Di Benua Awan Sembilan, kekuatan ditentukan oleh Qi dan garis keturunan. Li Chen hanyalah seorang pelayan di Sekte Pedang Azure yang menderita cacat pada meridiannya, membuatnya mustahil untuk berkultivasi melampaui tingkat dasar. Namun, saat ia jatuh ke Jurang Keputusasaan setelah dikhianati oleh saudara seperguruannya, ia menemukan makam kuno milik Kaisar Pedang yang Menantang Surga.
Li Chen mewarisi sebuah teknik terlarang: Seni Penelan Bintang, yang memungkinkannya menyerap energi dari artefak yang rusak dan emosi negatif musuhnya. Dengan pedang patah yang memiliki jiwa haus darah, Li Chen memulai perjalanannya. Ia tidak mencari keabadian untuk menjadi dewa, melainkan untuk menghancurkan sistem "Langit" yang menentukan nasib manusia sejak lahir. Dari seorang sampah sekte menjadi penguasa semesta, Li Chen harus memilih: menjadi penyelamat dunia atau iblis yang akan meruntuhkan gerbang surga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marcel ( rxel ), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9: Malam Kehancuran Azure
Langit di atas Puncak Azure mendung secara tidak alami. Gumpalan awan hitam berputar-putar, menciptakan pusaran yang seolah menekan seluruh energi di pegunungan itu. Di gerbang belakang sekte, mayat-mayat murid patroli masih hangat, namun pelakunya sudah menghilang ke dalam kegelapan paviliun kayu.
Li Chen berjalan dengan langkah yang sangat ringan, namun setiap kali kakinya menyentuh lantai batu, retakan halus muncul di bawahnya. Pedang Penelan Surga di tangan kanannya tidak lagi bersinar; ia justru menyedot cahaya di sekitarnya, menciptakan area kegelapan absolut yang mengikuti Li Chen.
"Malam ini... hutang darah akan dibayar dengan darah," bisik Li Chen.
Di Aula Utama, Penatua Wang sedang duduk di kursi tinggi, wajahnya tampak sepuluh tahun lebih tua. Di depannya, Wang Hu terbaring di atas ranjang medis, tubuhnya dibalut perban yang sudah jenuh dengan obat-obatan mahal. Namun, mata Wang Hu kosong—jiwa kultivasinya telah hilang.
"Ayah... bunuh... dia..." rintih Wang Hu dengan suara serak.
"Jangan khawatir, Hu'er. Aku telah mengerahkan seluruh Tim Penegak Hukum. Jika bocah itu masih hidup di dasar jurang, dia tidak akan bisa keluar dari gunung ini," geram Penatua Wang.
Tepat saat itu, pintu besar Aula Utama yang terbuat dari besi meteorit hancur berantakan.
DUARRR!
Potongan-potongan besi seberat ratusan kilogram melesat masuk seperti peluru, menghancurkan pilar-pilar batu giok di dalam aula. Beberapa murid penegak hukum yang berjaga di dekat pintu bahkan tidak sempat berteriak sebelum tubuh mereka tertembus serpihan besi tersebut.
Di tengah debu yang beterbangan, sesosok pemuda berdiri. Bajunya yang compang-camping tertiup angin kencang yang masuk dari lubang pintu. Matanya bersinar merah dengan pupil bintang yang dingin, menatap langsung ke arah Penatua Wang.
"Li Chen?!" Penatua Wang berdiri dengan kaget, wajahnya berubah dari pucat menjadi merah padam karena amarah. "Kau... kau belum mati? Dan beraninya kau datang ke sini untuk menyerahkan nyawa!"
Li Chen tidak menjawab dengan kata-kata. Ia mengangkat pedang patahnya.
"Seni Penelan Bintang: Sembilan Gerbang Pembantaian—Gerbang Kedua: Keruntuhan Langit!"
Li Chen mengayunkan pedangnya ke bawah. Bukan tebasan fisik yang keluar, melainkan gelombang gravitasi hitam yang sangat padat. Lantai Aula Utama terbelah, batu-batu terangkat ke udara sebelum hancur menjadi debu.
