Nazwa Adzira Putri, atau sering di panggil Zira, adalah seorang wanita yang dulunya berselimut cahaya. Dengan nama pena Nana, dia menginspirasi banyak orang dengan kata-katanya yang bijak dan agamanya yang kuat. Namun, kebenaran pahit tentang ayahnya - seorang yang mengkhianati ibunya dengan perselingkuhan, merobek tirai kesucian itu. Luka itu membawanya ke jurang kegelapan, meninggalkan hijab dan agamanya, dan masuk ke dunia malam yang gelap. Tapi, di tengah-tengah badai itu, ada secercah harapan. Nathan Fernandez, anak kyai yang sholeh dan dingin, menjadi sosok yang menarik perhatiannya. Mata teduh dan menenangkan itu menjadi tempat pelariannya, dan tanpa disadari, cinta mulai tumbuh, membawa harapan baru di tengah-tengah kegelapan. Penasaran dengan kelanjutan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
Zira yang sedang membantu Umi Aisyah mencuci piring terkejut saat Nathan tiba-tiba datang dari belakang dan memeluknya. "Mas, bikin aku kaget saja! Jangan begini, nanti ada yang lihat," ujar Zira sambil menoleh ke arah suaminya.
Nathan tersenyum santai. "Sepi ini, Dek. Mas kangen kamu. Nanti malam kita jalan-jalan, yuk! Mumpung Mas lagi nggak ada jadwal mengajar."
Zira mengangguk setuju. "Boleh, Mas. Zira juga pengen banget keliling Kota Bandung. Kita kan belum sempat jalan-jalan ke sana."
Nathan, yang masih memeluk Zira dari belakang, tertawa kecil. " Kalau begini terus, Zira nggak fokus cuci piringnya," sahut Zira sambil mencoba melanjutkan pekerjaannya.
Tanpa diduga, Umi Aisyah muncul di dapur dan memecahkan momen mereka. "Hem... Bang, jangan ganggu istrimu. Dia lagi cuci piring."
Zira yang masih dalam pelukan Nathan, langsung menjadi merah dan mencoba melepaskan diri. "Mas, umi ada," ucap Zira
Nathan sontak melepaskan pelukannya dan tampak salah tingkah. "Eh... Umi, maaf, Umi," katanya sambil menggaruk kepalanya.
Sebelum pergi, Nathan mencium pipi zira sambil memberi tahu Zira, "Dek, Mas ke pondok dulu. I love you." Sambi Ia pun berlalu meninggalkan Zira dan Umi Aisyah di dapur.
Zira hanya tersenyum dan membalas, "Iyah mas, hati-hati," ucap Zira.
Zira merasa canggung mendengar ucapan Nathan. Wajahnya memerah, apalagi di sampingnya ada Umi Aisyah. Sejak tadi malam, sikap suaminya memang terlihat berbeda, menjadi jauh lebih manja dari biasanya.
"Zir, kamu istirahat saja. Mungkin capek. Lagi pula, tinggal sedikit ini bisa diselesaikan sama Mbak Santri di ndalem," kata Umi Aisyah.
"Baik, Umi. Zira ke kamar dulu, ya, sekalian mau mandi," balas Zira sambil tersenyum kaku.
Setelah itu, Zira segera meninggalkan dapur, merasa lega bisa keluar dari situasi yang cukup membuatnya salah tingkah.
Di kamar, Zira langsung mengambil pakaian lalu menuju kamar mandi. Saat melihat dirinya di cermin, ia tersenyum tipis sembari berbisik ke diri sendiri, "Sepertinya aku harus bersiap-siap untuk malam ini." Segaris senyum kembali terbingkai di wajahnya sebelum ia melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
Malam tiba, Zira dan Nathan baru saja selesai melaksanakan sholat Maghrib berjamaah. Setelah berdoa, Zira melirik ke arah suaminya dan berkata, "Mas, jadi kan kita jalan-jalan malam ini?" dengan nada penuh harap. Nathan tersenyum hangat dan menjawab, "Tentu dong, sayang." Wajah Zira langsung merona mendengar jawaban suaminya, membuat Nathan tergelitik untuk menggoda.
"Dek, kalau pipimu merona seperti itu, mas jadi pengen banget cium kamu," selorohnya sembari tertawa kecil. Zira langsung menanggapi dengan gaya malu-malu, "Ihh, mesum banget sih kamu mas." Nathan tak mau kalah memberi alasan, "Gak apa-apa dong, yang penting mesum sama istri sendiri."
Zira hanya bisa menunduk malu mendengar candaan suaminya. "Mas, jangan ngomong gitu deh," katanya pelan sambil tersenyum. Melihat reaksi Zira, Nathan hanya tertawa kecil dan menambahkan, "Mas cuma ingin kamu tahu betapa mas cinta sama kamu." Sambil mendekat ke istrinya, ia menatap Zira dengan penuh kasih.
Jantung Zira terasa berdetak lebih cepat karena ucapan Nathan, tapi ia tetap membalas senyum itu dengan lembut. "Iyah, mas. Zira juga cinta sama mas," balasnya dengan suara lirih yang tak bisa menyembunyikan kebahagiaan di wajahnya.
