Ayahku menikahi seorang wanita… tanpa pernah memberitahuku.
Dan yang lebih buruk—aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Ardi Hartono membenci istri baru ayahnya.
Tapi setiap malam, yang terngiang bukan kebencian… melainkan suara tangisnya.
Maya datang hanya dengan satu koper kecil dan tatapan yang tidak meminta apa pun.
Di rumah besar yang sunyi, jarak di antara mereka perlahan menghilang.
Awalnya hanya tatapan.
Lalu sentuhan.
Lalu sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Sari masih percaya pada cinta mereka.
Masih percaya Ardi tidak akan berubah.
Sampai suatu hari, dia membuka pintu…
dan menemukan kebenaran yang tidak bisa diperbaiki.
Karena musuh terbesarnya… bukan orang asing.
Tapi wanita yang kini tinggal di rumah yang sama.
Dia adalah istri ayahku.
Tapi setiap malam… dia menangis di balik dinding kamarku.
Dan aku mulai bertanya—
apakah yang salah adalah dia…
atau aku yang tidak bisa berhenti mendengarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andra Secret love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Godaan di Bawah Meja
Sekarang saya punya semua yang dibutuhkan. Saya kerjakan refinement Bab 12.
BAB 12 — GODAAN DI BAWAH MEJA
Ardi bangun sebelum matahari terbit.
Di sampingnya, Maya masih tidur—rambutnya terurai di bantal, napasnya pelan dan teratur. Ardi menatapnya sebentar. Mengingat semalam. Mengingat kata-kata yang mereka ucapkan dan keputusan untuk tidak memilih.
Tapi pagi ini, dengan cahaya yang mulai masuk lewat tirai, keputusan itu terasa rapuh.
Dia bergerak perlahan, melepaskan lengan Maya dari pinggangnya. Maya bergumam, tangannya mencari-cari di tempat kosong. Ardi menahan napas—menunggu sampai Maya kembali terlelap, lalu turun dari ranjang.
Di kamar mandi, air dingin membasahi wajahnya. Di cermin, bayangannya sendiri terasa asing. Mata sayu, dagu sedikit kasar. Tapi yang paling mengganggu adalah matanya—bukan kebahagiaan, bukan rasa bersalah. Hanya kehampaan yang tidak bisa dia beri nama.
Dia berganti pakaian, meninggalkan kamar tanpa menoleh. Di lorong, kakinya menghindari papan lantai yang berdecit.
Yuni belum datang. Dapur gelap, hanya lampu kecil di atas kompor yang menyala. Ardi membuat kopi instan, duduk sendirian.
Ponselnya bergetar. Sari.
Pagi, Di. Masak bubur. Kamu sarapan di sini?
Ardi menatap layar lama. Bisa. Setengah jam lagi.
Sari membalas stiker senyum.
Ardi menyesap kopinya. Pahit, seperti pagi-pagi sebelumnya. Tapi pagi ini, pahitnya terasa berbeda.
Apartemen Sari berbau bawang dan jahe.
Sari membukakan pintu dengan celemek biru, rambut diikat asal. Ardi mencium keningnya—kebiasaan lama yang terasa asing setelah semalam.
"Kamu kurang tidur?" tanya Sari, memperhatikan wajahnya.
"Iya. Banyak kerjaan."
Sari tidak bertanya lebih. Dia berjalan ke dapur, membuka panci, mengaduk bubur yang sudah mengental. Ardi duduk di meja makan, mengamatinya dari belakang.
"Di, kamu tahu kalau Kak Maya punya hutang?"
Ardi menegang. "Apa?"
"Kemarin waktu makan siang, dia cerita sedikit." Sari membawa dua mangkuk bubur ke meja, duduk di seberang. "Ibunya dulu sakit. Biaya rumah sakit mahal. Tapi aku lihat matanya—dia masih khawatir."
Ardi mengambil sendok. "Ayah mungkin bisa bantu."
"Aku juga bilang gitu. Tapi dia nolak." Sari menunduk, mengaduk buburnya. "Katanya tidak mau bergantung."
Ardi tidak menjawab. Bubur Sari hangat, asin, sedikit gurih. Dia makan dengan tertib, tapi yang terbayang bukan Sari di depannya—melainkan Maya di dapur, dengan nasi goreng yang terlalu berminyak dan senyum yang sudah disiapkan.