"Lancang!" Penatua Wang menghunuskan pedang panjangnya yang bersinar biru terang. "Teknik Pedang Azure: Samudra Tak Bertepi!"
Dua energi besar bertabrakan di tengah ruangan. Cahaya biru samudra mencoba menekan kegelapan hitam, namun anehnya, energi biru itu justru tampak "dimakan". Setiap kali energi Penatua Wang menyentuh aura Li Chen, energi itu mengecil dan menghilang, sementara aura Li Chen justru semakin besar dan mengerikan.
"Apa?! Kau bisa menyerap Qi-ku di tengah pertempuran?!" Penatua Wang gemetar. Ia belum pernah melihat teknik sejahat ini selama seratus tahun kultivasinya.
"Aku tidak hanya menyerap Qi-mu, Wang. Aku menyerap ketakutanmu, keserakahanmu, dan sejarah busuk sektemu!" suara Li Chen menggelegar, bergema bersama jiwa Kaisar Pedang.
Pertempuran pecah dengan skala yang menghancurkan. Puluhan murid penegak hukum mencoba mengepung Li Chen dari segala arah, menyerang dengan tombak dan mantra api. Namun, Li Chen bergerak seperti hantu. Setiap tebasan pedangnya memanen nyawa.
SRAK! SRAK!
Setiap nyawa yang ia ambil membuat Penelan Surga semakin haus. Li Chen merasa tubuhnya menjadi tungku raksasa yang membakar energi musuh-musuhnya.
"Tingkat Pembersihan Sumsum puncak... Aku butuh sedikit lagi untuk menembus Pembentukan Pondasi!" batin Li Chen.
Ia melompat ke arah Penatua Wang, mengabaikan serangan murid-murid lain di punggungnya. Baju zirahnya yang terbuat dari Qi hitam menahan semua serangan itu seolah-olah mereka hanya gigitan nyamuk.
KLANG!
Pedang Li Chen dan Penatua Wang berbenturan. Mata mereka bertemu. Penatua Wang melihat bayangan kematian di dalam mata Li Chen, sementara Li Chen hanya melihat mangsa yang tak berdaya.
"Kau membunuh orang tuaku demi peta makam kuno itu, bukan?" desis Li Chen, suaranya sedingin es.
Penatua Wang tertegun sejenak. "Jadi kau tahu... benar! Ayahmu hanyalah petani rendahan yang tidak pantas memegang rahasia sebesar itu! Aku hanya mengambil apa yang seharusnya milik yang kuat!"
"Kalau begitu, hari ini aku adalah yang terkuat. Dan aku akan mengambil nyawamu!"
Li Chen meledakkan energinya. BOOM! Penatua Wang terlempar hingga menabrak kursi tahta Pemimpin Sekte.
Tiba-tiba, sebuah tekanan yang jauh lebih besar jatuh dari langit-langit aula. Seluruh ruangan menjadi sunyi senyap, dan suhu udara turun hingga di bawah titik beku. Sesosok pria paruh baya dengan jubah putih panjang dan mahkota emas muncul di atas udara.
Pemimpin Sekte Azure, Zhao Tian. Ahli ranah Inti Emas (Golden Core) tahap akhir.
"Cukup!" suara Zhao Tian tenang namun penuh otoritas. "Li Chen, kau telah melampaui batas. Membunuh sesama murid dan menyerang penatua adalah pengkhianatan tingkat tertinggi. Berlututlah, dan aku akan memberimu kematian yang cepat."
Li Chen mendongak, menatap penguasa tertinggi sekte itu. Ia merasa seolah-olah sedang menatap sebuah gunung raksasa. Perbedaan antara Pembersihan Sumsum dan Inti Emas sangatlah jauh.
"Berlutut?" Li Chen tertawa gila. "Aku sudah berlutut selama sepuluh tahun di bawah kaki orang-orang seperti kalian. Hari ini, biarpun Dewa yang datang, aku tidak akan menekuk lututku lagi!"
Li Chen memasukkan pedangnya kembali ke sarungnya sesaat, lalu ia merentangkan tangannya lebar-lebar. Ia mulai mengaktifkan teknik terlarang yang paling berbahaya dari Seni Penelan Bintang: Pusaran Kematian Massal.
