NovelToon NovelToon
Yakusoku No Mirai

Yakusoku No Mirai

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Dikelilingi wanita cantik / Anak Genius
Popularitas:465
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Akira Ren hidup dalam dua dunia yang berbeda. Di sekolah, ia adalah siswa kelas 12 yang tampak acuh tak acuh dan sering membolos. Namun di balik pintu dapur restoran bintang lima "Ren’s Cuisine", ia adalah koki jenius yang mewarisi ketajaman rasa ayahnya dan ketangguhan fisik ibunya, seorang mantan atlet bela diri dunia.
​Ren hanya ingin menjalani masa mudanya dengan tenang tanpa sorotan. Namun, takdir berkata lain saat satu per satu wanita di hidupnya—mulai dari guru matematika yang kaku hingga teman masa kecil yang kompetitif—mulai melihat celah di balik topengnya. Dengan bantuan "Insting" yang tajam (Sistem), Ren harus menyeimbangkan antara ambisi kuliner, janji masa lalu, dan perasaan tulus yang mulai tumbuh. Ini bukan sekadar cerita tentang memasak; ini adalah tentang bagaimana sebuah rasa bisa menyatukan masa depan yang retak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16.Sinkronisasi

Dapur klub memasak sekolah itu terasa lebih dingin dari biasanya pagi ini, namun ada energi yang terasa di udara—seperti listrik yang siap meledak setiap saat. Ren berdiri tepat di depan meja stainless steel besar yang menjadi pusat ruangan, matanya menatap deretan pisau yang tertata rapi dengan urutan tertentu. Di tangannya, ia memegang sebuah buku catatan tua dengan sampul kain warna biru muda yang sudah memudar akibat usia—peninggalan terakhir ibunya, Reina, yang ia temukan kemarin malam di dasar peti kayu tua di gudang bawah tanah restoran ayahnya.

Hana dan Yuki masuk dengan langkah yang masih sedikit lamban, wajah mereka masih sedikit bengkak karena kurang tidur setelah pulang larut dari pantai. Tapi begitu mereka memasuki dapur, mata mereka langsung terbuka lebar—ada sesuatu yang berbeda dari aura Ren hari ini. Ia tidak lagi hanya tampak dingin dan menjaga jarak; rasanya seperti melihat sebuah pedang yang baru saja selesai ditempa dan dicelupkan ke dalam air es—keras, tajam, dan penuh dengan kekuatan tersembunyi.

"Ren? Kenapa kita berkumpul begitu pagi? Bu Sakura bilang latihan resmi mulai jam delapan lho," tanya Hana sambil mengikat rambutnya menjadi sanggul tinggi dengan tali gelang yang warnanya sudah pudar. Matanya tidak bisa lepas dari buku catatan tua yang sedang dipegang Ren.

Ren tidak langsung menjawab. Ia membuka halaman depan buku itu dengan hati-hati, memperlihatkan sketsa tangan yang sangat detail tentang anatomi ikan tuna—mulai dari bentuk sirip hingga susunan serat dagingnya—disertai catatan kecil tentang titik-titik distribusi panas pada permukaan wajan saat memanggang. Setiap garis tulisan tangan itu terlihat rapi dan penuh perhatian.

"Mulai hari ini, kita tidak akan lagi berlatih teknik standar yang diajarkan di sekolah," ucap Ren dengan suara rendah namun jelas, bergema lembut di ruang dapur yang masih sunyi. "Kita akan mempelajari apa yang ibuku sebut 'Ritme Kehidupan'—teknik yang membuat Asuka Jaya merasa gentar dua puluh tahun yang lalu."

Ia menutup buku sebentar, jari-jarinya menyentuh sampul kain dengan lembut seolah merindukan sesuatu yang lama hilang. Kemudian ia mengambil sebuah pisau petty kecil dengan bilah yang sangat tipis dari barisan pisau di depannya. Di atas meja, ada sebuah tomat matang dengan kulit yang sangat halus dan berkilau. Tanpa melihat ke arah tomat, Ren mengayunkan pisau itu dengan gerakan melingkar yang mengalir dan sangat halus—seolah ia sedang menari dengan udara.