"Di." Sari meletakkan sendok. Matanya serius. "Kemarin, Kak Maya cerita banyak tentang kamu."
Ardi berhenti mengunyah. "Cerita apa?"
"Dia bilang kamu anak yang baik. Bertanggung jawab. Tapi—" Sari menatapnya, mencari sesuatu. "Dia juga bilang kamu kesepian."
"Kenapa dia bilang begitu?"
"Aku yang tanya. Aku bilang kamu akhir-akhir ini berbeda. Dia bilang mungkin kamu tertekan—ayahmu, perusahaan." Sari meraih tangan Ardi di atas meja. "Dia bilang aku harus sabar."
Ardi menatap tangan Sari. Hangat, menggenggam erat, tidak pernah melepaskan.
"Aku selalu sabar, Di," bisiknya. "Tapi aku juga lelah."
"Sari—"
"Aku tidak minta kamu memilih antara aku dan pekerjaan." Suaranya bergetar tipis. "Aku hanya minta kamu tidak menjauh."
Ardi membalikkan tangan, menggenggam balik. Di bawah lampu dapur yang terang, Sari terlihat jujur—terlalu jujur. Wanita seperti ini tidak pantas dibohongi. Tapi Ardi sudah terlanjur menjadi pembohong.
"Aku tidak menjauh," katanya.
Sari tersenyum, tapi matanya tidak sepenuhnya percaya. "Kamu yakin?"
"Aku yakin."
Mereka menghabiskan sarapan dengan percakapan biasa—butik Sari, teman kuliah yang akan menikah, film yang belum ditonton. Percakapan normal yang seharusnya membuatnya nyaman. Tapi ada sesuatu yang terus menggerogoti di balik semuanya.
Di depan pintu, Sari memeluknya lama.
"Di, nanti malam ayahmu pulang, ya?" bisiknya. "Kak Maya bilang Bram pulang malam ini."
Ardi menegang. Dia lupa. Dengan semua yang terjadi—semalam, Maya, perasaan yang tidak bisa dia taruh di mana pun—dia benar-benar lupa.
"Aku harus di rumah."
Sari melepaskan pelukan, tersenyum. "Aku datang besok, ya. Makan malam bareng kalian."
Ardi mengangguk, mencium keningnya, lalu pergi.
Di dalam mobil, tangannya di setir, tidak bergerak. Bram pulang. Ayahnya akan kembali ke rumah yang sama, tidur di ranjang yang sama dengan Maya, duduk di meja makan yang sama.
Dan Ardi harus berpura-pura bahwa tidak ada yang terjadi.
Ponselnya berdering. Maya.
Bram pulang malam ini. Yuni sudah aku suruh belanja. Kamu bisa pulang lebih awal?
Bisa.
Aku gugup.
Ardi menatap dua kata itu. Maya—yang kemarin mengatakan aku sudah hafal perannya—sekarang gugup.
Kenapa gugup? ketiknya.
Karena aku tidak bisa berpura-pura sempurna di depan ayahmu. Karena aku takut dia melihat sesuatu di mataku.
Ardi tidak tahu harus membalas apa. Karena dia juga takut—takut hal yang sama, dari orang yang sama.
Kita akan baik-baik saja, tulisnya akhirnya.
Maya membalas stiker bunga. Tapi kali ini, Ardi tidak membalas.
Bram tiba pukul delapan malam.
Ardi mendengar suara mobil masuk garasi dari kamarnya. Dari jendela, dia melihat Bram turun—koper kecil, jas hujan di lengan, wajah lelah seperti orang yang tidak pernah benar-benar istirahat.
Dari bawah, terdengar suara Maya menyambut. Ardi tidak bisa mendengar kata-kata mereka. Tapi dia melihat Maya tersenyum, melihat Bram mencium keningnya—gerakan yang sama persis seperti yang Ardi lakukan pada Sari tadi pagi. Dan dadanya terasa seperti ditusuk sesuatu yang tidak punya nama.
Dia turun lima menit kemudian.
Bram sudah di sofa, melepas sepatu, bersandar dengan mata setengah tertutup. Maya di dapur, membantu Yuni.
"Ayah," sapa Ardi.
Bram mengangguk. "Ada perkembangan di kantor?"
