali ini lebih berani karena mereka berada cukup dekat untuk melihat semuanya dengan jelas.
“Canggung sekali.”
“Seperti orang asing.”
“Ini benar-benar pernikahan?”
Fotografer mencoba mencairkan suasana. “Pak Daren, mungkin bisa pegang tangan Ibu Alyssa?”
Daren menoleh sebentar, lalu menjawab singkat, “Tidak perlu.”
Kalimat itu diucapkan datar, tetapi cukup keras untuk terdengar oleh orang-orang di sekitar. Wajah Alyssa langsung terasa panas, meskipun ia berusaha mempertahankan ekspresinya.
“Baik, kita lanjut saja,” kata fotografer dengan nada sedikit gugup.
Sesi foto berjalan, tetapi suasana tetap kaku. Setiap detik terasa lebih lama dari seharusnya, seolah waktu ikut memperhatikan kecanggungan yang terjadi.
Setelah turun dari panggung, Alyssa berjalan menuju meja minuman. Ia butuh jarak, butuh ruang untuk bernapas tanpa terlalu banyak tatapan yang menilai.
Tangannya sedikit gemetar saat mengambil gelas. Ia meneguk air perlahan, mencoba menenangkan diri.
“Berat ya jadi pengganti.”
Suara itu datang dari samping, ringan tetapi jelas. Alyssa menoleh dan melihat seorang wanita muda dengan gaun merah yang anggun. Wajahnya cantik, senyumnya tipis, tetapi matanya menyimpan sesuatu yang sulit dibaca.
“Maaf?” tanya Alyssa.
Wanita itu tersenyum. “Aku sepupu Daren. Namaku Vanessa.”
Alyssa mengangguk sopan. “Senang bertemu.”
“Benarkah?” balas Vanessa. “Soalnya kamu terlihat seperti ingin kabur.”
Alyssa terdiam sejenak, lalu menggeleng pelan. “Aku tidak akan lari.”
Vanessa tertawa kecil. “Menarik. Kakakmu memilih kabur, kamu memilih bertahan. Aku penasaran mana yang lebih menyakitkan.”
Kalimat itu terdengar santai, tetapi mengandung makna yang tajam. Alyssa menatapnya, mencoba memahami apakah itu sindiran atau sekadar pengamatan.
“Saya punya alasan,” jawabnya singkat.
“Tentu saja,” kata Vanessa. “Semua orang punya alasan. Tapi di keluarga ini, alasan tidak terlalu berarti. Yang penting hasil.”
Ia mendekat sedikit, menatap Alyssa dengan lebih serius. “Selamat bergabung di keluarga Wijaya. Semoga kamu cukup kuat.”
Tanpa menunggu respon, Vanessa pergi begitu saja. Alyssa tetap berdiri di tempat, gelas di tangannya terasa dingin.
Semua kata yang ia dengar hari ini mulai menumpuk di pikirannya. Pengganti, tidak punya pilihan, harus menyesuaikan, cukup kuat, semuanya membentuk satu gambaran yang tidak ia sukai.
Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Di kejauhan, ia melihat Daren berbicara dengan beberapa tamu penting, wajahnya tetap tenang dan profesional. Tidak ada tanda bahwa hari ini memiliki arti khusus baginya.
Alyssa menatapnya beberapa detik sebelum mengalihkan pandangan. Ia sudah tahu sejak awal bahwa pria itu bukan seseorang yang bisa ia andalkan.
Acara terus berjalan, tetapi setiap menit terasa semakin berat. Beberapa tamu mulai berbicara lebih terbuka, tidak lagi berusaha menutup-nutupi rasa penasaran mereka.
“Jadi benar ya yang kabur itu kakaknya?”
“Iya, yang ini cuma pengganti.”
“Kasihan juga si CEO.”
Alyssa mendengar semuanya. Ia tidak menanggapi, tidak juga berusaha menjelaskan. Ia tahu tidak ada gunanya melawan opini yang sudah terbentuk.