Dalam sekejap, kulit tomat itu terlepas dalam satu helai panjang yang tipis dan nyaris transparan. Daging tomat di dalamnya tetap utuh sempurna, bahkan tidak ada sedikit pun cairan tomat yang keluar. Kulit tomat itu melengkung indah di atas permukaan meja seperti kain sutra halus.

Hana dan Yuki terbelalak, mulut mereka terbuka lebar. Itu bukan hanya keahlian memotong biasa—itu adalah tingkat kendali penuh atas setiap gerakan yang mustahil dicapai hanya dengan latihan standar.

Yuki mendekat perlahan, jari telunjuknya menyentuh helai kulit tomat dengan hati-hati seolah itu sesuatu yang rapuh dan berharga. "Ini... benar-benar catatan Tante Reina ya? Aku masih ingat Ayah bilang kalau Tante Reina bisa memotong sayuran tanpa mengeluarkan suara sama sekali—seolah-olah pisaunya adalah bagian dari udara itu sendiri."

"Karena dia tidak hanya memotong," jawab Ren sambil menaruh pisau petty kembali ke tempatnya. "Dia mengikuti serat alaminya. Setiap bahan punya ritme dan jalan hidupnya sendiri. Kita hanya perlu belajar untuk merasakannya."

Ia kemudian menghadap Hana, tangannya menjulur untuk menarik tangan gadis itu dengan lembut namun pasti. Hana merasa wajahnya menjadi panas secara tiba-tiba saat merasakan sentuhan tangan Ren yang kuat dan sedikit hangat. Suasana di dapur yang masih remang-remang itu terasa sangat intens, seolah-olah udara di antara mereka menjadi lebih pekat.

"Hana, tugasmu hari ini adalah menguasai kontrol suhu tanpa melihat indikator kompor sama sekali," ucap Ren sambil membimbing tangan Hana hingga berada beberapa sentimeter di atas wajan yang sudah ditempatkan di atas kompor. "Kamu harus merasakannya dari getaran panas yang merambat di udara. Tutup matamu dan fokus pada apa yang dirasakan kulitmu."

Hana menelan ludah dengan suara yang jelas terdengar di keheningan. Ia memejamkan mata dengan erat, mencoba membuang semua pikiran yang mengganggu dan hanya fokus pada sensasi yang datang dari arah wajan. Panasnya merambat perlahan, mulai dari hangat hingga sedikit menyengat.

"S-sekarang kah?" bisiknya dengan suara yang sedikit ragu.

Ren mendekat lebih dekat, suaranya terdengar lembut tepat di telinga Hana. "Sedikit lagi. Rasakan denyutnya—setiap tingkat panas punya detak yang berbeda."

Hana merasa dada berdebar kencang. Ia fokus lebih dalam, merasakan bagaimana panasnya tidak lagi hanya sebuah angka, melainkan sesuatu yang hidup dengan irama sendiri. Beberapa saat kemudian, ia mengangguk dengan yakin. "Sekarang! Sudah tepat untuk menaruh minyak!"

Ren menyalakan kompor sebentar dan memeriksa suhu dengan jari-jarinya sendiri. Ia mengangguk dengan puas. "Benar sekali."

Sementara itu, Yuki mendapatkan tugas untuk mempertajam indra penciumannya. Ren mengeluarkan beberapa botol kecil berwarna kaca gelap yang berisi ekstrak rempah—semua sudah diencerkan hingga ribuan kali sehingga hampir tidak tercium aroma apapun jika tidak diperhatikan dengan seksama. Yuki harus menebak perbandingan campuran masing-masing botol hanya dengan satu kali hirupan.