"Proyek dengan Mitra Kencana masih negosiasi."
"Jangan lama-lama. Mereka bisa batal."
Ardi mengangguk. Percakapan singkat, dingin, seperti selalu. Tidak ada apa kabar, tidak ada kamu sehat. Hanya kerja. Hanya hal-hal yang bisa diukur.
Makan malam di meja panjang yang terasa sempit.
Yuni menyajikan sop buntut, ikan bakar, tumis sayuran. Bram makan tanpa bicara. Maya dan Ardi mengikuti.
"Maya," Bram membuka suara.
"Ya?" Maya menoleh, wajahnya tenang.
"Aku dengar kau sering ke galeri seni di Kemang."
Ardi berhenti mengunyah. Maya juga—hanya sebentar, hampir tidak terlihat—lalu tersenyum. "Iya. Aku dulu kerja di sana. Sekarang hanya main-main."
"Kurator seni, kan?" Bram mengambil ikan, tidak melihat Maya.
"Iya. Tapi sudah lama."
"Kenapa berhenti?"
Maya menunduk, jarinya menggenggam sendok lebih erat. "Ibuku sakit. Aku harus jaga dia."
Bram mengangguk, tidak bertanya lebih. Ardi menatap Maya dari balik gelas—melihat bagaimana tangannya tidak benar-benar tenang.
"Ardi," Bram berganti sasaran.
"Ya, Yah?"
"Sari sering ke sini?"
"Kadang."
"Kapan kamu nikah?"
Pertanyaan itu jatuh di meja seperti batu. Maya tidak bergerak. Jantung Ardi berdebar tidak teratur.
"Kami belum bicarakan serius, Yah."
"Kamu sudah 23. Sari juga." Bram menyendok sop, suaranya datar. "Ayah tidak mau ada skandal."
Ardi menatap Bram. Skandal. Kata itu sengaja dipilih—Ardi yakin.
"Tidak ada skandal, Yah."
Bram mengangkat wajah. Matanya tajam, membaca. Ardi tidak berkedip, meskipun di dalam dadanya ada yang berteriak.
"Bagus," kata Bram. Dia kembali makan.
Lalu, di bawah meja, ada sesuatu yang menyentuh kaki Ardi.
Dia tidak bergerak. Sesuatu itu—telapak kaki, sepatu—menggesek perlahan di betisnya. Ardi menegang, tapi tidak berani melihat ke bawah.
Di atas meja, Maya makan dengan tenang. Wajahnya sempurna—istri yang patuh, ibu tiri yang baik. Tapi di bawah meja, kakinya terus bergerak, naik perlahan, berhenti di lutut Ardi.
Ardi menarik napas. Mencoba fokus—ikan bakar yang sudah dingin, sayur yang sudah tidak hangat. Bram berbicara tentang investor dari Singapura, tentang target tahun depan. Ardi mendengarkan, mengangguk di tempat yang tepat. Tapi pikirannya ada di bawah meja itu.
Kaki Maya berhenti di lutut. Tidak bergerak lagi. Hanya menyentuh—kehadiran yang diam-diam, yang hanya mereka berdua tahu.
Ardi menunduk mengambil nasi. Dari balik tepi meja, dia melihat sepatu rumah Maya yang berwarna merah muda, menempel di celananya. Dia tidak menggeser kaki.
Tidak bisa.
Tidak ingin.
"Ardi, kau dengar?" Bram menyentak.
"Iya, Yah. Investor Singapura."
Bram mengerutkan dahi, sedikit curiga, lalu melanjutkan. "Jaga reputasi. Jangan sampai ada berita buruk."
"Aku tahu."
Di bawah meja, kaki Maya perlahan turun, kembali ke posisi semula. Ardi menghela napas—lega dan kehilangan dalam waktu yang bersamaan.
Makan malam selesai dengan percakapan yang hambar. Buah semangka. Yuni membereskan meja. Bram berdiri.
"Aku ke kamar dulu. Lelah."
"Aku siapin air hangat, Yaa?" Maya berdiri, tersenyum.
"Tidak usah. Kamu istirahat saja."
Bram berjalan ke lorong. Langkahnya berat, seperti orang yang sudah tua sebelum waktunya. Ardi menatap punggung ayahnya—teringat masa kecil ketika punggung itu terlihat tak terkalahkan. Sekarang hanya terasa asing.
