NovelToon NovelToon
Terjebak Perjodohan

Terjebak Perjodohan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Perjodohan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mamoruuu

Mimpi Rara hancur saat harus menikah muda dengan Aksara—pria kaya yang tak dikenalnya. Ia menganggap suaminya perusak masa depan, hingga sikapnya berubah sedingin es dan penuh kebencian.

Namun berbeda dengan Rara, Aksara justru mencurahkan kasih sayang dan kesabaran tanpa batas.

Bisakah pria itu meluluhkan hati sang istri yang keras kepala? Atau Rara akan terus buta melihat ketulusan yang ada di depan mata?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamoruuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kejadian Lucu

Rara keluar dari kamar secara diam-diam, ia berjalan mengendap-endap dengan kaki yang sedikit menjinjit. Pandangannya melihat kesana-kemari untuk memastikan tidak ada seorangpun yang melihatnya. Ia menuruni anak tangga dengan hati-hati, lalu berlari kecil bersembunyi di balik tiang besar yang ada di ruang tamu. Matanya tertuju pada sofa besar yang berada sedikit jauh di depannya. Pandangannya sedikit terhalang hingga ia harus berusaha keras agar dapat melihat yang ingin ia ketahui.

"Sedang apa?" Tanya seseorang dari belakang Rara.

"Sssttt! Jangan keras-keras nanti ketahuan. Aku sedang mengintip Tuan Muda itu, apakah dia masih mengobrol dengan temannya di sana." Jawab Rara dengan pandangannya tetap fokus ke depan.

"Oh. Memangnya kenapa?"

"Masa sih ngobrolnya lama sekali? Emang ngobrolin apaan?" Nada bicara Rara terdengar ketus.

"Mungkin mereka sedang membahas ada seekor kucing kecil sedang mencoba menguping pembicaraan mereka."

Seketika wajah Rara menjadi merah. Ia baru menyadari suara seseorang yang berada di belakangnya itu sangatlah tidak asing. "Kenapa aku tidak menyadarinya..." Pikirnya sambil perlahan memutar kepalanya...

"Ka—kamu!?" Rara terperangah. Mulut dan matanya sama-sama membulat. Aksara berdiri di belakangnya dengan senyum lebar yang terukir di bibirnya, tatapannya penuh suka cita.

Rara membalikkan badan, wajahnya semakin memerah karena menahan rasa malu. "Astaga... Bisa-bisanya kamu ada di sini." Bisiknya pelan.

"Kalau mau tahu apa yang kami bicarakan tinggal menanyakan saja, tidak perlu diam-diam mengintip seperti detektif cilik." Ucap Aksara sambil tertawa geli.

"Ti—dak, kok! A—Aku kesini mencari Michi!"

Aksara menarik tubuh Rara perlahan hingga gadis itu terjatuh ke dalam pelukannya. Rara semakin terperangah. Dada Aksara yang hangat, lembutnya kain jas yang menyentuh pipinya, serta aroma parfum yang yang lembut membuat tubuh Rara seketika kaku.

"Kalau kamu memelukku lagi, aku akan menonjokmu!"

Ah... Kalimat itu seperti tidak berlaku sama sekali. Rara mencoba menggeser tubuhnya namun tidak berani benar-benar menjauh. Tangan kirinya secara tidak sengaja menyentuh dada Aksara, membuatnya semakin kaku. Ia hanya bisa terdiam, tenggelam dalam pelukan itu sambil merasakan detak jantung yang semakin berdebar kencang.

"Aku sudah selesai ngobrol dengan Naura sedari tadi dan dia juga sudah pulang," ucap Aksara dengan suara lembut di telinga Rara. "Sebenarnya aku sedang mencari kamu. Eh, malah ketemu disini."

Tanpa berpikir panjang, Rara dengan cepat melepaskan diri dari pelukan Aksara. Tubuhnya masih sedikit gemetar karena campuran rasa malu dan kebingungan.

"Tidak perlu kamu cari-cari aku!" Ucap Rara dengan nada yang ingin terdengar tegas namun masih sedikit gemetar. Tanpa menoleh lagi, ia berlari cepat menaiki anak tangga, langkahnya terburu-buru hingga hampir tersandung.