"Asuka Jaya selalu menang karena mereka mengandalkan data laboratorium yang presisi," ucap Ren sambil berdiri di belakang Yuki yang sedang berkonsentrasi penuh, menutup satu lubang hidungnya untuk menghirup aroma dengan lebih jelas. "Tapi laboratorium tidak punya jiwa. Mereka tidak bisa merasakan bagaimana aroma sebuah bahan berubah ketika suasana hati sang koki berbeda, atau bagaimana cuaca dan suasana ruangan bisa memengaruhi rasa akhir hidangan. Kita akan menang karena kita memasak dengan emosi yang terkendali—dengan hati yang benar-benar peduli pada setiap hidangan yang kita buat."

Latihan itu berlangsung berjam-jam dalam keheningan yang penuh disiplin. Tidak ada candaan atau tawa seperti biasanya. Hanya suara desis lembut dari nyala api kompor, aroma rempah dan bahan segar yang bergantian mengisi ruangan, serta gerakan terkoordinasi dari ketiganya. Di balik setiap gerakan dan usaha keras itu, sebuah ikatan baru mulai terbentuk—lebih dalam dari sebelumnya. Hana mulai memahami betapa beratnya beban yang selalu dipikul Ren, dan Yuki menyadari bahwa ia bukan hanya seorang asisten, melainkan bagian penting dari detak jantung tim ini.

Di ambang pintu dapur, Bu Keiko berdiri diam mematung, matanya memperhatikan bagaimana Ren membimbing kedua gadis itu dengan penuh perhatian. Sebuah tetesan air mata kecil menggelinding di sudut matanya sebelum ia menyekanya dengan cepat. Di dalam pandangannya, sosok Ren seolah-olah tumpang tindih dengan sosok Reina yang dulu pernah menjadi teman terbaiknya—semangat yang dulu hampir padam di Kota Karasu kini mulai menyala kembali dengan api yang lebih biru dan lebih panas dari sebelumnya.

"Ren," panggil Yuki saat mereka akhirnya beristirahat sejenak di sudut dapur, wajahnya berkeringat namun matanya bersinar dengan semangat. Ia menyegarkan diri dengan segelas air putih sebelum melanjutkan. "Jika kita benar-benar bisa menguasai semua teknik ini... apakah kita sungguh-sungguh punya kesempatan untuk mengalahkan tim elit yang dibangun Ryuji?"

Ren menatap kedua gadis itu secara bergantian. Di mata Hana, ia melihat ketulusan dan keinginan yang tulus untuk belajar. Di mata Yuki, ia melihat tekad yang kuat dan kepercayaan yang mendalam pada dirinya. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Ren memberikan senyuman yang tulus—bukan senyum dingin atau sinis yang biasanya ia tunjukkan, melainkan senyum seorang kapten yang merasa bangga dengan pasukannya.

"Kita tidak akan hanya mengalahkan mereka," jawabnya dengan suara yang tegas dan penuh keyakinan. "Kita akan menunjukkan kepada seluruh Kota Karasu bahwa rasa sejati—yang datang dari hati dan jiwa seorang koki—tidak akan pernah bisa dimonopoli oleh siapa pun."

Hari itu ditutup dengan beberapa piring percobaan yang hasilnya luar biasa melebihi ekspektasi. Meskipun tubuh mereka terasa lelah dan pegal, ada secercah cahaya harapan yang lebih terang dari biasanya bersinar di dalam hati masing-masing mereka. Mereka sudah siap untuk menghadapi babak final kompetisi, membawa warisan berharga dari masa lalu untuk menghancurkan tirani yang telah lama menguasai kota mereka.

1
Jack Strom
Cerita yang cukup menarik. Namun saya cukup aneh dengan lokasi cerita, kota Jayapura-Indonesia, tapi tokoh dan cerita ala Jepang??? 😁
Jack Strom
Owalah... Ngaku banyak uang, tapi masih main sabotase segala... Pengecut!!! 😁
Jack Strom
Oh, ini tentang rasa dan keahlian memasak toh..? Mantap mantap mantap!!! 😁
Jack Strom
Halah... Modus!!! 😁
Jack Strom
Wow... Betul² kosong!!? 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!