Malam akhirnya tiba. Zira dan Nathan berencana pergi ke mal untuk membeli oleh-oleh bagi keluarga mereka di Jakarta. Dalam dua hari, Zira dan Nathan akan kembali ke sana. Sebelum pergi, mereka berpamitan kepada Umi Aisyah dan Abi Adam yang tengah asyik berbincang di ruang tamu. Zira menyampaikan niatnya dengan sopan sambil sedikit membungkukkan badan, "Abi, Umi, Nathan sama Zira mau jalan dulu ke mal buat beli oleh-oleh untuk keluarga di Jakarta."
Mendengar itu, Umi Aisyah tersenyum dan langsung menanggapi, "Kebetulan sekali, Putri juga ingin ke mal. Ada yang mau dia beli. Bagaimana kalau sekalian saja? Mau kan, Dek, pergi bareng Mbak Zira dan Bang Nathan?" tanyanya seraya melirik ke arah Putri.
Putri menanggapi dengan sedikit ragu, "Terserah Umi. Yang penting Mbak Zira setuju kalau Putri ikut. Tapi kayaknya Bang Nathan keberatan deh," jawabnya sambil mencuri pandang ke arah Nathan.
Zira pun dengan cepat menyahut, "Aku setuju kok kalau Putri mau ikut." Namun Nathan terlihat sedikit enggan. "Tapi Sayang... aku sebenarnya pengin kita jalan berdua aja loh," ujarnya jujur.
Zira berusaha meyakinkannya. "Mas nggak apa-apa, jarang-jarang kita bisa jalan bareng begini kan? Lagian sebentar lagi kita pulang ke Jakarta."
Abi Adam yang mendengar percakapan itu akhirnya angkat bicara, "Sudahlah, biarkan saja adikmu ikut. Supaya Umi tenang, nggak khawatir ada apa-apa." Nathan akhirnya mengalah dan berkata, "Oke, Putri ikut sama kita."
Umi Aisyah tampak senang. "Nah, begitu dong. Hati-hati di jalan ya! Jangan lupa belanja yang banyak," ucapnya lembut sambil membelai pipi Zira. Abi Adam yang duduk di sebelah Umi menambahkan, "Iya, hati-hati ya Nak. Jangan lupa bawa oleh-oleh buat adikmu Aryan di Jakarta."
Nathan hanya tersenyum dan menjawab singkat, "Iya Abi, kami akan belanja yang banyak." Dengan begitu, mereka pun bersiap untuk memulai perjalanan ke mall.
Setelah mendengar jawaban dari Nathan, Putri langsung berlari menuju kamarnya untuk bersiap-siap. Di ruang tamu, Zira tersenyum dan menanggapi dengan lembut, "Iya, Umi. Kami akan berhati-hati di jalan." Suaranya penuh rasa hormat dan kehangatan. Mendengar itu, Umi Aisyah dan Abi Adam hanya tersenyum seraya mengangguk pelan sebagai ungkapan perhatian mereka. "Iya, hati-hati ya, Nak," balas Umi Aisyah dengan nada lembut, mengiringi doa agar perjalanan anak-anak mereka berjalan lancar.
Tak lama setelahnya, Nathan meraih tangan Zira dengan gerakan yang penuh kelembutan. "Sudah, Dek. Ayo kita berangkat sekarang," ujar Nathan sambil tersenyum penuh semangat, seolah memberi isyarat bahwa hari yang menyenangkan menanti mereka.
Selang beberapa menit, Putri sudah siap dengan penampilannya yang penuh ceria dan segera bergabung dengan Zira serta Nathan di ruang tamu. "Aku sudah siap, Bang! Aku ikut pergi ke mall juga, ya!" katanya dengan wajah antusias yang memancarkan kebahagiaan. Nathan membalasnya dengan senyuman hangat yang khas. "Ayo! Kita berangkat sekarang," ajaknya penuh semangat sambil memberi isyarat agar mereka semua bergerak menuju pintu keluar rumah.
Ketiganya lalu berjalan bersama keluar dari rumah, menatap langit cerah yang menambah semarak suasana pagi itu. Mereka menuju mobil dengan langkah ringan dan hati yang penuh kegembiraan. Perlahan, mobil yang dikendarai Nathan mulai melaju meninggalkan halaman rumah, membawa mereka bertiga menuju mall untuk menikmati hari yang dijanjikan menyenangkan itu.
Di dalam mobil, Putri tampak tak mampu menahan rasa penasarannya dan langsung bertanya, "Mba Zira, apa saja yang akan kita beli di mall?" Zira, yang duduk di samping Nathan, menjawab dengan santai, "Kita mau cari oleh-oleh untuk keluarga di Jakarta. Mau bantu pilih?" tanyanya sambil melemparkan senyum. Putri segera mengangguk penuh semangat. "Tentu saja, aku mau! Aku ingin memilih sendiri!" jawabnya ceria. Melihat itu, Nathan yang sedang fokus mengemudi hanya ikut tersenyum sambil berkata, "Kita lihat saja nanti di mall, ya." Suasana di dalam mobil terasa hangat dan penuh antusiasme.