Saat acara hampir selesai, keluarga besar Daren berkumpul untuk foto bersama. Alyssa berdiri di pinggir, ragu apakah ia benar-benar termasuk di dalam lingkaran itu.
Seseorang dari panitia memanggilnya. “Ibu Alyssa, silakan ikut.”
Ia melangkah mendekat dengan ragu. Namun begitu berdiri di antara mereka, ia langsung merasakan jarak yang tidak terlihat. Tidak ada yang benar-benar menyambutnya, beberapa bahkan sedikit bergeser.
Daren berdiri di tengah, tetap tidak menoleh ke arahnya. Seolah keberadaannya tidak perlu diperhatikan.
“Cepat, kita ambil foto,” kata seseorang.
Alyssa berdiri tegak, mencoba terlihat tenang. Kamera berkilat, menangkap momen yang bagi orang lain mungkin berarti kebersamaan.
Namun bagi Alyssa, itu hanya pengingat bahwa ia berada di tempat yang tidak benar-benar menerimanya.
Setelah sesi foto selesai, satu per satu tamu mulai meninggalkan ruangan. Suasana perlahan mereda, menyisakan kelelahan yang terasa di setiap bagian tubuhnya.
Alyssa berjalan keluar bersama Daren menuju mobil. Malam sudah turun, udara terasa lebih dingin dibanding sebelumnya.
Beberapa wartawan berdiri di luar, kamera siap di tangan mereka.
“Pak Daren, bagaimana perasaan Anda menikah hari ini?”
“Apakah benar ada pergantian pengantin?”
“Bu Alyssa, bagaimana Anda—”
Daren langsung masuk ke mobil tanpa menjawab. Alyssa mengikuti, menunduk, menghindari sorotan kamera.
Pintu tertutup, meredam semua suara dari luar. Keheningan kembali menyelimuti mereka.
Alyssa duduk di samping, menatap lurus ke depan. Ia tidak tahu harus berkata apa, dan tampaknya Daren juga tidak berniat membuka percakapan.
Beberapa menit berlalu dalam diam yang panjang. Alyssa akhirnya bersandar ke kursi, membiarkan tubuhnya sedikit rileks meskipun pikirannya masih penuh.
Hari ini, ia resmi menjadi istri seseorang. Namun ia tidak merasa seperti istri, tidak juga merasa menjadi bagian dari kehidupan baru yang seharusnya ia jalani.
Ia hanya merasa terseret.
Perlahan, sebuah kesadaran muncul. Semua yang terjadi hari ini bukan sekadar ketidaknyamanan, bukan hanya pernikahan yang canggung.
Ini sesuatu yang lebih dalam.
Lebih berat.
Lebih menyakitkan.
Alyssa menutup matanya sejenak, membiarkan semua kejadian hari ini terulang di pikirannya. Tatapan dingin, bisikan tamu, ucapan yang merendahkan, dan jarak yang diciptakan Daren, semuanya bercampur menjadi satu.
Ia membuka matanya kembali. Tangannya mengepal pelan di atas pangkuan, seolah mencoba menggenggam sesuatu yang tidak terlihat.
Di dalam hatinya, satu kalimat terbentuk dengan jelas.
Ini bukan pernikahan.
Ini awal dari penderitaan.
sadar casandra.... km itu trlalu bnyak omong n trlalu bnyk mngatur... pdahal nyata" km hnya org luar😅😅
saat itu alyssa sdh tak peduli daren...
ap nunggu alyssa tiba" kabur & tak akn prnah km temukan.... ato hmpaskn org luar yg seolah brkuasa layaknya seorang istri🙄🙄
tpi menantu... layaknya pmbantu & org asing...
smpe kpan km tetap brtahan di rumah neraka suamimu Alyssa....
dgn hrga diri yg sdh trcabik"
& tak ada lgi yg nmanya ksempatan ke 2 untuk daren mmprbaiki smuanya...🙄🙄
🤔🤔