Setelah suara langkah menghilang di tangga, Maya duduk kembali, menghela napas.
"Kamu berani," bisik Ardi.
Maya tersenyum kecil. "Aku hanya menguji."
"Menguji apa?"
"Apakah kau panik." Matanya nakal, tapi hati-hati. "Ternyata kau tidak bergerak."
"Ayah ada di depan. Aku tidak bisa bergerak."
"Bukan itu." Maya mencondongkan tubuh sedikit. "Kau tidak ingin aku berhenti."
Ardi tidak menjawab.
Karena Maya benar.
Maya tertawa kecil, berdiri. "Aku ke kamar. Jaga jarak malam ini."
Dia berjalan ke lorong, meninggalkan Ardi di meja yang sudah kosong. Ardi duduk sendirian, menatap sisa buah yang tidak disentuhnya. Dari dapur, suara Yuni mencuci piring—air mengalir, piring bergesekan. Suara rumah yang normal, suara yang seharusnya membuatnya tenang.
Tapi yang dia pikirkan hanya kaki Maya di bawah meja. Sentuhan yang rahasia, yang berani, yang membuatnya lupa bahwa ayahnya ada di depan matanya.
Di kamar, Ardi bersandar di pintu yang sudah tertutup.
Jantungnya masih berdebar.
Ponselnya bergetar. Maya.
Maaf kalau aku terlalu berani.
Tidak apa-apa.
Kamu marah?
Tidak.
Maya mengirim stiker minta maaf. Ardi menatapnya, lalu mengetik: Kamu membuatku lupa bahwa ayah ada di sana. Itu berbahaya.
Aku tahu. Maaf. Aku hanya ingin tahu apakah kau masih menginginkanku—di depan ayahmu.
Jari-jari Ardi berhenti di atas layar.
Aku selalu menginginkanmu, tulisnya. Itu masalahnya.
Maya tidak membalas. Ardi menunggu, menatap layar yang tidak berubah. Lima menit. Sepuluh menit.
Lalu: Aku juga.
Ardi mematikan lampu. Di kamar sebelah, terdengar Bram batuk—batuk kering yang sudah lama menjadi langganan. Di kamar sebelah lainnya, Maya mungkin berbaring, menatap langit-langit, memikirkan hal yang sama.
Pukul dua belas, dia membuka ponsel. Ada pesan dari Sari: Selamat malam, Di. Mimpi indah.
Ada pesan dari Maya: Aku tidak bisa tidur. Bram sudah tidur. Pusing sekali rasanya.
Ardi membuka chat Maya. Aku juga tidak bisa tidur.
Kita bodoh.
Iya.
Maya mengirim stiker tertawa. Ardi membalas. Mereka bertukar stiker beberapa menit—bodoh, tidak ada gunanya, seperti anak kecil yang menolak tidur.
Lalu Maya mengetik: Aku kangen kamu. Padahal kita baru saja makan malam bersama.
Ardi menatap kalimat itu. Di rumah yang sama, di kamar yang terpisah oleh tembok tipis, Maya mengaku kangen. Dan Ardi—Ardi merasakan hal yang sama. Hal yang bodoh, hal yang berbahaya, hal yang tidak bisa dia berhentikan.
Besok Bram ke kantor pagi, tulisnya. Kita bisa bicara.
Bicara atau yang lain?
Ardi tersenyum pahit di gelap. Apa kau mau?
Aku selalu mau. Tapi Yuni mulai melihat.
Lihat apa?
Cara kamu melihatku. Kata Yuni, aku sering tersenyum sendiri setelah kamu pulang.
Kamu tersenyum?
Iya. Bodoh, kan?
Bodoh.
Maya mengirim stiker cemberut. Ardi membalas stiker tepuk tangan. Lalu berhenti.
Selamat malam, Ardi. Aku akan coba tidur.
Selamat malam.
Ardi menutup ponsel, memejamkan mata. Di luar, suara jangkrik dan sesekali mobil yang lewat. Rumah Menteng sunyi—tapi tidak sunyi seperti dulu.
Karena Maya ada di kamar sebelah.
Karena besok, mereka akan bertemu lagi.
Dan Ardi tahu, tidak peduli seberapa berbahayanya, dia tidak akan bisa berhenti.