NovelToon NovelToon
Aku, Kamu,Dan Duniamu Yang Lain

Aku, Kamu,Dan Duniamu Yang Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:384
Nilai: 5
Nama Author: firsty aulia

Sora Kalani menghabiskan hidupnya di antara detak mesin jam, menunggu satu detik di mana Ezrael Vance akan menoleh ke arahnya. Namun bagi Ezra, Sora hanyalah pelabuhan tenang tempatnya bersandar sebelum ia kembali berlayar mengejar Liora—balerina yang menjadi pusat dunianya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon firsty aulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: Pertemuan Dua Dunia ​

​Aroma parfum bunga lili itu seolah membekukan oksigen di dalam bengkel. Sora masih terpaku, tangannya mencengkeram foto candid dirinya yang baru saja jatuh dari kotak pemberian Vanya. Di ambang pintu, Liora Thalassa berdiri dengan keanggunan yang tetap terjaga meskipun ia harus bertumpu pada kruk logam. Gaun silk berwarna gading yang ia kenakan tampak kontras dengan suasana bengkel yang penuh debu dan oli.

​"Maaf jika kedatanganku mengejutkanmu," ucap Liora lembut. Ia melangkah masuk, suara ketukan kruknya di lantai kayu terdengar seperti detak jam yang pincang. "Aku baru saja mendarat tadi malam. Seharusnya aku masih di rumah sakit untuk observasi, tapi aku tidak bisa tenang sebelum melihat tempat ini."

​Sora berusaha menemukan suaranya. Ia berdiri, menyembunyikan foto itu di balik punggungnya dengan gerakan kaku. "Liora... aku... aku pikir kamu masih di Paris bersama Ezra."

​Mendengar nama Ezra, sudut bibir Liora terangkat sedikit, menciptakan senyum yang tampak rapuh. "Ezra masih di sana. Dia sangat keras kepala ingin menemaniku, tapi aku menyuruhnya tetap tinggal untuk menyelesaikan beberapa urusan kontrak orkestra. Aku pulang lebih awal karena dokter pribadiku ada di sini."

​Liora mengedarkan pandangannya ke sekeliling bengkel. Matanya berhenti pada arloji porselen miliknya yang kini melingkar di pergelangan tangan kirinya—arloji yang baru saja diperbaiki Sora. "Kamu melakukan pekerjaan yang luar biasa, Sora. Ezra benar, kamu memiliki 'tangan ajaib'. Jam ini tidak pernah berdetak sehalus ini sebelumnya."

​"Itu hanya tugasku," jawab Sora singkat. Ada rasa sesak yang mulai naik ke tenggorokannya. Melihat Liora secara langsung membuatnya sadar betapa jauh perbedaan mereka. Liora adalah sebuah karya seni yang dipajang di galeri megah, sementara ia hanyalah perkakas yang tersimpan di gudang bawah tanah.

​Liora mendekat ke meja kerja Sora, matanya menangkap kotak kayu berukir yang dibawa Vanya tadi. "Ah, kotak itu... aku mengenalnya. Itu kotak kenangan Ezra, bukan?"

​Sora tidak menjawab, namun kebisuannya adalah jawaban bagi Liora.

​"Sora," Liora menatap mata Sora dengan dalam. Ada kejujuran yang menyakitkan di sana. "Aku tahu apa yang kamu rasakan pada Ezra. Seorang wanita bisa mengenali tatapan wanita lain, bahkan melalui cerita orang ketiga."

​Jantung Sora serasa berhenti detak. "Aku tidak tahu apa maksudmu."

​"Jangan berbohong pada dirimu sendiri. Itu hanya akan membuat waktumu semakin terasa berat," potong Liora halus. Ia menghela napas, jemarinya yang lentur menyentuh permukaan meja kerja yang kasar. "Aku datang ke sini bukan untuk memamerkan posisiku di hati Ezra. Aku datang karena aku ingin tahu, siapa wanita yang membuat Ezra selalu merasa bersalah setiap kali dia menyebut namanya di Paris."

​Sora mengerutkan kening. "Bersalah? Kenapa dia harus merasa bersalah padaku?"

​"Karena dia tahu dia sedang memanfaatkan kebaikanmu untuk menjaga 'waktunya' tetap berjalan sementara dia mengejar mimpinya—yaitu aku," Liora berbisik, suaranya bergetar. "Ezra mencintaimu, Sora. Tapi bukan sebagai kekasih. Dia mencintaimu sebagai 'jangkar'. Kamu adalah alasan dia tidak tersesat, tapi aku adalah alasan dia ingin terus berlayar."

​Kalimat itu menghantam Sora lebih keras dari kata-kata sinis Hael semalam. Menjadi jangkar berarti ia harus tetap diam di dasar laut yang gelap agar kapal itu bisa tetap tenang, sementara sang nakhoda selalu menatap ke arah pelabuhan lain.

​Tiba-tiba, lonceng pintu berdenting lagi dengan keras.

​"Waktu berkunjung sudah habis, Nona Balerina."

​Hael Arlo berdiri di sana, bersandar di pintu dengan wajah dingin yang menakutkan. Matanya menatap kruk Liora dengan pandangan menghina. "Toko sebelah mulai terganggu dengan aroma parfummu yang terlalu mencolok. Dan kurasa, Sora punya banyak jam yang harus diperbaiki daripada mendengarkan drama opera sabun."

​Liora menoleh, tidak tampak terganggu oleh ketajaman kata-kata Hael. "Ah, Tuan Arlo dari toko antik. Ezra pernah bercerita tentangmu juga. Pria yang menyimpan masa lalu di dalam lemari kaca karena takut menghadapinya."

​Hael berjalan masuk, berdiri tepat di samping Sora, sebuah gerakan posesif yang tidak disadari Sora namun dirasakan jelas oleh Liora. "Setidaknya aku menyimpan masa laluku sendiri, bukan menggunakan masa lalu orang lain sebagai tongkat untuk berdiri."

​Liora terdiam. Ia menatap Hael dan Sora bergantian, lalu mengangguk kecil. "Mungkin kamu benar. Aku harus pergi sekarang. Mobilku sudah menunggu."

​Sebelum keluar, Liora menoleh pada Sora. "Sora, simpan jam itu baik-baik. Bukan arloji ini, tapi waktumu. Karena sekali jam itu berhenti untuk orang yang salah, kamu tidak akan pernah bisa memutarnya kembali."

​Setelah Liora pergi, keheningan di bengkel itu terasa memekakkan telinga. Hael menatap Sora yang masih mematung. Tanpa kata, Hael mengambil foto yang disembunyikan Sora di balik punggungnya. Ia melihat foto candid Sora yang diambil Ezra bertahun-tahun lalu.

​"Masih ingin menyimpannya?" tanya Hael pelan, suaranya kini melunak.

​Sora tidak menjawab. Ia hanya merebut foto itu dan merobeknya menjadi dua di depan Hael. Air matanya jatuh, tapi kali ini bukan karena sedih, melainkan karena amarah yang akhirnya meledak.

​"Bagus," ucap Hael pendek. "Sekarang, ambil jaketmu. Kita akan pergi ke suatu tempat di mana tidak ada suara detak jam, tidak ada aroma kayu manis, dan tidak ada hantu bernama Liora."

​Sora menatap Hael, mencari kepastian di mata pria itu. Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa mungkin, hanya mungkin, ada seseorang yang ingin mengajaknya berjalan maju, bukan sekadar menjadikannya jangkar yang diam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!