"Jika kau ingin aku mati, maka bawa seluruh gunung ini bersamaku!"
Tiba-tiba, seluruh energi spiritual di Puncak Azure mulai tersedot menuju pusat Aula Utama. Pohon-pohon layu seketika, batu-batu energi di gudang sekte meledak dan energinya terbang menuju Li Chen. Bahkan murid-murid yang masih hidup merasa Qi di dalam tubuh mereka ditarik keluar secara paksa melalui pori-pori mereka.
"Hentikan dia! Dia mencoba meledakkan Dantiannya bersama energi seluruh gunung!" teriak Zhao Tian, wajahnya yang tenang kini dipenuhi ketakutan.
Zhao Tian menyerang dengan teknik terkuatnya, Telapak Dewa Azure, sebuah tangan raksasa dari cahaya biru yang turun dari langit untuk menekan Li Chen.
Namun, di saat kritis itu, liontin hitam di dada Li Chen pecah. Cahaya hitam yang lebih pekat dari malam keluar dan membungkus Li Chen, membentuk kepompong pelindung yang tak tertembus.
DUARRRRRRRRRRRRRRRRRRRR!
Ledakan itu tidak menghancurkan gunung, tetapi menghancurkan seluruh struktur energi di Puncak Azure. Aula Utama rata dengan tanah. Ribuan murid tergeletak lemas karena energi mereka habis tersedot.
Saat debu mereda, Li Chen berdiri di tengah kawah raksasa. Tubuhnya memancarkan aura keemasan yang bercampur hitam. Di atas kepalanya, sebuah pusaran energi mulai memadat membentuk sebuah pondasi transparan.
Ranah Pembentukan Pondasi (Foundation Establishment)!
Ia berhasil menembus ranah besar di tengah pertempuran paling mematikan.
Penatua Wang terbaring di dekatnya, kakinya hancur dan matanya buta karena ledakan. Li Chen berjalan mendekatinya, mengangkat pedang Penelan Surga.
"Tidak... ampun..." rintih Penatua Wang.
"Ampun adalah kata yang tidak ada dalam kamus Seni Penelan Bintang," jawab Li Chen datar.
SRAK!
Kepala Penatua Wang terlepas dari tubuhnya. Li Chen tidak merasa senang; ia hanya merasa kosong. Ia menoleh ke arah Zhao Tian yang terengah-engah, terluka parah oleh ledakan tadi.
"Hari ini, aku akan pergi," kata Li Chen, suaranya bergema ke seluruh reruntuhan sekte. "Tapi ingatlah wajahku, Zhao Tian. Suatu hari nanti, aku akan kembali untuk meratakan seluruh pegunungan ini jika aku menemukan bahwa kau masih menindas mereka yang lemah."
Li Chen berbalik dan mulai berjalan meninggalkan reruntuhan. Tidak ada yang berani menghalanginya. Ribuan murid menatap punggungnya dengan ketakutan dan kekaguman yang mendalam.
Di perbatasan sekte, di bawah bayang-bayang pohon pinus yang layu, Penatua Su berdiri menunggunya.
"Kau benar-benar melakukannya, bocah gila," kata Penatua Su dengan senyum pahit.
"Anda tidak menghentikan saya," balas Li Chen.
"Kenapa aku harus menghentikan seseorang yang sedang membersihkan sampah?" Penatua Su melemparkan sebuah tas kecil ke arah Li Chen. "Di dalamnya ada batu energi tingkat tinggi dan sebuah kompas menuju Benua Tengah. Pergilah. Sekte Azure terlalu kecil untuk naga sepertimu."
Li Chen menangkap tas itu, mengangguk sekali, dan menghilang ke dalam kegelapan malam.
Malam itu, Sekte Pedang Azure yang perkasa runtuh menjadi sekte kelas tiga. Dan di seluruh Benua Awan Sembilan, sebuah nama mulai dibisikan dalam ketakutan: Iblis Pedang Berbintang.
Li Chen menatap ke depan, ke arah cakrawala yang luas. Perjalanannya baru saja dimulai. Di luar sana, ada makam kuno yang menunggu, dewa-dewa yang perlu dijatuhkan, dan rahasia yang terkubur dalam darah.