Penyatuan dua dinasti bisnis raksasa melalui pernikahan mendadak Fank Manafe dan Renata Batistuta memaksa Ezzvaro dan Gabriel terjebak dalam satu atap sebagai saudara tiri.
Namun, di balik status formal itu, tersimpan sejarah kelam: mereka adalah mantan kekasih yang berpisah dengan luka menganga akibat pengkhianatan dan kecemburuan fatal tiga tahun lalu.
Ketika gairah terlarang dan dendam masa lalu mulai membakar batasan moral, mereka terseret ke dalam konspirasi bisnis yang berbahaya.
Di tengah desingan peluru dan pengkhianatan keluarga, Ezzvaro harus memilih antara melindungi wanita yang paling ia benci atau membiarkan dunia menghancurkannya.
Di dunia di mana "cinta adalah kelemahan dan kekuasaan adalah segalanya," kelebihan/melampaui batas akan memaksa mereka menghadapi pilihan tersulit: bersatu dalam kehancuran atau saling menghancurkan demi bertahan hidup 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
Gema pintu lobi yang terbanting masih menyisakan dengung yang menyakitkan di telinga Ezzvaro. Ia berdiri mematung, menatap ubin marmer tempat Gabriel baru saja berdiri. Dunia yang ia susun kembali dengan susah payah selama beberapa hari terakhir hancur berkeping-keping di bawah kaki ayahnya sendiri.
Tharzeo, yang sejak tadi hanya diam mengamati badai itu, melangkah mendekat. Ia meletakkan tangan di bahu adiknya, sebuah gerakan yang jarang ia lakukan.
"Kau pernah kehilangannya di masa lalu, Ez," suara Tharzeo rendah, namun tajam membelah keheningan. "Jangan biarkan dia menghilang lagi. Pergi dan kejar dia sebelum kemarahannya berubah menjadi benci yang permanen. Lupakan aliansi pertunangan Garcia atau perintah Ayah. Yang terpenting sekarang adalah kenyataan bahwa Gabriel melakukan semua kegilaan itu hanya karena dia terlalu mencintaimu."
Ezzvaro tersentak. Kata-kata kakaknya seolah menjadi tamparan yang menyadarkannya dari kelumpuhan emosi. Tanpa membalas ucapan Theo, Ezzvaro berlari keluar menuju pelataran parkir. Ia melompat ke dalam mobil sport hitamnya, menyalakan mesin yang menderu garang, dan melesat keluar gerbang mansion seperti orang gila.
Di jalanan London yang mulai sepi, Ezzvaro memacu kendaraannya melampaui batas kecepatan. Matanya memicing, mencari sedan hitam milik keluarga Batistuta. Begitu targetnya terlihat, Ezzvaro melakukan manuver berbahaya—memotong jalur dan mengerem mendadak tepat di depan mobil mereka, memaksa supir Renata menginjak rem sedalam-dalamnya.
"Apa lagi ini, Ezzvaro?!" Renata keluar dari mobil dengan wajah berang, nafasnya memburu karena kaget.
"Aku ingin bicara dengan Gabriel, Tante," sahut Ezzvaro tegas, tidak memberikan ruang untuk bantahan.
Gabriel keluar dari pintu belakang dengan wajah pucat dan mata sembap. Tanpa sepatah kata pun, ia berjalan melewati ibunya dan masuk ke dalam mobil Ezzvaro. Ia tidak peduli lagi pada teriakan Renata yang memanggil namanya; ia hanya butuh pelarian.
Ezzvaro membawa Gabriel ke apartemen pribadinya yang berada di pusat kota—satu-satunya tempat yang tidak terjangkau oleh mata-mata Fank. Begitu pintu tertutup, mereka tidak langsung bicara. Keduanya duduk terdiam di sofa besar, termenung dengan pikiran masing-masing yang bising.
"Aku tidak tahu rencana Daddy, Gaby," Ezzvaro akhirnya memecah kesunyian, suaranya parau. "Dan kumohon... percaya padaku sekali ini saja. Aku tidak pernah berniat mengkhianatimu demi harta Batistuta."
Gabriel menoleh perlahan, menatap mata Ezzvaro yang penuh luka. "Apa perasaanmu padaku sungguh nyata, Vavo? Ataukah aku hanya bagian dari inventaris keluarga Manafe yang harus kau amankan?"
Deg.