Aksara hanya menggelengkan kepala dengan senyum kecil. "Huh! Menggemaskan!"

"Rara, tunggu!" Panggil Aksara namun gadis itu sudah menjauh. Tanpa ragu, ia mengikuti jejak Rara ke atas.

Setelah sampai di depan kamar, Rara dengan tergesa-gesa membuka pintu dan masuk dengan cepat, berniat untuk mengunci pintu dari dalam. Namun sebelum pelat pintu bisa tertutup rapat, Aksara sudah memasang kakinya di celah pintu.

"Lepaskan!" Seru Rara sambil mencoba mendorong pintu, tapi kekuatan Aksara jauh lebih besar. Hingga akhirnya Aksara berhasil masuk dan segera mengunci pintu itu.

Rara terdiam, matanya membulat saat Aksara berjalan mendekatinya. Semakin Aksara mendekat, semakin gemetar badannya.

"Ma—mau apa?" Tanya Rara dengan melotot, sambil terus mundur ke belakang.

"Apalagi?" Jawab Aksara sambil melepaskan satu per satu kancing kemejanya—hal itu membuat Rara semakin ketakutan dan terus melangkah mundur hingga ia tersandung dan terjatuh di atas kasur.

"Tolong jangan lakukan!" Teriak Rara dengan wajah memelas. Gaun pendek yang ia gunakan tersingkap hingga ke paha dan ia berusaha membenarkannya dengan tergesa-gesa.

Aksara memicingkan alis melihat tingkah gadis itu. "Kenapa?" Tanyanya bingung.

"Jangan sentuh aku!" Teriak Rara dan wajahnya sudah mulai memerah karena hampir menangis.

Aksara bertambah bingung. "Apa maksud kamu? Aku hanya ingin mandi. Ini sudah sore dan sebentar lagi malam."

Hening...

Rara semakin kikuk. "M—mandi? Aku kira... aku kira kamu mau menondaiku." Ucap Rara begitu polos. "Di desa ku, banyak cerita tentang pria kaya yang hanya menikahi gadis dari desa untuk kepentingan sendiri..." Bisiknya pelan.

Aksara tertawa mendengar kalimat yang diucapkan Rara. "Astaga! Bisa-bisanya."

Rara semakin salah tingkah. Dua kali rasa malu menyelimuti dirinya. Ia memejamkan mata dan menutupi dirinya dengan selimut untuk menyembunyikan wajah merahnya. Sementara Aksara masih tertawa geli dan berjalan menuju kamar mandi.

Setelah membuka pintu kamar mandi, Aksara berbalik lagi ke arah tempat tidur. Rara masih terkurung di bawah selimut, hanya terlihat bentuk badan yang menggigil sedikit—entah karena dingin atau karena malu.

"Aku cuma mau mandi saja kok, jangan khawatir sampai mikir hal begitu," Ucap Aksara dengan suara yang masih sedikit terengah-engah karena tertawa. "Kalau kamu mau juga boleh, kok. Kamar mandinya cukup besar."

"Diam!" Teriak Rara dari balik selimut, membuat Aksara semakin tertawa keras.

Setelah itu terdengar suara keran air yang dinyalakan. Rara perlahan membuka selimut sedikit, melihat ke arah kamar mandi yang pintunya sedikit terbuka. Wajahnya masih merah seperti buah delima.

"Astaga, kenapa aku bisa berpikir hal yang tidak pantas itu?" Pikirnya sambil menepuk-nepuk dahinya. "Padahal dia cuma mau mandi... Aku benar-benar sangat malu!"

Beberapa menit kemudian, Aksara keluar dari kamar mandi dengan mengenakan baju tidur yang simpel dan nyaman. Ia melihat Rara yang sudah duduk di tepi tempat tidur, wajahnya masih merah namun sudah tidak lagi bersembunyi.

"Sudah tenang?" Tanya Aksara dengan senyum hangat.

Rara hanya mengangguk pelan tanpa menatapnya. "Maaf..." Ucap Rara dengan suara pelan, wajahnya tampak ingin tetap dingin namun matanya menunjukkan rasa malu yang masih belum hilang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!