Ezzvaro tidak menjawab dengan kata-kata. Ia langsung menarik Gabriel ke dalam pelukannya, mencium bibirnya dengan intensitas yang seolah-olah ingin menyatukan kembali kepingan jiwa mereka yang retak. Ia menggendong Gabriel menuju kamar utama, meletakkannya di atas ranjang dengan penuh pemujaan.
Malam itu, mereka melakukan penyatuan seakan tidak ada hari esok. Ezzvaro menggila; setiap sentuhannya adalah pembuktian bahwa ia mencintai Gabriel lebih dari nyawanya sendiri. Namun, di tengah gelombang gairah yang memuncak, tiba-tiba tubuh Gabriel menegang.
"Vavo... ahh... itu sakit sekali, Sayang... Berhenti..." rintih Gabriel, wajahnya mendadak berkerut menahan rasa sakit yang luar biasa di area perutnya.
Ezzvaro langsung melepaskan diri, nafasnya masih memburu, namun jantungnya hampir berhenti saat ia melihat ke bawah. "Sayang... kau berdarah."
Warna merah pekat merembes di atas sprei putih. "Oh tidak... ini sakit sekali, Vavo..." Gabriel memegangi perut bawahnya, keringat dingin mulai membanjiri keningnya.
Ezzvaro dengan panik mengambil tumpukan tisu, namun darah itu terus mengalir—darah yang tidak biasa. Sebuah firasat buruk menghantam benaknya. Ia teringat ucapan Theo tentang risiko kehamilan.
Apa Gaby hamil? batinnya berteriak.
"Apa kamu keguguran, Sayang? Oh shit... kau keguguran, Gaby!"
Panik menyelimuti Ezzvaro. Ia segera memakai pakaiannya secepat kilat, lalu memakaikan baju seadanya pada Gabriel. Ia menyelimuti tubuh kekasihnya yang sudah lemas dengan sprei tebal dan menggendongnya keluar apartemen.
"Vavo... uhh, ini sakit sekali..." bisik Gabriel, matanya mulai sayu.
"Tahan, Sayang... Kumohon jangan tidur! Tetaplah bersamaku!" seru Ezzvaro sambil berlari menuju mobil.
Sesampainya di rumah sakit darurat, lampu-lampu blitz paparazzi menyambut mereka. Entah bagaimana berita itu bocor, namun foto Ezzvaro yang tampak panik menggendong Gabriel yang pucat pasi langsung terabadikan. Beruntung, foto itu tidak menjelaskan kondisi medis di baliknya.
Setelah menunggu dengan penuh kecemasan di luar ruang IGD, dokter akhirnya keluar.
"Kandungan Nona Gabriel berhasil diselamatkan, Pak Manafe. Itu adalah ancaman keguguran akibat stres berat dan aktivitas fisik yang terlalu intens," ucap dokter itu tenang.
"Kandungan?" Ezzvaro tertegun. "Jadi... dia benar-benar hamil?"
"Benar. Sudah jalan enam minggu,"
"Enam Minggu, Dok?" tanya Ezzvaro memastikan kembali saat masuk ke ruang rawat. Dokter itu mengangguk.
Ezzvaro mendekati ranjang Gabriel, menggenggam tangannya yang dingin. Gabriel sudah sadar, namun ia tampak tidak siap menerima berita ini. Matanya kosong menatap langit-langit.
"Hamil enam minggu?" bisik Gabriel lirih. "Vavo... aku tidak tahu harus bagaimana. Aku tidak bisa menerima kehamilan ini di situasi sekacau ini. Ayahmu, ibuku... kita..."
"Sayang... kau tidak ingin hamil anakku?" tanya Ezzvaro lembut, meski hatinya terasa nyeri.
"Bukan begitu, Vavo," Gabriel menoleh dengan air mata yang kembali mengalir. "Lihatlah situasi kita. Kita adalah musuh sekarang. Pernikahan orang tua kita adalah penipuan. Bagaimana bayi ini akan hidup?"
Ezzvaro mengecup punggung tangan Gabriel, matanya berkaca-kaca. "Jangan berpikiran macam-macam, Gaby. Bayi ini adalah satu-satunya hal yang murni di antara semua kekacauan ini. Kasihan bayi kita, Sayang... Dia memilih kita sebagai orang tuanya. Aku akan melindungimu, melindunginya, bahkan jika aku harus menghancurkan seluruh kekaisaran Manafe."
Gabriel terdiam, merasakan kehangatan dari tangan Ezzvaro. Di tengah badai pengkhianatan keluarga, sebuah kehidupan kecil baru saja memaksa mereka untuk berhenti berperang dan mulai bertahan hidup—bersama-sama.
🌷🌷🌷🌷